Sampai ketemu Ben….


By Luki Witoelar

Sebetulnya setelah tahun 1962, saya jarang sekali saya ketemu Beni. Karena Beni dan saya, masing-masing bekerja ditempat yang terpisah dan berjauhan; setelah kami lulus dari Geologi ITB, Beni bekerja di Direktorat Geologi dan kemudian pindah ke Soroako dan saya di Kelapa Kampit, Pulang Belitung.

Saya ke Kelapa Kampit, Belitung mengikuti selera saya: karena melihat bahwa saya akan bisa melaksanakan  kesenangan saya: research. Ternyata kami tak lama disitu, hanya 2 tahun karena “nasib”  menentukan untuk  saya pindah ke dunia perminyakan (padahal saya tak pernah mengikuti mata kuliah mengenai perminyakan sama sekali selama di ITB), sedangkan Beni –setelah bekerja beberapa tahun di Direktorat Geologi, Bandung- memutuskan pindah ke PT Inco di Soroako, Sulawesi Selatan, keduanya adalah tempat yang hanya ada di peta berskala lebih dari 1:10.000. Pilihan tempat kerja itu hanya dapat diikuti oleh isteri masing-masing yang siap pergi ikut suami, meskipun diajak ke tempat diujung dunia, hehehe….saya pernah bekerja di hutan-hutan Sulawesi Tenggara, tetapi tak sempat ketemu Beni kecuali di pertemuan-pertemuan IAGI.

Lain dengan tahun-tahun sebelumnya: selama kurang lebih 4 tahun  kami ketemu tiap hari. Kami ketemu tiap hari karena kami sejurusan di bagian Geologi ITB (lupa lagi nama lengkapnya sekarang, hehe, dulunya sih bagian dari fakultas Ilmu Pasti dan Alam). Kami ketemu tiap hari karena memiliki suatu favorit dalam bidang ilmiah, ialah Petrology, dan berbeda dari sahabat kami Almarhum Prof Dr Rubini Suriaatmadja yang menekuni batuan metamorfosa, kami berdua sangat berminat untuk mempelajari “sumber dari segala batuan” (pendapat waktu itu):  batuan beku atau “Igneous Rocks”.  Barangkali karena kami berdua dianggap berbakat,  kami diangkat jadi Assisten Dosen dalam Petrologi, sampai kami tamat belajar.

Sedikit menyimpang: 2 tahun setelah saya tamat saya berkunjung ke bag Geologi ITB. Ternyata masih ada uang honor asistensi saya selama sekian tahun yang belum terbayarkan. Dan saya terima waktu itu. Tak banyak, tapi saya ceriterakan untuk menggambarkan perbedaan jaman: kejujuran lebih dari sekarang, mungkin administrasi kurang karena belum ada komputer.

Setelah kami  pensiun dari pekerjaan pertama (Inco dan Pertamina) kami sering ketemu lagi di akhir tahun 90-an, waktu kami berdua asyik ikut bersama pak Soetaryo Sigit dan beberapa ahli Geologi Senior lainnya menjadi pengambil inisiatif memperingati jasa-jasa Prof J.TH. Klompe, pendiri dari bagian Geologi ITB. Dalam kesempatan kesempatan ketemu itu (sekali sebulan kami ber”nostalgia” ngobrolin para guru vesar kami: Prof Klompe,  Akkersdijk, Mc Divitt, de Waard dan Prof Ch.S. Bacon, boss Beni dan saya.

Kemudian kami hilang kontak lagi karena kesibukan kami masing masing.

Terakhir saya ketemu almarhum adalah pada tanggal 24 December 2011, di bumi Sangkuriang di Bandung, waktu kami mengunjungi resepsi peringatan 50 tahun menikahnya Prof Koesoemadinata. Sangat terkejut saya ketika pada tanggal 20 Januari 2012, dikabari Beni jatuh sakit, dan dirawat di ICU RS Pondok Indah, dan terus pegi …….

Meskipun jarang ketemu, tapi terasanya saya selalu dekat dengan almarhum. Bukan karena selalu sama pendapat, sama sifat (dia serious saya senang ketawa) atau sehobby (saya senang sepakbola, almarhum sama sekali tidak) tetapi -terutama- karena kami selalu saling menghargai dan saling mempercayai pendapat dan falsafah masing-masing. Atau barangkali, seperti kata orang sana, “we hit of with each other”.

Saya sendiri merasa sangat dekat dengan almarhum. Salah satu contoh (bukannya itu harus), Beni datang ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan kami. Kita sekarang lupa bahwa di tahun 1962, Jakarta itu jauh sekali dari Bandung.

Karena itu saya merasa bahagia sekali waktu pada peringatan 40 hari wafatnya saya diberi kesempatan untuk bicara atas nama teman-temannya yang masih hidup (teman-teman yang sudah mendahului sudah cukup banyak, diantaranya Handoko, Sudjadi, Soeharto, Rubini).

Bagaimana Beni? biografinya dapat dibaca di bagian lain di blog ini. Yang saya akan sampaikan adalah kesan kesan saya, yang telah bersahabat dengannya untuk sekian lama. Seperti kita juga (atau kebanyakan dari generasi kita) tujuan hidup kita itu adalah berbakti kepada Negara kita. Tanpa menomor duakan bertujuan memiliki keluarga yang berbahagia tentunya. Beni seperi saya berpendapat bahwa bekerja untuk Negara bisa dimana saja: di badan pemerintah, di perusahaan Negara, dan di perusahaan asingpun yang akan bisa memakmurkan Negara. Dia pergi dari Direktorat Geologi (dan diikuti banyak teman teman kami) untuk bekerja pada Inco, yang tidak kecil memberikan penghasilan kepada Negara. Dia memimpin perusahaan itu yang membuka hutan Soroako dan menjadikannya kota pertambangan. Falsafahnya adalah: “What is good for the country is good for me”. Saya sendiri yang lebih dari 30 tahun bekerja di Pertamina (pada waktu Pertamina merupakan pengawas Perusahaan asing) tak pernah memandang orang Indonesia yang bekerja di perusahaan perusahaan asing  kurang  jiwa  nasionalisnya. Disamping itu saya juga pernah kerja untuk Exxon.

Negara ternyata juga menghargainya, dan pada tahun 1995 Beni dianugerahi  bintang Satya Lencana Pembangunan oleh Presiden Republik Indonesia untuk jasa-jasa kepempinanannya dalam projek nickel di Soroako.

Beni adalah seseorang yang bekerja karena senang bekerja, dan tak pernah bosan. Almarhum masih bekerja sampai akhir hayatnya, dan tidak pernah mengundurkan diri dari dunia pertambangan (Almarhum bangga sekali dengan penamaan “Mining Geologist”) dan lama sekali dia aktif di pengurus menjabat ketua dari “Indonesian Mining Association”.

Beni telah mendahului kita dan kini sudah tiada. Seperti dikatakan orang kita semua sedang antri, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu.

Sampai ketemu Ben ……

An Environmentalist


By Helen and Phil Jessup

Beni was a proven leader with PT Inco geologists and the Indonesian Mining Association. His leadership sprang from example rather than coercion and was based on a commitment for seeing the whole situation clearly.

He was an environmentalist long before it was fashionable. Geologists tend to be philosophers and certainly Beni was. But he also knew how to find the ore!

He and Soffie were vital participants in the collagiality and enterprise that characterized the Inco Pioneers. His tolerant sense of irony, his calm and modest command of the scene were memorable.

We will greatly miss his spirit, his expert skills, and most of all his friendship.

Kebersamaan yang Indah


By Rumengan Musu

Catatan dibawa ini mengenang kebersamaan saya yang indah dengan Alm. Beni N. Wahju (selanjutnya dengan hormat saya menyebut namanya Beni).

45 tahun yang lalu pada bulan Mei 1967 saya bersama Beni mengantar Charlie Michener, Vice President Inco Limited, Canada dari Jakarta dengan tujuan Malili. Setelah tiba di Makassar dengan Garuda kami menuju ke pelabuhan Bajo-e, Bone dengan kendaraan darat dan dengan tugboat Aneka Tambang melayari teluk Bone menuju tambang nikel Pomalaa. Keesokan harinya dengan tugboat yang sama kami dari Pomalaa menuju Malili pada malam hari dan sempat menabrak karang. Kami tiba siang hari dimuara sungai Malili yang lagi surut sehingga pelayaran dilanjutkan dengan perahu nelayan melalui sungai Malili dan tiba 2 jam kemudian di Kota Malili. Kami menginap di rumah Camat.

Keesokan harinya kami menyewa perahu dengan tujuan kampung Karebe yang jaraknya 9 km sebelah timur Malili dan karena melawan arus ditempuh selama 3 jam. Tiba di Karebe kami mendaki Gunung Bulubalang yang ada deposit nikelnya.

Setelah kunjungan ini kami bertiga dijemput dengan helicopter yang disewa dari AURI kembali ke Makassar dan selanjutnya ke Jakarta.

Inilah awal dari kebersamaan kami berdua yang indah.

Kebersamaan yang indah berlanjut kemudian dengan penugasan kami berdua mendampingi seorang ahli geologi (geologist) Inco Limited, Allan Sheito, melakukan survey didaerah- daerah deposit nikel di tiga propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah antara lain dilokasi – lokasi Soroako, Towuti, Rante Angin, Sua-Sua, Pomalaa, Kabaena, Wowoni, Lasolo, Bahubulu, Bahudopi dan Kolonedale. Lokasi – lokasi tersebut kami kunjungi memakai helicopter yang disewa dari AURI. Kegiatan kami dalam survey tersebut adalah menerobos hutan untuk  melakukan sampling (pengambilan contoh bijih nikel) dari bekas-bekas test pit Belanda dan juga pemboran dengan hand auger. Dilokasi-lokasi tersebut bila harus bermalam kami menginap dirumah-rumah orang kampung kecuali pada waktu dilokasi Larona dipinggir danau Towuti karena tidak ada perumahan kami tidur dibawa kolong helicopter.

Pada waktu menjelajahi hutan dan merasa haus kami memotong dengan parang bamboo kecil atau pohon rotan yang mengeluarkan air dan langsung ditampung dengan mulut (belum dikenal yang namanya air mineral/aqua). Demikian pula bila merasa lapar dihutan kami telah dibekali orang kampung dengan gula Jawa (gula merah) pengganti coklat sebagai sumber energi. Penjelajahan selama beberapa bulan dihutan-hutan Sulawesi memberikan pengalaman-pengalaman yang lebih mendekatkan kami berdua dan menciptakan “kebersamaan yang indah”.

Malili….exploration days


By Hadi Masdar

By the end of 1969, my life made a turn for the best. After his retirement following his accomplishment of 27 years of service with the Department of Geology & Mining, my husband was offered a job to join INCO, a nickel mining company in South Sulawesi.

I had not the faintest idea what laid in store for me, but I didn’t hesitate to follow my husband wherever he should take me. So, it was quite a (not so pleasant) shock when we landed in Malili, a place in the middle of nowhere with muddy paths and rains which never seemed to stop. It was very hard and nerve wrecking to cope with the situation.

My husband’s patience and calm but practical reasoning helped me to overcome all my worries and home sickness in this period. After a proper time of adjusting my life to the situation, my family managed to lead a normal routine which we made as pleasant and homely as we could.
 At this stage, the constant encouragement of Soffie and Kang Ben became a valuable service of solutions I could depend on.

It was at this time, that I really get to know one aspect of Kang Ben. He sincerely treated us as closely as if we were one big family.
In a place as remote as Malili, it was imperative to create a warm and comfortable home for your husband when he returned home after work. That is the duty of the wife and this was the reason why we decided that all the wives should put their heads together and organized ourselves into a woman’s club.

Soffie and also Kang Ben agreed that we should do our outmost to make our stay in Malili to resemble our place back home as closely as possible with the means that were available.
Kang Ben’s role in his capacity of manager played a big role to facilitate our plans. All our material needs but more often it was the technical part or advise that we needed and Kang Ben’s calm and straight forward opinions always found a solution for any obstacles or problems that we might encountered.

Even domestic problems which needed to be straightened, found a way out which he offered, was gratefully appreciated by all parties. Even the people he recruited from outside Sulawesi unanimously agreed that thanks to his supportive attitude, they enjoyed working for INCO.

In his capacity of “Big Boss”, he became an idol of his subordinates, known for his calm and fair judgements. He treated his employees equally and made no difference who they were or where they came from. All this contributed to our stay in Malili which became a part of our lives never to be forgotten and created an everlasting friendship between all INCO members, even to this day.

Although you are not in this world anymore, your memory will always be in our hearts.

Thank You, Kang Ben, may you rest peacefully in eternity next to Allah SWT.

Amien…

What goes around comes around


By Lucy Rumantir

We got to know Pak Ben in 1980 in Soroako after our long trip to Sudbury, Ontario-Canada. Immediately after that he and Kak Soffie became part of our Family friend and it last till the end of his life. We were so amazed with his warm friendship and attention.

Every New Year he and Kak Soffie will come to our house for my birthday, never absence unless we are not in town. It means a lot to us and we always tell our kids how nice the Wahju’s are.

“Whatever a man sows, he will reap.”

Pak Ben has planted lots of good seeds in the fields of his family, career, and human relations. No wonder, everyone love him so much.
There are lots of good things about Pak Benni Wahju, he is really one of a few good men. 
We will always remember him. We are sure that he is happy now in heaven. We miss you Pak Ben.

Be strong Kak Soffie, you are always in our prayer.

God bless you.

Love and hugs, 
Lucy and Andre Rumantir

Sakura


By Laras Ayu Lestari

Kakek Ben menurut saya, adalah kakek yang ‘cukup terkenal’, maksudnya begini…dulu waktu masih kecil, aku ingat kalau mama mau mengajak ke rumah Kakek Ben, selalu ingetin “itu yang ada kolam renangnya” maksudnya, dengan iming-iming kolam renang, aku pasti mau ikut (maklum anak kecil). Jadi, kalau mengingat kakek Ben yang diingat aku berenang disana, (itu dahulu….).

Seiring waktu berjalan, aku mengenal Kakek Ben lebih unik lagi pada saat aku baru saja lulus kuliah dan belum mendapat pekerjaan, dimana kerjaanku hanya berada di depan computer, dengan internet dan media chatting FB.

Mungkin tepatnya aku lupa siapa yang bersapa lebih dulu, menurutku itu tidak masalah… yang lucu, pada akhirnya aku rajin chatting-an (ngobrol-ngobrol melalui media chatting online) dengan Kakek Ben… untukku, itu sangat unik mengingat usia yang cukup jauh, namun kami dapat berkomunikasi secara lancar, layaknya Kakek Ben seusiaku.

Kakek Ben mengajakku makan-makan, sebagai tanda selamat atas kelulusan sarjanaku, aku dimintanya memilih restaurant, saat itu yang sedang banyak dikunjungi orang adalah Sushi Tei (Restoran Jepang dengan makanan khas Sushi), Kakek Ben setuju bahkan memintaku untuk mengajak Mama, Mba Uti, dan Iyang.

 

Namun Kakek Ben juga memberikan alternatif lain, yaitu restoran favoritnya, namanya Sakura. Aku setuju, karena aku belum pernah dan aku percaya pasti pilihan Kakek Ben enak.

Waktu berjalan, aku mendapatkan pekerjaan sehingga aku belum punya waktu lagi untuk makan di Sakura lagi. Setiap bertemu Kakek, aku selalu ditanya “Kapan kita ke Sakura lagi?” dan persisnya begitu kalimatnya.

Ternyata waktu tidak mempersilakan aku dan Kakek Ben makan bersama lagi di Sakura… tapi aku yakin sekarang Kakek Ben sudah berada di tempat dimana makananya jauh lebih enak dari Sakura..

“Ya Kan Kakek?? ”

Beni, adikku, kau kukenang dalam 3 Masa


By Zus Dedeh

Masa kanak kanakmu, masa remajamu, masa tuamu.

Dilahirkan di Depok pada 10 Mei 1934. Seorang bayi yang sangat manis, sehat dan gemuk. Kemudian diasuh seorang ibu tua, masih kerabat ibu kami bernama Ma Soepi, dan sangat menyayangi Benny ini. Ada pula seorang Belanda, pengusaha toko bernama meneer Krijgsman, yang menyayangi Benny kecil ini. Setiap datang kerumah untuk bermain bilyard dengan ayah,selalu dibawakannya makanan atau mainan untuk Benny sambil mengendongnya dan diangkatnya ia berucap: “Benito de lieve,zoete jongen!”

Hampir semua orang menyayanginya, selain gemuk, lucu dan manis ia jarang nangis, atau marah-marah. Sewaktu ia remaja, kami tinggal di Bogor. Benny senang sekali membaca dan sangat rajin belajar. Di SMA ia termasuk siswa yang pandai dan karenanya menjadi tempat bertanya teman- temannya, sehingga hampir seluruh waktunya ia dikelilingi teman- temannya dan menjadi “guru” mereka.

Sifat suka menolongnya sangat menonjol padanya, juga pada kami saudara-saudaranya. Sewaktu saya kuliah di UI dan adikku Herry, bersekolah di SGKP – Jakarta, kami setiap pagi pergi  jam 4.30 dan pulang jam 16.30 naik kereta api ringbaan maka Benny lah yang antar jemput kami dengan ke dan dari station!

Setelah berumah tangga di Kidang Pananjung sebagai pegawai negri yang hidupnya pas pasan saat itu, saat itu Beny dan Soffie tak segan-segan, memberi adik kami Jacky yang tatkala itu berkuliah di Unpad tempat untuk tinggal dirumah mereka. Kemudian keluarga Benny pindah ke Malili/Soroako, bekerja di PT INCO dan tatkala 2 orang anakku yang berkuliah di ITB (Pertambangan dan T. Kimia) membutuhkan kuliah kerja, maka pamannya itulah yang langsung memberi kesempatan berkuliah kerja (praktek kerja) di INCO.

Perhatian pada keluarga juga pada yang telah berpulang, sangat besar, sering sekali mengurus makam-makam keluarga supaya kelihatannya bersih dan terawat .

Itulah sosok Benny adikku yang jadi panutan kami.

Ada pula seorang kakak yaitu kang Eddy, yang telah menjadi pemimpin dan panutan keluarga besar  kami, keduanya telah tiada. Kami betul betul kehilangan mereka, namun bertekad untuk tetap bersatu, sekalipun kami tinggal berenam dari tadinya ber 14 saudara.

Semoga yang telah dipanggil oleh sang Khalik diampuni dosa dosanya, diterima  amal ibadahnya dan diberi tempat yang layak disisi NYA.

Aamiin. Ya Robbal Alaamiin.

Persahabatan Selama Lima Dasawarsa


By Abdul Djalil Nasution

Saya mulai agak dekat dengan Beni tahun 1960, itupun baru sebatas kenalan antara mahasiswa junior dengan seniornya. Tahun itu saya mendapat tugas pemetaan geologi kandidat bersama kawan-kawan Joedo Elifas, Zainal Asril Kamili, M.Thamrin, Sahat Oloan Hutagalung, Thio Kian Hie dll. Kesempatan berinteraksi menjadi lebih terbuka.

Menurut saya Beni adalah sosok yang “cool”, pendiam, kalau lagi kumpul paling-paling dia mengangguk-angguk kepala saja, dengan sesekali tersenyum. Jarang sekali lihat dia ketawa lepas. Mungkin karena menghadapi mahasiswa bimbingannya, “jaim” kata anak muda sekarang.  Dia jarang berkelakar, hanya sesekali muncul joke nya, memang begitulah keadaannya. Waktu itu kami dibawah bimbingan Beni Wahju yang sedang merampungkan tugas pemetaan “doktorandus”nya di daerah Karangsambung, Banjarnegara. Kami masing-masing mendapat kapling tugas pemetaan didalam wilayah pemetaan Beni. Saya sendiri kebagian daerah Lokidang.

Pada tahun 1960 itu saya mendapat beasiswa belajar di Canada, tetapi sambil menunggu keberangkatan, saya harus melakukan pemetaan kandidat terlebih dahulu. Ditengah-tengah kesibukan kerja lapangan, tiba-tiba Beni memanggil saya untuk menemuinya di Kebumen, dia menyampaikan telegram sdr Sulaiman dari Bandung. Beni telah menyimpulkan bahwa telegram itu dikirim oleh sdr Sulaiman Pane, teman sekamar saya di Rumah F, tanpa banyak selidik saya mengikuti anjurannya dan pulang naik kereta api dari Kebumen ke Bandung. Ternyata telegram itu dikirim oleh Sulaiman Sinambela, kordinator tim sepakbola ITB untuk POM V di Medan. Karena sudah terlanjur sampai di Bandung dan kontingen ITB segera akan berangkat maka saya memberitahukan kepada Beni Wahju bahwa saya akan ikut dengan kontingen POM V ITB ke Medan. Karena saya juga belum pamitan dengan ibu saya yang tinggal di Medan. Kesalah-pahaman yang menguntungkan saya itu sempat membuat saya merasa tidak enak, sebab seharusnyalah saya kembali ke Kebumen melanjutkan tugas saya. Tapi dua minggu di Medan memberi kesempatan bagi saya untuk pamit kepada Ibu saya. Kemudian setelah kembali dari Medan, saya bergegas ke Kebumen dan melapor kepada mentor saya Beni. Saya sudah membayangkan bahwa akan dapat marah besar, ternyata tidak demikian. Hanya katanya saya harus menyelesaikan tugas saya sendirian  sampai selesai. Kawan-kawan yang lain sudah boleh pulang ke Bandung bersama Beni.

Saya menyadari bahwa dia tidak mudah marah. Malahan kemudian, Beni secara khusus datang menemui saya di Karangsambung dan minta maaf karena telah keliru meneruskan informasi. Kaget juga saya………kok dia yang minta maaf.

Sebelum pulang ke Bandung, Beni dan kawan-kawan sempat menceritakan kepada saya pengalaman mereka yang sangat berkesan di perkebunan Pujegan. Disana, kawan-kawan berusaha untuk menarik perhatian seorang gadis, tetapi saya mengetahui bahwa upaya kawan-kawan telah sia-sia karena Beni yang ganteng dan kalem akan dengan mudah menyingkirkan junior-juniornya.

Akhirnya, September 1960 saya jadi berangkat ke Canada dan tinggal dua tahun disana bersama-sama sdr Joedo Elifas dan Zainal Asril Kamili. Tahun 1962 kami bertiga kembali ke Indonesia dan bekerja di Direktorat Geologi Bandung. Di kantor inilah saya kembali bergaul dengan Beni sebagai sejawat kerja, dia sudah terlebih dahulu bekerja pada Direktorat Geologi, memimpin Bagian Petrologi. Setahu saya, sewaktu bekerja di Direktorat Geologi Bandung, Beni pernah menyelidiki potensi endapan asbes di Halmahera dan kemudian sebagai kordinator Proyek Nikel di Malili. Pertemanan kami tambah dekat, pada saat dia mengalami masalah pribadi yang lumayan berat kelihatannya dia tetap tampil tegar. Dia sesekali menjemput saya dan mengajak main dan singgah ke rumah kakaknya di Kebonwaru. Sebagai kordinator proyek, Beni sering membawa mobil jeep dinas pulang ke rumahnya. Kami masih sama-sama lajang waktu itu, sesekali bareng dengan Suharto teman kami yang sangat  banyak leluconnya. Setelah kembali dari tugas di Halmahera itu, kami agak sering berkeliling kota Bandung mencari udara segar dan sesekali mampir di Toko Buku ex Van Dorp, melihat-lihat buku dan berkenalan dengan karyawatinya.

Betul juga kata Suharto, kita yang berusaha keras selalu kurang mendapat perhatian, sedang Beni yang cool justru mendapat lirikan terus. Saya masih ingat kunjungan kami ke Kebon Raya Bogor dengan keluarga Budiharto, ikut serta isterinya  Pida, ibunya dan Holly, juga seorang ahli dari Rusia disertai Mila penerjemah bahasa Rusia yang cantik bahenol….menurut Beni hanya dia yang dipercaya pimpinan team Rusia untuk membawa Mila nonton bioskop, saya tentu sangat percaya tentang hal itu.

Beni mendapat tugas belajar setahun di AS , tak lama kemudian kami mendengar berita baik yang datang dari Washington DC, bahwa akhirnya Beni menemukan pasangannya, Soffie, dan mereka menikah di Washington DC bulan Januari 1964. Ayah Soffie, Bapak Doedi Soemawidjaja, kala itu Atase Kebudayaan RI di Washington AS. Kebetulan pula beliau juga kenalan dekat calon bapak mertua saya, sebagai sesama guru di sebuah sekolah di Bandung. Bp Doedi sendiri yang becerita kepada saya waktu beliau diminta menjadi penasihat pendirian SMA YPS Soroako. Begitulah hubungan saya dengan Beni, agak kait mengait. Jadi singkatnya, Beni adalah mentor saya waktu melakukan kerja praktek di Karangsambung, kemudian teman “ulin” semasa kami masih lajang di Bandung, sekaligus teman kerja di Direktorat Geologi Bandung.

Beni selalu menyebutkah saya dan isteri saya “adalah baraya nya”, atau keluarganya. Sebenarnya sebelum hijrah ke PT INCO. karir kami masing-masing di Direktorat Geologi berjalan baik-baik saja, sejak dibawah pimpinan Bapak Sutarjo Sigit sampai Bapak Johannas. Beni akhirnya memimpin Bagian Volkanologi & Petrologi dan saya memimpin Bagian Geoteknik Hidrogeologi. Sampai pada suatu saat ditahun 1968 Beni mengajak saya bergabung dengan PT INCO. Tawaran yang sama rupanya disampaikan kepada Soejadi Sastosoegito (Geofisika), Agus Suparman (Perpetaan) dan kemudian ikut pula bergabung Handoko Soemardjo (Asisten Direktur DGB). Karena itulah “Pioneer ahli geologi” INCO terdiri dari Beni Wahju, Sujadi Sastrosoegito, Agus Suparman, Djalil Nasution dan Handoko Soemardjo. Kami sama-sama pegawai negeri dan telah memegang jabatan penting di Direktorat Geologi Bandung. Selain itu Bp. Masdar Sanusi (Geokimia), bergabung pula untuk membangun Lab. INCO di Malili, bersama Art Wiebe dari INCO Canada.

Dalam rangka eksplorasi PT INCO itu pulalah, pada tahun 1968 Agus Suparman dan saya berangkat dari Jakarta menuju Makassar, dimana kami berkenalan dengan Warren Delaney, geologist dari Australia. Kami menginap di Hotel Makassar Beach. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Watampone untuk bergabung dengan tim pendahulu yang terdiri dari Beni Wahju, Henry O. Harju yang menyambut kami di Bajo-e/Watampone. Karena masih ada urusan mengenai banking, Henry Harju dan Warren Delaney harus kembali ke Makassar. Sementara itu Beni , Agus dan saya lewat Bajo-e, menyeberang ke Pomalaa naik tug-boat. Di depan dermaga Antam Pomalaa, tug-boat kami sempat kandas diatas batukarang. Baru terlepas sejam kemudian setelah air laut pasang kembali. Kami sampai di Pomalaa sekitar jam 23.00, disana bertemu dengan Sujadi yang menunggu di Mess Aneka Tambang.

Maka, kisah eksplorasi PT INCO yang panjang itupun dimulailah oleh tim geologi yang terdiri dari kwartet Beni-Agus-Sujadi-Djalil dengan pekerja-pekerja setempat yang antusias. Awalnya kami menyelidiki daerah sekitar Bukit-16 Pomalaa, kemudian berlanjut merambah daerah2 sepanjang pesisir barat dan hutan rimba Sulawesi Tenggara/Selatan, yang terdiri dari batuan ultrabasa, mulai dari Huko-Huko, Lapaopao, Suasua dan akhirnya sampai ke Malili. Beni pernah berseloroh, bahwa mungkin dulu surveyor Spanyol yang memetakan daerah pesisir itu orang yang gagap, sehingga nama-nama tempat yang mereka kunjungi, merupakan kata berulang-ulang.

Beni Wahju adalah team leader kami, sekaligus penghubung dengan geologist Warren Delaney, Henry Harju yang kemudian digantikan oleh Ray Burkhart. Sudah terlihat sejak awal bahwa Beni diproyeksikan untuk menjadi kordinator Field Exploration membantu Project Exploration Manager Henry O. Harju yang kemudian digantikan oleh Ray Burkhart, tinggal di Malili. Memang sudah sewajarnya karena Beni bersama Hitler Singawinata, turut membidani proyek PT INCO sejak tahun 1967, sejak proyek masih disebut Proyek Nikel Malili. Kemudian terbitlah UU PMA dimana Pak Sigit banyak berperan, sampai akhirnya tender dimenangkan oleh PT INCO.

Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai kordinator eksplorasi di lapangan, Beni menugaskan kami sesuai dengan kemampuan dan kekhususan pengalaman kami masing-masing. Dia juga sangat memperhatikan ambisi perorangan dan chemistry diantara kami/sejawat kerja yang dipimpinnya. Maka karena itulah Sujadi dan saya awalnya ditempatkan di Malili, saya mengurus tim eksplorasi Lakes Area dan sepanjang pesisir Sulawesi Tenggara, termasuk Saloraya, Larona, Towuti, Bahudopi, Matarape sampai Lasolo. Dalam tugas itu hubungan kerja saya dengan Beni sangat intens. Handoko ditugaskannya di Kolonodale, kemudian dipindahkan ke Lapaopao dan kemudian ke Bahudopi, Agus Suparman ditugaskan di Pomalaa kemudian dipindahkan ke Soroako. Serentak pula Sujadi yang bertugas di Soroako ditarik ke Malili untuk bekerjasama dengan Waheed Ahmad. Agus dan saya akhirnya dipindahkan ke Soroako. Handoko tetap langsung dibawah Beni mempertimbangkan latar belakangnya di DGB. Akhirnya jelas kelihatan bahwa geolog pioneer terbagi dua: Agus dan saya tinggal di Soroako untuk tugas Mines Exploration yang dipimpin Vishnu Pada, sedangkan Beni tetap memimpin tugas-tugas Regional Exploration dibantu oleh Handoko di Bahudopi.

Fast forward ke tahun 80an, akhirnya kami, setelah melalui alih tugas ke berbagai bidang yang baru di PT INCO menempuh jalannya masing-masing. Para Geologist Pioneer terpencar seiring dengan kebutuhan organisasi dan manajemen perusahaan dan tentunya ambisi karir kami masing-masing: Sujadi mengundurkan diri untuk berkarir di Jakarta, Handoko kelihatannya tidak begitu menyenangi tugas barunya di Bagian Logistic kemudian mengundurkan diri pula. Agus Suparman juga tidak merasa nyaman bekerja sebagai Chief Mines Geologist dan melanjutkan karirnya sebagai dosen di Unversitas Trisakti.

Saya tetap menekuni alih karir saya di Bagian HRD dimana saya sempat menjadi bawahan Edward J. Sinclair setelah dia menggantikan John Zurbrigg sebagai Director of Admin & Services. Inipun tidak berlangsung lama karena posisi tersebut kemudian diisi oleh Abing Soeriatmadja setelah Ted Sinclair pulang ke Canada. Tetapi Abing Suriatmadja, kemudian mengundurkan diri pula untuk suatu pekerjaan di perusahaan lain di Jakarta. Maka Beni pada tahun 1982 dari Sudbury diminta untuk kembali bertugas di Soroako mengisi lowongan tersebut. Maka Beni pun menjadi atasan langsung saya, kala itu saya menjabat sebagai Manager HRD.

Pada tahun 1982 sebagai dampak krisis moneter , terjadilah peristiwa PHK massal yang menghebohkan itu, Beni sebagai Direktur Administrasi & Services, dalam masa penuh gejolak akibat PHK massal itu menggunakan strategi khusus dalam menyelesaikan persoalan dengan cara-cara persuasif dan mencoba mengeliminasi sumber masalah satu persatu. Walaupun kami sebagai bawahannya seringkali mengalami kesulitan dalam mengimplementasi kebijakan yang diambilnya. Kekuatannya, dalam berkomunikasi dan melakukan lobby dengan kalangan elit pemerintahan, yang dalam hal ini menonjol pula upaya keras dan jejaring Lukman Kartanegara dan Hitler Singawinata di kalangan pemerintah pusat di Jakarta. Sementara itu kiprah Usman Effendi di tataran lokal dan wilayah tak kalah pentingnya. Kepemimpinan Beni didalam lingkungan perusahaan sangat membantu, karena dalam suasana seperti itu “kepercayaan” adalah modal yang paling utama. Beni memang menonjol sebagai sosok yang peduli, menjalankan tugas dengan pendekatan kekeluargaan dan empatik. Beni sering melakukan pendekatan secara kekeluargaan terutama dengan sebagian besar karyawan eksplorasi. Sering saya dengar sindiran adanya klik “Pak Beni”, kelompok DJB (Dari Jawa Barat), bahkan saya pun termasuk DJB juga karena isteri saya orang Banten (waktu itu Banten masih termasuk Jawa Barat)! Padahal saya tdak pernah menanggalkan marga Nasution yang saya banggakan.

Setelah berhenti dari PT INCO pada tahun 1989 saya masih sering ketemu dengan Beni dan Soffie, terutama dalam pertemuan nostalgia keluarga pioneer PT INCO atau perkumpulan M3, yang masih exist sampai kini. Mereka selalu mengundang kami kalau ada kawan-kawan ex INCO Canada yang lewat di Jakarta. Bagi Beni dan Soffie pertemanan tidak dbatasi oleh waktu, terus berkelanjutan. Sebetulnya kehebatan Generasi 1 dan 2 ex PT INCO dan M3 ialah kekerabatan yang tetap terjaga sampai sekarang, baik mereka yang kini mukim di Makassar, Jakarta dan Bandung.

Beberapa tahun lalu di Bandung, pada suatu pesta nikah putra seorang kawan, saya melihat Beni duduk saja di kursi, berbeda dengan kebiasaannya, dimana dia selalu menemui dan bicara dengan teman-teman ex INCO yang hadir. Rupanya itu adalah tanda-tanda awal dia mulai mengalami kecapaian atau gangguan kesehatan. Dia mulai sering mengatakan kepada saya akan pensiun, tetapi selalu saja diperpanjang. Keadaan fisiknya sementara itu terus menurun tetapi dia masih terus bekerja, terakhir sebagai Komisaris di PT Vale Eksplorasi Indonesia. Dia melakukan kegiatan-kegiatan seperti tidak mengalami masalah kesehatan yang serius, saya kira itu hanyalah cerminan pribadinya yang optimistis dan ikhlas menghadapi kenyataan. Sampai Beni terkena stroke ringan dan diopname beberapa hari di RSPI pada bulan Nopember 2010. Pada waktu itu saya sudah dikenalkan oleh Beni kepada Dave Burt (PT VEI), untuk melakukan tugas-tugas di Bima dan Dompu, karena dia sudah tidak dapat melaksanakan kunjungan ke lapangan sebagaimana mestinya. Saya sendiri waktu itu baru pulih dari suatu operasi, dan baru resmi bergabung dengan PT VEI bulan Maret 2011. Waktu itu saya sudah cukup yakin mampu secara fisik melakukan tugas di lapangan setelah selesai uji-coba bertugas di Waigeo.

Maka saya coba menjalani sebagian misi Beni yang tersisa yang diserahkan kepada saya, dia sepertinya ingin saya melanjutkan sebagian dari misinya yang belum selesai, tentunya dalam kapasitas saya yang terbatas. Melihat saya ragu-ragu menerima tawarannya dia menyemangati: ”Ah jangan mengecilkan kemampuanmu” kamu bisa melakukan tugas-tugas hubungan masyarakat” tegasnya. Tidak mustahil itu adalah upaya dia untuk membuka peluang kepada seorang kawan yang memerlukan peningkatan percaya diri. Kami sebetulnya sebaya, sama-sama lahir tahun 1934, bahkan saya 3 bulan lebih tua dari Beni, saya kira dia faham krisis apa yang sedang saya alami. Tetapi hal itu semua, saya kira juga mencerminkan pribadinya yang bertanggung jawab akan tugas-tugasnya, semua kebaikannya itu adalah bagian daripada rencananya sebelum meninggalkan kita semua. Di Facebook dia menginformasikan penerimaan saya akan tugas ke Dompu itu khususnyan kepada generasi kedua INCO, anak-anak kami semua, dan saya ingat dia mengutip: “Old soldiers never die, they just fade away”. Mungkin dimaksudkannya untuk saya, namun itu saya yakin juga cocok untuk dirinya sendiri. Kelihatannya Beni sangat lega setelah Bp Hadiyanto akhirnya menerima tawaran PT VEI.

Pada tgl 16 Januari 2012 saya diundang ke kantor VEI di Jakarta, untuk acara makan siang dan memperkenalkan Direktur baru PT VEI, Bp Hadiyanto. Hari itu Beni dan drivernya menjemput saya dari terminal Cititrans di Fatmawati, lalu singgah sebentar menjemput Soffie di rumah terus menuju ke Resto Sakura. Disana sudah hadir staf VEI dan juga Pak Hadiyanto dan isterinya, juga Dave Burt dan isterinya Inez. Seusai Dave memperkenalkan Bp Hadiyanto, Beni sempat mengajak hadirin untuk mengucapkan Selamat Ulangtahun kepada Dave.

Seusai makan siang, dikantor VEI kami berempat: Bp Hadiyanto, Dave, Beni dan saya mengadakan pertemuan. Dave menanyakan apakah Beni akan ikut hadir. Beni mengatakan bahwa saya bisa mengajukan tesis saya tentang misi yang akan dibahas. Ternyata akhirnya Beni ikut hadir juga dalam rapat. Diantara hal penting yang kami sepakati untuk dilaksanakan adalah rencana kunjungan Beni dan manajemen PT. STM ke Dompu dan Huu untuk memperkenalkan Bp Hadiyanto kepada pihak Pemerintah Daerah dan karyawan di Huu. Saya akan berangkat seminggu sebelumnya, rombongan manajemen PT STM akan menyusul sekitar awal bulan Februari.

Rencana kunjungan itu tertunda tetapi akhirnya tetap dilaksanakan tanpa Beni, karena pada tanggal 20 Januari Beni masuk Rumah Sakit PI dan keesokan harinya tgl 21 Januari 2012 sekitar  jam 10.30 pagi Beni Wahju berpulang ke Rahmatullah. Saya mendapat berita duka itu masih dalam perjalanan menuju RSPI, kemudian saya dan isteri, memutuskan langsung saja ke rumah duka di Jeruk Nyonya. Kira-kira jam 14.00 jenazah alm Beni Wahju tiba dari RSPI di Jeruk Nyonya, siang itu hujan turun agak lebat, jam 15.00, setelah selesai upacara dirumah duka, jenazah alm Beni Wahju diberangkatkan ke Bogor untuk pemakamannya disana.

Sebulan berlalu, setelah Beni meninggal, saya masih belum bisa merasakan bahwa Beni Wahyu, sahabat dan baraya saya itu sudah tiada, suatu pertemanan yang berjalan selama kurun waktu 5 dasawarsa, memang susah akan pupus begitu saja. H. Beni Nurtjahya bin Wahjoe Angrawinata alias Beni Wahju adalah sahabat saya yang sangat baik, semoga budi baiknya itu tetap memancarkan Nur dan Cahaya kepada kita yang ditinggalkannya, sebagai sahabat-sahabat yang akan selalu mengenang budi baiknya dan mendoakannya agar dia mendapat tempat yang sesuai dengan amal dan ibadahnya, damai dalam pangkuan Allah SWT.

Amien.

Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun….

Sesungguhnya, catatan ini terlalu pendek untuk mengenang persahabatan selama 5 dasawarsa, apalagi : Beni Wahju adalah mentor, sahabat, kolega dan keluarga saya yang baik hati.

Bandung, 1 Mei 2012

Perhatian kepada Saudara-saudaranya


By Keluarga Rulan Sudrajat

Terkesan tidak banyak bicara, tetapi sangat memperhatian keadaan saudara- saudaranya. Contoh, apabila dalam keluarga ada masalah, kakakku ini akan menyelesaikannya dalam waktu relatif singkat dan rapih, ini adalah salah satu bukti kepeduliannya.

Bagi keluarga Rulan pribadi,yang tidak bisa dilupakan adalah ketika pada tahun 1971 almarhum memberi kesempatan kepada bapaknya anak-anak untuk berkarya, membina dan mendidik 8 orang pemuda pemuda warga Malili selama 3 bulan untuk menjadi petani sayuran yang hasilnya sangat dibutuhkan oleh warga INCO di Malili waktu itu.

Kemampuan akademis dan komunikasi disertai sifat kepemimpinannya yang menonjol telah membawa almarhum meniti karier dibidangnya sampai mencapai posisi tinggi di perusahaan multi nasional.

Semoga Allah SWT menerima iman islamnya dan amal ibadahnya, mengampuni segala dosanya memberikan tempat yang layak disisi NYA.

Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

Masa awal di Sorowako


By Tina dan Irawan Poerwo

Kami lebih mengenalnya dengan nama “Kang Ben” yang mana sebenarnya kami lebih mengenal dekat beliau karena kami telah lebih dulu mengenali “Teh Soffie”, yang kebetulan bertetangga dengan rumah orang tua Tina di Bandung.

Ketika kami pindah ke Sorowako untuk mulai bekerja di PT Inco pada tahun 1978, kami tidak pernah melupakan hari pertama kami memasuki rumah, pada sore harinya kang Ben dan teh Soffie adalah tamu yang pertama menengok kami yang sedang membongkar kotak-kotak pindahan.

Tidak pernah kami lupakan bahwa beliau adalah sosok yang memberikan semangat kepada kami pada hari pertama di Sorowako agar menatap hari depan dengan optimis, karena masa depan terletak pada peralihan generasi untuk melanjutkan generasinya sendiri. Saat itu, Kang Ben pula yang pertama kali mendorong isteri saya Tina, agar berkarya dalam bidang pendidikan membantu sekolah perusahaan mendidik putera puteri karyawan di sekolah Sorowako, yang mana berlanjut ketika kami pindah ke lingkungan lain di Sangatta. 

Itulah kesan pertama kami bahwa Kang Ben adalah sosok yang memperhatikan generasi yang lebih muda dengan penuh perhatian.

Pada waktu saya mendapat kesempatan job training Inco sebagai Jr. Engineer di Canada pada tahun 1981 selama 4 bulan di Canada dengan beberapa rekan yang lain, kang Ben sendiri telah berada disana selama satu tahun, sehingga perhatian beliau pada pelatihan generasi muda menjadi lebih terasa lagi. Tidak jarang beliau sendiri yang memperkenalkan para trainee ini kepada para petinggi Inco saat itu dengan tidak mengenal batas batas hirarchie untuk memajukan wakil generasi muda tersebut.

Selain sangat memperhatikan perkembangan generasi muda, beliau sendiri tidak pernah canggung untuk menanyakan apa yang kurang diketahuinya agar dapat lebih memahami sesuatu secara professional.

Setelah saya meninggalkan Sorowako tahun 1989, untuk menekuni bidang pertambangan Batubara, hubungan kami tetap berlanjut secara professional melalui pertemuan pertemuan baik di IMA maupun PERHAPI. Beberapa kali beliau pernah menelepon saya untuk berdiskusi tanpa canggung tentang bidang Batubara yang beliau sendiri kurang mengenal dekat karena selama hayatnya kita ketahui beliau lebih menekuni base metal exploration.

Sebagai generasi yang lebih muda, kami telah kehilangan sosok yang dihormati baik sebagai tokoh intelektual professional maupun figure orang tua yang sabar dan penuh perhatian yang selalu ingin memajukan generasi penerusnya.

Semoga amal baik kang Ben akan selalu mendapat ridho Allah SWT dan mendapat balasan yang setimpal untuk keselamatannya dihari akhirat nanti. Amin.

Kami yang pernah merasakan perhatian Kang Ben semasa hidupnya, Iwan dan Tina