Big Ben and small Ben


By Benny Mahulete

Saya belajar dari beliau, tentang kesabaran, ketabahan, kerendahan hati dan kemanusiaan. Sampai hari ini ketika nenghubungi rekan-rekan Pak Beni di IMA, saya selalu introduce myself; “I am small Ben, used to be one of the assistants of Big Ben”.

Ketika saya bingung bagaimana menyelesaikan conflict Industrial Relations, Community Relations yang kadang-kadang begitu rumit, Pak Beni, memberikan petunjuk, bagaimana menghadapinya, dan inilah yang saya ingin share terutama kepada generasi muda di dunia pertambangan:

  • Kerendahan hati: siap berkomunikasi dengan siapa saja, tanpa melihat status, ras, agama dan kedudukan. Bukan pura pura, tunjukkan (jangan datang ke orang kampong hanya kalau pesta).
  • Kesabaran, sabar untuk mendengar, mengerti, baru menjawab. Jangan bertindak selagi marah – ini saya terima selagi sedang bernegosiasi dengan – SPSI
  • Ketulusan, tulus, tidak asal bikin orang senang untuk tercapai tujuan kita
  • Kemanusiaan, berbuat baik…..saya punya teman yang ketika mencari kerja dapat bantuan dari Pak Beni, dan setiap dia berceritra tentang kebaikan, matanya berkaca-kaca ketika menyebutkan bantuan yang dia terima dikala susah dari Pak Beni.

Saya dan keluarga tidak sempat mengantar ketempat peristirahtan terakhir beliau, saya sedang di Soroako, Sulsel waktu itu.

Kami hanya bisa berdoa dan yakin bahwa beliau bersama Tuhan di Bandil Bisai yang tenang tiada tangis dan airmata. Miss you Pak Ben !

Ben Mahulete

Ex VP. Administration PT. Inco 2002

Mengenang Bapak BN Wahju


By Sri Andayani

Nama itu tidak pernah asing dihati saya. Jika disebut nama itu, otomatis teringat sosok dan penampilan beliau, penuh wibawa, sederhana…., kebapakan……..tulus…….ramah dan penyabar…..juga kata-katanya yang penuh makna dan menyejukkan hati.

Selalu mengulurkan tangan PADA SIAPA saja yang memerlukan, lebih-lebih jika terucap kata minta tolong.

Sabtu, 21 Januari, 2012, tepat dihari ulang tahun saya, terdengar berita MENGGELEGAR.., beliau dipanggil menghadap yang kuasa, saya nggak bisa bicara apapun. Seakan tersekat dan tidak percaya….hanya air mata saja yang berlinang. Ternyata berita itu benar adanya…Inna lillahi wa inna lillahi rojiun….meski tak percaya …tapi ini NYATA.

Saya terhenyak…..tiada lagi sosok kebapakan yang selalu memberi nasehat berarti dan bermakna buat saya…..tinggal ibu Soffie…..nama mereka berdua sangat melekat dihati saya sampai saat ini. Bapak BN Wahju, beliau adalah orang tua saya…….teladan saya, sahabat saya, juga guru saya sama halnya dengan ibu Soffie.

Ada 2 hal yang belum sempat saya sampaikan pada beliau:

  1. Saat ini tidak ada lagi guru dan pegawai YPS tinggal dikolong rumah murid YPS, seperti yang bapak inginkan……sekaligus Bapak perjuangkan (saat mau meninggalkan Soroako ke Jakarta) supaya warga YPS tidak ada yang berstatus PB (pegawai bawah) Itu semua contoh bukti perjuangan bapak dan ibu untuk mengangkat kami…..guru dan pegawai YPS.
  1. Waktu bapak singgah di kediaman saya (Jl. .Maluku 20 Pontada-Soroako) sekitar pk 22:20, anak saya yang kedua (waktu itu berumur 3 tahun) terbangun dan ikut menyambut bapak dengan membawa mainan barunya…..alat-alat kesehatan, waktu bapak bertanya [BNW]: apa ini? dia jawab: alat Bu doktel….[BNW]: Kalau besar ingin jadi apa? Dia jawab: jadi doktel kayak Susan (lagunya Ria Enes berjudul Susan), Bapak pangku anak saya …..sambil bilang, “mudah2an terkabul yaa……!” saat tanggal 29 Nopember  2011 yang lalu dia dinyatakan lulus menyandang S. Ked pada semester ke 7, doa bapak dan ibu juga ikut andil dalam kesuksesan anak- anak kami. Ketika tanggal 29 Maret 2012 dia melaksanakan Sumpah Dokter termuda, kembali air mata berlinang…bahagia,terharu dan berkelebat terus didepan mata saya sosok bapak BN Wahju, Insya Allah Bapak BN Wahju menyaksikannya dari surga.

Hal ini baru sempat saya sampaikan pada ibu Soffie saja Selamat jalan Bapakku, Panutanku, juga guruku, semoga Bapak mendapatkan tempat yang layak disisi NYA,…….Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

Segala yang bapak capai selama didunia..tentunya tidak lepas dari dukungan dan keikut sertaan ibu Soffie yang memiliki jiwa setara dengan bapak.

Terima kasih ibu yang senantiasa peduli dan memberi dukungan pada kami sekeluarga terima kasih pendamping setia bapak. Terima kasih pula…karena bapak dan ibu juga sempat menitipkan pada Bapak Nico Kanter “Pendidikan anak-anak karyawan” juga semua yang terlibat didalamnya……untuk selalu diperhatikan.

Terima kasih juga bapak Nico Kanter atas “sharing” dan penjelasan pada kami (guru dan pegawai YPS/ATS) pada tanggal 6 Januari 2012 di Ontae Luwu, itu semua menyejukkan hati kami .

Soroako, 12 April 2012

Hormat saya

Sri Andayani

YPS 045

Mitra Caruban


By Pudjadi Soekarno

Beni saya kenal sejak zaman SMP saya di Cirebon. Kita sama sama tinggal di jl Cangkring. Meski hubungan kami tidak terlalu dekat, tapi dari zaman itupun kelihatan “leadership quality”nya. Dia biasanya menentukan kita main apa di waktu malam di bulan puasa.

Setelah ketemu lagi di Mitra Caruban, hubungan kita lebih dekat, termasuk berobat di “alternative” bersama. Dalam usia senja kami, dia merupakan sumber informasi dan sumber inspirasi dalam aktivitas saya pasca kerja, terutama di hari-hari terakhirnya banyak sekali membantu dalam urusan pertambangan.

Saya merasa sangat kehilangan sebagai teman, sumber informasi pertambangan dan Kuwu Mitra Caruban.

Jakarta May 11,2012

Cerbon dan Cerme Tidak Berasal Dari Cirebon dan Ciremai


By A M Luthfi

Saya terkenang dengan pembicaraan terakhir dengan Almarhum Sang Akuwu Paguyuban Mitra Caruban, Beni Wahju, pada pertemuan Cerbonan yang diselenggarakan ditempat kami.

Bahan pembicaraan adalah membahas kekeliruan pendapat umum yang menganggap bahwa Cirebon adalah berasal dari cai rebon yang berarti air udang (bahan terasi), seperti halnya Ciamis berasal dari cai amis (air manis). Demikian juga dengan Cibatu, Cikarang dan ci-ci lainnya yang berasal dari kata cai, yang berarti air.

Orang Arab menyebut daerah ini dengan Syarboun (lihat peta-peta abad XVII -XVIII), orang Belanda menyebutnya dengan Cheribon, lagi pula terdapat tokoh-tokoh kesultanan yang bernama Adipati Carbon.

Kalau dikaitkan dengan Caruban, seperti halnya Caruban di Jawa Timur yang berarti campuran, itu masuk akal, karena tempat ini adalah daerah pertemuan antara dua suku, Jawa dari Timur dan Sunda dari Barat. Harap diingat, Cerbon itu bukanlah suku Jawa dan bukan pula suku Sunda. Tapi kalau Cerbon dianggap berasal dari cairebon (air udang) rasanya jauh panggang dari api.

Demikian pula penyebutan gunumg Ciremai, lebih tepat disebut gunung Cereme atau Cerme (nama buah).

Sang Akuwu hanya tersenyum dengan senyumnya yang khas, tapi dia bilang dia punya data-data untuk menunjang teori ini,bahkan saya kemukakan lebih tepat kalau Cirebon ini dirubah jadi Cerebon atau Cerbon, dan Gunung Ciremai diubah menjadi Cereme atau Cerme. Saya rasa dia tidak menentang teori saya, dan saya masih menunggu data-data yang dia janjikan, dan saya merasa kewajiban saya untuk meneruskan kerja ini, walaupun almarhum telah mendahului kita, menghadap Allah Azza wa Jalla.

Ya Allah terimalah amal kebajikan sahabat kami ini,tempatkan dia di tempat yang baik, ampunilah dosanya dan kepada keluarga yang ditinggalkan berilah kesabaran dan ketawakalan.

Aamiin ya Robbal Alamiin

Jakarta, 11 Mei 2012