Tokoh Pendidikan dan Pramuka di Soroako


By : MAX A. KOLIBU

Tulisan ini disusun berdasarkan informasi yang didapat dan pengalaman penulis di lapangan selama berada di Soroako/di proyek tambang Nickel/P.T. INCO Soroako.

Bapak B.N.Wahju sebagai tokoh Pendidikan:

  1. Saya masuk ke P.T INCO Soroako pada bulan Februari 1976 untuk membuka SMP, mendapat informasi tentang “sepak terjang” Bapak B.N.Wahju yang merupakan salah satu tokoh yang peduli  kepada “ DUNIA PENDIDIKAN” Berdirinya TK dan SD di Malili dalam wilayah kerja P.T INCO adalah merupakan gagasan Bapak B.N Wahju. TK dan SD ini beraktivitas dalam kurun waktu tahun 1970 s.d. 1975. Setelah pembangunan perumahan bagi karyawan P.T INCO  di Soroako, mulailah berpindah karyawan dari Malili ke Soroako, maka pembangunan sekolahpun diadakan di Soroako.
  2. Pada tahun 1976 bulan Februari bersamaan diterimanya saya oleh P.T INCO, maka SMP mulai dibuka dengan jumlah murid 4 orang dan saya sebagai guru dibantu 2 guru spesialis (guru sekolah asing dan Indonesia), TK, SD, SMP yang dibuka oleh P.T INCO pada waktu itu dikelola dibawah Departemen Personalia P.T. INCO Soroako lokasi persekolahan pada waktu itu untuk TK, SD, SMP, berada di Singkole dekat dengan komplek perumahan karyawan Staff kemudian berkembang dengan pesat sehingga dibangun komplek persekolahan di Lawewu.
  3. Menurut Bapak B.N Wahju, diadakannya sekolah–sekolah di P.T INCO bertujuan memberi fasilitas pendidikan yang berkualitas bagi anak- anak karyawan  yang pada waktu itu sebagian karyawan didatangkan dari  kota- kota besar diluar  Sulawesi, karena Soroako waktu itu masih merupakan daerah terisolir. Untuk pendidikan yang bermutu didatangkanlah guru-guru dari luar Soroako (Makassar, Jakarta, Surabaya  dan kota–kota lainnya).
  4. Dengan bertambahnya karyawan P.T INCO  Soroako termasuk karyawan lokal, maka bertambah pula murid sekolah  di sekolah  P.T. INCO . Bersamaan dengan itu Pemerintah mengingatkan tentang syarat sekolah swasta  diantaranya tentang Badan Pengelola Sekolah Swasta yang harus dikelola oleh bukan perusahaan yang berorientasi  pada mencari keuntungan seperti P.T INCO , tapi oleh sebuah Lembaga yang tidak mencari keuntungan, maka oleh Management P.T INCO dibentuk YAYASAN PENDIDIKAN SOROAKO (YPS), dengan akte notaris  nomor 4 tahun 1979. Jadi mulailah Management  mengatur strategi/menyusun aturan main tentang Persekolahan di P.T INCO ke YPS.
  5. Pada tahun 1983 dibukalah sebuah SMA di P.T INCO dengan aturan baru, yaitu pengelola SMA bukan lagi oleh Management P.T INCO tapi oleh Pengurus  Yayasan Pendidikan Soroako/ YPS, meskipun personelnya  masih dari Management P.T INCO, diantaranya Bapak B. N.Wahju. Kepala SMA pertama  di YPS  adalah Bapak Doedi  Soemawidjaja yang adalah ayah dari Ibu Soffie Wahju atau ayah mertua dari Bapak B. N Wahju.  Murid-murid  YPS  angkatan pertama itu adalah 16 orang dari tamatan SMP P.T INCO dan 5 orang tamatan SMP Negeri Wawondula/penduduk asli Soroako.
  6. 15 Juli 1985 seluruh sekolah di P.T. INCO (TK, SD, SMP, SMA) resmi bernaung dibawah Yayasan Pendidikan Soroako/YPS, yang berakibat beberapa orang guru keluar dari Soroako.
  7. Juli 1985 s/d Januari 1988 Yayasan Pendidikan Soroako/YPS, yang mengelola TK, SD , SMP, SMA dipimpin oleh Bapak  B.N. Wahju selaku ketua Umum Pengurus (Ketua  Umum  Board of YPS).
  8. Karena beberapa guru tidak mau bergabung dengan  YPS ,dan memilih meninggalkan  P.T. INCO Soroako, maka saya ditugaskan oleh Bapak B.N. Wahju untuk mencari/mendatangkan guru –guru  pengganti dari luar Soroako (Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Manado).

Bapak B.N. Wahju sebagai Bapak Pramuka YPS:

  1. Bapak B.N. Wahju bukan saja peduli pada pendidikan formal, tapi peduli juga pada pendidikan Non Formal yaitu PRAMUKA. Pada tahun 1985 setelah Bapak B.N. Wahju  menjadi Ketua Umum  Pengurus YPS ,memprakarsai  pembentukan Gugus Depan Pramuka Y P S (Siaga di SD Penggalang di SMP dan Penegak di SMA)  Bapak  B.N. Wahju menganjurkan guru –guru di Y P S untuk mengikuti Kursus Pembina, baik Mahir Dasar Pramuka  maupun Mahir Lanjutan  Pramuka, bahkan mendatangkan khusus  pelatih- pelatih Pembina Pramuka dari Kwartir Daerah Pramuka Sulawesi Selatan di Makassar, dengan biaya P.T INCO/Soroako, dan YPS, dengan menugaskan saya untuk membicarakannya dengan pelatih-pelatih , dengan terbentuknya Gugus Depan  Pramuka di YPS, maka Bapak B.N.Wahju menjadi Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan PRAMUKA /MABIGUS PRAMUKA YPS dengan Sekretarisnya saya (Max Kolibu).
  2. Bersamaan dengan terbentuknya Gugus Depan/GUDEP PRAMUKA di YPS maka dengan prakarsa  Bapak B. N.Wahju , diadakanlah  Bumi Perkemahan PRAMUKA, dengan nama BUMPER PRAMUKA SAWERIGADING Soroako ,yang merupakan tempat pelatihan anak didik pramuka YPS , maupun sekolah lain juga kegiatan organisasi lainnya.
  3. Bapak B.N Wahju menugaskan saya untuk melakukan kerjasama dengan kwartir/cabang/Kwarcab  Luwu di Palopo dan Kwartir Daerah /Kwarda Sulawesi Selatan di Makassar untuk  kepentingan Pelatihan Pembina Pramuka baik di Gudep, maupan  di Kwartir Ranting /Kwaran Nuha.
  4. Dibawah asuhan Bapak B.N.Wahju sebagai  Ketua Umum Y PS, dan Ketua  MABIGUS PRAMUKA Gudep YPS, Penggalang YPS  mengikuti  Jambore Nasional  di Jakarta pada tahun 1986, di Cibubur, mewakili Kwarcab Luwu dalam Kontingen Kwarda Sulawesi Selatan
  5. Pada tahun 1991, meskipun Bapak B. N. Wahju  dan keluarga sudah berdomisili di  Jakarta, tetap berperan dalam mengusahakan membantu  GUDEP PRAMUKA YPS saat Penggalang mengikuti Jamboree Pramuka Mewakili Kwarcab Luwu. Dengan bantuan Bapak B.N. Wahju, GUDEP Pramuka mendapat kapling yang paling strategis yaitu dekat dengan Pusat informasi Panitia Jamboree Nasional di Cibubur , Jakarta. Karena peran aktif Bapak B.N. Wahju  dalam Pramuka, dalam tahun 1996, maka Kwartir Daerah  Pramuka Sulawesi Selatan menugaskan saya sebagai Ketua Kontingen Jamboree Nasional Daerah Sulsel karena keikutsertaan YPS/ GUDEP YPS mewakili Kwarcab  Luwu ke Jamboree Nasional di Cibubur Jakarta.

Bapak B.N. Wahju sebagai Tokoh Panutan bagi guru–guru dan Pegawai dan keluarganya baik di P.T. INCO, maupun di YPS

  1. Kewibawaan Bapak B.N. Wahju sangat diakui oleh guru-guru dan pegawai  karena  sepak terjang sebagai pemimpin sangat disegani, karena memperhatikan kesejahteraan bawahan  sampai ke hal-hal kecil.
  2. Kerukunan antar Guru dan pegawai serta keluarga dilakukan tanpa membedakan agama, golongan dan suku antara lain.
  3. Jika saat lebaran/Idul Fitri, dirumah  kediaman keluarga Bapak B,N.Wahju  terbuka bagi siapa saja untuk berkunjung bersilaturahmi.
  4. Bersama ibu Soffie Wahju berkunjung kerumah pegawai/guru yang beragama Kristen pada hari natal.
  5. Bersama  Ibu Soffie mengikuti pertemuan kekeluargaan di rumah guru- guru/pegawai.

Kesan PRIBADI dan keluarga saya terhadap Bapak B.N. Wahju dan Ibu Soffie:

  1. Kami  banyak mengambil teladan dalam kehidupan pribadi Bapak B.N. Wahju dan ibu Soffie  baik dalam tugas maupun dalam bermasyarakat dan berkeluarga.
  2. Pada hari Natal 1986, saat Bapak B.N. Wahju dan Ibu Soffie berkunjung  ke rumah kami di jalan Maluku, mengajak kami supaya segera pindah ke rumah  Salonsa karena oleh Personalia  INCO sudah  dikeluarkan surat pemberitahuan untuk pindah ke Salonsa (secara jujur pada waktu itu kami enggan pindah karena merasa saya bukan pegawai tinggi INCO, karena saat itu saya Kepala SMP YPS,  sedangkan Rumah Salonsa merupakan jatah untuk ditempati oleh  Pegawai Tinggi INCO), kami menerima ajakan untuk pindah ke Salonsa pada Januari 1987.
  3. Sebagai seorang guru, saya salut  kepada Bapak B.N. Wahju dan Ibu Soffie karena meskipun  Bapak B.N. Wahju atasan saya, tetapi tidak mencampuri urusan teknik pendidikan walaupun  menurut anak didik di sekolah ,saya dikenal keras dalam mendisiplinkan  murid (termasuk kepada anak–anak beliau yaitu : Reza, Emir, dan Kemal)
  4. Pada Maret s/d Juni 1988  saya dirawat di R.S. STELA MARIS Makassar karena sesuatu penyakit, saya ditempatkan di ruangan kelas III , tetapi karena  campurtangan Bapak  B.N.Wahju  saya dipindahkan  ke ruangan
    VIP.

PENUTUP

Bapak B.N.Wahju banyak mewarnai kehidupan pribadi saya maupun keluarga saya, apalagi dalam tugas, pengabdian, saya banyak menimba  hal-hal seperti kepemimpinan, kekeluargaan dan kemasyarakatan. Karena peran serta Bapak B.N.Wahju di P.T. INCO  Soroako dan di Yayasan Pendidikan Soroako, saya dapat berkarier di P.T INCO/YPS mulai dari guru Perintis SMP PT INCO/YPS Singkole, Kepala SMP, Kepala  SMA YPS, Dosen Akademi Tehnik  Soroako, Dosen di Akademi Perawat  R.S. INCO Soroako, Ketua Harian YPS, Direktur Sekolah  Umum, (TK< SD< SMP< SMA YPS), saya berkarya di P.T INCO Soroako dan di YPS dalam kurun waktu 31 Desember 1975 s.d.1 Juni 2001.

Dengan tulus dan jujur saya pribadi dan keluarga mengucapkan :

TERIMA KASIH KARENA SAYA MENEMUKAN SOSOK SESEORANG YANG BERNAMA BAPAK B.N.WAHJU DIDAMPINGI OLEH IBU SOFFIE YANG TELAH MEWARNAI KEHIDUPAN PRIBADI SAYA DAN KELUARGA.

JULI  23, 2012

Max Kolibu

Desa Kec. RANOYAPO, Kab MINAHASA, SELATAN , SULUT

Kau tetap hidup, Ben!


By: Kuntoro Mangkusubroto

Di sanalah kau kini, Ben. Di tetanah basah pekuburan Blender, Kebon Pedes, Bogor, dalam usia ke-77 yang baru kaulangkahi, pada suatu akhir pekan yang senja. Angka di kalender matahari menunjuk titik 21 Januari 2012. Maafkan, aku tidak mengantarkanmu saat itu…

Tak habis pikir, bagaimana sahabat saya itu bisa dianggap ”pergi selama-lamanya” kecuali bahwa, secara sunatullah, memang jasadnya “telah dipulangkan”. Beni—Beni Wahju—tak pernah pergi, sampai kapanpun, karena ia telah memberi kita semua, sekurang-kurangnya saya, persahabatan yang mengalir-menginspirasi. Akan selalu saya kenang!

Prestasi dan ukiran hidup seseorang tentu saja bisa tersaji laksana tonil yang beku. Ini dimungkinkan manakala apa yang berpendaran dan melilitnya hanya dipandang sebagai guratan-guratan statistik semata. Kaku, menjemukan. Sosok Beni tak akan pernah cukup diwadahi oleh statistik sebanyak apapun. Dengan cara itu lah saya ingin mengenangnya.

Sebagai Manusia

Sebagai manusia, Beni adalah manusia dan, pasti, seorang bapak yang hangat. Beni itu selalu, istilah Belanda-nya, correct. Ia piawai menempatkan diri hingga membuat saya bersikap serupa. Asyiknya, ketika kita bertukar pikiran, maka semua tembok penyekat yang membuat kita sungkan, seketika roboh. Beni sontak menjelma sebagai kakak ketika terlibat baku-diskusi dengan saya.

Loyal, itu juga capnya, selain terbuka: sifat yang membuat saya secara ikhlas menghargainya. Dengan Soffie, istrinya, saya beserta istri juga selalu merasa hubungan kita hangat. Rupanya, aura yang terpancar itu dapat kami rasakan dan kemudian kami tempatkan pada aras penghormatan yang tinggi. Pantaslah kalau kami terpukul karena amat kehilangan Beni. Berita berpulangnya mengejutkan sekali, karena sebelumnya kami tidak pernah mendengar dia sakit. Sedihnya lagi, saat itu kami sedang tidak berada di Jakarta, sehingga tidak bisa mendampingi pada saat-saat terakhirnya.

Sebagai Sahabat dan Rekan Kerja

Meski sama-sama jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), namun karena Beni senior saya jauh—13 tahun lebih tua—ditambah lagi bidang yang berbeda, membuat kami tidak saling mengenal. Barulah ketika saya menjadi Direktur Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi (1993-97), Tuhan mempertemukan kami. Reputasinya berkilau sebagai tokoh geologi eksplorasi—salah satu pelopornya, malahan. Sebagian besar energi produktifnya dicurahkan di sana. Yang terlama tentu di PT International Nickel Company. Ia juga orang Indonesia pertama yang namanya dicantumkan pada peta geologi tersohor di Amerika Serikat: USGS (The United States Geological Survey). Beni jualah penggagas penting dari didirikannya field camp Karangsambung, Banjarnegara, Jawa Tengah, sebagai laboratorium alam penelitian geologi. Pendek kata, lelaki luwes kelahiran Depok, 10 Mei 1934, yang masa kanak-kanaknya dilewatkan di Cirebon dan Indramayu itu luas pergaulannya, kuat jejaring internasionalnya. Bahasa Inggrisnya jempolan, par excellence.

Berkat kepandaian dan keandalan membawa diri itulah, Beni disukai para profesornya, termasuk Prof. Klompe yang legendaris itu. Padahal Prof Klompe yang kala itu menjabat Kepala Bagian Geologi ITB, diawal 50an, dikenal formal dan selalu jaga jarak. Kelebihan-kelebihan inilah yang kelak menempatkan Beni sebagai tokoh pertambangan umum Indonesia yang menonjol di kalangan internasional.

Saya sendiri adalah “anak TI” (Teknik Industri) yang, kebetulan, “terperosok” masuk ke dunia pertambangan ketika dipercaya menjadi Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) pada 1988-89. Artinya, dalam komunitas pertambangan, sebetulnya saya ini tak lebih dari “a new kid on the block”.

To the point, Beni, bagi saya, selalu menjadi individu yang sangat berarti dan menempati lokus istimewa dalam hidup saya. Bagaimana tidak, tatkala saya sebagai orang baru di birokrasi pertambangan—sebelumnya BUMN pertambangan—Beni lah orang pertama yang memaparkan lanskap luas mengenai industri pertambangan beserta kegiatan dan prospeknya. Sebagai Ketua Umum Indonesian Mining Association saat itu, Beni dimungkinkan memberi saya banyak bekal untuk lebih memahami dunia pertambangan umum di Indonesia dan juga di internasional.

Saya meyakini, dan bisa dirasakan bahwa, Beni juga banyak mendukung saya dari luar (birokrasi), sehingga ketika menghadapi berbagai hal di luar birokrasi, saya menjadi relatif lebih siap ketimbang andaikata tidak ada Beni. Terlebih-lebih karena, sekali lagi, sebagai seorang yunior yang “dilemparkan” dari luar pertambangan, tak sedikit orang (lama) di sektor pertambangan yang, di belakang punggung saya, mencibir dan meremehkan, memandang sebelah mata, bahkan mencemooh saya sebagai “Alien dari Planet Mars”—ini justru menjadi cambuk. Mereka itu bukan hanya yang berada di luar BUMN yang saya pimpin, melainkan tak sedikit pula yang di dalam perusahaan yang sedang saya pimpin. Tidak demikian dengan Beni. Dialah sedikit dari senior di sektor pertambangan yang dengan ikhlas-legawa membuka diri. Beni siap kapanpun untuk bertukar pikiran. Beni memperlakukan saya sewajarnya, sebagai seorang yang biasa-biasa saja; dalam artian, tidak dianggap sebagai “orang luar”.

Di situlah arti penting Beni buat saya. Seperti matahari, kami berdua tidak pernah bertengkar meributkan tentang siapa di antara kami berdua yang telah menciptakan bayang-bayang. Beni membuat saya nyaman. Itu istimewanya Beni. Saya berbahagia bisa bertemu dan mendapatkan pemandu setangguh itu. Jadi, kalau saya sekarang menjadi lumayan melek pada dunia pertambangan, maka Beni lah orang yang paling berkontribusi dalam mengenalkan, membimbing, dan mengantarkan saya masuk ke sana.

Keberartian Beni juga saya rasakan karena dialah sohib yang tidak segan menyampaikan pandangan-pandangan, kendati tak selalu sejalan. Tapi dari situ, betapa saya bisa merasakan Beni yang senior itu punya penghargaan terhadap “keyunioran” saya. Saya kira, hal-hal itulah yang menonjol dari karakter hubungan kita berdua: empati, tebaran jaring persahabatan, keterbukaan, loyalitas, kehangatan…Karakter hubungan itulah yang, seperti saya sebut di awal tadi, menjelma sebagai persahabatan yang mengalir dan menginspirasi. Mengabadi. Kapanpun dan di manapun, Beni menjadi sosok yang tidak akan pernah lenyap pergi.

Saya jadi ingat pada “Sihir Hujan”, sebuah sajak bagus gubahan Sapardi Djoko Damono pada 1982, tahun ketika saya masih khusyuk berkhidmat di ITB. Sapardi menulis:

Hujan mengenai baik pohon, jalan, dan selokan—swaranya bisa dibeda-bedakan; kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela, meskipun sudah kau matikan lampu.

Beni adalah hujan yang dihadirkan Tuhan sebagai pemandu medan di depan saya. Panduannya itu, saya pastikan, tak pernah sedetikpun akan terjeda: menerobos limit waktu, usia. Sekalipun sang pemandu telah berpulang, sekalipun pintu dan jendela sudah ditutup, sekalipun nyala lampu telah padam….

Kau tetap hidup, Ben!

Jakarta menjelang senjakala, 12 Juli 2012

Kumpulan tulisan dari teman–teman SMA Bogor


Maemunah Soeprapto:

Beni yang kukenal dekat  setelah diadakan reuni secara teratur dengan teman- teman lama SMA 1 B Bogor. Beni merupakan pribadi yang baik, ramah, penolong bagi mereka yang membutuhkannya serta sangat memperhatikan keadaan teman-temannya kami semua sangat kehilangan Beni.

Ya Allah, limpahkanlah Rakhmat kepadanya, hapuskanlah kesalahannya, Muliakanlah tempatnya dan terimalah amal ibadahnya, Aamiin, Ya Robbal Aalamiin.

 

S. Fatimah Soedewo:

Didunia fana ini, ada waktu tiba dan ada waktu pergi. Bila kita  manusia sudah meninggal maka hanya kenangan pada kita yang akan tinggal. Sebagai pribadi, Alm. Beni seorang yang baik dan perhatian pada teman-teman Ex SMA1 Bogor dan selalu memberi oleh- oleh bila pergi keluar kota. Bagi banyak teman-teman, Alm. Beni menjadi teladan dan akan selalu dikenang oleh kami.

 

Holilah Nazir:

Kepergian anda, Beni Wahju, sungguh merupakan suatu kehilangan yang tak dapat tergantikan bagi kita rekan–rekan K L U yang anda prakarsai. Walaupun saya belum begitu lama mengenal anda, namun saya dapat merasakan anda adalah seorang dengan kepribadian yang sangat baik, humoris, mengayomi dan sangat perhatian kepada siapa saja.

Sifat yang seperti anda itu dapat menjadi tauladan, bahwa kebaikanlah yang akan menjadi kenangan indah bagi kita yang ditinggalkan. Saya mendoakan semoga anda mendapat ampunan dan mendapat tempat yang sangat layak disisiNYA, dan bagi keluarga yang ditinggalkan selalu ada dalam lindunganNYA, diberi ketabahan, kekuatan, kesabaran dan keikhlasan, semoga.

Aamiin

 

Yetty Malkan (Lurah KLU):

Sebenarnya saya baru benar- benar mengenal Beni pada tahun 1999. Pernah bertemu beberapa kali tahun 1996, setelah berpisah lebih dari 40 tahun. Pertengahan tahun 1999 Beni menghubungiku untuk membicarakan rencananya mencari dan mengumpulkan teman–teman lama SMA -1 Bogor. Setelah mendapat alamat dan no telp Ati Sri Umiati dari Beni, saya segera menghubunginya. Kamipun, Beni, Soffie, Ati dan Aku sering berkumpul secara teratur dan kamipun menjadi akrab kembali. Sejak itu saya baru kenal betul sifat dan karakter Beni. Dia baik hati dan sangat memperhatikan temannya. Beni sahabat sejati yang siap menolong teman yang membutuhkannya, baik dengan nasehat maupun materi. Dia juga dengan gigih berusaha keras bersama Ati dan saya mencari dan mengumpulkan teman–teman lama. Kemudian mengadakan reuni secara teratur sehingga menjadi sebuah keluarga besar yang dinamakan KLUB (Kelompok Lupa Umur Bogor) yang mula–mula anggotanya berjumlah 14 orang, disamping suami/isteri masing masing yang sekarang berkurang menjadi 11 orang disamping suami/isteri karena teman kita Pepet Syafri dan Didi Rasyidi Supia yang telah pergi meninggalkan kami, kemudian disusul Beni Wahju tanggal 21 Januari 2012, kami semua termasuk saya sampai sekarang masih belum dapat percaya bahwa Beni telah tiada, Beni begitu cepat dan mendadak sekalu meninggalkan kita. Kami semua sangat kehilangan Dia.

Atas nama semua teman- teman saya mengucapkn banyak terima kasih atas semua usaha Beni untuk mempertemukan kembali teman- teman lama tidak berjumpa. Insya Allah kami akan meneruskan secara teratur reuni yang sudah Beni rintis sejak semula.

Doa saya panjatkan semoga Allah SWT menghapus segala kesalahan Beni, menerima amal ibadahnya, menganugrahkan Beni tempat yang paling baik disisi-NYA

Aamiin Ya Robbal Alamiin.

“Kelompok Lupa Umur”


Almarhum H. Beni. Wahju

By Nonon Fatma Noerthini Rahardjo

Pada hari Sabtu siang tanggal 21 Januari 2012, telpon hpku berdering, ternyata diujung sana terdengar suara Dewi Panji yang bertanya, “Apakah yu sudah dengar bahwa kang Beni  meninggal dunia tadi pagi?” Dia membaca di milisnya tentang berita duka tersebut dan langsung memberi tahuku. Rasanya seperti disambar petir di siang hari, aku tak percaya, berkali-kali kutanyakan kepadanya.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’uun, semoga ALLAH SWT melapangkan kuburnya, diterima Iman Islamnya, amal baik dan Ibadahnya serta dimaafkan semua kekhilafan dan kesalahannya, serta dimudahkan segala urusannya hingga hari ke-bangkitan nanti, Aamiin.

Dengan hati yang tak menentu dan duka yang dalam, aku tilpon Yetty Malkan, Lurah “Kelompok Lupa Umur” kami. Untuk menyampaikan berita duka dan memberi tahu bahwa jenazah akan dimakamkan di TPU Kebon Pedes, Bogor, sesudah ashar. Kawan- kawan yang tinggal di Bogor aku beritahu, terutama Fatimah Sudewo yang sedianya akan menerima kami di kediamannya, jalan Ciwaringin 103, pada tanggal 28 Januari 2012.

Pikiranku menerawang jauh ke tahun 1951-an – kurang lebih enam puluh tahun yang lampau, sewaktu mendiang ayahku berkata bahwa akan ada Residen baru di Bogor,dan salah seorang puteranya akan bersekolah di SMA Bogor. Tak lama sesudah itu, aku mendengar ada siswa baru di kelas 2 bagian B2, yang bernama Beni Noertjahja,yang berperawakan tinggi semampai, berambut ikal dan katanya hitam manis. Karena kelas kami berbeda, aku dikelas 2B1, dan Beni 2B2, jadi kami tidak banyak bergaul. Yang kuingat kami sering bersepeda keliling kota Bogor atau didalam Kebun Raya dan sekali-sekali berakhir dirumah. Selama di SMA, sepanjang pengetahuanku Beni kupandang sebagai kawan yang lembut tetapi tegas, aktif dan penuh wibawa. Selain mengenal Beni, aku/kami juga mengenal keluarganya, karena” baraya” kata yang selalu Beni ucapkan kepadaku selama ini kalau baru bertemu, saya akan kehilangan kata itu.

Keluarganya akrab, hangat dan sangat terbuka, terutama kak Willy. Setelah lulus SMA, kami berpisah menuju kota tujuan berkuliah, tetapi ada juga yang tetap tinggal di Bogor. Karena kesibukan masing–masing, kami tidak banyak berhubungan kecuali sesekali mendengar berita tentang keadaan kawan-kawan.

Namun sekitar awal 2004, ada tilpon dari Beni yang ingin mengajak kawan-kawan ex SMA 1 Bogor tahun 1950-an untuk berkumpul bersilaturahim dan beliau meminta agar tempatnya kuatur, bila mungkin di Kebun Raya Bogor,tempat yang strategis dan penuh kenangan manis. Beberapa nama kawan-kawan disebut untuk diundang. Pada awalnya hanya Sembilan orang yang hadir pada pertemuan pertama tersebut. Sesudah bernostalgia, kami secara bergilir diminta untuk bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing setelah tamat SMA beberapa puluh tahun yang  lalu. Waktu tiba gilirannya, pencetus pertemuan silaturahim menyampaikan bahwa selama ini beliau telah berusaha untuk mengumpulkan kawan-kawannya sejak bersekolah di Taman Kanak–kanak, SMP, dan sekarang mulai merintis kawan-kawan ex SMA 1 Bogor dalam jumlah terbatas untuk secara berkala berkumpul untuk bersilaturahim.

Dan semenjak tahun 2004 kawan –kawan ex SMA 1, Bogor yang tergabung dalam  “Kelompok Lupa Umur (KLU) “ telah berkumpul untuk bersilaturahim paling tidak tiga atau empat bulan sekali. Adapun pertemuannya berpindah-pindah tempat kadang- kadang di Bogor atau Jakarta, dengan acara pokok adalah ramah tamah/silaturahim dan kadangkala diisi dengan masalah kesehatan yang mencakup segala macam topik, misalnya  “EAT RIGHT FOR YOUR BLOOD TYPE”, ALZHEIMER, lutut yang mulai sakit-sakit, mengulur “Golden Time”, mencegah kecacatan dalam menangani stroke, pencegahan osteoporosis, dsb.

Ada juga yang bercerita tentang pengalaman hidupnya yang dapat dicontoh oleh kawan- kawan, tentang artikel yang dibaca dari Reader’s Digest, yang lucu-lucu atau serious misalkan tentang agama, atau topik hangat lainnya.

Semoga pertemuan silaturahim KLU Bogor ini dapat berlangsung terus sesuai dengan keinginan dan cita-cita pencetusnya yang telah begitu konsisten ,dengan care, dengan rasa cinta dan kasih, lembut tetapi tegas, sabar dan penuh wibawa.

Semoga kami dapat melanjutkan dian-Mu….Aamiim Ya Robbal Alamiin

Nonon Fatma Noerthini Rahardjo (kakak dari Arief Rachman)

Jum’at, 13 April 2012