2012 in review


The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 12,000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 20 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Oom Beni dan Bapak


By: Indria Sigit, putri SOETARYO SIGIT

Oom Beni Wahyu dan tante Sofie, demikian kami anak anak Bapak biasa memanggil mereka. Mereka adalah sahabat keluarga, sejak Bapak Ibu tinggal di Bandung, sampai ketika kemudian kami pindah ke Jakarta.  Menurut cerita Bapak,  oom Beni adalah yuniornya di Geologi ITB, dan oom Beni juga yang kemudian menggantikan posisi Bapak sebagai asisten dosen di jurusan tersebut. Persahabatan ini berlanjut sampai ke masa kerja dan masa pensiun Bapak . Mereka saling berkunjung ke rumah, dan oom Beni serta tante Sofie selalu termasuk dalam daftar undangan jika “Bapak nduwe gawe” .

Bapak dan oom Beni seringkali bertemu untuk rapat kerja, atau pertemuan IMA , atau diskusi lain. Seringkali, pertemuan antara Bapak dan oom Beni berlangsung sampai saat makan siang. Pagi-pagi, Nina sekretaris oom Beni akan menyiapkan agenda hari itu dan segala perlengkapannya. “ Item” makan siang, disebabkan seringnya pertemuan dan makan siang,   bisa jadi “item” yang sulit persiapannya,  hingga akhirnya Nina kehabisan ide makan apa ya hari ini……

Kalau sudah begitu, ia akan menanyakan pada oom Beni : “Untuk pertemuan siang dengan pak Sigit, saya pesankan apa untuk makan siang nanti ?” 

Dan oom Beni, yang tahu bahwa Bapak suka makan  dan suka jajan serta punya referensi lengkap tempat makan enak murah meriah,  dengan entengnya akan menjawab : “ Coba kamu telpon pak Sigit, makan siang apa kita hari ini...?”

Jadi begitulah, setiap kali Bapak punya janji temu dengan oom Beni, Bapak sudah siap akan ditelpon pagi pagi oleh Nina : “Pak Sigit, untuk  pertemuan siang ini dengan pak Beni, saya pesankan apa untuk makan siang nanti …………?” 

Ada banyak peristiwa dan kenangan tentang oom Beni yang hanya bisa diceritakan oleh Bapak sendiri. Tulisan di bawah ini disusun dari kacamataku sebagai anak Bapak.

Tahun 1974, Cipete

Kami baru saja pindah rumah ke Cipete, sesudah bertahun tahun tinggal di Cilandak. Sebelumnya, kami tinggal di Bandung, lalu pindah ke Jakarta dan menempati rumah di kompleks PT Tambang Timah, Cilandak.  Dan sekarang Bapak  mendapat rumah dinas dari Departemen Pertambangan.

Bapak sedang mengatur arsip pribadinya di lemari, dan aku ikut membantu, tepatnya mengganggu, barangkali… Sambil menyusun berkasnya, Bapak menunjukkan dan bercerita : “Ini map ijazah Bapak, mulai dari HIS sampai Sarjana. Ini map surat-surat penting pengangkatan Bapak, ini surat nikah, ini akte kelahiran kalian, …” dan seterusnya…. sambil sekilas menunjukkan isi map map tersebut.

Sampai pada satu amplop coklat besar, Bapak berhenti lama. Membuka berkasnya, membaca satu persatu tiap halaman, dan akhirnya menghela nafas panjang : “Dulu Bapak sudah siap siap untuk berangkat sekolah ke Amerika, tapi tidak jadi karena Bapak dapat tugas baru jadi pembantu menteri dan tidak diijinkan pergi. Padahal semua sudah lengkap berkasnya, semua pesyaratan sudah dipenuhi, surat panggilan dari Universitas ( di USA… lupa namanya ), bea siswa juga sudah ada. Kalau waktu itu Bapak jadi berangkat,  Bapak sudah jadi Doktor sekarang…”

“Terus…, kalau sudah jadi Doktor ?” tanyaku.

“Ya mungkin mengajar di Universitas..” jawab Bapak.

“Nggak jadi SekJen dong , pak…” 

Bapak tertawa.

9 Maret 1996, Institut Teknologi Bandung

Bapak mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari almamaternya , Institut Teknologi Bandung.

Melihat Bapak membaca Pidato Pengukuhannya di depan Rektor dan Senat Guru Besar ITB dan di hadapan rekan rekan seangkatannya di ITB: Oom Katili dan oom Johanas, di hadapan rekan-rekan sejawat, dan disaksikan kami keluarganya, aku teringat kembali percakapan kami bertahun-tahun yang lalu ketika Bapak menunjukkan berkas persiapan studi doktoralnya. Pada akhirnya, dunia akademis memberi pengakuan atas prestasi Bapak, dan itu semua terjadi atas prakarsa Oom Beni Wahyu.

Oom Beni lah yang pertama-tama mengusulkan pada ITB untuk memberikan gelar Dr. HC pada Bapak. Usulan ini kemudian diperkuat dengan surat resmi dari oom JA Katili, yang juga anggota Senat Guru Besar ITB ketika itu. 

Aku dapat merasakan dan melihat, bahwa Bapak amat sangat berterimakasih dan menghargai prakarsa dan usaha oom Beni tersebut. Melanjutkan pendidikan setinggi mungkin adalah cita-cita Bapak, tapi pada akhirnya Bapak harus belajar secara otodidak : “learning by doing”. Dan secara tidak diduga-duga, sesudah Bapak pensiun sebagai PNS, Bapak mendapatkan gelar tersebut.

“Ayah kalian sudah seharusnya mendapat gelar ini dari dulu. Prestasinya, penelitiannya, kerjanya, kumpulan tulisan dan makalahnya sudah jauh melebihi tesis doktoral. “demikian kata oom Beni” pada kami anak-anak Bapak ketika itu.

Turun dari mimbar seusai pidato dan setelah menyalami Rektor dan para Senat Guru Besar, Bapak tidak langsung kembali ke tempat duduknya tapi mendatangi oom Beni (yang dengan rendah hati, hanya) duduk di baris ke dua hadirin. Oom Beni orang pertama yang disalami Bapak,  :“Terima Kasih”.

foto_1_Bapak_(_jas_hitam_membelakangi_kamera_)_mendatangi_oom_Beni_seusai_Pidato_Ilmiah_DrHC

Mei  1996, oom Beni bersama Indonesian Mining Association, bekerja sama dengan PT Adaro Indonesia, PT INCO Indonesia, dan PT Ingold Management menerbitkan buku kecil yang berisi Pidato Ilmiah  Bapak yang disampaikan ketika penganugerahan gelar Dr. HC tersebut.

30 Juli 2004, Jakarta

Beberapa hari sesudah ulang tahunnya yang ke 75, Bapak mengajak kami, anak-anaknya untuk menghadiri acara Peluncuran Buku yang berisikan kumpulan tulisan Bapak  sejak tahun 1967 -2004.  Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Minergy Informasi Indonesia ini dimaksudkan untuk memperkenalkan pada masyarakat Indonesia mengenai perjalanan dunia industri tambang di Indonesia, dan Bapak menjadi nara sumber utamanya.

Lagi-lagi, Oom Beni Wahyu dan INCO yang menjadi sponsor acara peluncuran buku, bersama Freeport, Indonesian Mining Association, Adaro , Newmont .

Tiga buah buku pertama diberikan pada pak Soebroto, mantan Menteri- atasan- dan rekan main tennisnya, pada pak Luluk Soemiarso, SekJen Dep Pertambangan saat itu, dan pada oom Beni Wahyu, yuniornya di Geologi ITB- sahabat setia – sekaligus” provokator promotor” untuk berbagai acara…..

Scan_foto_bapak_om_beni

Selama ini, banyak sekali tulisan dan kumpulan tulisan Bapak di berbagai Jurnal Ilmiah, majalah Geologi, dan Tambang, dan surat kabar, dan tentu saja di berbagai seminar. Tapi hanya 3 (tiga) buku  yang dibagikan kepada kami anak-anaknya dan keluarga dekatnya : Buku “Maju Terus Pantang Mundur, Kisah Pendakian Puntjak Soekarno”  yang diterbitkan pada tahun 1964 sebagai buku laporan perjalanan ekspedisi ilmiah ke Irian jaya yang dipimpinnya, Buku Pidato Ilmiah Dr HCnya “Potensi Sumber Daya Mineral dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia, dan Buku Kumpulan Tulisan “sepenggal sejarah perkembangan Pertambangan Indonesia” yang diluncurkan bersamaan ulang tahun Bapak ke 75 tersebut. Dua di antaranya diterbitkan atas prakarsa oom Beni.

Juli 2006, RS  Pondok Indah,  Jakarta

Bapak jatuh sakit . Oom Beni dan Tante Sofie sedang di luar negeri ketika mendapat kabar tersebut. Sepulangnya ke Jakarta, sekitar pukul sepuluh malam mereka menengok Bapak di Rumah Sakit. Jam berkunjung sudah habis. Ibu sudah pulang, tinggal kami anak-anak Bapak yang sedang berjalan pulang. Di koridor RS yang sudah dimatikan lampu-lampunya, oom Beni dan tante Sofie bertukar pikiran dengan kami mengenai kemungkinan Bapak dipindahkan ke RS lain yang lebih baik untuk penanganan kasus Bapak.  Oom Beni meyakinkan kami akan mengatur kepindahan tersebut bersama dengan berbagai pihak lain.  

Bapak akhirnya dipindahkan ke RS di Singapore.    

Selama 4 bulan menjalani pengobatan di Singapore, beberapa kali oom Beni dan tante Sofie menjenguk Bapak. Dan setiap kali datang, tante Sofie selalu mengajak kami, keluarga yang menemani Bapak, untuk makan siang bersama.

Ketika Bapak kemudian kembali ke Jakarta dan dirawat di rumah, oom Beni dan tante Sofie berkali-kali menjenguk Bapak.  Bapak yang karena kondisi sakitnya tidak selalu dapat mengenali siapa yang datang berkunjung dan menengok, selalu tampak  senang jika oom Beni datang, terlihat dari raut wajahnya yang berseri seri dan pancaran matanya yang bercahaya.  Bapak selalu dan masih ingat oom Beni. Dan oom Beni juga secara berkala menelpon ke rumah Ibu atau ke hp suamiku, mas Henky, untuk menanyakan kabar Bapak.

Januari 2012, di dalam mobil di antara macetnya Jakarta

Telpon masuk ke hp suami. Berita duka, oom Beni meninggal dunia. Akan dibawa ke Bogor dan dimakamkan di sana siang itu juga. Mobil putar arah, telpon Ibu, kami langsung menjemput Ibu untuk taziah ke rumah oom Beni. Butuh waktu beberapa saat bagi Ibu untuk mencerna berita tersebut. Dan lebih banyak waktu berunding untuk memutuskan, bagaimana cara menyampaikan berita duka ini kepada Bapak.  Tidak mudah bagi kami untuk menyampaikan berita ini. Dan lebih sulit lagi, ketika kami pamit pada Bapak di kamarnya. Pamit akan melayat oom Beni. Wajah dan sorot mata Bapak bertanya tanya, dan akhirnya mendung. Bapak mengangguk pelan ketika kami pamit.

Seandainya Bapak masih sehat, pasti Bapak akan turut mengantar oom Beni almarhum ke  Bogor, tanah kelahiran almarhum  dan tempat peristirahatan terakhirnya …..

Selamat beristirahat oom Beni.

Terimakasih banyak untuk semua yang telah dilakukan bersama Bapak, dan untuk Bapak dan kami semua keluarga.

Semoga Allah swt memberikan tempat yang terbaik untuk oom Beni.

Semoga Allah swt melindungi, dan menyayangi tante Sofie dan keluarga, selalu.

Aamiiin yaa Rabbi alAamiin….. Kabulkanlah ya Allah Yang Maha Mengabulkan segala doa

Ciputat ,

Subuh 16 Desember 2012.

Soroako 1977


By Edi Sumarsono

kontrak_pt_inco_masuk_rencana_jangka_panjang_23113Pertama kali kenal Pak Beni ketika masuk INCO di soroako tahun 1977. Ketika itu Pak Beni masih bertugas di Jakarta, Hanya sering berkunjung ke Soroako.

Sejak awal saya sudah merasakan dan melihat sesuatu yg berbeda dari sosok beliau. Beliau seorang geolog, pemimpin yg humanis dengan kualitas leadership yang mumpuni. Dan mempunyai wawasan yang luas, sehingga menjadi panutan bagi kami.

Setelah saya tinggalkan Soroako pada tahun 1989, Masih sering bertemu dengan beliau dalam berbagai seminar. Nasihat maupun pandangannya masih selalu jadi ingatan saya.

Dengan kepergian beliau, saya merasa kehilangan seorang Guru dan Bapak yg memberi tau;ladan hidup.

Selamat Jalan Pak Beni, kami sekeluarga selalu ingat kepada Bapak sekeluarga…..

Good Friends


By Mohamad Tauchid

Today I typed his name and was shocked to learn that my dear and rare friend passed away in January 2012. My wife and I were planning to visit Indonesia in December’11. Unfortunately the trip had to be postponed to 2013. Other than visiting families, the one old friend that we wanted to visit was Beni and Soffie.

logo-itbWe were, together with the late Karmijuni Pratignyo-Nixon and the late Agus Suparman, were good friends during our student years at ITB. Despite of our separate paths, planned or unplanned, that many viewed me as a black sheep, Beni always regarded me as his close friend. A feeling that I valued very much. We were always in touch and took every opportunity to get together where occasions permitted.

Words failed me in expressing how much I will miss my dear and true friend Beni. However, the memory of having such a friend will remain with me to the end my days.

My wife Gisele and I would like to express our condolences to Soffie and her extended family. We hope to be in touch with Soffie the next time we are in Indonesia.

Fond Memories


By Carol and Cyril

Beni was well known as a leading geologist in the identification and development of the Soroako Nickel deposit in Sulawesi. We knew him better as the Administration Manager of the project during our time in Soroako from 1983 to 1987.

Beni became a mentor, not only to his Indonesian colleagues but also to many of the expatriates working on the project, including Cyril.

Beni’s personality was well suited to his role as Administration Manager which included the Human Resource function. Beni was able to resolve many issues in his quiet professional manner.

We have fond memories of our many social activities with Beni and his family including the celebration of a common birthday with Caroline.

We feel privileged to have been included as a friend and will long remember our pleasant experiences with the Wahju family.

Pomalaa, 1970


By Usman Fatwa

Pada awal Desember 1970, setelah saya diterima bekerja di PT INCO sebagai Meteorology Observer (pengamat cuaca) saya diberangkatkan bersama mas Djoko Susilo seorang civil engineer lulusan ITB, ke Malili dan diperintahkan pak Hitler untuk menghadap dan melapor kepada Drs.Beni Wahju.

Tadinya karena pak Beni ini gelarnya doktorandus saya kira beliau adalah seorang kepala personalia dan akhirnya belakangan saya baru tahu bahwa geologist  lulusan ITB, pada angkatan beliau bergelar doktorandus.

Dari pertama kali saya bertemu pak Beni sudah timbul kesan bahwa beliau ini seorang yang berwibawa dan karismatik.

Ketika saya ditempatkan bekerja di Pomalaa, sebelum berangkat saya menghadap pak Beni memohon agar saya dapat membawa serta Tiana isteri saya yang sedang mengandung tujuh bulan karena di Pomalaa saya harus tinggal diluar camp dan dekat dengan stasiun pengamatan cuaca yang terpasang.

Saya ingat benar pada waktu itu pada akhir Maret  1971 dapat berita radio dari pak Beni bahwa saya boleh ambil break (cuti),saya pergi ke Malili seolah “dijemput “pak Beni dengan helicopter,di pesawat pak Beni bilang “Usman jij boleh bawa isteri ,nanti dibangunkan rumah di Hukohuko”, betapa gembiranya saya dan juga saya merasa di istimewakan oleh INCO (tentunya disini pak Beni,bagaimana beliau sangat pengertiannya akan kondisi seseorang)

Perlu dicatat berkat pak Beni,sayalah Usman Fatwa satu satunya karyawan junior staff INCO yang dapat fasilitas istimewa waktu itu.

Pada waktu itu saya bekerja di Dept.Engineering  Malili dan boss saya Dough Heggie seorang Australia yang sangat disiplin,walaupun bahasa Inggris saya masih sangat minim tapi saya bisa melaksanakan pekerjaan saya dengan baik dan apabila Mr.Heggie cuti,ini merupakan “neraka” buat saya  karena  pasti saya ditunjuk sebagai actingnya Mr.Heggie.

Dengan kedudukan saya sebagai actingnya Dough Heggie kalau ada rapat pak Beni tetap mengundang saya  walaupun akhirnya pak Beni sendiri menjadi penterjemah, disinilah pak Beni selalu mendorong  orang (terutama saya) untuk maju walaupun modal saya sangat minim.

Saya merasa  terus dibimbing untuk terus maju oleh pak Beni, dengan keterbatasan saya, saya dapat menduduki posisi yang cukup baik di PT INCO, ketika pak Tomrijo akan resign,pak Beni bilang “Man, nanti pak Tom akan resign nanti jij gantikan dia,sebagai Town Superintendent” bukan main waktu itu merupakan posisi yang cukup bergengsi diberikan kepada saya dan pak Beni selalu yakin dengan apa yang diputuskannya,begitupun ketika Pak A.B Nusali resign, saya ditawari merangkap pekerjaan yang ditinggalkan pak Nusali sebagai Superintendent External dan Government Relation, saya sanggupi dan benar saja hasil dari rangkap jabatan itu saya banyak belajar sebagai seorang “PR” yang komplit.

Dimata masyarakat pak Beni demikian dihormatinya, karena beliau sangat memperhatikan keinginan segenap lapisan masyarakat dengan berinteraksi dan komunikasi secara inten baik langsung maupun tidak langsung,

Ketika saya tinggal diluar camp Malili dan hidup ditengah tengah masyarakat banyak kegiatan yang perlu bantuan, siapa lagi kalau yang menjadi andalan yaitu INCO, melalui kebijaksanaan pak Beni lah, bantuan bantuan bagi masyarakat Malili disalurkan.

Disini saya belajar bagaimana membalas budi pada yang pernah kita terima, pada suatu saat saya  dipanggil pak Beni karena “menolak kayu yang disupply salah satu supplier lokal” beliau bilang “kalau kayu kayu ini masih bisa dipakai untuk keperluan lain terimalah dan bayar,perlu jij tahu bahwa dulu waktu saya (pak Ben) melakukan survey awal INCO ,beliau ini (si supplier,lupa namanya) banyak menolong saya” itu selalu teringat dibenak saya dan ini hanyalah salah satu contoh dari banyak hal yang patut diikuti apa yang telah diperbuat pak Beni, bagaimana beliau tetap memelihara hubungan dengan teman temannya dahulu.

Pada suatu saat ketika pak Beni mutasi ke Jakarta, beliau mengajak saya keliling mengunjungi orang orang Malili yang dulu pernah bekerja sama dengan beliau, diantaranya Pak Tagilling,beliau berpesan kalau perlu apa apa temui pak Usman  anggap saja ini pengganti saya (tentu dalam hubungan pribadi), betapa bangganya saya dapat kepercayaan yang tulus dari pak Beni.

Perhatian dan kebaikkan yang selalu diberikan kepada saya dan keluarga, isteri saya, anak anak saya oleh Pak Beni dan Teh Soffie betul betul tidak bisa dilupakan.

176909_10150110071842884_3585031_o

Perhatian,perhatian,perhatian begitulah yang selalu diberikan pak Beni pada saya,sampai sampai menjelang beliau wafat saya masih ditawari kerja di Vale (Ingold), dan ini merupakan penyesalan saya yang tidak terbayarkan, karena sesuatu hal saya tidak dapat memenuhi keinginan beliau (“Ampun dan hapunten kang Ben, saya yang tidak tahu diri ini telah mengecewakan kang Ben)

Mungkin tidak cukup satu buku tebal,kalau saya tulis semua kenangan dengan Pak Beni ini.

Intinya saya bisa jadi begini karena bimbingan, didikan serta bentukan pak Beni, sehingga dengan bekal ini saya bisa merasa success dalam mengemban pekerjaan di INCO maupun selanjutnya di KPC  tentunya sesuai kapasitas saya.

Terima kasih kang Ben semoga damai berada disisi Alloh SWT, begitupun kepada Teh Soffie, berdua telah melimpahkan kasih sayang kepada kami sekeluarga dan ini akan menjadi kenangan buat kami sepanjang masa.

WAWA, TIANA, RINI, DEVAN, PRIYANKA, WELLY, DIDO, DEVI, TESTA, ALMAZ, BAGUS

Bandung, 6 Desember 2012