Pendekar Pertambangan Nasional


By Kosim Gandataruna

Sudah setahun berlalu, sejak dunia pertambangan nasional kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Bapak H. Beni Nurtjahja Wahju, yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Beni Wahju, atau Pak Beni saja, adalah seorang tokoh yang telah banyak berjasa bagi dunia pertambangan Indonesia. Beliau telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya bagi kemajuan sektor pertambangan nasional, bahkan hingga beberapa hari sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya. Walau mungkin sebagian besar perjalanan kariernya telah diabdikannya kepada perusahaan pertambangan asing, tapi saya dapat bersaksi bahwa jiwa beliau adalah jiwa nasionalis sejati yang kuat.  Banyak predikat yang dapat kita berikan kepada Pak Beni, salah satunya adalah bahwa beliau adalah seorang profesional yang menguasai penuh ilmunya (berkat pengalaman lapangannya yang luas serta kegemaran membacanya yang intens), dan seorang pendekar yang berkata benar dan berani menyatakan pendapatnya serta berjuang secara terbuka di forum manapun kepada siapapun juga.

IMG01053-20130106-2212

Contoh yang menonjol dari sifatnya yang terakhir ini dibuktikan ketika Bapak Amin Rais, mantan Ketua MPR RI, melalui berbagai forum yang kemudian disiarkan secara luas oleh mass media, menyatakan kesangsiannya akan manfaat investasi pertambangan asing bagi bangsa dan negara, bagi kesejahteraan masyarakat setempat, bagi kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta kecurigaan beliau akan tindak-tanduk mereka yang dinilainya tidak lurus. Di saat itulah Pak Beni bersama Bapak Sutaryo Sigit, “icon”-nya sektor pertambangan nasional yang paripurna, menghadap Bapak Amin Rais secara langsung guna menyampaikan kebenaran-kebenaran tentang keberadaan dan kemanfaatan PMA di bidang pertambangan bagi pembangunan perekonomian nasional, bagi pembangunan daerah-daerah terpencil dan terbelakang, bagi masyarakat sekitar, maupun dalam penjaminan kelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup di sekitar wilayah kerjanya, serta sanggahan-sanggahan tentang berbagai sinyalemen negatif yang telah dilontarkan Bapak Amin Rais. Berhasil atau tidak upaya kedua tokoh itu bukanlah masalah. Yang relevan adalah upaya nyata dari kedua tokoh kita itu untuk meluruskan berbagai kekeliruan langsung ke jantung penyandangnya.

Kepribadian Pak Beni memang sangat mengesankan. Sifat menak-Sunda-dari -Cirebon-nya yang halus lembut, dengan senyum khasnya yang selalu tersungging di bibirnya, sesungguhnya menyembunyikan hati beliau yang kokoh bagai karang. Di balik sopan santunnya dalam bertutur-kata serta kepala-dinginnya dalam berargumentasi, sesungguhnya tersimpan tekad yang kuat bagai baja. Intelektualitasnya tergambar dari kemampuannya untuk menulis serta dalam kemahirannya untuk menyatakan pendapat secara sistematis, jelas dan masuk akal. Sifat kepemimpinannya terbukti dari keterbukaannya dalam berkarya dan kemampuannya untuk memotifasi rekan-rekan seperjuangannya, serta dari hasil-hasil yang dicapai oleh berbagai organisasi yang dipimpinnya.

Di lingkungan masyarakat pertambangan kita, Pak Beni dikenal sebagai salah seorang tokoh Asosiasi Pertambangan Indonesia (API) atau Indonesian Mining Association (IMA), dan memegang tampuk pimpinan organisasi itu dalam masa-masa yang paling sulit bagi keberlangsungan usaha para anggotanya. Dalam periode yang demikian itu, melalui “all out effort”-nya berbagai prestasi besar telah beliau capai, khususnya di dalam menyelesaikan berbagai hambatan hukum dan birokrasi yang amat rumit yang dihadapi oleh para pelaku usaha pertambangan. Beliau juga telah berjasa bagi penggalangan kerjasama di sektor mineral di antara negara-negara Asean, melalui kepeloporan dan kepemimpinannya dalam Asean Federation of Mining Association  (AFMA).  Dalam berbagai forum yang diselenggarakan oleh federasi ini, seperti seminar-seminar dan konperensi-konperensi regional atau internasional, Pak Beni secara aktif dan konsisten senantiasa mempromosikan kepentingan sektor pertambangan Indonesia.

Perkawinan di Washington 2 copy

Kehidupan pribadi Pak Beni juga sama suksesnya. Kebetulan saya dan keluarga saya mengenal keluarga Pak Beni cukup dekat. Istrinya (Ibu Soffie) adalah teman baik dari istri saya (almh), dan teman saya sendiri juga, sejak masa sekolah menengah di Bandung di tahun 50-an.  Namun, dengan Pak Beni, pertemuan pertama saya baru terjadi di tahun 1963 di rumahnya Ibu Soffie, di Washington DC, USA, semasa ayahanda Ibu Soffie menjabat sebagai Atase Kebudayaan RI di sana. Saya berkunjung ke Washington DC sebagai turis tanpa bekal ketika saya kuliah di University of British Columbia, di kota Vancouver, Canada. Mendengar bahwa ayahanda Ibu Sofie saat itu bertugas di Washington, saya nekad mendatangi rumah kediamannya untuk sekedar “say hallo” kepada Ibu Soffie sebagai seorang teman lama. Di situlah untuk pertama kalinya saya bertemu Pak Beni, di mana beliau sedang bertandang. Cerita yang dituturkan Pak Beni sendiri saat itu adalah bahwa, ketika beberapa hari sebelumnya Pak Beni tiba di Washington dalam rangka tugas belajar dari Pemerintah RI, bertemulah beliau dengan Ibu Soffie. Jatuh cinta satu sama lain pada pandangan pertama, rupanya itulah “the luckiest day in their lifes”, karena sejak saat itu mereka tidak pernah berpisah lagi.  Saya menyaksikan dengan perasaan senang bahwa Pak Beni dan Ibu Soffie hidup berumah-tangga dan beranak-pinak dalam harmoni dan kebahagiaan hingga akhir hayat Pak Beni. Kehidupan pribadi Pak Beni memang sangat layak untuk dijadikan contoh, suri tauladan bagi siapa saja yang mendambakan kehidupan yang damai dan bahagia.

Kepergian Pak Beni dirasakan sebagai kehilangan besar oleh komunitas pertambangan Indonesia. Beliau berpulang ke hadirat Illahi ketika perjuangannya untuk menciptakan iklim investasi di sektor pertambangan nasional yang lebih kondusif serta berkepastian hukum masih jauh panggang dari api, walau sesungguhnya telah cukup banyak yang beliau telah capai dalam perjuangan ke arah itu semasa hayatnya. Saya merasa beruntung untuk mengenal dan menjadi teman seperjuangan Bapak Beni Wahju di forum API/IMA, khususnya di bidang hukum pertambangan yang sangat menentukan bagi baik buruknya iklim investasi dan iklim berusaha di sektor  pertambangan nasional.

Jasa-jasa beliau bagi dunia pertambangan Indonesia tidak akan pernah kita lupakan. Semoga obor cita-cita dan semangat beliau tidak akan pernah padam, dan akan senantiasa menjadi penerang jalan perjuangan insan-insan pertambangan yang ditinggalkannya, menuju kejayaan sektor pertambangan nasional, mewujudkan kemanfaatan sumberdaya mineral bagi sebessar-besar kemakmuran rakyat Indonesia, sesuai dengan amanat Konstitusi.

Dan semoga arwah beliau bersemayam di istana kedamaian di Sisi Tuhan YMK.

Jakarta,  25 Desember 2012

Kosim Gandataruna

Inco to Vale


By Bing Tobing

Kami mulai mengenal pak Beni waktu kami mulai bergabung dengan PT Inco pada tahun 1979, salah seorang pioneer yang memulai kegiatan di PT Inco dari sejak masa-masa eksplorasi sampai mulai berproduk dan sampai bisa seperti PT Inco saat ini yang telah berubah nama menjadi PT Vale Indonesia.

granita3

Beliau yang saya kenal adalah sangat memperhatikan dunia pertambangan di Indonesia. Kiprah beliau di IMA (Indonesian Mining Association) sangat dihormati dalam membantu perusahaan-perusahaan pertambangan dengan menjembatani permasalahan2 pertambangan yang sangat kompleks baik dengan pihak Pemerintah, masyarakat dan para investor….pak Beny dikenal sangat hangat dan selalu ingin membantu untuk menyelesaikan segala permasalahan pertambangan secara positif dengan solusi “win-win”….dunia pertambangan sangat kehilangan beliau yang sampai akhir hayatnya masih tetap berperan untuk selalu memajukan pertambangan di Indonesia….selamat jalan pak Beni….dunia pertambangan akan selalu mengenang jasa-jasa bapak yang selalu berpikir positif untuk meyakinkan orang-orang banyak bahwa pertambangan di Indonesia adalah suatu usaha yang pada akhirnya akan memberikan yang terbaik untuk orang banyak.

Mudah-mudahan cita-cita bapak dapat kita wujudkan….semoga!

Bing Tobing

Surat Buat Pakde


By Rini Fatwa

Dear Pakde,

Masih terngiang di telinga…..”Rin..nanti Pakde pasti ngalongok ke tempat Rini”.. dan setiap negara saya singgahi.. Pakde pasti penuh antusias menyemangati. Di HCMC, Pakde & Bude sempat mampir..nguriling kita shopping atau sekedar cuci mata sambil Pakde bercerita tentang sejarah Vietnam. Jadi banyak tau dari cerita-cerita Pakde.

Yang paling berkesan waktu itu.. Kita lagi breakfast bareng di rumah. Saya keluarkan dinner set yg terbaik buat Pakde & Bude..

“Rin.. cutlery ini bagus sih, cuma sangat tidak praktikal buat dipake..Pakde minta yg biasa aja deh”

Hahaha….sampe ngajengkang saya teh malu….padahal cutlery itu baru beli di Bangkok….mahal pula. Gara2 komentar Pakde..sampe sekarang barang itu masih di kotaknya..gak saya pake lagi…dan setiap beberes pindahan, melihat cutlery ini..selalu terngiang komentar Pakde tadi. Moal dipasihkeun ka batur aaaah..

IMG01062-20130109-0015

Tapi itulah Pakde..simple, practical dan to the point. Di Aberdeen.. saya sudah menyiapkan kamar, dan segudang acara untuk membawa Pakde & Bude keliling Scotland. Sayang tidak bisa terlaksana…..perjalanan singgah dari Canada terlalu singkat buat mampir. Gak papa kok Pakde.. Toh masih akan banyak  tempat lain yg Pakde & Bude akan singgahi….

Pakde, mendengar Pakde sakit, begitu mendarat di Jakarta,  saya sempatkan ngalongok. Walopun masih belum pulih benar…..Pakde keliatan tegar, duduk tenang seperti biasanya. Bercerita panjang lebar tanpa sekalipun menunjukkan kekhawatiran akan penyakit Pakde sendiri. Demikian halnya ketika saya bersilaturahmi Lebaran 1432H di Bandung, Pakde terlihat happy dengan baju koko putih..duduk di teras belakang dikelilingi anak, cucu & saudara2 di Kiputih…ngobrol, ketawa-ketawa. Saat itulah terakhir saya bertemu Pakde.

Istirahat yang tenang ya Pakde! Walaupun sekarang saya tidak bisa mendengar langsung suara, petuah & komentar-komentar Pakde..tapi saya yakin Pakde pasti mengiringi disetiap langkah perjalanan saya…kita jelajahi dunia bersama ya Pakde…

Salam Rindu …teriring doa saya selalu …

Wassalam,

Rini Fatwa

Mengenang Kang Beni Wahju


By Rozik Boedioro Soetjipto

Berita mengenai berpulangnya Beni Wahju di awal tahun lalu terasa begitu mengejutkan.  Tiga hari sebelumnya saya masih duduk bersebelahan dengan dia dalam acara makan malam di Bimasena.   Acara dalam rangkaian lepas-sambut jabatan presdir Vale Eksplorasi antara dia dengan Hadiyanto. Itulah pertemuan terakhir dengan dia, seorang guru,  sahabat, yang sudah saya kenal selama lebih dari 30 tahun.

IMG01057-20130106-2217

Saya tidak tahu sapaan apa yang paling pas buat saya untuk memanggil almarhum Beni Wahju, bapak, mas, kang atau Beni saja.  Pertama kali saya mengenal dia di sekitar tahun 1977 sekembali dari tugas belajar di luar negeri. Sebagai dosen yunior di ITB, berhadapan dengan dia seorang pejabat senior di PT INCO, saya merasa begitu muda, begitu minim pengalaman di hadapannya. Awal perkenalan yang singkat dan baru berlanjut kembali hampir 15 tahun kemudian ternyata berkembang sedemikian rupa hingga pada tahun-tahun belakangan sebelum dia meninggalkan kita semua, kami sudah menjadi kawan akrab bahkan lebih dari itu, sudah menjadi saudara.

Pak Beni pada pertemuan pertama nampak begitu berwibawa dan bersikap sangat resmi. Namun setelah kami berkenalan, ternyata dia adalah sosok yang sangat santun dan baik hati sangat bermurah hati dalam memberikan petunjuk dan nasihat kepada kalangan muda.  Perkenalan pertama itu terjadi dalam rangka kunjungan pengenalan saya ke pertambangan nikel PT. INCO di Sorowako.  Kunjungan yang sangat mengesankan karena untuk pertama kalinya saya memperoleh kesempatan melihat secara langsung suatu pertambangan modern di Indonesia.  Saya ingat betul saat kembali dari Sorowako ke Makassar saya menumpang suatu pesawat kecil berpenumpang kurang dari 10 orang bersama beberapa pejabat tinggi PTI, termasuk Beni Wahju, dan beberapa pejabat dari INCO  Kanada.  Saat pesawat terombang-ambing di awan karena cuaca kurang baik, sempat terfikir kalau pesawat jatuh dan kita semua jadi korban pasti beritanya akan sangat menggemparkan, karena tewasnya begitu banyak orang penting dari INCO.  Alhamdulillah itu hanya sekedar fikiran sekilas, dan kami akhirnya tiba dengan selamat di Makassar dan selanjutnya kembali ke Jakarta.  Sejak itu hampir tidak pernah saya berkesempatan berhubungan secara langsung dengan dia.  Pertemuan yang terjadi umumnya hanya sekedar saling menyapa di acara-acara seminar yang diselenggarakan oleh IMA (Indonesian Mining Association), Departemen Pertambangan dan Energi (DPE) atau instansi pertambangan yang lain.

Barulah pada tahun 1991 ketika saya menjabat di Direktorat Jenderal Pertambangan Umum (DJPU), kami mulai sering bertemu kembali. Di masa itulah saya banyak memperoleh masukan berbagai informasi, pengetahuan praktek dari pengalamannya tentang usaha pertambangan di Indonesia, utamanya tentang penanaman modal asing dalam rangka Kontrak Karya (KK).  Sebagai seseorang yang lebih dari dua puluh tahun berkecimpung di dunia pertambangan dia faham betul tentang KK.  Dia merupakan salah satu pendukung setia penerapan pola KK bagi penanaman modal asing di sektor pertambangan.  Dalam beberapa kesempatan saya pernah melakukan perjalanan bersama, baik di dalam negeri maupun ke mancanegara.  Perjalanan ke luar negeri biasanya sangat mengesankan.  Antara lain untuk menghadiri konperensi-konperensi, maupun kunjungan ke berbagi lokasi pertambangan dan pabrik pengolahan mineral, antara lain  ke Amerika Utara dan ke Eropah.  Salah satu perjalanan yang paling mengesankan adalah ke Amerika Utara, Kanada dan AS. Berempat pada waktu itu, saya dengan isteri dan Kang Beni beserta Teh Soffie sempat berkunjung antara lain ke Toronto, New York dan Washington. Selama perjalanan itu kami semakin mengenal dari dekat keluarga Beni Wahju dan hubungan kami berkembang menjadi hubungan persaudaraan

Reformasi yang terjadi pada 1997-1998, yang disertai dengan penerapan otonomi daerah, telah mengubah kebijakan pemerintah secara drastis di sektor pertambangan. Kebijakan ini oleh sementara kalangan pelaku pertambangan dinilai kurang bersahabat terhadap para pemegang KK. Beni Wahju adalah salah seorang tokoh pertambangan yang secara gigih menentang upaya untuk mendiskreditkan sistem KK. Dalam berbagai kesempatan dia selalu menyuarakan pembelaan terhadap legitimasi KK.

Selama lebih dari sepuluh tahun setelah itu Beni Wahju masih tetap aktif baik sebagai pimpinan INCO/Vale Eksplorasi maupun sebagai pimpinan IMA.  Namun perannya semakin berkurang. Semangat masih tinggi tetapi dengan perubahan kebijakan di sektor pertambangan yang dipelopoi oleh terbitnya UU No. 4 tahun 2009, suara Beni semakin kurang terdengar. Itulah awal tahap pengunduran dirinya dari kegiatan aktif di dunia pertambangan. Tentunya dia menyadari kita tidak dapat memutar kembali perjalanan waktu. Dunia selalu berubah, tidak terkecuali pertambangan di Indonesia, dan kita harus mampu menyesuaikan diri kalau tidak ingin terlindas oleh zaman.  Masih terbayang perubahan sikap, kata-kata dan pandangan matanya yang tidak lagi sekeras dan setajam sekian tahun yang lalu.  Akan tetapi wibawa dan sikap bijaknya tidak pernah luntur.

Setahun sudah berlalu, kita kehilangan seorang panutan, bukan saja bagi mereka yang berkecimpung di dunia pertambangan tetapi bagi semua kalangan profesional.  Ya, Beni Wahju sudah tiada,  tetapi semoga semangat dan dedikasi kepada profesi dan tanah airnya masih tetap hidup dalam jiwa kita.  Waktu berjalan terus dan kita masing-masing tetap harus menjalani kehidupan kita sampai saatnya kita dipanggil olehNya.

Insya Allah kita akan berjumpa kembali Kang Beni.

Jakarta, Januari 2013

Rozik Boedioro Soetjipto

Last of The Mohicans


 By Adrianto Machribie

Dalam novel The Last of the Mohicans karya James Fenimor Cooper, dikisahkan tentang Chingachgook, seorang tokoh yang bijaksana, arif, seorang eminent wise-person. Dalam konteks ini, Beni Wahju, bagi dunia pertambangan Indonesia dapat pula diidentifikasikan sebagai tokoh Chingachgook itu. Kontribusinya kepada dunia pertambangan nasional signifikan, teristimewa ketika ia berkecimpung dalam kepemimpinan Indonesian Mining Association (IMA) untuk waktu yang cukup lama.

1046371

Tetapi frasa last of the Mohicans dapat pula diartikan dalam konteks sejarah Republik Indonesia, yakni  bahwa Mas Ben termasuk generasi yang makin lama makin berkurang  jumlahnya karena kodrat alami. Pada saatnya mereka semua akan pergi menghadap sang Khalik.

Mas Ben termasuk generasi yang mengalami tiga masa dalam tahapan sejarah modern Indonesia, yakni zaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan. Tahapan-tahapan tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi terbentuknya watak (character forming) dari seorang individu melalui orangtua dalam keluarga, sistim pendidikan, lingkungan pergaulan, dinamika sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.

Adalah suatu kenyataan bahwa tahun-tahun pembentukan dini (early formative years) itu sangat menentukan perkembangan jati diri  seseorang. Dengan kata lain, nilai-nilai hakiki, values, yang terbentuk merupakan refleksi dan manifestasi dari nilai-nilai yang diperoleh terutama dari perilaku lingkungan. Baik lingkungan keluarga,  masyarakat, pendidikan di sekolah dasar sampai perguruan tinggi, maupun lingkungan pergaulan.

Saya dapat membayangkan bagaimana pengalaman Mas Ben yang menapak perjalanan hidupnya dari kecil hingga dewasa, termasuk ketika belajar di perguruan tinggi,  yang pada masa itu masih banyak dosen-dosen asing, ikut membentuk salah satu sifat kepribadiannya, yakni sifat universal dan atau kosmopolitan. Dia  selalu berikthiar melihat sesuatu dalam perspektif dan berimbang, dan mampu menjauhkan diri dari kecenderungan melihat permasalahan dari kacamata sempit. Mas Ben juga mempunyai kemampuan untuk tidak melihat suatu permasalahan secara hitam putih tetapi dalam perspektif dan dari beberapa sudut kepentingan. Bebas dari pemikiran dan pendapat yang sudah terbentuk sebelumnya (preconceived ideas and notion), dan selalu menempatkan kepentingan yang lebih besar sebagai tujuan akhir. Zaman Jepang dan terutama pergolakan pasca proklamasi kemerdekaan menumbuhkan  gelora dan jiwa kebangsaan serta semangat juang Mas Ben.

Walaupun latar belakang karir Mas Ben adalah perusahaan asing, tetapi loyalitas pemikiran dan orientasinya adalah tetap Indonesia  centris. Namun bukannya patriotisme dan nasionalisme yang sempit. Karena, yang selalu menjadi kerangka acuan dasar pemikiran Mas Ben yaitu bahwa kepentingan Indonesia adalah central, tetapi harus tetap dalam konteks dan dengan mempertimbangkan pula realitas global. Ini tentu bukan hal mudah, apalagi dalam suasana dinamika sosial politik pasca 1998.

Mas Ben dan saya (beliau sebagai Ketua dan saya sebagai anggota pimpinan IMA) berinteraksi cukup intens dalam pembahasan-pembahasan mengenai upaya-upaya memajukan dunia pertambangan di Indonesia, terutama bagaimana dapat mencapai titik optimum dengan menyelaraskan potensi geologis (geological potential) dengan perangkat peraturan (regulatory framework)  yang tidak kondusif bagi perkembangan dunia pertambangan nasional  yang berkesinambungan dan dalam jangka panjang.

IMG01047-20130105-1007

Kita turut aktif, berpartisipasi dan berkontribusi dalam upaya pemerintah menciptakan perundang-undangan pertambangan yang lebih modern.  Benny berjuang melalui IMA, sedangkan saya, sebagai Ketua Pertambangan di KPEN (Komite Pemulihan Ekonomi Nasional)  Kadin. Kami menyelaraskan pemikiran-pemikiran dalam berbagai draft peraturan yang disampaikan kepada pemerintah. Proses ini berjalan beberapa tahun dan  melibatkan banyak instansi termasuk perguruan tinggi. Pada akhirnya di tahun 2004, usulan sektor pertambangan beserta usulan sektor-sektor lain digodok  dan dirumuskan dalam sebuah dokumen komprehensif “Road Map Indonesia Recovery”. Oleh KPEN-Kadin dokumen tersebut  kemudian diserahkan kepada presiden terpilih SBY. Presiden menerima dan berjanji akan menggunakan masukan-masukan sektor-sektor industri di dalam dokumen tersebut sebagai dasar acuan membangun kembali perekonomian Indonesia yang masih terseok-seok setelah krisis keuangan 1998.

Dan ternyata, dasar-dasar pemikiran sektor pertambangan khususnya mendapat respons positif dari Menteri Pertambangan yang kemudian menugaskan LPEM-UI untuk memformulasikannya dalam suatu draft perundang-undangan.

Partisipasi dari para stakeholders pada masa itu masih optimum karena  semua pihak duduk dalam kesetaraan.

Sayangnya, dalam perjalanan selanjutnya karena dinamika politik,  akhirnya perumusannya berubah menjadi sebagaimana tertuang di dalam UU Minerba tahun 2009.

Beni Wahju, baik sebagai pimpinan IMA maupun kemudian sebagai anggota Dewan Penasihat tetap berjuang,  sendiri maupun bersama rekan-rekannya untuk meluruskan kembali pasal-pasal dari UU Minerba 2009 yang berakibat negatif terhadap iklim investasi pertambangan di Indonesia.

Bahwa kemudian hari timbul wacana meng-”MK”-kan UU Minerba, saya yakin Mas Ben akan lebih memilih untuk duduk bersama, berunding tetapi berdasarkan kesetaraan, dan bersama-sama mencari jalan keluar yang lebih menguntungkan Indonesia.

Walaupun demikian Mas Ben juga tidak akan segan-segan bila konsultasi dan dialog tidak membuahkan hasil, maka perjuangan terus dilanjutkan hingga ke usaha terakhir (last resort) yakni Pengadilan. Mungkin telah dilupakan peran besar Mas Ben dalam kasus  UU No 41 tentang Kehutanan yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi itu. Berkat kerja keras, lobby serta strategi yang dijalankan dengan tepat maka nasib 13 tambang di Indonesia itu terselamatkan.

Kasus ini merupakan milestone bagi sejarah pertambangan nasional. Karena akhirnya permasalahan yang dihadapi pertambangan diletakkan dalam perspektif realitas kepentingan yang lebih besar. Perusahaan-perusahaan tambang seperti Inco (sekarang Vale), Freeport, Newmont dan lain-lain sangat berutang budi kepada Mas Ben.

Memang jasa seorang Beni Wahju terhadap dunia pertambangan Indonesia sangat besar. Ada ungkapan terkenal di West Point yaitu “Old soldiers never die, they just fading away”. Kalau boleh frasa ini saya kutip untuk Mas Ben, “Old geologists never die, they just fading away”.

Dalam fading away-nya, Mas Ben tetap berjuang dan mengharapkan bahwa eksistensi dari dunia tambang yang mempunyai andil yang cukup besar dalam GDP Indonesia, dapat terus dikembangkan demi kemaslahatan masyarakat banyak. Mas Ben akan selalu dikenang bukan hanya karena jasa-jasanya tetapi terutama sekali adalah nilai-nilai hakikinya yakni integritas, loyalitas, dedikasi, kosmopolitan, kearifan, gigih dan humble.

Mas Ben you are a true last of the Mohicans! Dunia pertambangan sungguh kehilangan seorang kontributor yang arif.

Seorang Sunda Sejati


By Nico Kanter

Saya tidak seberuntung rekan-rekan saya yang lain yang telah mengenal Pak Benny berpuluh tahun. Saya mengenal beliau tidak begitu lama. Namun, setiap berdiskusi dengan Pak Benny, saya merasa berdialog dengan seorang kawan lama. Daya ingatnya yang kokoh dan terstruktur, kerendahan hatinya, ketulusan tutur-katanya, dan sikapnya yang selalu ingin lebih banyak mendengar sering membuat saya tidak enak diri. Sebagai senior kami di Vale Indonesia (dulunya INCO), dia tidak hanya panutan. Dia tidak hanya bagian penting dari sejarah perusahaan ini. Pak Benny adalah pionir. Dia adalah orangtua dari kami. Keringat dan jejaknya bersama sejumlah geologist saat itu adalah Vale Indonesia hari ini.

foto bersama Nico

Mengenal Pak Benny sekilas, kita akan segera tau betapa beliau ini seorang humanis, seorang yang gaul. Dia bersahabat dekat dengan segala lapisan: Melayu atau asing, orang Jakarta atau Sorowako. Dari kesantunannya, dia seorang Sunda sejati. 

Bekerja cukup terstruktur, Pak Benny juga dikenal baik dengan para sesepuh lokal kami di Sorowako. Dulu, kata mereka, dimasa-masa awal memulai pekerjaan di Sorowako, Benny muda dan kawan-kawan kerap numpang tidur dan mandi di rumah penduduk lokal. Saya yakin, Pak Benny dkk juga ikut numpang makan. 

Begitulah cara Pak Benny bergaul. Perhatiannya di bidang pendidikan untuk masyarakat setempat menjadi catatan sendiri. 

Tiga hari sebelum kepergiannya tanggal 21 Januari 2012, saya mengundangnya untuk makan malam dengan sejumlah kawan di kawasan selatan Jakarta. Mudah ditebak, beliau datang tepat waktu. Usia boleh lanjut, tapi disiplin tak tergerus sama sekali. Seperti dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, beliau tetap hangat dalam diskusi dan selalu memberikan masukan yang positif dan “solution oriented”. 

Bagi saya, dedikasi beliau adalah sejarah yang tak terpunahkan. Sumbangsihnya sejak eksplorasi awal hingga lahirnya INCO bahkan kemudian menjadi PT Vale Indonesia Tbk tetap gemilang. Bahkan seusai pensiun dari perusahaan (ia pensiun tahun 1991), ia terus memberikan masukan dan pandagannya kepada perusahaan.

Terkesan INCO/Vale sudah menyatu di jiwanya…..begitulah Pak Benny.