Days in Malili


By Edith Thomas

I’m deeply honoured to have been asked by Soffie to remember the time the Heseltine family lived in Indonesia, in particular the days spent in Malili and Soroako. Memories of these times in a small isolated multicultural community and the experiences we had has played a major part in each of our individual  lives.

DSC_0288

I have specific memories of my husband Bill’s relationship with Benny and fondly remember the laughter between them.  Benny was instrumental in fostering the harmony and well being of this community, in spite of some trying times, often negated my the odd ‘happy hour’. Benny, with the support of Soffie, became the rock upon which this small community thrived. The Malili experience became the foundation for the larger and more sophisticated settlement of Soroako. a small isolated multicultural community. It is with pride and affection that I recall our days in Indonesia and Benny was Bapak to all.

Edith Thomas (formerly Heseltine)

Aristokrat Sunda


By Bambang Susanto

Saya bergabung dengan PT INCO bulan Februari 1976 melalui proses rekrutmen oleh pak Rumengan Musu. Sebagai “Shift Supervisor” di Mining Operation saya langsung ke lapangan dan bergaul dengan teman2 dan atasan yang berhubungan dengan produksi. Teman2 geologist saat itu adalah almarhum Djaenudin Waraspati, Hudaya sedang senior2 nya antara lain almarhum Sudjadi, almarhum Agus Suparman, almarhum Handoko Sumardjo, almarhum Visnu Pada serta pak Djalil Nasution. Saya tidak bertemu dengan almarhum pak Benny Wahyu saat2 awal di lapangan.

Tahun 1981, saya mendapat tugas ke bagian “administrasi”. Untuk kedua kalinya saya harus menimba ilmu dan pengalaman di induk perusahaan di Canada. Pada periode itu saya bertemu dengan pak Benny beserta keluarganya di Sudbury, Ontario. Mungkin pada saat itulah yang menjadi awal perkenalan saya dengan beliau dan keluarganya. Kami sering diundang untuk makan malam atau week end bersama keluarga mereka. Tiga putra mereka masih kecil2. Reza yang sulung pernah kami ajak jalan2 menikmati “kehidupan Western” di kota. Tapi karena kami juga harus pindah ke beberapa lokasi sedangkan mereka tetap di Sudbury maka hubungan dengan keluarga beliau hanya berlangsung singkat. Setelah kembali ke Indonesia, ketika saya mulai bertugas di bagian “administrasi”, hubungan kami menjadi lebih intens. Dan sejak itulah saya mulai lebih banyak mendapat pengalaman dari beliau.

IMG01059-20130107-1722

Leadership beliau dipengaruhi oleh pengalaman luas dalam pergaulannya baik secara nasional maupun internaional. Namun demikian, pendekatan yang dilakukan dalam pengambilan keputusan sangatlah bernuansa kekeluargaan. Ini mungkin karena latar belakang  faktor keluarga “aristokrat” Sunda  yang sangat mewarnai  gaya kepemimpinan beliau. Pendekatan pemecahan persoalan dan pengambilan keputusan tidak “rigid” berdasarkan aturan perusahaan. Maka tidaklah heran pada saat beliau bertugas di Soroako, hubungan perusahaan (INCO, saat itu) dengan masyarakat  begitu harmonis. Jarang sekali ada masalah sosial yang sempat muncul karena pendekatan telah dilakukan langsung sebelum masalah timbul.  Ini tentu sangat berbeda dengan praktek yang dilakukan pada masa setelah beliau tidak di lapangan lagi. Di mata saya, beliau juga sangat “concern” terhadap kegiatan diluar rutinitas kerja kantoran. Perhatian terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Kehidupan guru dan kemajuan siswa menjadi salah satu prioritas beliau, sampai-sampai ayah mertuanyapun dikerahkan untuk membenahi fondasi sistim pendidikan bagi pemuda-pemudi di Soroako. Tambahan cerita tentang perhatian dan “perlakuan khusus” dari  beliau adalah saat ada pemilihan ratu salah satu produk “Unilever”, saya lupa tahun berapa tetapi paling tidak usaha beliau berhasil karena ada peserta dari Soroako yang berhasil menjadi pemenang baik ditingkat provinsi maupun nasional.  Bagian dari cerita ini menunjukkan bahwa usaha dan pendekatan beliau sebagai seorang Direktur perusahaan dilakukan secara “all out” meskipun  untuk mendukung sesuatu yang berada diluar “KPI” beliau. Dari beberapa pengalaman termasuk cerita pemilihan ratu tersebut, saya melihat faktor subjectif yang menonjol dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan beliau. Demikianlah sebagian kecil pengalaman di lapangan bersama beliau.

Saat saya sudah tidak di INCO lagi dan beliau sudah menjadi pimpinan unit eksplorasi baik ketika masih dibawah INCO maupun VALE, hubungan kami masih berlangsung. Paling tidak melalui kegiatan Indonesia Mining Association (IMA). Disini saya melihat konsistensi beliau dalam membela dan memajukan dunianya; dunia pertambangan.

Sayang memang beliau belum sempat menemukan cadangan emas yang ekonomis, baik di Kalimantan maupun di Papua melalui INGOLD ataupun Vale Exploration. Namun demikian data geologi explorasi yang didapatkan selama beliau memimpin unit tersebut tentu akan menjadi aset bagi Indonesia.

Dunia pertambangan Indonesia kehilangan seorang tokoh, entahlah dengan VALE karena INCO sudah tiada.

Selamat jalan pak Ben, kontribusi Bapak tentu tidak akan terlupakan. Semoga suatu saat nanti, penerus-penerus Bapak akan menemukan cadangan mineral yang bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa dari apa yang telah Bapak rintis selama ini.

BNW


By : Hendra Sinadia

Pak Beni Wahju yang sering dikenal dengan inisial BNW, adalah sosok penting yang menjadi bagian dari sejarah industri pertambangan di Indonesia. Apresiasi ini disampaikan oleh banyak kalangan baik dari dalam maupun luar negeri. Prof. Subroto dalam acara “farewell” BNW sekitar September tahun 2011 dari PT Vale Eksplorasi Indonesia, perusahaan eksplorasi yang beliau rintis sejak awal tahun 1990an, pada saat itu menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 2 tokoh penting (living legend) industri pertambangan, yaitu BNW dan Dr. Soetaryo Sigit. Pak Sigit sendiri sejak tahun 2008 yang lalu menderita penyakit stroke. Kepergian Pak BNW sangat mengejutkan dunia pertambangan Indonesia sangat kehilangan seorang tokoh dengan wawasan luas, integritas tinggi, komitmen besar untuk mengembangkan iklim investasi pertambangan di Indonesia.

subroto

Sebagai pribadi, saya sangat bersyukur dan beruntung bisa berinteraksi dengan beliau. Sejak awal saya aktif dalam kegiatan-kegiatan di API-IMA, saya sangat mendambakan untuk banyak belajar dari pengalaman, wawasan, dan keteladanan BNW yang bagi banyak kalangan industri pertambangan dianggap sebagai living legend. Mungkin saya adalah salah satu dari sedikit generasi muda yang beruntung bisa sering berinteraksi dengan beliau dan bahkan mendapat kepercayaan besar untuk meneruskan kepemimpinan beliau di PT. Vale Eksplorasi Indonesia. Meskipun waktu bekerja dengan beliau sangat singkat, namun banyak hal yang bisa saya petik baik dari segi wawasan dan sikap-sikap personal beliau yang patut menjadi teladan bagi generasi muda. Ada beberapa hal yang menjadi ciri BNW yang saya kenal, yaitu antara lain tepat waktu dan wawasan pengetahuan.

Dari segi ketepatan waktu (punctuality), BNW dalam setiap kesempatan rapat atau janji pertemuan, selalu berusaha untuk hadir ditempat paling tidak 15 (lima belas) menit sebelum acara atau pertemuan dimulai. Sungguh sulit saat ini menemukan orang yang commit untuk tepat waktu bahkan hadir beberapa menit sebelum pertemuan. Biasanya, bagi kami generasi muda, yang selalu diupayakan adalah agar bisa hadir tepat waktu. Tapi bagi beliau, hadir beberapa menit sebelum pertemuan selalu menjadi komitmen beliau agar beliau dapat mempersiapkan diri untuk pertemuan. Dan dalam waktu luang sebelum pertemuan, beliau mengisi dengan membaca sehingga waktu yang ada dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pada saat saya bekerja di PT Freeport Indonesia, apabila ada pertemuan IMA di kantor PTFI, hal pertama yang harus saya camkan adalah agar bersiap atau hadir di ruang meeting paling tidak 10-15 menit sebelumnya karena Pak BNW akan hadir. Biasanya dalam rapat-rapat di kantor berusaha hadir tepat waktu, namun apabila ada pertemuan IMA, saya harus berupaya bisa hadir 10-15 menit sebelumnya agar ada wakil dari “tuan-rumah” yang bisa menyambut Pak BNW yang hampir pasti hadir lebih awal dari yang lain.

Hal lain yang ingin saya sharing adalah mengenai keinginan yang tidak pernah henti untuk membaca dan meningkatkan wawasan berpikir. Sudah menjadi “ritual” beliau disetiap pagi (first thing in the morning) “menyantap” berbagai harian/koran. Nyaris seluruh berita di beberapa harian penting dibaca oleh beliau dan selalu memberi tanda di artikel-2 menarik dan penting untuk di klipping atau menjadi bahan diskusi. Berita-berita penting tidak hanya terkait dengan industri pertambangan tapi nyaris dari berbagai aspek. Ini menandakan betapa semangat beliau tetap tinggi diusia lanjut untuk terus meningkatkan wawasan pengetahuan. Hal ini yang hendaknya perlu menjadi teladan bagi kami generasi muda penerus.

Mengulas ketokohan, keteladanan, dan hal-hal positif lainnya dari BNW tidak pernah habis. Sangat banyak hal-hal lain yang sangat berarti untuk di share sebagai teladan.  Sikap dan kepemimpinan beliau dalam beberapa program dan aktifitas selama di API-IMA juga sangat banyak yang perlu disampaikan untuk menjadi referensi bagi generasi penerus dan bagi industri pertambagangan di Indonesia. Saya akan buat tulisan terpisah untuk mengulas hal ini.

Akhir kata, dunia industri pertambangan sangatlah kehilangan atas kepergian Pak BNW. Kami generasi muda penerus masih sangat menginginkan kehadiran beliau untuk membimbing dan memberikan arahan dalam menyikapi berbagai hal penting yang dihadapi industri pertambangan. Kami juga masih sangat ingin belajar banyak atas wawasan, pengetahuan, pengalaman, wisdom dan banyak hal lain dari Pak BNW.  Semoga keteladanan, perjuangan yang telah diawali dan dilaksanakan oleh Pak BNW dapat diteruskan oleh generasi penerus demi kemajuan pertambangan Indonesia.

—000—

Time in Indonesia


By Margaret & Doug Heggie
It is many years since those Malili days,  they still bring back fond memories of the community spirit and friendship of all those members of that early INCO family drawn together from all parts of the world into the tiny Malili community. Our children have very fond memories of their time in Indonesia.
We thank Benny and the other senior Indonesian staff for making us welcome in your country and remember Benny as such a kind and excellent leader.
indoo
My memory of favorite stories has faded now but have included a few photo’s from those days.
All our love to you
Margaret & Doug Heggie

 

Memory Book


By Brian Booth

Though we have been separated by the many years and great distances our hearts have always held you close. The years we spent in Indonesia were times of great growth for our family for which Ibu Soffie and Pak Beni were instrumental. You welcomed us and opened your world to us. By sharing your time , you gave us an unforgettable life changing experience. Words cannot express how much Pak Beni will be missed. Pak Beni was an unflappable leader and teacher, generously sharing his vast knowledge with numerous revolving INCO expats, myself included. Beni took me under his wing and mentored me on how to do business and geology in Indonesia.

scan0001

His guidance and direction had an enormous impact on my career as a geologist. His gentle smiling face will be greatly missed. He was an inspirational man with great commitment and compassion for his company PT INCO, his family and his country. Please know how much we share your grief. We have such fond memories in which Beni will live forever.

Our heartfelt condolences.

Love,

Brian Booth, Nancy Richardson,Lindsay and Kristin