Amanda Katili: Manusia Semesta


Oleh: Amanda Katili Niode

“Minta pandangan oom Beni,” demikian selalu pesan ayah saya, John Ario Katili, jika saya bertanya tentang berbagai hal terkait sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

“Jangan lupa undang oom Beni dan tante Soffie,” kata-kata itu diucapkan ibu saya, Iliana Katili Uno, setiap kami merencanakan acara kekerabatan.

Kedekatan keluarga kami dengan oom Beni dan tante Soffie memang jauh melebihi keakraban dengan sanak saudara.

Ketika masih remaja saya heran, mengapa selalu harus konsultasi dengan oom Beni?  Bertahun-tahun kemudian saya paham, Beni Nurtjahja Wahju ternyata bukan hanya seorang praktisi pertambangan yang kemudian menjadi pemimpin perusahaan multinasional. Ia seorang manusia semesta, a renaissance man, yang mahir dalam berbagai bidang dan mempunyai pengetahuan yang sangat luas.

Bermula di Bandung

Ketika J.A. Katili meniti karier sebagai dosen di ITB tahun 50an, Beni Wahju sempat menjadi asisten nya. Oom Beni bukan sembarang asisten, karena setiap kembali dari kampus atau dari studi lapangan, ayah bercerita pada ibu: “Beni itu giat dan cemerlang. Masih sangat muda tetapi jiwa kepemimpinannya sudah terlihat. Meskipun dari keluarga terpandang, dia sangat santun.”

Oom Beni menjadi asisten ahli J.A. Katili ketika masih mahasiswa. Selain mengajar, menurut oom Beni ia juga menyiapkan bahan kuliah dan membantu meneliti batu-batuan serta memetakannya di Sumatera. Penelitian itu merupakan masukan penting untuk disertasi J.A. Katili di ITB tahun 1960: Geological Investigations on the Lassi Granite Mass Central Sumatera.

Ilmu Kebumian membuat ayah dan oom Beni  tidak pernah putus kontak meskipun keduanya berpindah kota ataupun berpindah kantor. Sesibuk apapun J.A. Katili  dalam pekerjaannya baik sebagai Guru Besar ITB, Deputi Ketua LIPI dan Direktur Jenderal Pertambangan maupun Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Duta Besar RI di Moscow, ia selalu mencari waktu agar mereka bisa bertemu.

Ibu saya mengenang perjumpaan pertamanya dengan orang tua oom Beni, Bapak Raden Wahjoe Argawinata yang ketika itu Residen Bogor dan ibu Isoh Habsah Wahjoe.   Ibu dan orang tuanya hadir di perhelatan pernikahan kakak oom Beni, Herry Djoehariah Wahjoe, dengan Anwar Wardoyo, yang kemudian menjadi pejabat di Kementerian Luar Negeri.

Ketika masih tinggal di Gorontalo, Keluarga Uno berteman dekat dengan Keluarga Wardoyo. Pernikahan putri Residen Bogor itu dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Bung Karno yang didampingi Ibu Hartini.

“Mama juga sudah kenal tante Soffie dari tahun 60an di Washington D.C.,”  sambung ibu saya.

Perjalanan ke Amerika

Tahun 1963 sebagai Pembantu Rektor ITB dan juga Direktur Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional, LIPI, J.A. Katili mendapat kesempatan untuk mengadakan perjalanan ilmiah ke beberapa universitas unggulan di Amerika Serikat. Masa itu, seperti juga seharusnya sekarang, tidak lazim seorang isteri mendampingi suami bertugas.

Namun ayah berupaya keras mengajak ibu karena sejak awal menikah ibu saya sudah mewanti-wanti: “aku mendukung tugas-tugas ilmiahmu dengan sepenuh hati, silahkan melakukan perjalanan ke manapun di dunia ini, tetapi kalau ke Amerika Serikat aku harus ikut.”

Tidak terbayang wajah ayah ketika dia mengatakan pada Kentucky Contract Team penggagas perjalanan tersebut: ”saya tidak pergi kalau tidak bersama isteri.”

Akhirnya Iliana Katili Uno dan John Ario Katili berangkat ke Amerika Serikat diiringi keheranan bule-bule yang berkata: “He must love his wife very much.”

Dalam perjalanan selama tiga bulan mereka berkunjung ke berbagai universitas dan institusi  di negara bagian California, Nevada, Colorado, Kentucky, Pennsylvania, New York, Massachusetts, New Hampshire dan Washington D.C.

Yang menyenangkan di Washington D.C. bukan hanya acara yang diikuti J.A. Katili  mewakili Pemerintah Indonesia, yaitu perayaan 100 tahun United States National Academy of Sciences dengan sambutan dari Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.

Tidak kalah berkesan adalah jamuan makan malam dari Bapak Doedi Soemawidjaja Atase Kebudayaan di KBRI Washington dan Ibu Nani Soewangsih. Setelah berbulan-bulan menjelajah dunia ilmu di Amerika, memeras otak tanpa ada kesempatan menanak nasi, sajian prasmanan dengan ragam kuliner Nusantara  dan perhatian Keluarga Soemawidjaja sangat menyentuh ayah dan ibu saya.

Duka mendalam

J.A. Katili terkena gangguan pada pembuluh darah, Deep Vein Thrombosis, dan harus dirawat. Om Beni dan tante Soffie yang berkunjung serasa tidak percaya melihat ayah yang selalu aktif  harus berdiam di rumah sakit. Ketika ayah berpulang tahun 2008 dalam usia 79 tahun, om Beni sangat berduka. Di hadapan jenazah J.A. Katili ia memeluk saya dan kemudian ibu sambil  berkata: “I am speechless.”

Delapan bulan kemudian, keluarga kami kembali berduka ketika Omar Taraki Niode putra sulung saya dan Mochtar Niode dipanggil oleh penciptanya dalam usia 24 tahun. Dalam deraian air mata kesedihan saya masih ingat bagaimana oom Beni dan tante Soffie terus menerus hadir dalam doa yang kami selenggarakan sampai 40 hari.

Oom Beni tidak henti memberikan perhatian ketika kami mendirikan Omar Niode Foundation untuk bergiat dalam kegiatan sosial dan meningkatkan kualitas sumber daya masusia Indonesia di bidang pertanian, pangan dan kuliner, yaitu bidang yang dipelajari anakda Omar sampai ia memperoleh gelar MSc. dari University of California, Davis.

Kepergian oom Beni di Januari 2012 menambah dalam kepedihan yang tidak pernah sirna karena kepergian orang-orang yang saya sayangi. Apalagi ketika mendengar cerita tante Soffie bahwa di hari-hari terakhir hidupnya oom Beni sedang sibuk mempersiapkan penulisan buku untuk menghormati J.A. Katili.

You don’t get over the loss of loved ones, you just learn to live with the pain.

Dengan bersandar pada Allah SWT yang menentukan perjalanan umatNya, kami mencoba menikmati denyut kehidupan ini sambil menghargai hari-hari baik yang selalu datang. Di saat seperti itulah saya kadang berkilas balik.

Soroako

Pada tahun 1987 saya tinggal di Soroako selama 3 bulan untuk melakukan penelitian disertasi Ph.D bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di University of Michigan Ann Arbor.

Soroako menjadi pilihan karena dibantu oom Beni dan dorongan suami saya yang pernah bekerja di sana selama 2 tahun.  Sebagai sarjana mesin yang baru lulus dari ITB, mine maintenance adalah tantangan yang menarik. Mimi, demikian panggilannya, kemudian menempuh pendidikan lanjutan untuk Master of Engineering Management dari George Washington University di Washngton D.C.

Mimi berharap saya mendapat kemudahan dalam mencari data yang tidak bersifat rahasia maupun informasi  teknis dari INCO untuk penelitian yang berjudul: Evaluation of Environmental Management of One Nickel Mining Company in Indonesia with Special Emphasis on Water Quality.

Tinggal di Wisma D Single selama 3 bulan merupakan pengalaman langka dan bermanfaat karena adanya waktu untuk diskusi dengan para praktisi. Setiap akhir minggu oom Beni dan tante Soffie datang menjemput saya dengan jeep Range Rover 4WD untuk menginap di Salonsa. Di rumah panggung mereka yang asri saya bebas duduk bersila di sofa berbantal tebal,  menikmati makan enak di meja bertaplak putih tebal dengan piring mewah, sambil bercerita tentang berbagai hal terutama mengenai Canada.

Obrolan-obrolan itu membuat keinginan yang memuncak untuk pergi lagi ke Canada, negara yang pernah saya kunjungi 5 tahun sebelumnya. Beberapa tahun kemudian ketika bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, keinginan itu terwujud melalui program Canada-ASEAN Business Council, tentunya dengan rekomendasi dari oom Beni.

Jalinan Jejaring

Bukan hanya sekali itu oom Beni membantu saya dalam merambah ilmu.  Berbagai undangan kepada seorang peneliti muda untuk menjadi pembicara di mancanegara tidak semuanya bisa dipenuhi dengan biaya pemerintah.  Mungkin ada beberapa teman atau mantan anak buah om Beni yang menghela napas panjang karena sering diminta menolong Amanda agar bisa menghadiri seminar atau lokakarya tentang lingkungan hidup.

Meskipun tidak sesering ketika masih sekolah dan baru mulai bekerja, “minta pandangan oom Beni” berlanjut sampai saya menjadi Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup dan kemudian Koordinator Komunikasi, Informasi dan Edukasi di Dewan Nasional Perubahan Iklim.

Kesibukan lain saya sebagai ketua The Climate Reality Project Indonesia, organisasi yang didirikan oleh Al Gore, Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat dan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian juga tidak luput dari pantauan oom Beni.  Sebanyak 225 climate leaders TCRP Indonesia yang semuanya bekerja suka rela telah mendapat pelatihan dari Al Gore untuk komunikasi perubahan iklim.

Karena jaringan oom Beni dan tante Soffie sangat luas banyak kegiatan yang saya lakukan sekarang terinspirasi dari semangat keduanya.

Tante Soffie banyak membuka wawasan saya tentang kerja sosial untuk pendidikan dan kebudayaan. Di Soroako setumpuk buku dipelajarinya tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah.  Bertahun-tahun kemudian, di Jakarta, dengan semangat ia berkisah tentang perjuangannya yang tanpa pamrih menjaga Indonesian Heritage.

Di semua pembicaraan santai dengan Tante Soffie, oom Beni kadang menyambung dengan informasi tambahan yang herannya selalu sejalan dengan topik diskusi. Pasangan ideal ini tidak pernah lepas mendukung kegiatan masing-masing dalam berbagai tataran.

Harta Bumi Indonesia

Ketika tim penulis Buku Biografi J. A. Katili yang berjudul Harta Bumi Indonesia bekerja mengumpulkan informasi, ayah saya sama sekali tidak terlibat namun beliau seperti biasa berpesan” minta pandangan oom Beni.”

Ayah berasal dari keluarga sederhana di Gorontalo, sehingga ketika kuliah di Bandung ia menulis untuk menambah uang saku. Tulisannya kerap dimuat di Mimbar Indonesia, majalah bergambar independen yang diterbitkan untuk pembangunan politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Redaksi Mimbar Indonesia ketika itu terdiri dari banyak tokoh antara lain Prof. Mr. Dr. Soepomo perumus Undang-undang Dasar 1945 dan H.B. Jassin kritikus sastra yang juga berasal dari Gorontalo.

H.B . Jassin lah yang menempa J.A. Katili agar tulisan-tulisannya tidak kering dan terlalu ilmiah. Sehingga kemudian muncul berbagai artikel dengan isi yang informatif serta  judul-judul yang ketika itu tidak biasa, seperti:

  • Indonesia, Eldorado Geologi
  • Krakatau, Pipa Api Dalam Laut
  • Tenggelamnya Atlantis, Benua Khayalan Ciptaan Plato
  • Peranan Perubahan Iklim dan Evolusi Manusia
  • Tragedi di Sekitar Mount Everest
  • Mungkinkah Bumi Indonesia Mengandung Uranium ?
  • Ciptaan-ciptaan Besar dalam Senipikir Pengetahuan Alam

Tentang tulisan-tulisan itu oom Beni bertutur untuk buku Harta Bumi Indonesia:

“Kata kawan-kawan di SMA, bahasa Inggris saya bagus sehingga cocok jadi diplomat mengikuti jejak saudara saya yang sudah bekerja di Kementerian Luar negeri. Akan tetapi karena tulisan-tulisan J.A. Katili, saya terdorong ingin tahu lebih banyak mengenai alam, bumi tempat kita tinggal. Saya memilih jurusan Geologi ketika masuk FIPIA UI (sekarang ITB) di Bandung tahun 1955.

Keingintahuan oom Beni tentang alam tidak lekang dari hati, sampai ia meninggalkan bumi yang sangat dicintainya ini.

Saya sangat kehilangan dan tidak bisa lagi “minta pandangan oom Beni” tentang berbagai hal seperti selalu diingatkan ayah saya.  Namun kata-kata Dr. Robert Decker ahli gunung berapi dari Amerika, rekan Beni Wahju dan J.A. Katili, membuat saya bersyukur sempat belajar dari tiga tokoh kebumian tersebut.

Decker yang pernah menjadi President of the International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior menulis:

I have learned more in Indonesia than I have taught. I feel most fortunate to have been able to come to such a beautiful country, to make friends with such fine people, and to work with such talented colleagues.”

TNC


By Joe Bartlett

Whenever I think about Pak Beni, the word “Gentleman” comes to mind.  Beni personified so many of the good traits that I associate with a “Gentleman”.  He was fair and honest in his spoken word and how he engaged people.  He did not always have to be right, but he would not let a wrong pass unchallenged.  He would tell you how he saw it and was willing to agree to disagree so long as principles were not compromised.

Pak Beni was a role model as a leader among the TNC Indonesia Board of Advisors.  He was always prepared to engage both Government of Indonesia officials and private sector business leaders on behalf of TNC.  Pak Beni led from the front, asking others to do nothing that he himself was not willing to do.

Besides TNC, Pak Beni and I shared a common interest in the Luwu area of South Sulawesi, he as a geologist in the mountains and me, at one time, as a hopeful banana plantation manager, in the coastal area.    He told me some good stories about his early days in the area and the numerous challenges Inco and he encountered.  While the banana plantation project did not occur, Beni was most helpful whenever I sought his advice on how to approach my own Luwu challenges.

Among his many good attributes, Pak Beni sure was a true Gentleman.

Filipino Friends


We met Beni Wahju during the First Asian Federation of Mining Association (AFMA) in Bangkok, Thailand in 1988. I believe Beni was one of the founders of AFMA. Beni was the head of delegates from Indonesia. Due to ethnic relations, our Filipino group tended to go along with the Indonesian Chamber of Mines and as well as the Malaysian group.

Beni was a very pleasant and cordial man to discuss with. He exuded the confidence of a close friend  even at first introduction. He felt like a brother to us. Even our Malaysian and Thailand delegation went together well with Beni. In fact he looked more like an ambassador always dressed elegantly in his coat and tie.In one of the subsequent meetings held and hosted by the Philippines Chamber of Mines, Beni and the Malaysian and Thais came with their wives. I also brought along my wife Yoly to guide and look after their wives while they went around Metro Manila like Central  Market where varieties of clothings, dresses, barong tagalogs are sold at bargain prices. We ate in local Filipino restaurants  where the tastes of local food were not strange to Beni and his very charming and amiable wife Soffie.

Beni and Soffie did the same courtesy to us when we attended the AFMA conference in 1995 in Jakarta ,Indonesia. We enjoyed the sights specially our wives who went around the city with Soffie acting as guide and big sister. My wife was then 7 months pregnant with our youngest son Gabriel.

During all our meetings and social gatherings I noticed Beni had a special heart for the Filipino group. In fact according to a story told to me by the former Director of the Philippine Mines Bureau, Mr. Edwin Domingo, whenever his group visited Indonesia on several occasions they were invited by Beni and Soffie to stay in their home in Jakarta.

We all have the same soft spot in our hearts for dear Beni, a colleague in the mining industry.

We will miss him…Atty.Deo Contreras

Ms Barton


By Bridget Barton

It is with sadness that I think about Benny’s passing. I first met Benny when I was sent to Malili to be ‘looked over ‘ to see whether I was a suitable person to teach the small group of children that belonged to the geologists. Ray Burkhart and Benny were in-charge of this small geologists camp in Malili. Benny was a man held in high regard by all those who worked with him.

Benny was a great supporter of the school during its years of development from the early days in Malili through to its expansion in Soroako.

Benny was responsible for making a number of crucial decisions for the Indonesian children in the school. I trusted Benny’s decisions and had a huge personal respect for him. He was a gentleman, a man of great honour and integrity and a man that had the ability to bring together a diverse group of people across a range of cultural differences.

My experiences in Indonesia were greatly enriched by Benny.

Good Friends for 57 Years


By Joe Widartoyo

Sungguh sulit melupakan sahabat kami yang satu ini, mengapa tidak? Pak Beni Wahju, merupakan satu-satunya teman akrab saya sejak 57 tahun yang lalu. Kami berdua sama-sama kuliah di ITB (Bandung) Angkatan 1955. Saat itu Pak Beni kuliah di FIPIA –UI (Fakultas Ilmu Pasti Alam Universitas Indonesia) sedang saya kuliah di Fakultas Teknik – Universitas Indonesia, sama-sama di Bandung. Kemudian baik FIPIA maupun Fakultas Teknik tersebut dilebur menjadi ITB – Institut Teknologi Bandung.

Lepas dari kesemuanya itu,  yang saya ingat yaitu begitu lulus Pak Beni  bekerja di Jawatan Geologi Bandung (1961-1967), sedang saya bekerja di Kantor Pusat / Sekretariat Jenderal Departemen Pertambangan Jakarta s/d 1987. Pada tahun 1967 Pak Beni Pindah ke PT INCO, dan dari tahun 1989-1991 diangkat sebagai Vice President PT INCO Indonesia; Kemudian status Beliau diangkat lagi menjadi President Director PT Ingold Management (Subsidiary PT INCO Technical Services Ltd.).

Disamping bekerja di PT Ingold, beliaupun sangat aktif membantu IMA – Indonesian Mining Association (yang didirikan pada tanggal 29 Mei 1975); Beliau berhasil sebagai Wakil Ketua IMA di tahun 1989 s/d 1998, kemudian dapat menduduki Jabatan Ketua Umum IMA dari tahun 1999 s/d tahun 2005.  Berikutnya dari tahun 2005 s/d saat Beliau wafat (Januari 2012), status Beliau di IMA masih menjabat menjadi Anggota Badan Penasehat, dan terakhir sesuai dengan Keputusan Menteri Hukum dan HAM-RI, tanggal 26 Januari 2012 (dimana status IMA sudah sah menjadi Badan Hukum), maka nama Pak Beni tercatat sebagai Anggota Dewan Pengawas API-IMA  dengan masa tugasnya s/d tahun 2015 yang akan datang.

Hobi Pak Beni lainnya, adalah banyak menulis tentang perkembangan status geologi dan pertambangan di Indonesia.

Sejumlah buku yang telah ditulis  bersama rekan-rekan Senior kita dan telah dikompilasi dalam bentuk Buku-buku yang diterbitkan oleh API-IMA,  ditulis dalam dua (2) bahasa (Indonesia –Inggris), antara lain:

  1. Indonesian Mining Industry, In the Period of Translation Between 1997 – 2001 (by B.N. Wahju)
  2. Indonesia Mineral Prospecting Activities in 1969-1994 (by B.N. Wahju, dkk)
  3. 30 Tahun IMA – Dedikasi Industri Pertambangan Bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (oleh B.N. Wahju, dkk).
  4. Mining Indonesia – Fifty Years Development 1945-1995 (oleh B.N. Wahju dkk.)
  5. Indonesian Mineral Development (oleh B.N. Wahju dkk tahun 1992), dan lain-sebagainya.

Disamping Buku-buku yang diterbitkan oleh API-IMA tersebut di atas, masih banyak lagi terbitan/karya  tulis Pak Beni lainnya, seperti terbitan IMA dalam bentuk “Proceedings Report” dari setiap Konperensi IMCE – Indonesian Mining Conference and Exhibition yang diadakan oleh API-IMA setiap 2 (dua) tahun sekali, dan lain sebagainya.

Sejumlah papernya, telah pula dipersentasikan di Forum-forum lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri, seperti di Forum AFMA- ASEAN Federation of Mining Associations, di Forum ASOMM-ASEAN Senior Official Meeting on Minerals dan lain sebagainya.

Sebagai akhir kata dari kenangan manis ini, maka saya beserta keluarga dan kawan-kawan di API-IMA, merasa kehilangan atas wafatnya Pak Beni Wahju tersebut; Baik sebagai rekan kerja, maupun sebagai anak buah selama Beliau berada di Kepengurusan API-IMA (sejak dari tahun 1989 s/d wafatnya Beliau di awal tahun 2012 ybl).

Sebagai mantan pemimpin kami, beliau selalu bekerja keras serta sangat memperhatikan, baik kesehatan  maupun kesejahteraan kami di IMA selama ini. Akhirnya kami semua mengucapkan “Selamat Jalan Pak Beni, Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Anugerah serta Karunia Nya, dan menempatkan Pak Beni di tempat terbaik di Alam surga Nya”, kemudian kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan kekuatan iman serta tabah, untuk mengatasi segala cobaan yang sangat berat ini. Amin.

Jakarta, 19  Desember 2012

Joe Widartoyo

(Teman sekuliah, ITB th 1955)

Approachable


By Rick Ness

When presented with the opportunity to write something about our friend and colleague   Beni Wahju, the challenge was not what to say but ”where to start”.  Beni was legendary in his own time.

First and foremost, Beni was known as a true gentleman, a man of principle in all respects and when it came to geology or mining in Indonesia, his name was synonymous with the industry.  He was the type of professional younger geologists aspired to be like and he mentored may fine people along the way.

In addition to his esteemed career with PT INCO, Beni was instrumental in promoting the Indonesian mining industry and he dedicated a large portion of his time in assisting both the regulators and investors to responsibly develop Indonesia’s mineral potential. He was a promoter of good mining practices, sound environmental management and active community engagement to help insure all parties’ benefit from the natural resource development.
image

While Beni’s accomplishments were numerous, he was extremely humble and approachable.  He was as comfortable talking to a group of young geologists as he was talking to a senior government official or a chairman of the board.  Maybe it was his caring, his ability to listen, his ability to appreciate, as well as communicate at various levels that made him the special person he was to so many.

The Indonesian Gold Crush


By Bondan Winarno

Beni Wahju adalah sebuah nama besar bagi saya. Seorang presiden direktur dari sebuah perusahaan tambang internasional pastilah bukan figur sembarangan. Sudah lama saya mendengar namanya, tetapi baru berjumpa pertama kali pada sebuah diskusi di kantor Direktur Jenderal Pertambangan Umum pada tahun 1997. Ia sudah pensiun dari PT Inco ketika itu. Tetapi, aura dan wibawanya tetap terasa.

“Saya mewakili Pak Rumengan Rusu yang hari ini berhalangan hadir,” katanya sambil menjabat tangan saya. Bagi saya, nama Rumengan Musu, Presiden Direktur PT Inco,  justru masih asing. Malah nama Beni Wahju yang justru acapkali saya dengar.

 Hari itu ada diskusi yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto, Direktur Jenderal Pertambangan Umum, (sekarang Kepala UKP4), untuk membahas artikel saya yang baru saja dimuat di The Asian Wall Street Journal, berjudul All That Glitters: The Indonesian Gold Crush. Sebagian besar peserta diskusi adalah profesor di bidang pertambangan serta praktisi senior pertambangan, seperti Pak Soetarjo Sigit, dll. Para profesor yang hadir semula menduga bahwa saya adalah seorang insinyur tambang. “Anda lulusan mana, sih? Kok saya belum pernah dengar?” tanya Prof. Dr. R.P Koesoemadinata, pakar geologi ITB. Mereka heran bahwa seorang non-tambang dapat menulis seperti itu.

Diskusi itu menyimpulkan bahwa para senior di bidang pertambangan di Indonesia harus mampu berkomunikasi dengan para wartawan dalam bahasa awam yang sederhana dan mudah dimengerti agar para wartawan pun dapat lebih gamblang membuat berita bagi masyarakat.

Sebelum berpisah, Pak Beni mengatakan: “Kapan-kapan kita makan siang dengan Pak Rumengan Musu, ya? Kalau kita semua akrab kan jadi enak? Urusan rumit pun jadi gampang.” Gestur yang sangat akrab dan hangat.

Tidak lama setelah itu, jalan hidup saya bersentuhan dengan Pak Beni. Pada tahun 1999, saya direkrut menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Alam Nusantara. Sebagai founding chairman YPAN, Pak Beni-lah yang melakukan final interview dan mengambil keputusan untuk mengangkat saya.

Pak Beni hampir selalu hadir dalam rapat-rapat Yayasan. Pada waktu itu, YPAN benar-benar sedang dipacu agar dapat mandiri menjadi TNC’s national organization dalam waktu tiga tahun. Pandangan-pandangan Pak Beni yang selalu dikemukakan dengan santun dan berbumbu humor merupakan masukan yang penting bagi kemajuan YPAN.

Menjelang akhir 1999, saya diundang TNC untuk menghadiri konferensi di Miami, Florida. Pak Beni pun menghadiri konferensi tersebut.  Kami tidur sekamar di hotel. Ini memang standard operating procedures (SOP) di TNC – seperti juga di NGO lainnya. Pak Beni pun dengan besar hati tunduk pada aturan yang sungguh tidak nyaman bagi seorang yang pernah mengenyam perks sebagai top executive. Bayangkan, penerbangan dari Jakarta ke Miami yang hampir 24 jam dengan dua kali transit itu pun harus ditempuhnya di kelas ekonomi.

Sebetulnya, saya sering berada dalam compromising situation seperti ini sebelumnya. Dalam pengalaman saya, kebanyakan para mantan pejabat memilih untuk memakai uang sendiri guna meng-upgrade kelas di penerbangan, serta membayar sendiri untuk kamar pribadi – demi kenyamanan dan prestise. Tetapi, Pak Beni dengan rela menerima aturan yang berlaku, dan men-downgrade dirinya agar setara dengan yang lain. Bagi saya, justru inilah yang membuat Pak Beni seorang primus inter pares.

Pada pembukaan konferensi tersebut, Pak Beni dipanggil ke panggung untuk menerima anugerah Oak Leaf Award. Anugerah ini diberikan TNC kepada lembaga atau perorangan yang telah memberikan dampak signifikan terhadap upaya pelestarian sumber daya alam.

Kami hanya dua malam tidur sekamar di Miami, karena Pak Beni memang tidak perlu menghadiri keseluruhan sidang. Pada hari terakhir, Pak Beni sudah bangun subuh dan bersiap berangkat ke bandara.

“Lho, ini kan masih pagi sekali, Pak Beni? Belum saatnya berangkat ke bandara sekarang,” kata saya. “Wah, lebih enak berangkat pagi, supaya tidak terburu-buru,” kata Pak Beni. Saya lihat matanya merah, dan agaknya ia kurang tidur semalam sebelumnya.  Saya juga tidak sempat bertanya apakah itu penyebab kepergiannya lebih pagi.

Karena saya baru terbangun, saya lepas Pak Beni keluar kamar hanya dengan berjabat tangan. Beberapa menit kemudian, setelah “ruh” saya terkumpul, barulah saya menyadari apa yang sangat mungkin telah menjadi penyebab keberangkatan Pak Beni mendahului waktunya. Rupanya, saya mendengkur terlalu keras semalaman, sehingga Pak Beni tidak bisa tidur. Saya yakin akan hal ini karena saya memang mempunyai reputasi buruk dalam hal ini. Seorang direktur TNC yang pernah sekamar dengan saya bahkan mem-broadcast “prestasi” saya itu sebagai Olympic gold medallist in snoring.

Pak Beni, sebaliknya, tidak mempermalukan saya. Dia memilih diam, sekalipun dia tentu sangat menderita karena dengkuran keras saya semalaman, dan menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri.

Sleep in peace, Pak Beni. I won’t disturb you again.

The Perfect Leader of IMA


By Paul Coutrier

It was in early 1999 when I became acquainted to Beni N Wahju at IMA (Indonesian Mining Association). It was then that the IMA Executive Committee decided that entering the New Millennium, 2000, IMA should be more proactive to face the challenges facing the mining industry. For this purpose I was appointed Executive Director of IMA. The “fit and proper test” I faced was quite dynamic when 8 members of the IMA Executive Committee participated. When passing the test I my reporting line was  to the IMA Chairman, Beni Wahju.

That is when I started to know Beni as a professional mining expert. My educational and professional background from the Oil Industry and the Environment and my experience as Head of Public Relations and Head of Training and Education of Pertamina was very compatible to that of Beni’s expertise in mining. This was a positive start and soon he leaves the initiatives of running the directorship to me. Together with DR. Sigit, Beni became my most prominent  resource person in mining during my 5 years with IMA. I only left IMA because of my ill health at that time and because of my family pressure to reduce too much public pressure.

Through Beni I got full support from IMA to initiate and frequently held high level  discussions with the parliament/DPR in RDP Commissions  discussions, official discussions with the Government  viz. ESDM (Mining & Energy), Menko Ekonomi (Coordinating Minister for Economy), Dep Keuangan (Ministry of Finance), Bappenas (National Planning Board),Dept Dalam Negeri (Ministry of Interior).Beni was always there to represent IMA and voiced his professional views.

In anticipating a new mining law to replace the one made in 1967 Beni and me even jointly initiated a Workshop on Mining Law with prominent speakers from World Bank and IFC Washington, Colorado School of Mines USA, Dept Kehutanan (Minister of  Forestry), KLH/Ministry of Environment and other invitees from Professional Associations and the academia.

Together we used to be also active in developing relationship with Mining Associations at  regional /ASEAN like AFMA (ASEAN Federation of Mining Associations)  and at International levels like the ICMM.

Beni also introduced me to the Canadian Mining and Prospectors Conference annually held in Toronto. In another opportunity I visited Sudbury and went down the mine to 300 meter below the surface. This was the first and last time in my life to go underground that deep.

When I have to speak at those fora it is always encouraging to realize that expert advice like  Beni was around. Beni was since long a famous expert at the AFMA/ASEAN Federation of Mining Associations.

Together with  several international experts in mining,we both participated in the Preparatory Committee Meeting for the WSSD/World Sustainable Development in Bali, 2002, held by The United Nations. We succeeded in preventing a World Bank boycott on world mining as proposed by some NGO’s. The WSSD was later held in Johannesburg, South Africa

Beni is a gentleman who always maintain a considerate way of speaking and calm profile when arguing. Beni has a lot of friends especially in the mining sector. This is because of his capability of bridging professional differences among the mining people and the ability to communicate with social community leaders in the regions/daerah. His sudden demise is a big loss not only for the mining community but  for every body who knows him well. I am sure he has got a special place “up there”.

Good Bye my friend, Requiescat in Peace

Problem Solver


By Alan Spence

My contact with Beni was initially on Inco supervisory trips from Sydney, Australia, starting about 1967, then from a Toronto HQ and ultimately on friendly visits both in Mississauga and Jakarta. My impressions of Beni therefore grew through many short encounters over a period of nearly 40 years.

Exploration base camp was centered at Malili where I remember such a vibrant group of geologists with roots in Indonesia, Canada, India, Pakistan, Australia and America. Together with their on-site wives, the co-operation, collaboration and spirit of the Malili residents was amazing to me.

IMG00083-20110503-2115

Beni was the key geologist of the excellent Indonesian geological team. Over time he gained the respect of PT Inco Management, taking on a broad range of assignments, and was an important guide to Inco relations with the Indonesian Mines Department.

As a person he had so many attributes. He was the voice of stability, a strong communicator and a problem solver. With a quiet competence he rose through the company’s ranks without seeking the limelight. I remember Beni as a good friend, a gentleman in every sense of the word and, together with his charming wife Soffie, providing wonderful Indonesian hospitality.

Alan Spence

December 2012

Pejuang Tambang Sampai Akhir Hayat


By Noke Kiroyan

Latar belakang pengalaman dan pendidikan saya dengan almarhum B.N. Wahju, saya memanggilnya “Mas Beni” jauh berbeda. Tanggal lahir kita terpaut duabelas tahun, jadi jelas beliau lebih senior dari saya. Beliau adalah penambang tulen, lulusan Geologi Institut Teknologi Bandung dan sepanjang hayatnya berkecimpung di dunia tambang yang ditekuninya, bahkan boleh dikatakan di lingkungan satu perusahaan saja, yaitu Inco termasuk  anak-anak perusahaannya.

Beni Wahju identik dengan Indonesian Mining Association (IMA) karena berada di kepengurusan sejak tahun 1989 dan di saat-saat kritis bagi dunia tambang pada saat situasi berubah total dengan Era Reformasi pada tahun 1998 terpilih sebagai Ketua selama beberapa periode sampai 2004, setelah sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Dengan latar belakang ini beliau  sangat dikenal di industri tambang yang di mata orang awam adalah dunia yang keras dan membentuk orang-orang yang keras dalam segala hal. Di tengah dunia keras ini ada seseorang yang berpembawaan tenang, bersikap apa adanya tidak dibuat-buat, tutur bahasanya halus namun tegas dengan suara yang termasuk lembut, jauh dari citra penambang yang ada di benak kebanyakan orang. Sosok yang tenang dan bersahaja itu adalah Beni Wahju dan lantaran  itulah saya menyebutnya “The Gentleman Miner” karena saya kira tidak ada istilah dalam Bahasa Indonesia yang sepadan dan dapat secara singkat menggambarkan kepribadiannya.

Saya sendiri menempuh pendidikan di Ilmu-Ilmu Sosial dan Keuangan/Niaga dan baru mengenal dunia tambang sesungguhnya pada waktu kembali ke Indonesia untuk memegang jabatan Presiden Direktur PT Rio Tinto Indonesia dan Country Head Rio Tinto untuk Indonesia  pada tahun 1997 dengan pengetahuan mengenai tambang tangan pertama nyaris nihil. Karir saya terpanjang sebagai eksekutif adalah di lingkungan industri listrik, dimulai sebagai Management Trainee tahun 1974 dan melalui jalur Administrasi & Keuangan akhirnya menjabat sebagai Presiden Direktur PT Siemens Indonesia waktu mengundurkan diri di tahun 1991 untuk bergabung dengan Salim Group. Di kelompok perusahaan itu saya bertugas menjalankan bisnis oleokimia (zat kimia berbasis nabati seperti kelapa sawit) di pentas global pertama kalinya di Jerman, kemudian dipindahkan ke Australia, baru setelah itu ke Amerika Serikat di mana saya didekati perusahaan executive search yang akhirnya membawa saya pulang ke Indonesia untuk memasuki dunia tambang.

Dengan segala perbedaan kita, ada suatu periode, tepatnya mulai akhir 1998 sampai 2002 di mana kita bekerjasama dengan erat, beliau sebagai Ketua Badan Pengurus IMA dan saya sebagai Wakil Ketua. Periode ini penuh gejolak, dunia tambang diliputi ketidak pastian di segala bidang diawali dengan dikumandangkannya di tahun 1998 oleh para petinggi pemerintah bahwa Undang-Undang Pertambangan Tahun 1967 sudah usang dan akan digantikan dalam waktu dekat dengan undang-undang baru (yang akhirnya terwujud dua belas tahun kemudian di tahun 2009), membuat para eksekutif perusahaan tambang yang tergabung di IMA dan sedang mempersiapkan usulan-usulan untuk Generasi VIII Kontrak Karya menjadi kalang kabut dan diliputi ketidak pastian yang berkepanjangan.

Dikeluarkannya Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah tanggal 4 Mei 1999 yang mengubah penyelenggaraan pemerintahan yang akan mulai berlaku dua tahun kemudian di tahun 2001 menambah gejolak di industri tambang karena tidak jelasnya kewenangan atas operasi tambang yang hingga saat ini masih banyak wilayah abu-abunya menimbulkan ketidak pastian baru. Operasi tambang yang by definition berada di daerah jauh dari ibukota dengan sendirinya berada di garis depan menghadapi perubahan-perubahan mendasar di bidang sosial dan politik karena pergantian tatanan pemerintahan dari sentralistik ke pemberdayaan pemerintah daerah berdampak langsung terhadap operasi tambang. Bukannya para pelaku perusahaan tambang menentang otonomi daerah, namun perubahan menyeluruh tanpa persiapan memadai dipastikan menjadi sumber konflik. Di tataran strategis eksplorasi dan investasi baru terhenti dan industri tambang Indonesia yang sampai tahun 1997 sedang berada di dalam expansion mode langsung berubah haluan ke survival mode.

Pengangkatan saya sebagai Country Head memang awalnya didasarkan atas pemikiran ekspansi bisnis di Indonesia yang harus dipimpin orang Indonesia (sebelumnya organisasi pendahulu Rio Tinto Indonesia selalu dikepalai orang asing). Pada saat itu kepemilikan Rio Tinto di PT Kelian Equatorial Mining sebesar 90%, PT Kaltim Prima Coal 50%, dan  Freeport McMoran Copper & Gold di New Orleans, Amerika Serikat sebesar 16% ditambah kepemilikan 40% atas perluasan tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia apabila dijumlahkan bernilai sekitar 10% dari asset Rio Tinto di seluruh dunia di pengujung tahun 90-an. Di samping itu ada sembilan Kontrak Karya yang berada dalam taraf eksplorasi. Pada waktu wawancara akhir di London oleh pimpinan tertinggi Rio Tinto kepada saya disampaikan bahwa perusahaan menargetkan asset di Indonesia sebesar 25% dari seluruh asset global perusahaan karena pertambangan di Indonesia dipandang sangat prospektif dan kepastian hukumnya termasuk terbaik di luar negara-negara mapan dalam industry pertambangan seperti Amerika Serikat, Australia dan Kanada. Tugas utama saya ke depan dalam jangka panjang adalah memimpin ekspansi Rio Tinto di Indonesia. Seperti kita ketahui bersama keadaan saat ini sebaliknya karena Rio Tinto nyaris tidak terdengar lagi kiprahnya di Indonesia.

Saya merasakan gejolak otonomi daerah melalui pengalaman tangan pertama karena terhitung mulai tanggal 1 Desember 2001 saya dialih tugaskan oleh pimpinan Rio Tinto di London dari jabatan di Jakarta sebagai Country Head menjadi Presiden Direktur PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang saat itu kepemilikannya 50/50 antara Rio Tinto dan BP. Kantor saya di lokasi tambang di Sangatta, kota yang “dilahirkan” oleh KPC dan menjadi ibu kota Kabupaten Kutai Timur yang baru terbentuk dengan adanya pemekaran Kabupaten Kutai. Hari pertama tugas saya di KPC tidak berlangsung di Sangatta melainkan di dalam Gedung DPR-RI mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum tentang Divestasi Saham KPC yang juga dihadiri pejabat-pejabat Pemerintah Kalimantan Timur dan Kutai Timur beserta anggota-anggota DPRD masing-masing yang ditemani juga oleh berbagai organisasi kemasyarakatan membuat suasanya lebih menyerupai suatu pengadilan massal. Apalagi semuanya sedang belajar menyesuaikan diri dengan kewenangan-kewenangan baru dengan telah berlakunya otonomi daerah awal tahun 2001 di tengah ketidak jelasan aturan  pada saat itu.

Tidak lama setelah pindah ke Sangatta, di pertengahan bulan Desember 2001 saya mulai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur di Balikpapan atas tuduhan korupsi. Tuduhan korupsi dilandasi oleh argumentasi bahwa dengan belum terlaksananya divestasi maka Pemerintah Kalimantan Timur mengalami kerugian karena belum menikmati dividen, sedangkan merugikan Negara adalah korupsi dan itulah yang menjadi dasar pengaduan. Semua yang terjadi tentu saja saya komunikasikan kepada Mas Beni dan Pengurus IMA lainnya yang senantiasa berupaya membela saya, namun di tengah hiruk pikuk di Era Transisi memang tidak banyak yang dapat dilakukan oleh organisasi bisnis apa pun. Akhirnya pimpinan tambang harus menerima kenyataan bahwa masing-masing harus bertempur sendiri menghadapi gempuran yang bertubi-tubi pada saat itu.

noke

Saya bertugas di Sangatta sampai 9 Oktober 2009 karena keesokan harinya perusahaan diserahkan kepada pemilik barunya, Bumi Resources. Mas Beni beserta pendampingnya yang setia, Soffie (biasa kita sebut “Teteh” – kakak perempuan dalam Bahasa Sunda) sempat berkunjung ke Sangatta dan disambut dengan sangat meriah. Bukan saja beliau Ketua IMA dan tokoh tambang Indonesia tetapi banyak manajer dan karyawan KPC waktu itu mantan anak buah beliau di Inco. Dengan penugasan saya di Kalimantan Timur maka saya pun tidak lagi dalam kegiatan-kegiatan organisasi di Jakarta, termasuk IMA di tahun 2002 – 2003. Baru setelah kembali ke Jakarta sebagai Presiden Komisaris PT Rio Tinto Indonesia saya bergabung lagi dengan Mas Beni , Pak Kosim Gandataruna, Mas Hoediatmo dan rekan-rekan IMA lainnya di dalam Komite RUU Pertambangan  IMA yang secara berkala diselenggarakan di kantor Mas Beni di Ingold.

Di antara banyak kejadian yang saya alami bersama Mas Beni, ada dua hal yang selalu saya ingat. Yang pertama adalah waktu Pengurus IMA melakukan audiensi kepada Menteri Pertambangan dan Energi pada awal kepresidenan Gus Dur di tahun 2000, Letnan Jenderal (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono. Di antara berbagai hal yang dikemukakan ada masalah PETI, dan Mas Beni dengan gaya khasnya yang tenang itu mengatakan, “Bapak Menteri, please do something. You can do it, you have three stars.”  Waktu itu Undang-Undang Otonomi Daerah belum diberlakukan dan banyak Gubernur adalah mantan perwira tinggi militer yang berpangkat Mayor Jenderal atau jenderal berbintang dua.  Seperti kita ketahui Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Mentamben hanya selama sembilan bulan karena kemudian menggantikan Jenderal Wiranto sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehingga belum sempat mewujudkan himbauan Mas Beni.

Kejadian yang kedua menyentuh perasaan kebangsaan Mas Beni yang sangat tinggi. Seperti biasa kalau ada tamu senior dari Rio Tinto berkunjung ke Jakarta saya menyelenggarakan resepsi di rumah dengan mengundang  kalangan eksekutif di  Jakarta dari berbagai kalangan, tidak terbatas kepada dunia tambang. Raut muka Mas Beni mirip orang India dan ditambah penguasaan Bahasa Inggerisnya yang sempurna acapkali membuat orang yang tidak mengenal beliau menyangkanya orang India atau Pakistan. Isteri dari salah satu tamu saya yang orang asing membuat kesalahan itu dan sempat mengucapkan beberapa hal kepada beliau yang  menyepelekan orang Indonesia, mungkin karena mengira sedang berhadapan dengan orang India. Mas Beni hanya mengatakan “I am Indonesian” kemudian balik badan meninggalkan lawan bicaranya. Waktu beliau menceriterakan hal itu kepada saya terlihat bahwa di balik ketenangannya sebenarnya beliau sedang menahan amarah yang besar.

Tulisan singkat tentunya tidak mampu menceriterakan secara lengkap tentang kepribadian seseorang, demikian halnya juga dengan tulisan saya ini. Namun satu hal yang saya kira tidak akan dibantah siapa pun adalah bahwa Beni Wahju adalah seorang tokoh dunia tambang yang berjuang habis-habisan membela bidang yang dicintainya, pertambangan di Indonesia yang diyakininya dapat memberikan sumbangan signifikan kepada perkembangan Indonesia. Di usia di mana kebanyakan orang sudah bersantai menikmati hari tua beliau tidak mengenal lelah melakukan apa yang diyakininya, yaitu memajukan industri tambang berdasarkan praktik terbaik, yang bertanggung jawab dan melestarikan lingkungan hidup dan menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Beni Wahju adalah tokoh panutan yang tak tergantikan di Pertambangan Indonesia, seorang Pejuang Tambang sampai akhir hayatnya.

Penulis adalah mantan Presiden Direktur PT Rio Tinto Indonesia, PT Kaltim Prima Coal dan PT Newmont Pacific Nusantara dan sekarang Komisaris PT Agincourt Resources  dan PT Baramulti Suksessarana Tbk. selain sebagai Presiden Direktur dan Chief Consultant PT Komunikasi Kinerja yang dikenal dengan nama Kiroyan Partners, didirikan akhir 2006.