Amanda Katili: Manusia Semesta


Oleh: Amanda Katili Niode

“Minta pandangan oom Beni,” demikian selalu pesan ayah saya, John Ario Katili, jika saya bertanya tentang berbagai hal terkait sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

“Jangan lupa undang oom Beni dan tante Soffie,” kata-kata itu diucapkan ibu saya, Iliana Katili Uno, setiap kami merencanakan acara kekerabatan.

Kedekatan keluarga kami dengan oom Beni dan tante Soffie memang jauh melebihi keakraban dengan sanak saudara.

Ketika masih remaja saya heran, mengapa selalu harus konsultasi dengan oom Beni?  Bertahun-tahun kemudian saya paham, Beni Nurtjahja Wahju ternyata bukan hanya seorang praktisi pertambangan yang kemudian menjadi pemimpin perusahaan multinasional. Ia seorang manusia semesta, a renaissance man, yang mahir dalam berbagai bidang dan mempunyai pengetahuan yang sangat luas.

Bermula di Bandung

Ketika J.A. Katili meniti karier sebagai dosen di ITB tahun 50an, Beni Wahju sempat menjadi asisten nya. Oom Beni bukan sembarang asisten, karena setiap kembali dari kampus atau dari studi lapangan, ayah bercerita pada ibu: “Beni itu giat dan cemerlang. Masih sangat muda tetapi jiwa kepemimpinannya sudah terlihat. Meskipun dari keluarga terpandang, dia sangat santun.”

Oom Beni menjadi asisten ahli J.A. Katili ketika masih mahasiswa. Selain mengajar, menurut oom Beni ia juga menyiapkan bahan kuliah dan membantu meneliti batu-batuan serta memetakannya di Sumatera. Penelitian itu merupakan masukan penting untuk disertasi J.A. Katili di ITB tahun 1960: Geological Investigations on the Lassi Granite Mass Central Sumatera.

Ilmu Kebumian membuat ayah dan oom Beni  tidak pernah putus kontak meskipun keduanya berpindah kota ataupun berpindah kantor. Sesibuk apapun J.A. Katili  dalam pekerjaannya baik sebagai Guru Besar ITB, Deputi Ketua LIPI dan Direktur Jenderal Pertambangan maupun Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Duta Besar RI di Moscow, ia selalu mencari waktu agar mereka bisa bertemu.

Ibu saya mengenang perjumpaan pertamanya dengan orang tua oom Beni, Bapak Raden Wahjoe Argawinata yang ketika itu Residen Bogor dan ibu Isoh Habsah Wahjoe.   Ibu dan orang tuanya hadir di perhelatan pernikahan kakak oom Beni, Herry Djoehariah Wahjoe, dengan Anwar Wardoyo, yang kemudian menjadi pejabat di Kementerian Luar Negeri.

Ketika masih tinggal di Gorontalo, Keluarga Uno berteman dekat dengan Keluarga Wardoyo. Pernikahan putri Residen Bogor itu dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Bung Karno yang didampingi Ibu Hartini.

“Mama juga sudah kenal tante Soffie dari tahun 60an di Washington D.C.,”  sambung ibu saya.

Perjalanan ke Amerika

Tahun 1963 sebagai Pembantu Rektor ITB dan juga Direktur Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional, LIPI, J.A. Katili mendapat kesempatan untuk mengadakan perjalanan ilmiah ke beberapa universitas unggulan di Amerika Serikat. Masa itu, seperti juga seharusnya sekarang, tidak lazim seorang isteri mendampingi suami bertugas.

Namun ayah berupaya keras mengajak ibu karena sejak awal menikah ibu saya sudah mewanti-wanti: “aku mendukung tugas-tugas ilmiahmu dengan sepenuh hati, silahkan melakukan perjalanan ke manapun di dunia ini, tetapi kalau ke Amerika Serikat aku harus ikut.”

Tidak terbayang wajah ayah ketika dia mengatakan pada Kentucky Contract Team penggagas perjalanan tersebut: ”saya tidak pergi kalau tidak bersama isteri.”

Akhirnya Iliana Katili Uno dan John Ario Katili berangkat ke Amerika Serikat diiringi keheranan bule-bule yang berkata: “He must love his wife very much.”

Dalam perjalanan selama tiga bulan mereka berkunjung ke berbagai universitas dan institusi  di negara bagian California, Nevada, Colorado, Kentucky, Pennsylvania, New York, Massachusetts, New Hampshire dan Washington D.C.

Yang menyenangkan di Washington D.C. bukan hanya acara yang diikuti J.A. Katili  mewakili Pemerintah Indonesia, yaitu perayaan 100 tahun United States National Academy of Sciences dengan sambutan dari Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.

Tidak kalah berkesan adalah jamuan makan malam dari Bapak Doedi Soemawidjaja Atase Kebudayaan di KBRI Washington dan Ibu Nani Soewangsih. Setelah berbulan-bulan menjelajah dunia ilmu di Amerika, memeras otak tanpa ada kesempatan menanak nasi, sajian prasmanan dengan ragam kuliner Nusantara  dan perhatian Keluarga Soemawidjaja sangat menyentuh ayah dan ibu saya.

Duka mendalam

J.A. Katili terkena gangguan pada pembuluh darah, Deep Vein Thrombosis, dan harus dirawat. Om Beni dan tante Soffie yang berkunjung serasa tidak percaya melihat ayah yang selalu aktif  harus berdiam di rumah sakit. Ketika ayah berpulang tahun 2008 dalam usia 79 tahun, om Beni sangat berduka. Di hadapan jenazah J.A. Katili ia memeluk saya dan kemudian ibu sambil  berkata: “I am speechless.”

Delapan bulan kemudian, keluarga kami kembali berduka ketika Omar Taraki Niode putra sulung saya dan Mochtar Niode dipanggil oleh penciptanya dalam usia 24 tahun. Dalam deraian air mata kesedihan saya masih ingat bagaimana oom Beni dan tante Soffie terus menerus hadir dalam doa yang kami selenggarakan sampai 40 hari.

Oom Beni tidak henti memberikan perhatian ketika kami mendirikan Omar Niode Foundation untuk bergiat dalam kegiatan sosial dan meningkatkan kualitas sumber daya masusia Indonesia di bidang pertanian, pangan dan kuliner, yaitu bidang yang dipelajari anakda Omar sampai ia memperoleh gelar MSc. dari University of California, Davis.

Kepergian oom Beni di Januari 2012 menambah dalam kepedihan yang tidak pernah sirna karena kepergian orang-orang yang saya sayangi. Apalagi ketika mendengar cerita tante Soffie bahwa di hari-hari terakhir hidupnya oom Beni sedang sibuk mempersiapkan penulisan buku untuk menghormati J.A. Katili.

You don’t get over the loss of loved ones, you just learn to live with the pain.

Dengan bersandar pada Allah SWT yang menentukan perjalanan umatNya, kami mencoba menikmati denyut kehidupan ini sambil menghargai hari-hari baik yang selalu datang. Di saat seperti itulah saya kadang berkilas balik.

Soroako

Pada tahun 1987 saya tinggal di Soroako selama 3 bulan untuk melakukan penelitian disertasi Ph.D bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di University of Michigan Ann Arbor.

Soroako menjadi pilihan karena dibantu oom Beni dan dorongan suami saya yang pernah bekerja di sana selama 2 tahun.  Sebagai sarjana mesin yang baru lulus dari ITB, mine maintenance adalah tantangan yang menarik. Mimi, demikian panggilannya, kemudian menempuh pendidikan lanjutan untuk Master of Engineering Management dari George Washington University di Washngton D.C.

Mimi berharap saya mendapat kemudahan dalam mencari data yang tidak bersifat rahasia maupun informasi  teknis dari INCO untuk penelitian yang berjudul: Evaluation of Environmental Management of One Nickel Mining Company in Indonesia with Special Emphasis on Water Quality.

Tinggal di Wisma D Single selama 3 bulan merupakan pengalaman langka dan bermanfaat karena adanya waktu untuk diskusi dengan para praktisi. Setiap akhir minggu oom Beni dan tante Soffie datang menjemput saya dengan jeep Range Rover 4WD untuk menginap di Salonsa. Di rumah panggung mereka yang asri saya bebas duduk bersila di sofa berbantal tebal,  menikmati makan enak di meja bertaplak putih tebal dengan piring mewah, sambil bercerita tentang berbagai hal terutama mengenai Canada.

Obrolan-obrolan itu membuat keinginan yang memuncak untuk pergi lagi ke Canada, negara yang pernah saya kunjungi 5 tahun sebelumnya. Beberapa tahun kemudian ketika bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, keinginan itu terwujud melalui program Canada-ASEAN Business Council, tentunya dengan rekomendasi dari oom Beni.

Jalinan Jejaring

Bukan hanya sekali itu oom Beni membantu saya dalam merambah ilmu.  Berbagai undangan kepada seorang peneliti muda untuk menjadi pembicara di mancanegara tidak semuanya bisa dipenuhi dengan biaya pemerintah.  Mungkin ada beberapa teman atau mantan anak buah om Beni yang menghela napas panjang karena sering diminta menolong Amanda agar bisa menghadiri seminar atau lokakarya tentang lingkungan hidup.

Meskipun tidak sesering ketika masih sekolah dan baru mulai bekerja, “minta pandangan oom Beni” berlanjut sampai saya menjadi Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup dan kemudian Koordinator Komunikasi, Informasi dan Edukasi di Dewan Nasional Perubahan Iklim.

Kesibukan lain saya sebagai ketua The Climate Reality Project Indonesia, organisasi yang didirikan oleh Al Gore, Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat dan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian juga tidak luput dari pantauan oom Beni.  Sebanyak 225 climate leaders TCRP Indonesia yang semuanya bekerja suka rela telah mendapat pelatihan dari Al Gore untuk komunikasi perubahan iklim.

Karena jaringan oom Beni dan tante Soffie sangat luas banyak kegiatan yang saya lakukan sekarang terinspirasi dari semangat keduanya.

Tante Soffie banyak membuka wawasan saya tentang kerja sosial untuk pendidikan dan kebudayaan. Di Soroako setumpuk buku dipelajarinya tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah.  Bertahun-tahun kemudian, di Jakarta, dengan semangat ia berkisah tentang perjuangannya yang tanpa pamrih menjaga Indonesian Heritage.

Di semua pembicaraan santai dengan Tante Soffie, oom Beni kadang menyambung dengan informasi tambahan yang herannya selalu sejalan dengan topik diskusi. Pasangan ideal ini tidak pernah lepas mendukung kegiatan masing-masing dalam berbagai tataran.

Harta Bumi Indonesia

Ketika tim penulis Buku Biografi J. A. Katili yang berjudul Harta Bumi Indonesia bekerja mengumpulkan informasi, ayah saya sama sekali tidak terlibat namun beliau seperti biasa berpesan” minta pandangan oom Beni.”

Ayah berasal dari keluarga sederhana di Gorontalo, sehingga ketika kuliah di Bandung ia menulis untuk menambah uang saku. Tulisannya kerap dimuat di Mimbar Indonesia, majalah bergambar independen yang diterbitkan untuk pembangunan politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.

Redaksi Mimbar Indonesia ketika itu terdiri dari banyak tokoh antara lain Prof. Mr. Dr. Soepomo perumus Undang-undang Dasar 1945 dan H.B. Jassin kritikus sastra yang juga berasal dari Gorontalo.

H.B . Jassin lah yang menempa J.A. Katili agar tulisan-tulisannya tidak kering dan terlalu ilmiah. Sehingga kemudian muncul berbagai artikel dengan isi yang informatif serta  judul-judul yang ketika itu tidak biasa, seperti:

  • Indonesia, Eldorado Geologi
  • Krakatau, Pipa Api Dalam Laut
  • Tenggelamnya Atlantis, Benua Khayalan Ciptaan Plato
  • Peranan Perubahan Iklim dan Evolusi Manusia
  • Tragedi di Sekitar Mount Everest
  • Mungkinkah Bumi Indonesia Mengandung Uranium ?
  • Ciptaan-ciptaan Besar dalam Senipikir Pengetahuan Alam

Tentang tulisan-tulisan itu oom Beni bertutur untuk buku Harta Bumi Indonesia:

“Kata kawan-kawan di SMA, bahasa Inggris saya bagus sehingga cocok jadi diplomat mengikuti jejak saudara saya yang sudah bekerja di Kementerian Luar negeri. Akan tetapi karena tulisan-tulisan J.A. Katili, saya terdorong ingin tahu lebih banyak mengenai alam, bumi tempat kita tinggal. Saya memilih jurusan Geologi ketika masuk FIPIA UI (sekarang ITB) di Bandung tahun 1955.

Keingintahuan oom Beni tentang alam tidak lekang dari hati, sampai ia meninggalkan bumi yang sangat dicintainya ini.

Saya sangat kehilangan dan tidak bisa lagi “minta pandangan oom Beni” tentang berbagai hal seperti selalu diingatkan ayah saya.  Namun kata-kata Dr. Robert Decker ahli gunung berapi dari Amerika, rekan Beni Wahju dan J.A. Katili, membuat saya bersyukur sempat belajar dari tiga tokoh kebumian tersebut.

Decker yang pernah menjadi President of the International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior menulis:

I have learned more in Indonesia than I have taught. I feel most fortunate to have been able to come to such a beautiful country, to make friends with such fine people, and to work with such talented colleagues.”

Good Friends for 57 Years


By Joe Widartoyo

Sungguh sulit melupakan sahabat kami yang satu ini, mengapa tidak? Pak Beni Wahju, merupakan satu-satunya teman akrab saya sejak 57 tahun yang lalu. Kami berdua sama-sama kuliah di ITB (Bandung) Angkatan 1955. Saat itu Pak Beni kuliah di FIPIA –UI (Fakultas Ilmu Pasti Alam Universitas Indonesia) sedang saya kuliah di Fakultas Teknik – Universitas Indonesia, sama-sama di Bandung. Kemudian baik FIPIA maupun Fakultas Teknik tersebut dilebur menjadi ITB – Institut Teknologi Bandung.

Lepas dari kesemuanya itu,  yang saya ingat yaitu begitu lulus Pak Beni  bekerja di Jawatan Geologi Bandung (1961-1967), sedang saya bekerja di Kantor Pusat / Sekretariat Jenderal Departemen Pertambangan Jakarta s/d 1987. Pada tahun 1967 Pak Beni Pindah ke PT INCO, dan dari tahun 1989-1991 diangkat sebagai Vice President PT INCO Indonesia; Kemudian status Beliau diangkat lagi menjadi President Director PT Ingold Management (Subsidiary PT INCO Technical Services Ltd.).

Disamping bekerja di PT Ingold, beliaupun sangat aktif membantu IMA – Indonesian Mining Association (yang didirikan pada tanggal 29 Mei 1975); Beliau berhasil sebagai Wakil Ketua IMA di tahun 1989 s/d 1998, kemudian dapat menduduki Jabatan Ketua Umum IMA dari tahun 1999 s/d tahun 2005.  Berikutnya dari tahun 2005 s/d saat Beliau wafat (Januari 2012), status Beliau di IMA masih menjabat menjadi Anggota Badan Penasehat, dan terakhir sesuai dengan Keputusan Menteri Hukum dan HAM-RI, tanggal 26 Januari 2012 (dimana status IMA sudah sah menjadi Badan Hukum), maka nama Pak Beni tercatat sebagai Anggota Dewan Pengawas API-IMA  dengan masa tugasnya s/d tahun 2015 yang akan datang.

Hobi Pak Beni lainnya, adalah banyak menulis tentang perkembangan status geologi dan pertambangan di Indonesia.

Sejumlah buku yang telah ditulis  bersama rekan-rekan Senior kita dan telah dikompilasi dalam bentuk Buku-buku yang diterbitkan oleh API-IMA,  ditulis dalam dua (2) bahasa (Indonesia –Inggris), antara lain:

  1. Indonesian Mining Industry, In the Period of Translation Between 1997 – 2001 (by B.N. Wahju)
  2. Indonesia Mineral Prospecting Activities in 1969-1994 (by B.N. Wahju, dkk)
  3. 30 Tahun IMA – Dedikasi Industri Pertambangan Bagi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (oleh B.N. Wahju, dkk).
  4. Mining Indonesia – Fifty Years Development 1945-1995 (oleh B.N. Wahju dkk.)
  5. Indonesian Mineral Development (oleh B.N. Wahju dkk tahun 1992), dan lain-sebagainya.

Disamping Buku-buku yang diterbitkan oleh API-IMA tersebut di atas, masih banyak lagi terbitan/karya  tulis Pak Beni lainnya, seperti terbitan IMA dalam bentuk “Proceedings Report” dari setiap Konperensi IMCE – Indonesian Mining Conference and Exhibition yang diadakan oleh API-IMA setiap 2 (dua) tahun sekali, dan lain sebagainya.

Sejumlah papernya, telah pula dipersentasikan di Forum-forum lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri, seperti di Forum AFMA- ASEAN Federation of Mining Associations, di Forum ASOMM-ASEAN Senior Official Meeting on Minerals dan lain sebagainya.

Sebagai akhir kata dari kenangan manis ini, maka saya beserta keluarga dan kawan-kawan di API-IMA, merasa kehilangan atas wafatnya Pak Beni Wahju tersebut; Baik sebagai rekan kerja, maupun sebagai anak buah selama Beliau berada di Kepengurusan API-IMA (sejak dari tahun 1989 s/d wafatnya Beliau di awal tahun 2012 ybl).

Sebagai mantan pemimpin kami, beliau selalu bekerja keras serta sangat memperhatikan, baik kesehatan  maupun kesejahteraan kami di IMA selama ini. Akhirnya kami semua mengucapkan “Selamat Jalan Pak Beni, Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Anugerah serta Karunia Nya, dan menempatkan Pak Beni di tempat terbaik di Alam surga Nya”, kemudian kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan kekuatan iman serta tabah, untuk mengatasi segala cobaan yang sangat berat ini. Amin.

Jakarta, 19  Desember 2012

Joe Widartoyo

(Teman sekuliah, ITB th 1955)

The Indonesian Gold Crush


By Bondan Winarno

Beni Wahju adalah sebuah nama besar bagi saya. Seorang presiden direktur dari sebuah perusahaan tambang internasional pastilah bukan figur sembarangan. Sudah lama saya mendengar namanya, tetapi baru berjumpa pertama kali pada sebuah diskusi di kantor Direktur Jenderal Pertambangan Umum pada tahun 1997. Ia sudah pensiun dari PT Inco ketika itu. Tetapi, aura dan wibawanya tetap terasa.

“Saya mewakili Pak Rumengan Rusu yang hari ini berhalangan hadir,” katanya sambil menjabat tangan saya. Bagi saya, nama Rumengan Musu, Presiden Direktur PT Inco,  justru masih asing. Malah nama Beni Wahju yang justru acapkali saya dengar.

 Hari itu ada diskusi yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto, Direktur Jenderal Pertambangan Umum, (sekarang Kepala UKP4), untuk membahas artikel saya yang baru saja dimuat di The Asian Wall Street Journal, berjudul All That Glitters: The Indonesian Gold Crush. Sebagian besar peserta diskusi adalah profesor di bidang pertambangan serta praktisi senior pertambangan, seperti Pak Soetarjo Sigit, dll. Para profesor yang hadir semula menduga bahwa saya adalah seorang insinyur tambang. “Anda lulusan mana, sih? Kok saya belum pernah dengar?” tanya Prof. Dr. R.P Koesoemadinata, pakar geologi ITB. Mereka heran bahwa seorang non-tambang dapat menulis seperti itu.

Diskusi itu menyimpulkan bahwa para senior di bidang pertambangan di Indonesia harus mampu berkomunikasi dengan para wartawan dalam bahasa awam yang sederhana dan mudah dimengerti agar para wartawan pun dapat lebih gamblang membuat berita bagi masyarakat.

Sebelum berpisah, Pak Beni mengatakan: “Kapan-kapan kita makan siang dengan Pak Rumengan Musu, ya? Kalau kita semua akrab kan jadi enak? Urusan rumit pun jadi gampang.” Gestur yang sangat akrab dan hangat.

Tidak lama setelah itu, jalan hidup saya bersentuhan dengan Pak Beni. Pada tahun 1999, saya direkrut menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Alam Nusantara. Sebagai founding chairman YPAN, Pak Beni-lah yang melakukan final interview dan mengambil keputusan untuk mengangkat saya.

Pak Beni hampir selalu hadir dalam rapat-rapat Yayasan. Pada waktu itu, YPAN benar-benar sedang dipacu agar dapat mandiri menjadi TNC’s national organization dalam waktu tiga tahun. Pandangan-pandangan Pak Beni yang selalu dikemukakan dengan santun dan berbumbu humor merupakan masukan yang penting bagi kemajuan YPAN.

Menjelang akhir 1999, saya diundang TNC untuk menghadiri konferensi di Miami, Florida. Pak Beni pun menghadiri konferensi tersebut.  Kami tidur sekamar di hotel. Ini memang standard operating procedures (SOP) di TNC – seperti juga di NGO lainnya. Pak Beni pun dengan besar hati tunduk pada aturan yang sungguh tidak nyaman bagi seorang yang pernah mengenyam perks sebagai top executive. Bayangkan, penerbangan dari Jakarta ke Miami yang hampir 24 jam dengan dua kali transit itu pun harus ditempuhnya di kelas ekonomi.

Sebetulnya, saya sering berada dalam compromising situation seperti ini sebelumnya. Dalam pengalaman saya, kebanyakan para mantan pejabat memilih untuk memakai uang sendiri guna meng-upgrade kelas di penerbangan, serta membayar sendiri untuk kamar pribadi – demi kenyamanan dan prestise. Tetapi, Pak Beni dengan rela menerima aturan yang berlaku, dan men-downgrade dirinya agar setara dengan yang lain. Bagi saya, justru inilah yang membuat Pak Beni seorang primus inter pares.

Pada pembukaan konferensi tersebut, Pak Beni dipanggil ke panggung untuk menerima anugerah Oak Leaf Award. Anugerah ini diberikan TNC kepada lembaga atau perorangan yang telah memberikan dampak signifikan terhadap upaya pelestarian sumber daya alam.

Kami hanya dua malam tidur sekamar di Miami, karena Pak Beni memang tidak perlu menghadiri keseluruhan sidang. Pada hari terakhir, Pak Beni sudah bangun subuh dan bersiap berangkat ke bandara.

“Lho, ini kan masih pagi sekali, Pak Beni? Belum saatnya berangkat ke bandara sekarang,” kata saya. “Wah, lebih enak berangkat pagi, supaya tidak terburu-buru,” kata Pak Beni. Saya lihat matanya merah, dan agaknya ia kurang tidur semalam sebelumnya.  Saya juga tidak sempat bertanya apakah itu penyebab kepergiannya lebih pagi.

Karena saya baru terbangun, saya lepas Pak Beni keluar kamar hanya dengan berjabat tangan. Beberapa menit kemudian, setelah “ruh” saya terkumpul, barulah saya menyadari apa yang sangat mungkin telah menjadi penyebab keberangkatan Pak Beni mendahului waktunya. Rupanya, saya mendengkur terlalu keras semalaman, sehingga Pak Beni tidak bisa tidur. Saya yakin akan hal ini karena saya memang mempunyai reputasi buruk dalam hal ini. Seorang direktur TNC yang pernah sekamar dengan saya bahkan mem-broadcast “prestasi” saya itu sebagai Olympic gold medallist in snoring.

Pak Beni, sebaliknya, tidak mempermalukan saya. Dia memilih diam, sekalipun dia tentu sangat menderita karena dengkuran keras saya semalaman, dan menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri.

Sleep in peace, Pak Beni. I won’t disturb you again.

Pejuang Tambang Sampai Akhir Hayat


By Noke Kiroyan

Latar belakang pengalaman dan pendidikan saya dengan almarhum B.N. Wahju, saya memanggilnya “Mas Beni” jauh berbeda. Tanggal lahir kita terpaut duabelas tahun, jadi jelas beliau lebih senior dari saya. Beliau adalah penambang tulen, lulusan Geologi Institut Teknologi Bandung dan sepanjang hayatnya berkecimpung di dunia tambang yang ditekuninya, bahkan boleh dikatakan di lingkungan satu perusahaan saja, yaitu Inco termasuk  anak-anak perusahaannya.

Beni Wahju identik dengan Indonesian Mining Association (IMA) karena berada di kepengurusan sejak tahun 1989 dan di saat-saat kritis bagi dunia tambang pada saat situasi berubah total dengan Era Reformasi pada tahun 1998 terpilih sebagai Ketua selama beberapa periode sampai 2004, setelah sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. Dengan latar belakang ini beliau  sangat dikenal di industri tambang yang di mata orang awam adalah dunia yang keras dan membentuk orang-orang yang keras dalam segala hal. Di tengah dunia keras ini ada seseorang yang berpembawaan tenang, bersikap apa adanya tidak dibuat-buat, tutur bahasanya halus namun tegas dengan suara yang termasuk lembut, jauh dari citra penambang yang ada di benak kebanyakan orang. Sosok yang tenang dan bersahaja itu adalah Beni Wahju dan lantaran  itulah saya menyebutnya “The Gentleman Miner” karena saya kira tidak ada istilah dalam Bahasa Indonesia yang sepadan dan dapat secara singkat menggambarkan kepribadiannya.

Saya sendiri menempuh pendidikan di Ilmu-Ilmu Sosial dan Keuangan/Niaga dan baru mengenal dunia tambang sesungguhnya pada waktu kembali ke Indonesia untuk memegang jabatan Presiden Direktur PT Rio Tinto Indonesia dan Country Head Rio Tinto untuk Indonesia  pada tahun 1997 dengan pengetahuan mengenai tambang tangan pertama nyaris nihil. Karir saya terpanjang sebagai eksekutif adalah di lingkungan industri listrik, dimulai sebagai Management Trainee tahun 1974 dan melalui jalur Administrasi & Keuangan akhirnya menjabat sebagai Presiden Direktur PT Siemens Indonesia waktu mengundurkan diri di tahun 1991 untuk bergabung dengan Salim Group. Di kelompok perusahaan itu saya bertugas menjalankan bisnis oleokimia (zat kimia berbasis nabati seperti kelapa sawit) di pentas global pertama kalinya di Jerman, kemudian dipindahkan ke Australia, baru setelah itu ke Amerika Serikat di mana saya didekati perusahaan executive search yang akhirnya membawa saya pulang ke Indonesia untuk memasuki dunia tambang.

Dengan segala perbedaan kita, ada suatu periode, tepatnya mulai akhir 1998 sampai 2002 di mana kita bekerjasama dengan erat, beliau sebagai Ketua Badan Pengurus IMA dan saya sebagai Wakil Ketua. Periode ini penuh gejolak, dunia tambang diliputi ketidak pastian di segala bidang diawali dengan dikumandangkannya di tahun 1998 oleh para petinggi pemerintah bahwa Undang-Undang Pertambangan Tahun 1967 sudah usang dan akan digantikan dalam waktu dekat dengan undang-undang baru (yang akhirnya terwujud dua belas tahun kemudian di tahun 2009), membuat para eksekutif perusahaan tambang yang tergabung di IMA dan sedang mempersiapkan usulan-usulan untuk Generasi VIII Kontrak Karya menjadi kalang kabut dan diliputi ketidak pastian yang berkepanjangan.

Dikeluarkannya Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah tanggal 4 Mei 1999 yang mengubah penyelenggaraan pemerintahan yang akan mulai berlaku dua tahun kemudian di tahun 2001 menambah gejolak di industri tambang karena tidak jelasnya kewenangan atas operasi tambang yang hingga saat ini masih banyak wilayah abu-abunya menimbulkan ketidak pastian baru. Operasi tambang yang by definition berada di daerah jauh dari ibukota dengan sendirinya berada di garis depan menghadapi perubahan-perubahan mendasar di bidang sosial dan politik karena pergantian tatanan pemerintahan dari sentralistik ke pemberdayaan pemerintah daerah berdampak langsung terhadap operasi tambang. Bukannya para pelaku perusahaan tambang menentang otonomi daerah, namun perubahan menyeluruh tanpa persiapan memadai dipastikan menjadi sumber konflik. Di tataran strategis eksplorasi dan investasi baru terhenti dan industri tambang Indonesia yang sampai tahun 1997 sedang berada di dalam expansion mode langsung berubah haluan ke survival mode.

Pengangkatan saya sebagai Country Head memang awalnya didasarkan atas pemikiran ekspansi bisnis di Indonesia yang harus dipimpin orang Indonesia (sebelumnya organisasi pendahulu Rio Tinto Indonesia selalu dikepalai orang asing). Pada saat itu kepemilikan Rio Tinto di PT Kelian Equatorial Mining sebesar 90%, PT Kaltim Prima Coal 50%, dan  Freeport McMoran Copper & Gold di New Orleans, Amerika Serikat sebesar 16% ditambah kepemilikan 40% atas perluasan tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia apabila dijumlahkan bernilai sekitar 10% dari asset Rio Tinto di seluruh dunia di pengujung tahun 90-an. Di samping itu ada sembilan Kontrak Karya yang berada dalam taraf eksplorasi. Pada waktu wawancara akhir di London oleh pimpinan tertinggi Rio Tinto kepada saya disampaikan bahwa perusahaan menargetkan asset di Indonesia sebesar 25% dari seluruh asset global perusahaan karena pertambangan di Indonesia dipandang sangat prospektif dan kepastian hukumnya termasuk terbaik di luar negara-negara mapan dalam industry pertambangan seperti Amerika Serikat, Australia dan Kanada. Tugas utama saya ke depan dalam jangka panjang adalah memimpin ekspansi Rio Tinto di Indonesia. Seperti kita ketahui bersama keadaan saat ini sebaliknya karena Rio Tinto nyaris tidak terdengar lagi kiprahnya di Indonesia.

Saya merasakan gejolak otonomi daerah melalui pengalaman tangan pertama karena terhitung mulai tanggal 1 Desember 2001 saya dialih tugaskan oleh pimpinan Rio Tinto di London dari jabatan di Jakarta sebagai Country Head menjadi Presiden Direktur PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang saat itu kepemilikannya 50/50 antara Rio Tinto dan BP. Kantor saya di lokasi tambang di Sangatta, kota yang “dilahirkan” oleh KPC dan menjadi ibu kota Kabupaten Kutai Timur yang baru terbentuk dengan adanya pemekaran Kabupaten Kutai. Hari pertama tugas saya di KPC tidak berlangsung di Sangatta melainkan di dalam Gedung DPR-RI mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum tentang Divestasi Saham KPC yang juga dihadiri pejabat-pejabat Pemerintah Kalimantan Timur dan Kutai Timur beserta anggota-anggota DPRD masing-masing yang ditemani juga oleh berbagai organisasi kemasyarakatan membuat suasanya lebih menyerupai suatu pengadilan massal. Apalagi semuanya sedang belajar menyesuaikan diri dengan kewenangan-kewenangan baru dengan telah berlakunya otonomi daerah awal tahun 2001 di tengah ketidak jelasan aturan  pada saat itu.

Tidak lama setelah pindah ke Sangatta, di pertengahan bulan Desember 2001 saya mulai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur di Balikpapan atas tuduhan korupsi. Tuduhan korupsi dilandasi oleh argumentasi bahwa dengan belum terlaksananya divestasi maka Pemerintah Kalimantan Timur mengalami kerugian karena belum menikmati dividen, sedangkan merugikan Negara adalah korupsi dan itulah yang menjadi dasar pengaduan. Semua yang terjadi tentu saja saya komunikasikan kepada Mas Beni dan Pengurus IMA lainnya yang senantiasa berupaya membela saya, namun di tengah hiruk pikuk di Era Transisi memang tidak banyak yang dapat dilakukan oleh organisasi bisnis apa pun. Akhirnya pimpinan tambang harus menerima kenyataan bahwa masing-masing harus bertempur sendiri menghadapi gempuran yang bertubi-tubi pada saat itu.

noke

Saya bertugas di Sangatta sampai 9 Oktober 2009 karena keesokan harinya perusahaan diserahkan kepada pemilik barunya, Bumi Resources. Mas Beni beserta pendampingnya yang setia, Soffie (biasa kita sebut “Teteh” – kakak perempuan dalam Bahasa Sunda) sempat berkunjung ke Sangatta dan disambut dengan sangat meriah. Bukan saja beliau Ketua IMA dan tokoh tambang Indonesia tetapi banyak manajer dan karyawan KPC waktu itu mantan anak buah beliau di Inco. Dengan penugasan saya di Kalimantan Timur maka saya pun tidak lagi dalam kegiatan-kegiatan organisasi di Jakarta, termasuk IMA di tahun 2002 – 2003. Baru setelah kembali ke Jakarta sebagai Presiden Komisaris PT Rio Tinto Indonesia saya bergabung lagi dengan Mas Beni , Pak Kosim Gandataruna, Mas Hoediatmo dan rekan-rekan IMA lainnya di dalam Komite RUU Pertambangan  IMA yang secara berkala diselenggarakan di kantor Mas Beni di Ingold.

Di antara banyak kejadian yang saya alami bersama Mas Beni, ada dua hal yang selalu saya ingat. Yang pertama adalah waktu Pengurus IMA melakukan audiensi kepada Menteri Pertambangan dan Energi pada awal kepresidenan Gus Dur di tahun 2000, Letnan Jenderal (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono. Di antara berbagai hal yang dikemukakan ada masalah PETI, dan Mas Beni dengan gaya khasnya yang tenang itu mengatakan, “Bapak Menteri, please do something. You can do it, you have three stars.”  Waktu itu Undang-Undang Otonomi Daerah belum diberlakukan dan banyak Gubernur adalah mantan perwira tinggi militer yang berpangkat Mayor Jenderal atau jenderal berbintang dua.  Seperti kita ketahui Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Mentamben hanya selama sembilan bulan karena kemudian menggantikan Jenderal Wiranto sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehingga belum sempat mewujudkan himbauan Mas Beni.

Kejadian yang kedua menyentuh perasaan kebangsaan Mas Beni yang sangat tinggi. Seperti biasa kalau ada tamu senior dari Rio Tinto berkunjung ke Jakarta saya menyelenggarakan resepsi di rumah dengan mengundang  kalangan eksekutif di  Jakarta dari berbagai kalangan, tidak terbatas kepada dunia tambang. Raut muka Mas Beni mirip orang India dan ditambah penguasaan Bahasa Inggerisnya yang sempurna acapkali membuat orang yang tidak mengenal beliau menyangkanya orang India atau Pakistan. Isteri dari salah satu tamu saya yang orang asing membuat kesalahan itu dan sempat mengucapkan beberapa hal kepada beliau yang  menyepelekan orang Indonesia, mungkin karena mengira sedang berhadapan dengan orang India. Mas Beni hanya mengatakan “I am Indonesian” kemudian balik badan meninggalkan lawan bicaranya. Waktu beliau menceriterakan hal itu kepada saya terlihat bahwa di balik ketenangannya sebenarnya beliau sedang menahan amarah yang besar.

Tulisan singkat tentunya tidak mampu menceriterakan secara lengkap tentang kepribadian seseorang, demikian halnya juga dengan tulisan saya ini. Namun satu hal yang saya kira tidak akan dibantah siapa pun adalah bahwa Beni Wahju adalah seorang tokoh dunia tambang yang berjuang habis-habisan membela bidang yang dicintainya, pertambangan di Indonesia yang diyakininya dapat memberikan sumbangan signifikan kepada perkembangan Indonesia. Di usia di mana kebanyakan orang sudah bersantai menikmati hari tua beliau tidak mengenal lelah melakukan apa yang diyakininya, yaitu memajukan industri tambang berdasarkan praktik terbaik, yang bertanggung jawab dan melestarikan lingkungan hidup dan menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Beni Wahju adalah tokoh panutan yang tak tergantikan di Pertambangan Indonesia, seorang Pejuang Tambang sampai akhir hayatnya.

Penulis adalah mantan Presiden Direktur PT Rio Tinto Indonesia, PT Kaltim Prima Coal dan PT Newmont Pacific Nusantara dan sekarang Komisaris PT Agincourt Resources  dan PT Baramulti Suksessarana Tbk. selain sebagai Presiden Direktur dan Chief Consultant PT Komunikasi Kinerja yang dikenal dengan nama Kiroyan Partners, didirikan akhir 2006. 

Mengenang sosok anak bangsa


ATAS PENGABDIAN DAN JASA-JASANYA MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN PROYEK PENAMBANGAN NIKEL P.T INCO DI SOROAKO

By AB Nusaly

Beni Nurtjahja Wahju yang lahir di Depok pada 10 Mei 1934 dan wafat di Jakarta pada tanggal 21 Januari 2012 selama hidupnya berkarir di bidang pertambangan dan merupakan salah satu Geologist terbaik di Asia Tenggara.

Sebelum bergabung dengan PT. INCO, beliau bekerja sebagai Geologist pada Direktorat Geologi Departemen Pertambangan RI yang pada periode 1961 – 1968,dan pada tahun 1966 mendapatkan kepercayaan sebagai Pimpinan Tim Eksplorasi untuk mengevaluasi  deposit Laterit Nikel  yang sebelumnya telah dilakukan oleh para Geologist Belanda pada periode 1917 – 1922.

B.N Wahju sebagai seorang Geologist memiliki pengetahuan dan wawasan berpikir yang luas tentang sejarah perkembangan sumber daya mineral di Indonesia khususnya di Sulawesi. Sebagai seorang Geologist, kepedulian beliau tidak hanya terbatas pada eksplorasi sumber daya mineral, tapi juga pada masalah lingkungan, budaya dan satwa-satwa langka yang terdapat di sekitar daerah kegiatan eksplorasi PT. INCO.

Sejarah pertambangan Nikel di Soroako sebagaimana dijelaskan oleh B.N Wahju bahwa yang menjadi dasar bagi penyelidikan geologi yang sistematis terhadap laterit yang mengandung nikel di Sulawesi dilaporkan oleh Kruyt, seorang Geologist Jerman yang mengadakan penyelidikan bijih besi di Pegunungan Verbeck pada tahun 1901 yang kemudian dilanjutkan oleh Abendanon dan Vermaes yang juga berkebangsaan Jerman pada tahun 1910 ketika mereka mempelajari Daerah Soroako. Kegiatan eksplorasi nikel ini dilanjutkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1917 – 1922. Endapan laterit nikel yang meyakinkan di Daerah Soroako dan sekitarnya didasarkan pada laporan yang disusun para Geologist Belanda: Granjean, Adam, Julius, Dick Man, Koolnoven dan Bothe dalam masa 1922 – 1932.

Pada tahun 1934, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan perusahaan-perusahaan seperti Oost Borneo Maatchappij (OBM) dan Mynbow Celebes Maathchappij (MCM) untuk melakukan eksplorasi yang lebih intensif di daerah Pomalaa, Malili, dan Matano, dan dari hasil eksplorasi ini, Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun infrastruktur jalan antara Wasoponda – Soroako – Malili – Tole-Tole – Timampu pada tahun 1947 – 1949. Penelitian eksplorasi nikel di daerah ini tidak dapat dilanjutkan karena gangguan keamanan, pemberontakan Kahar Mudzakar sampai periode 1964.

Pada periode tahun 1966 – 1967, Direktorat Geologi Departemen Pertambangan RI membentuk tim untuk evaluasi endapan laterit nikel di Soroako dan sekitarnya, dimana Pimpinan Tim Eksplorasi ini dipercayakan kepada B.N Wahju. Hasil eksplorasi tim inilah yang menjadi dasar bagi Pemerintah RI untuk mencari investor. Dari beberapa negara yang ikut serta pada tender yang diadakan oleh Pemertintah RI pada tanggal 26 Mei 1967, PT.INCO sebagai anak perusahaan INCO LIMITED dari Canada ditetapkan sebagai pemenang tender.

cropped-daru1.jpg

Pada saat itu, B.N Wahju bersama beberapa geologist dari Direktorat Geologi Departemen Pertambangan RI mendapat penawaran untuk bergabung dengan PT. INCO. Pada penandatanganan Kontrak Karya I antara Pemerintah RI dengn PT. INCO pada tanggal 27 Juli 1968, B.N Wahju  resmi bergabung dengan P.T.INCO. Pada tahun 1970 B.N.Wahju dipercayakan sebagai Resident Manager eksplorasi yang berkedudukan di Malili. Daerah Malili dan sekitarnya dapat dikatakan masih merupakan daerah yang terisolir sebagai akibat pemberontakan dimana transportasi dari Palopo ke Malili hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal motor. Sebagai daerah yang terisolir, masyarakat Malili belum banyak mengenal perkembangan dunia luar.

Sebagai seorang Resident Manager, melihat masyarakat Malili yang relative masih terkebelakang, B.N Wahju pada waktu itu memprakarsai dan menganjurkan pada staff PT. INCO yang berpendidikan sarjana untuk dapat membantu masyarakat di bidang pendidikan sebagai guru sukarela sesudah jam kerja untuk sekolah-sekolah SMP dan SMA yang baru didirikan oleh pemerintah, tapi sangat kekurangan tenaga-tenaga guru. Demikian pula tenaga-tenaga medis pada klinik PT. INCO secara aktif memberikan bantuan dan pelayanan pada masyarakat antara lain dalam upaya pemberantasan malaria, penyakit kaki gajah, dan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat, peranan dari Ibu Soffie Wahju sangat dirasakan.

Dalam hal kepedulian terhadap lingkungan dimana pada saat itu kepedulian dan perhatian dari pemetintah dapat dikatakan belum ada, oleh B.N Wahju yang ditunjang oleh istri beliau Ibu Soffie Wahju telah mempelopori kegiatan-kegiatan penghijauan pada Camp Eksplorasi PT.INCO (perumahan, sekolah, kantor, dll) dengan menanam pohon-pohon pelindung atau taman-taman sebagai contoh bagi masyarakat.

Pada masa konstruksi periode tahun 1973 – 1977 dimana kegiatan administrasi PT.INCO mulai berangsur pindah ke Soroako, sejak itu  B.N Wahju  sangat memperhatikan masalah lingkungan serta pengembangan masyarakat lingkar pertambangan (community development).Pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat lebih ditingkatkan lagi sebagai bagian dari struktur organisasi perusahaan. Kegiatan ini antara lain dilakukan dengan membangun sekolah dari TK, SD, SMP, sampai SMA untuk masyarakat, membangun pasar, poliklinik, sumber air bersih di Wasoponda, Wawondula, dan Malili.

Di bidang pendidikan, PT.INCO  mengatasi kesulitan tenaga pengajar dengan mendatangkan guru-guru dari Makassar yang mau mengajar pada sekolah-sekolah yang telah dibangun oleh PT.INCO yang kemudian pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah. Di bidang lingkungan hidup, B.N Wahju tidak hanya peduli pada kegiatan penghijauan lokasi-lokasi pasca tambang, tapi kepedulian beliau juga sangat besar pada pelestarian satwa-satwa yang dilindungi seperti Babi rusa, Anoa, Burung Maleo, Ikan Butini yang hidup di Danau Matano dan Towuti.

Hal lain yang tidak kurang pentingnya, selama periode pembangunan project, B.N Wahju menyadari kondisi masyarakat lingkar tambang project yang relative masih terkebelakang karena terisolir selama periode pemberontakan Kahar Mudzakar, telah mengambil inisiatif dan mungusulkan pembangunan stasiun-stasiun relay yang dapat menangkap siaran TVRI, kemudian tiap-tiap desa diberikan sumbangan televisi agar masyarakat dapat menyaksikan perkembangan dunia luar.

Keberhasilan PT.INCO, yang sekarang ini telah berubah nama menjadi PT. VALE INDONESIA, tidak terlepas dari peranan dan pengabdian serta jasa-jasa dari seorang anak bangsa, B.N Wahju. Keberadaan PT.INCO / PT. VALE telah memberikan dampak yang positif dan sangat berarti bagi pendapatan daerah guna menunjang pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan umumnya, Pemda Kabupaten Luwu Timur.

B.N Wahju tidak hanya memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah, tapi karya-karya beliau baik secara nasional maupun internasional cukup mendapatkan perhatian terutama saat beliau mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Asosiasi Tambang Indonesia (Indonesian Mining Association) periode 1998-2006 . Sebagai penghargaan pada beliau, oleh Pemerintah RI telah memberikan Satya Lencana Pembangunan di Bidang Pertambangan pada tahun 1995. Dalam masyarakat Geologi Asia Tenggara, B.N Wahju telah memperoleh predikat sebagai salah satu Geologist terbaik yang tepilih.

Mengingat akan pengabdian dan jasa-jasa beliau khususnya di Kabupaten Luwu Timur, adalah wajar bila nama beliau dapat diabadikan pada nama lapangan terbang di Soroako. Demikian apa yang kami kemukakan ini adalah atas dasar pengalaman kami sebagai salah seorang staff selama 20 tahun di bawah kepemimpinan beliau. Seorang pimpinan yang saya rasakan telah melaksanakan fungsi dan prinsip-prinsip kepemimpinan yang sangat educated, kekeluargaan, menyatu dengan masyarakat, dan disegani.

Wassalam.

H.AB.NUSALY  

Aristokrat Sunda


By Bambang Susanto

Saya bergabung dengan PT INCO bulan Februari 1976 melalui proses rekrutmen oleh pak Rumengan Musu. Sebagai “Shift Supervisor” di Mining Operation saya langsung ke lapangan dan bergaul dengan teman2 dan atasan yang berhubungan dengan produksi. Teman2 geologist saat itu adalah almarhum Djaenudin Waraspati, Hudaya sedang senior2 nya antara lain almarhum Sudjadi, almarhum Agus Suparman, almarhum Handoko Sumardjo, almarhum Visnu Pada serta pak Djalil Nasution. Saya tidak bertemu dengan almarhum pak Benny Wahyu saat2 awal di lapangan.

Tahun 1981, saya mendapat tugas ke bagian “administrasi”. Untuk kedua kalinya saya harus menimba ilmu dan pengalaman di induk perusahaan di Canada. Pada periode itu saya bertemu dengan pak Benny beserta keluarganya di Sudbury, Ontario. Mungkin pada saat itulah yang menjadi awal perkenalan saya dengan beliau dan keluarganya. Kami sering diundang untuk makan malam atau week end bersama keluarga mereka. Tiga putra mereka masih kecil2. Reza yang sulung pernah kami ajak jalan2 menikmati “kehidupan Western” di kota. Tapi karena kami juga harus pindah ke beberapa lokasi sedangkan mereka tetap di Sudbury maka hubungan dengan keluarga beliau hanya berlangsung singkat. Setelah kembali ke Indonesia, ketika saya mulai bertugas di bagian “administrasi”, hubungan kami menjadi lebih intens. Dan sejak itulah saya mulai lebih banyak mendapat pengalaman dari beliau.

IMG01059-20130107-1722

Leadership beliau dipengaruhi oleh pengalaman luas dalam pergaulannya baik secara nasional maupun internaional. Namun demikian, pendekatan yang dilakukan dalam pengambilan keputusan sangatlah bernuansa kekeluargaan. Ini mungkin karena latar belakang  faktor keluarga “aristokrat” Sunda  yang sangat mewarnai  gaya kepemimpinan beliau. Pendekatan pemecahan persoalan dan pengambilan keputusan tidak “rigid” berdasarkan aturan perusahaan. Maka tidaklah heran pada saat beliau bertugas di Soroako, hubungan perusahaan (INCO, saat itu) dengan masyarakat  begitu harmonis. Jarang sekali ada masalah sosial yang sempat muncul karena pendekatan telah dilakukan langsung sebelum masalah timbul.  Ini tentu sangat berbeda dengan praktek yang dilakukan pada masa setelah beliau tidak di lapangan lagi. Di mata saya, beliau juga sangat “concern” terhadap kegiatan diluar rutinitas kerja kantoran. Perhatian terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Kehidupan guru dan kemajuan siswa menjadi salah satu prioritas beliau, sampai-sampai ayah mertuanyapun dikerahkan untuk membenahi fondasi sistim pendidikan bagi pemuda-pemudi di Soroako. Tambahan cerita tentang perhatian dan “perlakuan khusus” dari  beliau adalah saat ada pemilihan ratu salah satu produk “Unilever”, saya lupa tahun berapa tetapi paling tidak usaha beliau berhasil karena ada peserta dari Soroako yang berhasil menjadi pemenang baik ditingkat provinsi maupun nasional.  Bagian dari cerita ini menunjukkan bahwa usaha dan pendekatan beliau sebagai seorang Direktur perusahaan dilakukan secara “all out” meskipun  untuk mendukung sesuatu yang berada diluar “KPI” beliau. Dari beberapa pengalaman termasuk cerita pemilihan ratu tersebut, saya melihat faktor subjectif yang menonjol dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan beliau. Demikianlah sebagian kecil pengalaman di lapangan bersama beliau.

Saat saya sudah tidak di INCO lagi dan beliau sudah menjadi pimpinan unit eksplorasi baik ketika masih dibawah INCO maupun VALE, hubungan kami masih berlangsung. Paling tidak melalui kegiatan Indonesia Mining Association (IMA). Disini saya melihat konsistensi beliau dalam membela dan memajukan dunianya; dunia pertambangan.

Sayang memang beliau belum sempat menemukan cadangan emas yang ekonomis, baik di Kalimantan maupun di Papua melalui INGOLD ataupun Vale Exploration. Namun demikian data geologi explorasi yang didapatkan selama beliau memimpin unit tersebut tentu akan menjadi aset bagi Indonesia.

Dunia pertambangan Indonesia kehilangan seorang tokoh, entahlah dengan VALE karena INCO sudah tiada.

Selamat jalan pak Ben, kontribusi Bapak tentu tidak akan terlupakan. Semoga suatu saat nanti, penerus-penerus Bapak akan menemukan cadangan mineral yang bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa dari apa yang telah Bapak rintis selama ini.

BNW


By : Hendra Sinadia

Pak Beni Wahju yang sering dikenal dengan inisial BNW, adalah sosok penting yang menjadi bagian dari sejarah industri pertambangan di Indonesia. Apresiasi ini disampaikan oleh banyak kalangan baik dari dalam maupun luar negeri. Prof. Subroto dalam acara “farewell” BNW sekitar September tahun 2011 dari PT Vale Eksplorasi Indonesia, perusahaan eksplorasi yang beliau rintis sejak awal tahun 1990an, pada saat itu menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 2 tokoh penting (living legend) industri pertambangan, yaitu BNW dan Dr. Soetaryo Sigit. Pak Sigit sendiri sejak tahun 2008 yang lalu menderita penyakit stroke. Kepergian Pak BNW sangat mengejutkan dunia pertambangan Indonesia sangat kehilangan seorang tokoh dengan wawasan luas, integritas tinggi, komitmen besar untuk mengembangkan iklim investasi pertambangan di Indonesia.

subroto

Sebagai pribadi, saya sangat bersyukur dan beruntung bisa berinteraksi dengan beliau. Sejak awal saya aktif dalam kegiatan-kegiatan di API-IMA, saya sangat mendambakan untuk banyak belajar dari pengalaman, wawasan, dan keteladanan BNW yang bagi banyak kalangan industri pertambangan dianggap sebagai living legend. Mungkin saya adalah salah satu dari sedikit generasi muda yang beruntung bisa sering berinteraksi dengan beliau dan bahkan mendapat kepercayaan besar untuk meneruskan kepemimpinan beliau di PT. Vale Eksplorasi Indonesia. Meskipun waktu bekerja dengan beliau sangat singkat, namun banyak hal yang bisa saya petik baik dari segi wawasan dan sikap-sikap personal beliau yang patut menjadi teladan bagi generasi muda. Ada beberapa hal yang menjadi ciri BNW yang saya kenal, yaitu antara lain tepat waktu dan wawasan pengetahuan.

Dari segi ketepatan waktu (punctuality), BNW dalam setiap kesempatan rapat atau janji pertemuan, selalu berusaha untuk hadir ditempat paling tidak 15 (lima belas) menit sebelum acara atau pertemuan dimulai. Sungguh sulit saat ini menemukan orang yang commit untuk tepat waktu bahkan hadir beberapa menit sebelum pertemuan. Biasanya, bagi kami generasi muda, yang selalu diupayakan adalah agar bisa hadir tepat waktu. Tapi bagi beliau, hadir beberapa menit sebelum pertemuan selalu menjadi komitmen beliau agar beliau dapat mempersiapkan diri untuk pertemuan. Dan dalam waktu luang sebelum pertemuan, beliau mengisi dengan membaca sehingga waktu yang ada dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pada saat saya bekerja di PT Freeport Indonesia, apabila ada pertemuan IMA di kantor PTFI, hal pertama yang harus saya camkan adalah agar bersiap atau hadir di ruang meeting paling tidak 10-15 menit sebelumnya karena Pak BNW akan hadir. Biasanya dalam rapat-rapat di kantor berusaha hadir tepat waktu, namun apabila ada pertemuan IMA, saya harus berupaya bisa hadir 10-15 menit sebelumnya agar ada wakil dari “tuan-rumah” yang bisa menyambut Pak BNW yang hampir pasti hadir lebih awal dari yang lain.

Hal lain yang ingin saya sharing adalah mengenai keinginan yang tidak pernah henti untuk membaca dan meningkatkan wawasan berpikir. Sudah menjadi “ritual” beliau disetiap pagi (first thing in the morning) “menyantap” berbagai harian/koran. Nyaris seluruh berita di beberapa harian penting dibaca oleh beliau dan selalu memberi tanda di artikel-2 menarik dan penting untuk di klipping atau menjadi bahan diskusi. Berita-berita penting tidak hanya terkait dengan industri pertambangan tapi nyaris dari berbagai aspek. Ini menandakan betapa semangat beliau tetap tinggi diusia lanjut untuk terus meningkatkan wawasan pengetahuan. Hal ini yang hendaknya perlu menjadi teladan bagi kami generasi muda penerus.

Mengulas ketokohan, keteladanan, dan hal-hal positif lainnya dari BNW tidak pernah habis. Sangat banyak hal-hal lain yang sangat berarti untuk di share sebagai teladan.  Sikap dan kepemimpinan beliau dalam beberapa program dan aktifitas selama di API-IMA juga sangat banyak yang perlu disampaikan untuk menjadi referensi bagi generasi penerus dan bagi industri pertambagangan di Indonesia. Saya akan buat tulisan terpisah untuk mengulas hal ini.

Akhir kata, dunia industri pertambangan sangatlah kehilangan atas kepergian Pak BNW. Kami generasi muda penerus masih sangat menginginkan kehadiran beliau untuk membimbing dan memberikan arahan dalam menyikapi berbagai hal penting yang dihadapi industri pertambangan. Kami juga masih sangat ingin belajar banyak atas wawasan, pengetahuan, pengalaman, wisdom dan banyak hal lain dari Pak BNW.  Semoga keteladanan, perjuangan yang telah diawali dan dilaksanakan oleh Pak BNW dapat diteruskan oleh generasi penerus demi kemajuan pertambangan Indonesia.

—000—

Pendekar Pertambangan Nasional


By Kosim Gandataruna

Sudah setahun berlalu, sejak dunia pertambangan nasional kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Bapak H. Beni Nurtjahja Wahju, yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Beni Wahju, atau Pak Beni saja, adalah seorang tokoh yang telah banyak berjasa bagi dunia pertambangan Indonesia. Beliau telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya bagi kemajuan sektor pertambangan nasional, bahkan hingga beberapa hari sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya. Walau mungkin sebagian besar perjalanan kariernya telah diabdikannya kepada perusahaan pertambangan asing, tapi saya dapat bersaksi bahwa jiwa beliau adalah jiwa nasionalis sejati yang kuat.  Banyak predikat yang dapat kita berikan kepada Pak Beni, salah satunya adalah bahwa beliau adalah seorang profesional yang menguasai penuh ilmunya (berkat pengalaman lapangannya yang luas serta kegemaran membacanya yang intens), dan seorang pendekar yang berkata benar dan berani menyatakan pendapatnya serta berjuang secara terbuka di forum manapun kepada siapapun juga.

IMG01053-20130106-2212

Contoh yang menonjol dari sifatnya yang terakhir ini dibuktikan ketika Bapak Amin Rais, mantan Ketua MPR RI, melalui berbagai forum yang kemudian disiarkan secara luas oleh mass media, menyatakan kesangsiannya akan manfaat investasi pertambangan asing bagi bangsa dan negara, bagi kesejahteraan masyarakat setempat, bagi kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta kecurigaan beliau akan tindak-tanduk mereka yang dinilainya tidak lurus. Di saat itulah Pak Beni bersama Bapak Sutaryo Sigit, “icon”-nya sektor pertambangan nasional yang paripurna, menghadap Bapak Amin Rais secara langsung guna menyampaikan kebenaran-kebenaran tentang keberadaan dan kemanfaatan PMA di bidang pertambangan bagi pembangunan perekonomian nasional, bagi pembangunan daerah-daerah terpencil dan terbelakang, bagi masyarakat sekitar, maupun dalam penjaminan kelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup di sekitar wilayah kerjanya, serta sanggahan-sanggahan tentang berbagai sinyalemen negatif yang telah dilontarkan Bapak Amin Rais. Berhasil atau tidak upaya kedua tokoh itu bukanlah masalah. Yang relevan adalah upaya nyata dari kedua tokoh kita itu untuk meluruskan berbagai kekeliruan langsung ke jantung penyandangnya.

Kepribadian Pak Beni memang sangat mengesankan. Sifat menak-Sunda-dari -Cirebon-nya yang halus lembut, dengan senyum khasnya yang selalu tersungging di bibirnya, sesungguhnya menyembunyikan hati beliau yang kokoh bagai karang. Di balik sopan santunnya dalam bertutur-kata serta kepala-dinginnya dalam berargumentasi, sesungguhnya tersimpan tekad yang kuat bagai baja. Intelektualitasnya tergambar dari kemampuannya untuk menulis serta dalam kemahirannya untuk menyatakan pendapat secara sistematis, jelas dan masuk akal. Sifat kepemimpinannya terbukti dari keterbukaannya dalam berkarya dan kemampuannya untuk memotifasi rekan-rekan seperjuangannya, serta dari hasil-hasil yang dicapai oleh berbagai organisasi yang dipimpinnya.

Di lingkungan masyarakat pertambangan kita, Pak Beni dikenal sebagai salah seorang tokoh Asosiasi Pertambangan Indonesia (API) atau Indonesian Mining Association (IMA), dan memegang tampuk pimpinan organisasi itu dalam masa-masa yang paling sulit bagi keberlangsungan usaha para anggotanya. Dalam periode yang demikian itu, melalui “all out effort”-nya berbagai prestasi besar telah beliau capai, khususnya di dalam menyelesaikan berbagai hambatan hukum dan birokrasi yang amat rumit yang dihadapi oleh para pelaku usaha pertambangan. Beliau juga telah berjasa bagi penggalangan kerjasama di sektor mineral di antara negara-negara Asean, melalui kepeloporan dan kepemimpinannya dalam Asean Federation of Mining Association  (AFMA).  Dalam berbagai forum yang diselenggarakan oleh federasi ini, seperti seminar-seminar dan konperensi-konperensi regional atau internasional, Pak Beni secara aktif dan konsisten senantiasa mempromosikan kepentingan sektor pertambangan Indonesia.

Perkawinan di Washington 2 copy

Kehidupan pribadi Pak Beni juga sama suksesnya. Kebetulan saya dan keluarga saya mengenal keluarga Pak Beni cukup dekat. Istrinya (Ibu Soffie) adalah teman baik dari istri saya (almh), dan teman saya sendiri juga, sejak masa sekolah menengah di Bandung di tahun 50-an.  Namun, dengan Pak Beni, pertemuan pertama saya baru terjadi di tahun 1963 di rumahnya Ibu Soffie, di Washington DC, USA, semasa ayahanda Ibu Soffie menjabat sebagai Atase Kebudayaan RI di sana. Saya berkunjung ke Washington DC sebagai turis tanpa bekal ketika saya kuliah di University of British Columbia, di kota Vancouver, Canada. Mendengar bahwa ayahanda Ibu Sofie saat itu bertugas di Washington, saya nekad mendatangi rumah kediamannya untuk sekedar “say hallo” kepada Ibu Soffie sebagai seorang teman lama. Di situlah untuk pertama kalinya saya bertemu Pak Beni, di mana beliau sedang bertandang. Cerita yang dituturkan Pak Beni sendiri saat itu adalah bahwa, ketika beberapa hari sebelumnya Pak Beni tiba di Washington dalam rangka tugas belajar dari Pemerintah RI, bertemulah beliau dengan Ibu Soffie. Jatuh cinta satu sama lain pada pandangan pertama, rupanya itulah “the luckiest day in their lifes”, karena sejak saat itu mereka tidak pernah berpisah lagi.  Saya menyaksikan dengan perasaan senang bahwa Pak Beni dan Ibu Soffie hidup berumah-tangga dan beranak-pinak dalam harmoni dan kebahagiaan hingga akhir hayat Pak Beni. Kehidupan pribadi Pak Beni memang sangat layak untuk dijadikan contoh, suri tauladan bagi siapa saja yang mendambakan kehidupan yang damai dan bahagia.

Kepergian Pak Beni dirasakan sebagai kehilangan besar oleh komunitas pertambangan Indonesia. Beliau berpulang ke hadirat Illahi ketika perjuangannya untuk menciptakan iklim investasi di sektor pertambangan nasional yang lebih kondusif serta berkepastian hukum masih jauh panggang dari api, walau sesungguhnya telah cukup banyak yang beliau telah capai dalam perjuangan ke arah itu semasa hayatnya. Saya merasa beruntung untuk mengenal dan menjadi teman seperjuangan Bapak Beni Wahju di forum API/IMA, khususnya di bidang hukum pertambangan yang sangat menentukan bagi baik buruknya iklim investasi dan iklim berusaha di sektor  pertambangan nasional.

Jasa-jasa beliau bagi dunia pertambangan Indonesia tidak akan pernah kita lupakan. Semoga obor cita-cita dan semangat beliau tidak akan pernah padam, dan akan senantiasa menjadi penerang jalan perjuangan insan-insan pertambangan yang ditinggalkannya, menuju kejayaan sektor pertambangan nasional, mewujudkan kemanfaatan sumberdaya mineral bagi sebessar-besar kemakmuran rakyat Indonesia, sesuai dengan amanat Konstitusi.

Dan semoga arwah beliau bersemayam di istana kedamaian di Sisi Tuhan YMK.

Jakarta,  25 Desember 2012

Kosim Gandataruna

Inco to Vale


By Bing Tobing

Kami mulai mengenal pak Beni waktu kami mulai bergabung dengan PT Inco pada tahun 1979, salah seorang pioneer yang memulai kegiatan di PT Inco dari sejak masa-masa eksplorasi sampai mulai berproduk dan sampai bisa seperti PT Inco saat ini yang telah berubah nama menjadi PT Vale Indonesia.

granita3

Beliau yang saya kenal adalah sangat memperhatikan dunia pertambangan di Indonesia. Kiprah beliau di IMA (Indonesian Mining Association) sangat dihormati dalam membantu perusahaan-perusahaan pertambangan dengan menjembatani permasalahan2 pertambangan yang sangat kompleks baik dengan pihak Pemerintah, masyarakat dan para investor….pak Beny dikenal sangat hangat dan selalu ingin membantu untuk menyelesaikan segala permasalahan pertambangan secara positif dengan solusi “win-win”….dunia pertambangan sangat kehilangan beliau yang sampai akhir hayatnya masih tetap berperan untuk selalu memajukan pertambangan di Indonesia….selamat jalan pak Beni….dunia pertambangan akan selalu mengenang jasa-jasa bapak yang selalu berpikir positif untuk meyakinkan orang-orang banyak bahwa pertambangan di Indonesia adalah suatu usaha yang pada akhirnya akan memberikan yang terbaik untuk orang banyak.

Mudah-mudahan cita-cita bapak dapat kita wujudkan….semoga!

Bing Tobing

Surat Buat Pakde


By Rini Fatwa

Dear Pakde,

Masih terngiang di telinga…..”Rin..nanti Pakde pasti ngalongok ke tempat Rini”.. dan setiap negara saya singgahi.. Pakde pasti penuh antusias menyemangati. Di HCMC, Pakde & Bude sempat mampir..nguriling kita shopping atau sekedar cuci mata sambil Pakde bercerita tentang sejarah Vietnam. Jadi banyak tau dari cerita-cerita Pakde.

Yang paling berkesan waktu itu.. Kita lagi breakfast bareng di rumah. Saya keluarkan dinner set yg terbaik buat Pakde & Bude..

“Rin.. cutlery ini bagus sih, cuma sangat tidak praktikal buat dipake..Pakde minta yg biasa aja deh”

Hahaha….sampe ngajengkang saya teh malu….padahal cutlery itu baru beli di Bangkok….mahal pula. Gara2 komentar Pakde..sampe sekarang barang itu masih di kotaknya..gak saya pake lagi…dan setiap beberes pindahan, melihat cutlery ini..selalu terngiang komentar Pakde tadi. Moal dipasihkeun ka batur aaaah..

IMG01062-20130109-0015

Tapi itulah Pakde..simple, practical dan to the point. Di Aberdeen.. saya sudah menyiapkan kamar, dan segudang acara untuk membawa Pakde & Bude keliling Scotland. Sayang tidak bisa terlaksana…..perjalanan singgah dari Canada terlalu singkat buat mampir. Gak papa kok Pakde.. Toh masih akan banyak  tempat lain yg Pakde & Bude akan singgahi….

Pakde, mendengar Pakde sakit, begitu mendarat di Jakarta,  saya sempatkan ngalongok. Walopun masih belum pulih benar…..Pakde keliatan tegar, duduk tenang seperti biasanya. Bercerita panjang lebar tanpa sekalipun menunjukkan kekhawatiran akan penyakit Pakde sendiri. Demikian halnya ketika saya bersilaturahmi Lebaran 1432H di Bandung, Pakde terlihat happy dengan baju koko putih..duduk di teras belakang dikelilingi anak, cucu & saudara2 di Kiputih…ngobrol, ketawa-ketawa. Saat itulah terakhir saya bertemu Pakde.

Istirahat yang tenang ya Pakde! Walaupun sekarang saya tidak bisa mendengar langsung suara, petuah & komentar-komentar Pakde..tapi saya yakin Pakde pasti mengiringi disetiap langkah perjalanan saya…kita jelajahi dunia bersama ya Pakde…

Salam Rindu …teriring doa saya selalu …

Wassalam,

Rini Fatwa