Masih susah dicerna rasanya, Bapak yang saya cintai, sudah tidak ada. Rasa kehilangan itu sedemikian kuatnya, sehingga pada saat penulisan ini, rasa kangen yang datang menyelinap, tidak mampu menahan mata berkaca-kaca hingga menitikkan air mata. Kenangan yang datang bagaikan air banjir yang datang tanpa disangka, dan kadang, airnya meluap tinggi menarik emosi. Hal-hal besar dan kecil dapat menjadi pemicu: sehelai dasi lamanya, topi pet Inco, atau halaman facebook-nya, dapat menghentikan sekejap apa yang saya lakukan saat itu juga.
Sudah lama saya tinggal di negeri orang, tapi setiap tahun saya selalu pulang kampung untuk bertemu dengan Bapak. Dan kegiatan yang selalu kami jalani bersama yang telah kami lakukan dari sejak saya kecil hingga dewasa adalah mengunjungi toko buku dan meraup buku-buku terbaru. Mungkin inilah kenangan dan warisan terkuat saya dengan beliau. Kecintaan saya akan buku adalah berkat bapak.
Lebaran 2011 di Bandung adalah lebaran terakhir yang kami jalani bersama, walau kesehatannya tidak seprima sebelumnya, tapi bapak masih tetap bersemangat. Saya ingat betapa bahagianya lebaran saat itu, dan saya sangat bersyukur bahwa beliau benar-benar menikmati lebaran terakhirnya. Ketika saya menggunakan komputer beliau di Jakarta, halaman facebook-nya masih aktif, dan adalah mustahil bagi saya untuk me-log-out dari halamannya, serasa tidak cukup secara fisik dia tidak ada, saya tidak ingin secara maya dia hilang juga. Tapi mungkin inilah pelajaran bagi saya, bahwa bapak tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, secara maya ataupun fisik, dia selalu abadi adanya, lewat keluarganya, lewat anak-anaknya, lewat sahabat karibnya, dan terutama lewat kenangan yang ditinggalkannya. Dia selalu ada di hati kita semua. Kita hanya bisa mendoakan dan mengenang bapak, dan saya yakin, dia menginginkan kita yang ditinggal untuk tetap tegar menerima cobaan ini dan melanjutkan kehidupan kita. Pak, selamat jalan, kami sayang dan akan selalu merindukan bapak.
Sono,
Kemal