Totalitas, Komitmen dan Kebanggaan


By Yus Rusila Noor dan Isti Kartika Sari

Surely, he knows a lot about gold, but to me, he is a platinum

Secara pribadi, saya mengenal Ua Ben sekitar 20 tahun yang lalu. Saat itu, tepatnya September 1992, saya menikah dengan salah seorang keponakan beliau. Perkenalan dan komunikasi awal tentu berjalan “tidak seimbang”. Saya waktu itu hanyalah seorang pemuda 20-an tahun, dan baru memasuki karir awal sebagai seorang Ornithologist di salah satu LSM International yang bergerak di bidang  lingkungan hidup, sementara beliau adalah seorang yang saya sudah tahu ­track record-nya yang gemilang sebagai seorang First Class Geologist dan Environmentalist, yang telah diakui tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara internasional (terbukti dari berbagai penghargaan nasional dan internasional yang telah beliau terima serta berbagai posisi yang diamanahkan kepada beliau). Tapi rupanya “perbedaan kelas” tersebut tidak membuat Ua Ben menutup diri untuk membagikan ilmunya. Sejak itu, kucuran ilmu seakan tiada henti mengalir setiap kami bertemu pada acara keluarga besar Wahjoe, yang memang besar tersebut.

Di kemudian hari, saya dan istri (yang kebetulan juga sama-sama alumni Biologi – UNPAD) merasakan ada beberapa hal yang bisa menjadi trending topics pada saat kami berdiskusi – atau lebih tepatnya ketika beliau mengucurkan ilmunya: kecintaan terhadap lingkungan hidup (tidak selalu dengan cara dan pendekatan yang sama, tapi mengarah pada tujuan yang sama), kecintaan pada buku (tidak selalu soal lingkungan, bisa juga pada soal sosial-budaya, anthropologi, dan kadang-kadang menyerempet soal filsafat budaya), dan traveling (he is a first class travel advisor – tentu saja begitu, karena Ua Ben dan Ua Sofie adalah juga traveler sejati).

Soal kecintaan terhadap lingkungan, nampaknya ada kebanggaan yang luar biasa ketika beliau bercerita mengenai posisi beliau sebagai Chairman of Board dari The Nature Conservancy, Organisasi lingkungan hidup yang berpusat di Amerika Serikat. Bagi beliau, setidaknya apa yang kami pahami, menjadi seorang Geologist seharusnya adalah juga menjadi seorang Environmentalist, karena keduanya sedang menjalankan satu prinsip yang sama, yaitu pemanfaatan berkelanjutan – sustainable use; dan beliau sering berpesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan – termasuk kegiatan restorasi lingkungan – tidak hanya bagi profesi tertentu, seperti yang beliau geluti, tetapi juga bagi semua profesi. Kami ingat betul waktu beliau menyiratkan bahwa berbuat baik bagi lingkungan tidak hanya dinilai dari apa profesi seseorang, tetapi dari apa yang telah diperbuatnya bagi lingkungan.

Ua Ben adalah seorang pencinta buku, dalam arti yang sebenarnya. Selalu ada perubahan roman muka ketika beliau berbicara mengenai suatu buku. Muka beliau menjadi cerah ceria ketika menceritakan buku yang baru saja beliau dapatkan, tapi kemudian menjadi sedikit “challenged” ketika mengetahui kami  punya buku baru yang beliau belum punya. Terakhir kali, beliau dengan bangga menunjukan buku “Birds of America” – sudah lama saya ingin, tapi belum kesampaian. Selain itu, beliau juga menghadiahkan 2 buah buku mengenai Anthropologi untuk anak kami yang baru masuk Jurusan Anthropolgi di Unpad.

Satu halaman ini tentu sangat tidak mencukupi untuk menggambarkan siapa Ua Ben, tapi kami usahakan untuk hanya satu lembar saja karena lembaran lainnya ada dalam hati dan ada dalam langkah yang beliau ajarkan. Bagi kami, adalah merupakan suatu anugerah yang luar biasa bisa mengenal dan menimba ilmu secara langsung dari beliau. Kalaupun ada yang sangat kami sesali, kami tidak sempat mengantar beliau ke liang lahat. Mungkin hanya do’a tulus yang bisa kami hantarkan, “Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kesalahan beliau, terimalah segala amal dan kebaikan beliau, dan tempatkanlah beliau bersama orang-orang yang Engkau ridloi di surgaMu. Ya Rabb, berilah tawakal pada keluarga beliau. Jadikanlah harta dan ilmu yang beliau tinggalkan menjadi ladang amal dan kebaikan, berikanlah karunia pada  putra-putra beliau sehingga dapat mendoakan sebagai anak yang shaleh. Amin.

Bogor, 09 April 2012

Leave a comment