“Non-Renewable Resources”


By Emil Salim

Sektor pertambangan mengeksploitasi sumber daya alam dengan cara menguras isi perut bumi. Hutan dibabat, lahan digali, lubang dibikin untuk memperoleh bahan tambang. Dan karena usaha pertambanganpadat modal, kebanyakan orang-orang terdidik bekerja disektor pertambangan ini. Bila mereka tinggal di hutan jauh dari keramaian kota, para karyawannya perlu diberi insentif menarik, seperti gaji yang baik, tempat kerja dengan comfort hidup yang layak ditengah-tengah hutan agar karyawan kerasan.

Dari sudut lingkungan, kegiatan pertambangan paling banyak merusak lingkungan karena bahan tambang sebagai “non-renewable resources” digali habis sehingga tidak bersisa lagi di perut bumi ini. Dan dampak lingkungan sosial pun besar, karena taraf hidup karyawan pertambangan jauh lebih baik dari kondisi kehidupan penduduk lokal.

Berbagai ragam fikiran inilah mengisi kepala saya pada suatu kesempatan puluhan tahun lalu berkunjung ke Soroako. Saya disambut para pimpinan perusahaan tambang nikel “Inco”. Diantaranya terdapat seorang berwajah tampan memperkenalkan diri : Beni Wahju. Dan lalu dengan penuh gembira menyambut isteri saya. Rupanya mereka teman satu sekolah kota Bogor di masa lalu. Orang tua Beni adalah tokoh ternama di kota Bogor. Saya yang baru mengenal Beni beberapa menit, dalam waktu sekejap ikut hanyut dalam pembicaraan istri dengan Beni penuh keakraban tentang masa lalu Kota Bogor.

Saya dibawa keliling kawasan pertambangan Inco. Yang menarik bahwa penduduk nampaknya mengenal Beni yang disapa banyak penduduk. Di lokasi penambangan saya bersua dengan seorang muda yang memberi penjelasan tentang seluk beluk pertambangan. Saya tanya latar belakang orang muda itu. Ia adalah penduduk asli daerah dan kini memperoleh kesempatan dilatih dalam pendidikan formal dan non-formal untuk memikul tanggung jawab dalam jajaran perusahaan. Saya dengar terakhir dari Beni bahwa “orang muda penduduk asli lokal” berhasil mencapai posisi pimpinan di perusahaan. Ketika makan siang, saya disuguhkan sayuran telur, daging ayam dan buah-buahan hasil produksi  penduduk setempat, berkat penyuluhan dan bimbingan perusahaan. Dan malam hari kami berdiskusi tentang suka-duka perusahaan pertambangan di tanah-air kita.

Saya pulang dari Soroako dengan kesan yang mendalam bahwa pertambangan tidak selalu harus merusak dan merugikan masyarakat lokal. Tetapi juga bisa bermanfaat bagi pembangunan daerah dan nasional.

Hubungan saya dengan Beni berlanjut di Jakarta ketika beliau menjabat kedudukan selaku Indonesian Mining Association. Dan saya merasa kami berdua memiliki pandangan yang sama tentang pembangunan. Bedanya hanyalah Beni memilih karier di dunia usaha dan saya di Pemerintahan. Namun sama-sama mendambakan yang terbaik bagi masyarakat dan bangsa.

Hubungan semakin akrab ketika istrisaya ikut dalam kelompok alumni SMA Bogor yang menyelenggarakan pertemuan secara berkala di rumah masing-masing. Maka diskusi saya dengan Beni tentang masalah pembangunan berlanjut. Walaupun usia memang sudah mulai menampakkan diri namun ingatan dan pengetahuan Beni tentang perkembangan pertambangan sangat “up to date”.

Hingga pada suatu hari saya ditelpon Beni ingin bertemu bersama dengan beberapa tokoh pertambangan tanah-air kita. Cita-cita “menaikkan nilai tambah pertambangan Indonesia” ini sudah berkali-kali kami diskusikan di teras rumahnya menghadapi kolam renang setiap kali saya dan isteri bertandang ke rumah menemui Beni dan istrinya, Soffie. Benny punya konsep dan setelah membahasnya bersama rekan-rekan seprofesi, ia akan membentangkannya.

Pada tanggal 10 Januari, hari yang dijanjikan, Martiono, Presiden Direktur Newmont Nusa Tenggara dan teman-teman pertambangan datang membicarakan masalah-masalah pertambangan di kantor. Sayang Beni berhalangan tak bisa hadir hari itu, dan melalui percakapan HP ia menyesal dan minta maaf. Pertemuan berjalan sampai sore membahas pembangunan pertambangan sebagai lazimnya saya diskusikan dengan Beni selama ini, namun hari itu tanpa Beni. Pertemuan ini akan dilanjutkan dengan Beni di minggu-minggu datang.

Karena itu saya terkejut tak percaya ketika dalam perjalanan ke luar kota, saya peroleh kabar Beni sudah tiada. Padahal pada pagi harinya masih berjalan beli buku di toko buku, masih makan siang bersama istri, masih berprilaku seperti Beni yang kita kenal dengan senyum, keramahan dan kamera fotonya. Saya terkejut dan juga kecewa tak bisa mengantar Beni ke peristirahatan terakhir karena kami diluar kota.

Dan setibanya kami di Jakarta dan berbela sungkawa ke Soffie dan anak-anak di rumah, saya menuju ke teras dan duduk menghadapi kolam renang menggambarkan percakapan intens kami berdua. Sulit saya terima kenyataan bahwa Beni tidak duduk di kursi teras itu. Bukankah bulan lalu kita masih bercengkrama? Andaikata hidup manusia bisa diputar-ulang seperti memutar film, ingin saya ulang adegan percakapan akrab kami di tepi kolam berenang itu.

Tetapi Tuhan telah menggariskan takdir kita masing-masing. Saya menghela nafas dalam dan berdoa: Semoga Allah SWT menerima arwah Beni disisi-Mu, ya Tuhan dan memberi kekuatan lahir dan batin kepada Soffie dan anak-anak sekeluarga unyuk meneruskan kehidupan di atas jalan lurus yang diridhoiNya, seperti yang sudah dijalankan Beni semasa hidupnya.

Jakarta, 12 April 2012.

Leave a comment