Selamat jalan, temanku Benny Nurtjahya Wahju


By  R. Prajatna Koesoemadinata

Saya bertemu dengan Pak Benny untuk pertama kalinya di tahun 1955, waktu kami mendaftarkan diri pada Faculteit voor Wiskunde and Natuurwetenschappen,  Universiteit Indonesie di Bandung untuk kuliah dalam  Jurusan Geologi dan Mineralogi atau yang disebut ‘richting i” pada waktu itu, atau yang sekarang telah menjelma menjadi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Program Studi Teknik Geologi. Saya tidak ingat persisnya kapan dan di mana kami bertemu, tetapi mungkin saja di kompleks bangunan semi-permanen di bagian belakang kampus di Jl. Ganesha 10 yang sekarang dikenal dengan kampus ITB. Kelihatannya kami sedang memperhatikan pengumuman kapan perkuliahan akan dimulai. Pada waktu itu hanya ada beberapa orang mahasiswa saja yang mengambil jurusan geologi, saya kira sekitar 10 orang, di antaranya adalah seorang wanita muda bernama Karmijuni Pratignyo dari Jogyakarta, yang merupakan suatu keanehan pada waktu itu bagi seorang wanita untuk belajar ilmu geologi. Namun demikian masih ada lagi sektar 20 orang mahasiswa tugas belajar dari Jawatan Geologi yang mengambil beberapa mata kuliah pada Bagian Geologi dari Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam dari Universitas Indonesia ini yang diikut-sertakan bersama kami dalam kuliah yang sama, tetapi yang merupakan program pendidikan tersendiri dan terpisah.

Kami semakin mengenal lebih baik lagi ketika kami mengikuti praktikum dalam ilmu fisika, kimia dan terutama ilmu biologi sebagai mata kuliah tambahan, karena suasananya yang lebih bebas, dari pada waktu perkuliahan yang pada waktu itu diselenggarakan secara formal dan kaku oleh para professor Belanda. Selain itu tentu kami sering bertemu di selang waktu antara perkuliahan di halaman kampus maupun di perpustakaan.

Ketika saya bertemu Pak Benny saya berusia 19 tahun, dan Pak Benny berusia 2 tahun lebih tua. Pada mulanya hubungan kami adalah agak kaku, Pak Benny tidak terlalu banyak berbicara dan memberikan kesan menjaga wibawa, mengingat usianya yang lebih tua. Hal ini juga disebabkan karena latar belakang keluarga yang berbeda. Ayah Pak Benny adalah seorang pejabat tinggi pamongpraja di dalam pemerintah, sedangkan ayah saya adalah seorang guru yang mencanangkan penelitian dalam ilmu musikologi serta menulis buku nyanyian Sunda untuk murid-murid sekolah rendah. Dengan demikian tujuan kami untuk studi ilmu geologipun berbeda. Minat Pak Benny untuk belajar ilmu geologi adalah dari sudut pandang explorasi untuk endapan mineral, sedangkan minat saya dalam ilmu geologi adalah murni sebagai “science”. Dengan demikian Pak Benny menjuluki saya “scientist”, suatu panggilan yang sangat melekat di hati saya, karena memang itulah cita-cita saya untuk menjadi seorang “scientist”. Sayapun dianggapnya sebagai seorang nara-sumber untuk berbagai pengetahuan geologi semasa kuliah.

Tidak lama kemudian kami mengenali masing-masing lebih akrab lagi, karena juga kami ikut perkumpulan mahasiswa extra-kampus yang sama, Perhimpunan Mahasiswa Geologi Bandung (PMB). Pada permulaannya Pak Benny itu berkesan ‘bossy’ pada saya, namun beberapa tahun kemudian saya sadar bahwa sifat ‘bossy’ itu sebenarnya adalah sifatnya yang berjiwa kepemimpinan (leadership). Walaupun berkesan bossy, Pak Benny itu  sebenarnya sangat akrab ingin berteman, gampang dan sangat luwes untuk berteman, dan dapat bergaul dengan baik dengan rekan-rekan mahasiwa. Saya lebih mengenal lebih baik lagi sewaktu kita melakukan exkursi geologi ke lapangan. Karena sifat berhubungan yang sangat luwes itulah  saya percaya bahwa Pak Benny juga disukai oleh para professornya, termasuk Prof. Klompe, Kepala Bagian Geologi yang sangat formal dan jaga jarak itu. Hal ini terutama terjadi pada Prof. MacDivitt, seorang professor dari Canada yang kemudian menggantikan Prof. Klompe sebagai Kepala Bagian Geologi, dan berpandangan yang sama dengan Pak Benny yaitu geologi untuk explorasi endapan mineral.

Hari-hari kemahasiswaan dengan Pak Benny berakhir pada tahun 1958 waktu saya meraih Sarjana Muda dan meninggalkan Bandung untuk studi lanjutan di Canada, karena para professor Belanda diusir dari Indonesia disebabkan keadaan politik pada masa itu, sehingga kelanjutan pendidikan geologi di Indonesia menjadi tidak menentu.

Saya kemudian dengar setelah Pak Benny menyelesaikan pendidikannya, beliau kemudian bergabung dengan Direktorat Geologi. Beliau dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan di US Geological Survey di Washington setelah menyelesaikan proyek asbes di Halmahera. Di sanalah dia bertemu dengan isterinya yang tercinta, Ibu Soffie. Sekembalinya ke Indonesia saya sempat bertemu kembali dengan Pak Benny di Direktorat Geologi di Bandung. Pak Benny dengan bangga memperlihatkan pada saya hasil karyanya dengan USGS, yaitu dengan dicantumkan namanya pada salah satu peta geologi di Amerika Serikat.

Setelah kembali ke Bandung Pak Benny masih sempat juga memberikan sumbangan pikirannya pada Bagian Geologi ITB, sebagai salah satu pemberi gagasan dalam pendirian field camp di Karang Sambung. Jawa Tengah. Beliau pulang kembali ke Bandung juga pada waktu yang tepat, sehubungan dengan munculnya perusahaan multi-nasional International Nickel Company (INCO) yang melakukan recruiting secara besar-besaran untuk menyewa untuk sementara waktu para ahli geologi Direktorat Geologi. Pak Benny langsung diterima dan terjun langsung dalam eksplorasi untuk nikel di daerah Soroako, Sulawesi Selatan, dan dengan segera jiwa kepemimpinan dapat dikenali.

Beliau kemudian meninggalkan Direktorat Geologi, dan tidak lama kemudian beliau menjadi Manager Eksplorasi PT Inco. Atas jasanya dalam kepemimpinannya lah maka PT Inco berhasil mengembangkan pertambangan nikel untuk pertama kalinya di Indonesia.

Hubungan baik dengan alma maternya, yang sekarang dikenal sebagai Program Studi Teknik Geologi ITB berkembang dengan pesat. Beliau berhasil menggaet Prof Rubini Soeria-Atmadja, seorang senior pada masa mahasiswanya, dan para mahasiswanya untuk berpartisipasi dalam program eksplorasi untuk nikel yang sangat ekstensif di Sulawesi Selatan. Sayang saya sendiri lebih berminat dalam bidang geologi minyak dan bumi, dan disinilah perjalanan karir kami berpisah, dan saya sangat jarang bertemu dengan Pak Benny lagi.

Pada tahun 90-an beliau pernah mengunjungi Jurusan Geologi ITB untuk turut serta memberi sumbangan atas berdirinya Perpustakaan Klompe. Beliau mewariskan kenangan yang sangat besar bagi Jurusan Geologi ITB (sekarang namanya Program Studi Teknik Geologi ITB), Direktorat Geologi (sekarang namnya Pusat Survey Geologi), dan akan selalu sangat dikenang dengan baik atas kepemimpinannya, terutama oleh para ahli geologi dari generasi tua.

Selamat jalan, temanku Benny Nurtjahya Wahju, kau telah meninggalkan jejakmu pada sejarah ahli geologi Indonesia

Bandung, 10 April 2012

Leave a comment