By Soejono Martodjojo
Saya kenal Beni Wahju di akhir semester pertama tahun 1956, dia angkatan 1955. Entah kebetulan karena saya lulus semua mata pelajaran di semester itu dengan baik, dia menyapa saya “kamu punya semangat dan kemampuan yang baik, teruskan!!”
Pada tahun-tahun berikutnya saya merasa dekat dengan Beni, bahkan sering pergi bersama kalau ada pesta antar mahasiswa. Beni selalu memberitahu mana teman yang baik dan yang kurang berdasar perilaku yang kita sama-sama lihat di pesta itu. Dia juga menilai positif saya tidak pamer karena saya bisa menyanyi walaupun dia menyenangi kalau saya menyanyi.
Sebagai pribadi, Beni pandai menjaga image dan saya mengagumi itu. Penampilannya selalu santun, rapi dan berwibawa. Kalau dia bertanya suatu soal fisika atau matematika, dia sering berkata “Yon, ada soal yang baik untuk you, coba kamu bisa nggak memecahkannya??”
Suatu ketika dia mengajak saya menemui seorang mahasiswi yang ia taksir, Beni memperkenalkan saya ke teman wanita pacarnya. Dia berbisik sambil melihat ke teman pacarnya itu “Yon, kamu pasti seneng dia..” saya benar-benar kaget karena tipe gadis itu merupakan tipe yang saya sukai. Saya kagum ke Beni karena selama ini dia tidak pernah secara khusus bicara mengenai wanita, tetapi semua berlalu karena saya dan Beni sangat sibuk menyelesaikan skripsi.
Kesan yang mendalam pada Beni adalah dia adalah orang yang penuh ambisi, teguh dalam mencapainya, serta teliti dalam melaksaakannya. Saya bersyukur bahwa pada puncak karier dan akhir hidupnya dia telah mencapai apa yang dicita-citakan sejak muda. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan dia tenang disana.
April, 15 2012