Beni Wahju Pelaku Sejarah Pembangunan Luwu Timur


By Jasruddin Daud Malago

GEOLOGIS-SOSIOLOGIS ITU TELAH TIADA  

Gajah mati meninggalkan gading, manusia meninggal, jasanya yang dikenang. Syair lama ini masih sering diungkapkan oleh orang-orang dekat dari seseorang yang telah terpanggil untuk menghadap Sang Khaliq. Setiap manusia telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta untuk mengabdikan diri bagi kehidupan, baik untuk sesama manusia itu sendiri maupun kepada mahluk hidup lainnya, bahkan terhadap seluruh ciptaanNya di dunia (Khalifatan fillardi).

Sangat disayangkan karena hanya segelintir dari manusia yang memahami dengan baik akan hakekat penciptaan dan kesempatan yang diberikan Tuhan itu. Menurut penulis, salah satu dari kelompok manusia yang mengerti tugas dan fungsi penciptaannya adalah Benny Wahyu, almarhum. Pak Beny bukan seorang alumni Timur Tengah yang paseh dalam da’wah billisan, akan tetapi beliau seorang geolog yang mampu memberikan keteladanan kepada setiap orang yang pernah berinteraksi dengannya.

Pada usia yang masih sangat muda, beliau rela merambah hutan belantara Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Luwu saat itu yang kini menjadi Kabupaten Luwu Timur. Pada tahun 1960-an, daerah Kabupaten Luwu Timur masih sangat terisolir. Alat transfortasi antar desa masih mengandalkan kuda yang juga hanya dimiliki oleh kaum bangsawan. Oleh sebab itu, berjalan kaki dari kampung ke kampung adalah pilihan sebagian besar masyarakat.

Walaupun Pak Beny adalah seorang ahli Geologi, beliau tahu persis bahwa dalam waktu singkat akan terjadi perubahan sosial yang luar biasa di daerah Sorowako-Malili dan sekitarnya sebagai konsekuwensi dari terbukanya jalur transportasi yang bakal dibuat oleh perusaan PT Inco. Jalur transportasi dan komunikasi yang dibangun akan mempercepat dinamika interaksi sosial, baik antar etnis lokal, maupun dengan bangsa lain di dunia yang bakal datang ke Sorowako.

Pemahaman mendalam tentang sosiologi masyarakat itulah yang menjadi landasan beliau dalam membangun dan mendorong program untuk masyarakat, baik dengan karyawan maupun masyarakat di sekitar tambang bersama teman-teman beliau. Sebagian besar masyrakat Sorowako, Wasuponda, Wawondula, Malili dan sekitarnya sangat mengenal Beny Wahyu, Qosim Bakar, dan petinggi-petinggi PT Inco lainnya pada saat itu, minimal masyakat sering mendengan nama itu.

Sebagai putra daerah dan yang pernah merasakan suasana pendidikan di YPS Sorowako lalu mendapatkan beasiswa dari PT Inco hingga Program Doktor, saya mengenal betul bahwa kualitas pendidikan yang dikembangkan oleh PT Inco saat itu sangat baik, bahkan bisa dikategorikan terbaik di Kabupaten Luwu, dan setara dengan dengan kualitas pendidikan terbaik di Sulawesi Selatan.

Pada waktu-waktu tertentu, secara berkala Pak Beny tidak segan-segan berkunjung ke rumah-rumah masyarakat, terutama tokoh dan pemerintah hingga level paling bawah. Hal ini menjadi model komunikasi sosial yang dibangun oleh para petinggi PT Inco dengan Masyarakat sekitar. Itulah sebabnya maka sangat jarang bahkan tidak pernah ada gesekan sosial secara terbuka pada era Pak Beny dan kawan-kawan.

Banyak bukti yang dapat dijadikan argumentasi untuk mengatakan bahwa Pak Beny telah berbuat banyak untuk PT Inco dan pemerintah serta rakyat di Luwu Timur. Dengan demikian, tidak salah jika dikatakan bahwa Pak Beny adalah salah satu pelaku sejarah pembangunan daerah Luwu Timur hingga bisa maju seperti saat ini. Strategi yang beliau gunakan dalam membangun masyarakat adalah mengintensifkan komunikasi sosial, untuk kemudian membangun struktur sosial yang komunikatif, itulah sebabnya, saya menyebut beliau sebagai geologis yang sosiologis.

Selamat jalan Ayahanda, bakti dan karyamu selama di dunia, Insya Allah akan senantiasa mengalir sebagai amal ibadah yang akan membebaskan-mu dari siksa kubur serta padang masher kelak, karena Allah telah meridhoimu menjadi salah seorang hambaNya yang diterima amal ibadahnya dan dihapuskan dosanya. Semoga bunda Sofie Wahju diberi kekuatan dan kesehatan sehingga masih tetap memberi pesan dan nasehat yang menyejukkan kepada kami semua.

Leave a comment