By: Tuti Roosdiono
Aku ingat wajah yang teduh kebapakan, wajah yang arif dengan senyum bijaksana. Suaranya yang kalem tapi tegas penuh wibawa.
Karakter teladan yang kukenal sejak aku dan mas Anangga menapakkan kaki pertama kali di Soroako tanggal 5 Mei 1977, sebulan setelah perkawinan kami.
Yang semula ada rasa waswas tinggal ditempat terpencil, jauh dari keluarga, bahkan untuk pulang ke Jakarta pun hanya bisa dijangkau dengan pesawat atau perahu, dengan keberadaan Kang Ben dan mbak Soffie, pasangan idolaku, pasangan pengganti orangtuaku, guruku, kakakku, sahabat berbagi ilmu, membuat aku menjadi sangat……sangat kerasan tinggal di Soroako.
Hari ke hari, bulan kebulan, tahun ketahun kujalani, makin kukenal tetangga sekelilingku, pasangan-pasangan dan keluarga-keluarga manis menyenangkan dan sangat bersahabat: mas Prem & mbak Ninik, mas Handoko & mbak Lena, mas Agus Suparman & mbak Ida, mbak Padmi Sewojo, bang Djalil Nasution & mbak Djudju, mas Sudjadi & mbak Jus, mas Herrawan & mbakyu, James & Farida Holland, Wahid & Amtul, Ashok & Nima dan lain-lainnya. Sunguh suatu community yang sangat-sangat hangat akrab menyenangkan, begitu bersahabatnya hingga aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata yang tepat. They are all so warm hearted persons.
Sampai-sampai untuk membuat aku kerasan kudapat seekor anjing dari mas Ahmad Djani yang dibawanya dari Makassar dan kuberi nama Blacky. Yang tidak akan terlupakan juga bahwa yang memberikan bantuan ketika Blacky akan melahirkan adalah dr. Hohnen, seorang medical doctor America yang bertugas di Soroako. Inilah gambaran keakraban hidup di Soroako.
Aku makin senang tinggal di Soroako, dengan kesibukan-kesibukan yang selalu menyenangkan: membuat stuff animals dan boneka untuk bazaar, belajar main bridge, belajar membuat macramé, hunting garage sale di Malili (rumah-rumah expats yang mau pulang kenegaranya), berenang di danau dan lain lain.
Dan lahirlah putri pertama kami Ratna Roossinta pada tanggal 10 April 1978 (2 hari beda dengan ulang tahun mbak Soffie, 12 April). Lengkaplah kebahagiaanku disana. Lucunya, teman sharing jeep yaitu Ashok & Nima juga mendapatkan seorang anak yang lahir pada tanggal 10 April juga. What a nice coincidence.
Pada bulan Nopember 1978 kami sekeluarga harus meninggalkan Soroako, meninggalkan sahabat-sahabat tersayang karena mas Anangga mendapat pekerjaan dibagian Legal (sesuai dengan ilmu yang didapatnya) di Mobil Oil Inc., Denver, Colorado, USA.
Dengan airmata dan lambaian tangan, para sahabat kutinggalkan kota kenangan Soroako. Memory indah di Soroako tidak akan terlupakan sampai kapanpun. Khususnya pasangan Kang Ben dan mbak Soffie akan tetap berada ditempat yang teristimewa dihati kami sekeluarga.
Kang Ben you were one of a kind who we always pay a very high respect. So are you mbak Soffie. We love you dearly and will never forget you for the rest of our life.
Hi Emir,
Thank you for doing this…. an awesome way of putting together all memories and the impact your parents have on many people. I am sure your father is happy from where he is for what you have done. You have put everyone together – unlimited by age, boundaries and class, your father being the connecting factor.
I have a write-up about Pak Beni, should I just cut and paste to the comment and post it to you or would like me to send it any other way. Please let me know.
Thank you, and all the best to you and your family.
Adela
Hi Tante,
Thank you for your comment.
All these writing touch our hearts and we will treasure it.
Especially for me, I will pass it to my daughters for them to know how their grandfather lived his life.
For your writing, please do sent it to my personal email: emirwahju@gmail.com
I will post it soon.
Regards,
Emir