By Rumengan Musu
Catatan dibawa ini mengenang kebersamaan saya yang indah dengan Alm. Beni N. Wahju (selanjutnya dengan hormat saya menyebut namanya Beni).
45 tahun yang lalu pada bulan Mei 1967 saya bersama Beni mengantar Charlie Michener, Vice President Inco Limited, Canada dari Jakarta dengan tujuan Malili. Setelah tiba di Makassar dengan Garuda kami menuju ke pelabuhan Bajo-e, Bone dengan kendaraan darat dan dengan tugboat Aneka Tambang melayari teluk Bone menuju tambang nikel Pomalaa. Keesokan harinya dengan tugboat yang sama kami dari Pomalaa menuju Malili pada malam hari dan sempat menabrak karang. Kami tiba siang hari dimuara sungai Malili yang lagi surut sehingga pelayaran dilanjutkan dengan perahu nelayan melalui sungai Malili dan tiba 2 jam kemudian di Kota Malili. Kami menginap di rumah Camat.
Keesokan harinya kami menyewa perahu dengan tujuan kampung Karebe yang jaraknya 9 km sebelah timur Malili dan karena melawan arus ditempuh selama 3 jam. Tiba di Karebe kami mendaki Gunung Bulubalang yang ada deposit nikelnya.
Setelah kunjungan ini kami bertiga dijemput dengan helicopter yang disewa dari AURI kembali ke Makassar dan selanjutnya ke Jakarta.
Inilah awal dari kebersamaan kami berdua yang indah.
Kebersamaan yang indah berlanjut kemudian dengan penugasan kami berdua mendampingi seorang ahli geologi (geologist) Inco Limited, Allan Sheito, melakukan survey didaerah- daerah deposit nikel di tiga propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah antara lain dilokasi – lokasi Soroako, Towuti, Rante Angin, Sua-Sua, Pomalaa, Kabaena, Wowoni, Lasolo, Bahubulu, Bahudopi dan Kolonedale. Lokasi – lokasi tersebut kami kunjungi memakai helicopter yang disewa dari AURI. Kegiatan kami dalam survey tersebut adalah menerobos hutan untuk melakukan sampling (pengambilan contoh bijih nikel) dari bekas-bekas test pit Belanda dan juga pemboran dengan hand auger. Dilokasi-lokasi tersebut bila harus bermalam kami menginap dirumah-rumah orang kampung kecuali pada waktu dilokasi Larona dipinggir danau Towuti karena tidak ada perumahan kami tidur dibawa kolong helicopter.
Pada waktu menjelajahi hutan dan merasa haus kami memotong dengan parang bamboo kecil atau pohon rotan yang mengeluarkan air dan langsung ditampung dengan mulut (belum dikenal yang namanya air mineral/aqua). Demikian pula bila merasa lapar dihutan kami telah dibekali orang kampung dengan gula Jawa (gula merah) pengganti coklat sebagai sumber energi. Penjelajahan selama beberapa bulan dihutan-hutan Sulawesi memberikan pengalaman-pengalaman yang lebih mendekatkan kami berdua dan menciptakan “kebersamaan yang indah”.
