Sampai ketemu Ben….


By Luki Witoelar

Sebetulnya setelah tahun 1962, saya jarang sekali saya ketemu Beni. Karena Beni dan saya, masing-masing bekerja ditempat yang terpisah dan berjauhan; setelah kami lulus dari Geologi ITB, Beni bekerja di Direktorat Geologi dan kemudian pindah ke Soroako dan saya di Kelapa Kampit, Pulang Belitung.

Saya ke Kelapa Kampit, Belitung mengikuti selera saya: karena melihat bahwa saya akan bisa melaksanakan  kesenangan saya: research. Ternyata kami tak lama disitu, hanya 2 tahun karena “nasib”  menentukan untuk  saya pindah ke dunia perminyakan (padahal saya tak pernah mengikuti mata kuliah mengenai perminyakan sama sekali selama di ITB), sedangkan Beni –setelah bekerja beberapa tahun di Direktorat Geologi, Bandung- memutuskan pindah ke PT Inco di Soroako, Sulawesi Selatan, keduanya adalah tempat yang hanya ada di peta berskala lebih dari 1:10.000. Pilihan tempat kerja itu hanya dapat diikuti oleh isteri masing-masing yang siap pergi ikut suami, meskipun diajak ke tempat diujung dunia, hehehe….saya pernah bekerja di hutan-hutan Sulawesi Tenggara, tetapi tak sempat ketemu Beni kecuali di pertemuan-pertemuan IAGI.

Lain dengan tahun-tahun sebelumnya: selama kurang lebih 4 tahun  kami ketemu tiap hari. Kami ketemu tiap hari karena kami sejurusan di bagian Geologi ITB (lupa lagi nama lengkapnya sekarang, hehe, dulunya sih bagian dari fakultas Ilmu Pasti dan Alam). Kami ketemu tiap hari karena memiliki suatu favorit dalam bidang ilmiah, ialah Petrology, dan berbeda dari sahabat kami Almarhum Prof Dr Rubini Suriaatmadja yang menekuni batuan metamorfosa, kami berdua sangat berminat untuk mempelajari “sumber dari segala batuan” (pendapat waktu itu):  batuan beku atau “Igneous Rocks”.  Barangkali karena kami berdua dianggap berbakat,  kami diangkat jadi Assisten Dosen dalam Petrologi, sampai kami tamat belajar.

Sedikit menyimpang: 2 tahun setelah saya tamat saya berkunjung ke bag Geologi ITB. Ternyata masih ada uang honor asistensi saya selama sekian tahun yang belum terbayarkan. Dan saya terima waktu itu. Tak banyak, tapi saya ceriterakan untuk menggambarkan perbedaan jaman: kejujuran lebih dari sekarang, mungkin administrasi kurang karena belum ada komputer.

Setelah kami  pensiun dari pekerjaan pertama (Inco dan Pertamina) kami sering ketemu lagi di akhir tahun 90-an, waktu kami berdua asyik ikut bersama pak Soetaryo Sigit dan beberapa ahli Geologi Senior lainnya menjadi pengambil inisiatif memperingati jasa-jasa Prof J.TH. Klompe, pendiri dari bagian Geologi ITB. Dalam kesempatan kesempatan ketemu itu (sekali sebulan kami ber”nostalgia” ngobrolin para guru vesar kami: Prof Klompe,  Akkersdijk, Mc Divitt, de Waard dan Prof Ch.S. Bacon, boss Beni dan saya.

Kemudian kami hilang kontak lagi karena kesibukan kami masing masing.

Terakhir saya ketemu almarhum adalah pada tanggal 24 December 2011, di bumi Sangkuriang di Bandung, waktu kami mengunjungi resepsi peringatan 50 tahun menikahnya Prof Koesoemadinata. Sangat terkejut saya ketika pada tanggal 20 Januari 2012, dikabari Beni jatuh sakit, dan dirawat di ICU RS Pondok Indah, dan terus pegi …….

Meskipun jarang ketemu, tapi terasanya saya selalu dekat dengan almarhum. Bukan karena selalu sama pendapat, sama sifat (dia serious saya senang ketawa) atau sehobby (saya senang sepakbola, almarhum sama sekali tidak) tetapi -terutama- karena kami selalu saling menghargai dan saling mempercayai pendapat dan falsafah masing-masing. Atau barangkali, seperti kata orang sana, “we hit of with each other”.

Saya sendiri merasa sangat dekat dengan almarhum. Salah satu contoh (bukannya itu harus), Beni datang ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan kami. Kita sekarang lupa bahwa di tahun 1962, Jakarta itu jauh sekali dari Bandung.

Karena itu saya merasa bahagia sekali waktu pada peringatan 40 hari wafatnya saya diberi kesempatan untuk bicara atas nama teman-temannya yang masih hidup (teman-teman yang sudah mendahului sudah cukup banyak, diantaranya Handoko, Sudjadi, Soeharto, Rubini).

Bagaimana Beni? biografinya dapat dibaca di bagian lain di blog ini. Yang saya akan sampaikan adalah kesan kesan saya, yang telah bersahabat dengannya untuk sekian lama. Seperti kita juga (atau kebanyakan dari generasi kita) tujuan hidup kita itu adalah berbakti kepada Negara kita. Tanpa menomor duakan bertujuan memiliki keluarga yang berbahagia tentunya. Beni seperi saya berpendapat bahwa bekerja untuk Negara bisa dimana saja: di badan pemerintah, di perusahaan Negara, dan di perusahaan asingpun yang akan bisa memakmurkan Negara. Dia pergi dari Direktorat Geologi (dan diikuti banyak teman teman kami) untuk bekerja pada Inco, yang tidak kecil memberikan penghasilan kepada Negara. Dia memimpin perusahaan itu yang membuka hutan Soroako dan menjadikannya kota pertambangan. Falsafahnya adalah: “What is good for the country is good for me”. Saya sendiri yang lebih dari 30 tahun bekerja di Pertamina (pada waktu Pertamina merupakan pengawas Perusahaan asing) tak pernah memandang orang Indonesia yang bekerja di perusahaan perusahaan asing  kurang  jiwa  nasionalisnya. Disamping itu saya juga pernah kerja untuk Exxon.

Negara ternyata juga menghargainya, dan pada tahun 1995 Beni dianugerahi  bintang Satya Lencana Pembangunan oleh Presiden Republik Indonesia untuk jasa-jasa kepempinanannya dalam projek nickel di Soroako.

Beni adalah seseorang yang bekerja karena senang bekerja, dan tak pernah bosan. Almarhum masih bekerja sampai akhir hayatnya, dan tidak pernah mengundurkan diri dari dunia pertambangan (Almarhum bangga sekali dengan penamaan “Mining Geologist”) dan lama sekali dia aktif di pengurus menjabat ketua dari “Indonesian Mining Association”.

Beni telah mendahului kita dan kini sudah tiada. Seperti dikatakan orang kita semua sedang antri, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu.

Sampai ketemu Ben ……

Leave a comment