By: Kuntoro Mangkusubroto
Di sanalah kau kini, Ben. Di tetanah basah pekuburan Blender, Kebon Pedes, Bogor, dalam usia ke-77 yang baru kaulangkahi, pada suatu akhir pekan yang senja. Angka di kalender matahari menunjuk titik 21 Januari 2012. Maafkan, aku tidak mengantarkanmu saat itu…
Tak habis pikir, bagaimana sahabat saya itu bisa dianggap ”pergi selama-lamanya” kecuali bahwa, secara sunatullah, memang jasadnya “telah dipulangkan”. Beni—Beni Wahju—tak pernah pergi, sampai kapanpun, karena ia telah memberi kita semua, sekurang-kurangnya saya, persahabatan yang mengalir-menginspirasi. Akan selalu saya kenang!
Prestasi dan ukiran hidup seseorang tentu saja bisa tersaji laksana tonil yang beku. Ini dimungkinkan manakala apa yang berpendaran dan melilitnya hanya dipandang sebagai guratan-guratan statistik semata. Kaku, menjemukan. Sosok Beni tak akan pernah cukup diwadahi oleh statistik sebanyak apapun. Dengan cara itu lah saya ingin mengenangnya.
Sebagai Manusia
Sebagai manusia, Beni adalah manusia dan, pasti, seorang bapak yang hangat. Beni itu selalu, istilah Belanda-nya, correct. Ia piawai menempatkan diri hingga membuat saya bersikap serupa. Asyiknya, ketika kita bertukar pikiran, maka semua tembok penyekat yang membuat kita sungkan, seketika roboh. Beni sontak menjelma sebagai kakak ketika terlibat baku-diskusi dengan saya.
Loyal, itu juga capnya, selain terbuka: sifat yang membuat saya secara ikhlas menghargainya. Dengan Soffie, istrinya, saya beserta istri juga selalu merasa hubungan kita hangat. Rupanya, aura yang terpancar itu dapat kami rasakan dan kemudian kami tempatkan pada aras penghormatan yang tinggi. Pantaslah kalau kami terpukul karena amat kehilangan Beni. Berita berpulangnya mengejutkan sekali, karena sebelumnya kami tidak pernah mendengar dia sakit. Sedihnya lagi, saat itu kami sedang tidak berada di Jakarta, sehingga tidak bisa mendampingi pada saat-saat terakhirnya.
Sebagai Sahabat dan Rekan Kerja
Meski sama-sama jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), namun karena Beni senior saya jauh—13 tahun lebih tua—ditambah lagi bidang yang berbeda, membuat kami tidak saling mengenal. Barulah ketika saya menjadi Direktur Jenderal Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi (1993-97), Tuhan mempertemukan kami. Reputasinya berkilau sebagai tokoh geologi eksplorasi—salah satu pelopornya, malahan. Sebagian besar energi produktifnya dicurahkan di sana. Yang terlama tentu di PT International Nickel Company. Ia juga orang Indonesia pertama yang namanya dicantumkan pada peta geologi tersohor di Amerika Serikat: USGS (The United States Geological Survey). Beni jualah penggagas penting dari didirikannya field camp Karangsambung, Banjarnegara, Jawa Tengah, sebagai laboratorium alam penelitian geologi. Pendek kata, lelaki luwes kelahiran Depok, 10 Mei 1934, yang masa kanak-kanaknya dilewatkan di Cirebon dan Indramayu itu luas pergaulannya, kuat jejaring internasionalnya. Bahasa Inggrisnya jempolan, par excellence.
Berkat kepandaian dan keandalan membawa diri itulah, Beni disukai para profesornya, termasuk Prof. Klompe yang legendaris itu. Padahal Prof Klompe yang kala itu menjabat Kepala Bagian Geologi ITB, diawal 50an, dikenal formal dan selalu jaga jarak. Kelebihan-kelebihan inilah yang kelak menempatkan Beni sebagai tokoh pertambangan umum Indonesia yang menonjol di kalangan internasional.
Saya sendiri adalah “anak TI” (Teknik Industri) yang, kebetulan, “terperosok” masuk ke dunia pertambangan ketika dipercaya menjadi Direktur Utama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) pada 1988-89. Artinya, dalam komunitas pertambangan, sebetulnya saya ini tak lebih dari “a new kid on the block”.
To the point, Beni, bagi saya, selalu menjadi individu yang sangat berarti dan menempati lokus istimewa dalam hidup saya. Bagaimana tidak, tatkala saya sebagai orang baru di birokrasi pertambangan—sebelumnya BUMN pertambangan—Beni lah orang pertama yang memaparkan lanskap luas mengenai industri pertambangan beserta kegiatan dan prospeknya. Sebagai Ketua Umum Indonesian Mining Association saat itu, Beni dimungkinkan memberi saya banyak bekal untuk lebih memahami dunia pertambangan umum di Indonesia dan juga di internasional.
Saya meyakini, dan bisa dirasakan bahwa, Beni juga banyak mendukung saya dari luar (birokrasi), sehingga ketika menghadapi berbagai hal di luar birokrasi, saya menjadi relatif lebih siap ketimbang andaikata tidak ada Beni. Terlebih-lebih karena, sekali lagi, sebagai seorang yunior yang “dilemparkan” dari luar pertambangan, tak sedikit orang (lama) di sektor pertambangan yang, di belakang punggung saya, mencibir dan meremehkan, memandang sebelah mata, bahkan mencemooh saya sebagai “Alien dari Planet Mars”—ini justru menjadi cambuk. Mereka itu bukan hanya yang berada di luar BUMN yang saya pimpin, melainkan tak sedikit pula yang di dalam perusahaan yang sedang saya pimpin. Tidak demikian dengan Beni. Dialah sedikit dari senior di sektor pertambangan yang dengan ikhlas-legawa membuka diri. Beni siap kapanpun untuk bertukar pikiran. Beni memperlakukan saya sewajarnya, sebagai seorang yang biasa-biasa saja; dalam artian, tidak dianggap sebagai “orang luar”.
Di situlah arti penting Beni buat saya. Seperti matahari, kami berdua tidak pernah bertengkar meributkan tentang siapa di antara kami berdua yang telah menciptakan bayang-bayang. Beni membuat saya nyaman. Itu istimewanya Beni. Saya berbahagia bisa bertemu dan mendapatkan pemandu setangguh itu. Jadi, kalau saya sekarang menjadi lumayan melek pada dunia pertambangan, maka Beni lah orang yang paling berkontribusi dalam mengenalkan, membimbing, dan mengantarkan saya masuk ke sana.
Keberartian Beni juga saya rasakan karena dialah sohib yang tidak segan menyampaikan pandangan-pandangan, kendati tak selalu sejalan. Tapi dari situ, betapa saya bisa merasakan Beni yang senior itu punya penghargaan terhadap “keyunioran” saya. Saya kira, hal-hal itulah yang menonjol dari karakter hubungan kita berdua: empati, tebaran jaring persahabatan, keterbukaan, loyalitas, kehangatan…Karakter hubungan itulah yang, seperti saya sebut di awal tadi, menjelma sebagai persahabatan yang mengalir dan menginspirasi. Mengabadi. Kapanpun dan di manapun, Beni menjadi sosok yang tidak akan pernah lenyap pergi.
Saya jadi ingat pada “Sihir Hujan”, sebuah sajak bagus gubahan Sapardi Djoko Damono pada 1982, tahun ketika saya masih khusyuk berkhidmat di ITB. Sapardi menulis:
Hujan mengenai baik pohon, jalan, dan selokan—swaranya bisa dibeda-bedakan; kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela, meskipun sudah kau matikan lampu.
Beni adalah hujan yang dihadirkan Tuhan sebagai pemandu medan di depan saya. Panduannya itu, saya pastikan, tak pernah sedetikpun akan terjeda: menerobos limit waktu, usia. Sekalipun sang pemandu telah berpulang, sekalipun pintu dan jendela sudah ditutup, sekalipun nyala lampu telah padam….
Kau tetap hidup, Ben!
Jakarta menjelang senjakala, 12 Juli 2012
