By Erry R. Hardjapamekas
Beni N. Wahju yang saya kenal sejak awal 90an, adalah seorang perintis dan pemimpin, wawasannya melebihi kapabilitasnya sebagai seorang akhli geologi yang ulung, dan tak ayal lagi menjadi panutan para pakar kaji-bumi generasi muda setelah masanya.
Kiprah Beni Wahju tidak dibatasi dalam wilayah korporasi Inco dan Ingold yang berkontribusi besar dalam pengelolaan dan pengembangan kedua entitas tersebut, atau akhli geologi panutan saja, ia adalah pendiri, pengembang dan pemimpin IMA serta atas jasanya lah IMA memasuki kancah internasional bergabung dalam federasi tambang Asia.
Ia adalah tokoh pertambangan internasional yang berasal dari sector swasta, sejajar dengan tokoh-tokoh pertambangan yang berasal dari sektor pemerintahan/regulator seperti yang kita kenal seperti antara lain Pak Katili dan Pak Sigit.
Dalam kehidupan profesional kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit di antara berbagai kepentingan atau sesuatu yang dipersepsikan (kadang-kadang seolah-olah) sebagai kepentingan yang harus didahulukan misalnya antara kepentingan nasional versus asing, kepentingan profesi dan korporasi, kepentingan asosiasi dan regulasi. Beni Wahju berhasil menyusuri riak-riak bahkan gelombang kepentingan-kepentingan serupa itu, dan dia berhasil tampil dan menempatkan dirinya sebagai penengah yang sabar dan arif.
Kepeduliannya yang dalam terhadap berbagai aspek pertambangan antara lain perbaikan dan harmonisasi berbagai peraturan perundangan yang menyangkut sektor pertambangan, diakui oleh semua pihak yang berkepentingan, dan implementasi kepeduliannya ia lakukan melalui berbagai tindakan nyata termasuk menuangkannya ke dalam berbagai tulisan.
Tak pelak lagi Beni Wahju adalah seorang perintis dan pemimpin yang peduli.
Selamat jalan Kang Beni, we are proud of you.
