Written by Pieter, Juliana, Hendrik & Ruth
Di era tahun 1968 sampai tahun 1976 pada periode awal kegiatan eksplorasi PT.Inco di hutan belantara dan pegunungan Sulawesi, nama Bpk. Beni Wahju sudah tak asing lagi di telinga kami anak-anak alm. Agustinus Sampetoding (Pak Toding). Seingat kami era itu adalah masa-masa yang tidak terlupakan oleh alm. Bpk Beni dan alm. ayah kami bersama pionir-pionir (crew eksplorasi) PT. Inco lainnya dalam melakukan kegiatan eksplorasi mencari dan memetakan lokasi endapan bijih nikel di pegunungan dan hutan belantara Sulawesi, khususnya di kawasan hutan seluas 6,6 juta hektar meliputi wilayah Malili dan Soroako (Sulawesi Selatan), Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah dengan menggunakan sarana transportasi melalui darat, sungai, danau, laut dan udara.
Saat itu alm. ayah kami memboyong kami anak-anaknya bersama ibu Alberthina ke Malili pada awal tahun 1971 dan kami tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan atap nipah, tanpa sarana listrik dan sarana sumber air dan MCK yang memadai. Dari cerita pengalaman Ayah kami, menunjukkan bahwa beliau sungguh hormat kepada alm. Bpk. Beni. Beliau adalah seorang pemimpin yang rendah hati, bersahabat, tulus dan penuh perhatian terhadap para karyawan PT. Inco termasuk keluarga kami. Seingat kami, sekalipun kami masih masih kecil, saat itu ayah kami sering bernostalgia dan bercerita banyak hal kepada kami mengenai berbagai pengalaman suka duka dan perjuangannya yang sulit dan menantang pada masa eksplorasi dibawah pimpinan alm. Bpk Beni di pegunungan yang terjal dengan hutan rimba yang lebat. Mereka beristirahat dan tidur di pondok-pondok eksplorasi beratap terpal dan dinding rumbia (daun nipah),dengan sarana tempat tidur, bangku dan meja makan yang terbuat dari kayu gelondongan yang diambil dari hutan sekitar, serta sarana MCK yang sangat sederhana di tengah hutan belantara Sulawesi. Ada banyak resiko dalam melakukan kegiatan eksplorasi, membuat jalan rintisan eksplorasi,memindahkan alat-alat bor dan melakukan pemboran serta menggali lubang test pit dengan kedalaman puluhan meter dengan cara manual dan peralatan yang sederhana. Dan tentu saja para crew eksplorasi tidak luput dari ancaman bahaya serangan gerombolan pemberontak yang masih bersembunyi di tengah hutan Sulawesi masa pertengahan tahun 1960-an, serta resiko serangan binatang liar misalnya: ular, anoa, babi rusa, nyamuk dan lintah. Alm Bpk. Beni sering tinggal bersama crew eksplorasi di tengah hutan selama berminggu-minggu, jauh dari keluarga dalam suasana yang sepi tanpa hiburan dan sarana informasi/ media (TV, koran dll).
Hingga akhir hayat ayah kami, beliau memiliki banyak kenangan indah kepada Bapak Beni yang telah banyak memberikan bantuan dan perhatiannya kepada kami. Selain memiliki kepemimpinan yang lugas, Bapak Beni juga memiliki sikap ”kebapaan” dan penuh perhatian bagi keluarga, para karyawan dan anak-anak karyawan PT. Inco. Beliau sering memberikan arahan dan masukan yang konstruktif melalui percakapan langsung ataupun melalui media sosial serta beliau menjadi pengayom bagi anak-anak para pionir PT.Inco.
Sekalipun Bpk Beni yang kita kasihi telah kembali kepada Sang Khalik, beliau telah meninggalkan banyak karya dan kenangan yang baik bagi kita semua. Kami sungguh merasa sedih dan kehilangan figur seorang Bapak yang berbudi baik, penyayang dan mengasihi kami. Kebersamaan dan kebaikan beliau telah terukir indah dalam hati sanubari dan kenangan kami, dan juga figur beliau menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi kami dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Kami mengucapkan terima kasih kepada alm. Bapak Beni dan keluarga atas segala perhatian, ketulusan dan budi baiknya. Bapak Beni yang kami hormati dan kasihi… selamat beristirahat dalam kebahagiaan dan ketenangan yang abadi di haribaan Tuhan Yang Maha Esa….. You were a great leader and exemplary parent.
25 Oktober 2012
