By Usman Fatwa
Pada awal Desember 1970, setelah saya diterima bekerja di PT INCO sebagai Meteorology Observer (pengamat cuaca) saya diberangkatkan bersama mas Djoko Susilo seorang civil engineer lulusan ITB, ke Malili dan diperintahkan pak Hitler untuk menghadap dan melapor kepada Drs.Beni Wahju.
Tadinya karena pak Beni ini gelarnya doktorandus saya kira beliau adalah seorang kepala personalia dan akhirnya belakangan saya baru tahu bahwa geologist lulusan ITB, pada angkatan beliau bergelar doktorandus.
Dari pertama kali saya bertemu pak Beni sudah timbul kesan bahwa beliau ini seorang yang berwibawa dan karismatik.
Ketika saya ditempatkan bekerja di Pomalaa, sebelum berangkat saya menghadap pak Beni memohon agar saya dapat membawa serta Tiana isteri saya yang sedang mengandung tujuh bulan karena di Pomalaa saya harus tinggal diluar camp dan dekat dengan stasiun pengamatan cuaca yang terpasang.
Saya ingat benar pada waktu itu pada akhir Maret 1971 dapat berita radio dari pak Beni bahwa saya boleh ambil break (cuti),saya pergi ke Malili seolah “dijemput “pak Beni dengan helicopter,di pesawat pak Beni bilang “Usman jij boleh bawa isteri ,nanti dibangunkan rumah di Hukohuko”, betapa gembiranya saya dan juga saya merasa di istimewakan oleh INCO (tentunya disini pak Beni,bagaimana beliau sangat pengertiannya akan kondisi seseorang)
Perlu dicatat berkat pak Beni,sayalah Usman Fatwa satu satunya karyawan junior staff INCO yang dapat fasilitas istimewa waktu itu.
Pada waktu itu saya bekerja di Dept.Engineering Malili dan boss saya Dough Heggie seorang Australia yang sangat disiplin,walaupun bahasa Inggris saya masih sangat minim tapi saya bisa melaksanakan pekerjaan saya dengan baik dan apabila Mr.Heggie cuti,ini merupakan “neraka” buat saya karena pasti saya ditunjuk sebagai actingnya Mr.Heggie.
Dengan kedudukan saya sebagai actingnya Dough Heggie kalau ada rapat pak Beni tetap mengundang saya walaupun akhirnya pak Beni sendiri menjadi penterjemah, disinilah pak Beni selalu mendorong orang (terutama saya) untuk maju walaupun modal saya sangat minim.
Saya merasa terus dibimbing untuk terus maju oleh pak Beni, dengan keterbatasan saya, saya dapat menduduki posisi yang cukup baik di PT INCO, ketika pak Tomrijo akan resign,pak Beni bilang “Man, nanti pak Tom akan resign nanti jij gantikan dia,sebagai Town Superintendent” bukan main waktu itu merupakan posisi yang cukup bergengsi diberikan kepada saya dan pak Beni selalu yakin dengan apa yang diputuskannya,begitupun ketika Pak A.B Nusali resign, saya ditawari merangkap pekerjaan yang ditinggalkan pak Nusali sebagai Superintendent External dan Government Relation, saya sanggupi dan benar saja hasil dari rangkap jabatan itu saya banyak belajar sebagai seorang “PR” yang komplit.
Dimata masyarakat pak Beni demikian dihormatinya, karena beliau sangat memperhatikan keinginan segenap lapisan masyarakat dengan berinteraksi dan komunikasi secara inten baik langsung maupun tidak langsung,
Ketika saya tinggal diluar camp Malili dan hidup ditengah tengah masyarakat banyak kegiatan yang perlu bantuan, siapa lagi kalau yang menjadi andalan yaitu INCO, melalui kebijaksanaan pak Beni lah, bantuan bantuan bagi masyarakat Malili disalurkan.
Disini saya belajar bagaimana membalas budi pada yang pernah kita terima, pada suatu saat saya dipanggil pak Beni karena “menolak kayu yang disupply salah satu supplier lokal” beliau bilang “kalau kayu kayu ini masih bisa dipakai untuk keperluan lain terimalah dan bayar,perlu jij tahu bahwa dulu waktu saya (pak Ben) melakukan survey awal INCO ,beliau ini (si supplier,lupa namanya) banyak menolong saya” itu selalu teringat dibenak saya dan ini hanyalah salah satu contoh dari banyak hal yang patut diikuti apa yang telah diperbuat pak Beni, bagaimana beliau tetap memelihara hubungan dengan teman temannya dahulu.
Pada suatu saat ketika pak Beni mutasi ke Jakarta, beliau mengajak saya keliling mengunjungi orang orang Malili yang dulu pernah bekerja sama dengan beliau, diantaranya Pak Tagilling,beliau berpesan kalau perlu apa apa temui pak Usman anggap saja ini pengganti saya (tentu dalam hubungan pribadi), betapa bangganya saya dapat kepercayaan yang tulus dari pak Beni.
Perhatian dan kebaikkan yang selalu diberikan kepada saya dan keluarga, isteri saya, anak anak saya oleh Pak Beni dan Teh Soffie betul betul tidak bisa dilupakan.
Perhatian,perhatian,perhatian begitulah yang selalu diberikan pak Beni pada saya,sampai sampai menjelang beliau wafat saya masih ditawari kerja di Vale (Ingold), dan ini merupakan penyesalan saya yang tidak terbayarkan, karena sesuatu hal saya tidak dapat memenuhi keinginan beliau (“Ampun dan hapunten kang Ben, saya yang tidak tahu diri ini telah mengecewakan kang Ben)
Mungkin tidak cukup satu buku tebal,kalau saya tulis semua kenangan dengan Pak Beni ini.
Intinya saya bisa jadi begini karena bimbingan, didikan serta bentukan pak Beni, sehingga dengan bekal ini saya bisa merasa success dalam mengemban pekerjaan di INCO maupun selanjutnya di KPC tentunya sesuai kapasitas saya.
Terima kasih kang Ben semoga damai berada disisi Alloh SWT, begitupun kepada Teh Soffie, berdua telah melimpahkan kasih sayang kepada kami sekeluarga dan ini akan menjadi kenangan buat kami sepanjang masa.
WAWA, TIANA, RINI, DEVAN, PRIYANKA, WELLY, DIDO, DEVI, TESTA, ALMAZ, BAGUS
Bandung, 6 Desember 2012
