Oom Beni dan Bapak


By: Indria Sigit, putri SOETARYO SIGIT

Oom Beni Wahyu dan tante Sofie, demikian kami anak anak Bapak biasa memanggil mereka. Mereka adalah sahabat keluarga, sejak Bapak Ibu tinggal di Bandung, sampai ketika kemudian kami pindah ke Jakarta.  Menurut cerita Bapak,  oom Beni adalah yuniornya di Geologi ITB, dan oom Beni juga yang kemudian menggantikan posisi Bapak sebagai asisten dosen di jurusan tersebut. Persahabatan ini berlanjut sampai ke masa kerja dan masa pensiun Bapak . Mereka saling berkunjung ke rumah, dan oom Beni serta tante Sofie selalu termasuk dalam daftar undangan jika “Bapak nduwe gawe” .

Bapak dan oom Beni seringkali bertemu untuk rapat kerja, atau pertemuan IMA , atau diskusi lain. Seringkali, pertemuan antara Bapak dan oom Beni berlangsung sampai saat makan siang. Pagi-pagi, Nina sekretaris oom Beni akan menyiapkan agenda hari itu dan segala perlengkapannya. “ Item” makan siang, disebabkan seringnya pertemuan dan makan siang,   bisa jadi “item” yang sulit persiapannya,  hingga akhirnya Nina kehabisan ide makan apa ya hari ini……

Kalau sudah begitu, ia akan menanyakan pada oom Beni : “Untuk pertemuan siang dengan pak Sigit, saya pesankan apa untuk makan siang nanti ?” 

Dan oom Beni, yang tahu bahwa Bapak suka makan  dan suka jajan serta punya referensi lengkap tempat makan enak murah meriah,  dengan entengnya akan menjawab : “ Coba kamu telpon pak Sigit, makan siang apa kita hari ini...?”

Jadi begitulah, setiap kali Bapak punya janji temu dengan oom Beni, Bapak sudah siap akan ditelpon pagi pagi oleh Nina : “Pak Sigit, untuk  pertemuan siang ini dengan pak Beni, saya pesankan apa untuk makan siang nanti …………?” 

Ada banyak peristiwa dan kenangan tentang oom Beni yang hanya bisa diceritakan oleh Bapak sendiri. Tulisan di bawah ini disusun dari kacamataku sebagai anak Bapak.

Tahun 1974, Cipete

Kami baru saja pindah rumah ke Cipete, sesudah bertahun tahun tinggal di Cilandak. Sebelumnya, kami tinggal di Bandung, lalu pindah ke Jakarta dan menempati rumah di kompleks PT Tambang Timah, Cilandak.  Dan sekarang Bapak  mendapat rumah dinas dari Departemen Pertambangan.

Bapak sedang mengatur arsip pribadinya di lemari, dan aku ikut membantu, tepatnya mengganggu, barangkali… Sambil menyusun berkasnya, Bapak menunjukkan dan bercerita : “Ini map ijazah Bapak, mulai dari HIS sampai Sarjana. Ini map surat-surat penting pengangkatan Bapak, ini surat nikah, ini akte kelahiran kalian, …” dan seterusnya…. sambil sekilas menunjukkan isi map map tersebut.

Sampai pada satu amplop coklat besar, Bapak berhenti lama. Membuka berkasnya, membaca satu persatu tiap halaman, dan akhirnya menghela nafas panjang : “Dulu Bapak sudah siap siap untuk berangkat sekolah ke Amerika, tapi tidak jadi karena Bapak dapat tugas baru jadi pembantu menteri dan tidak diijinkan pergi. Padahal semua sudah lengkap berkasnya, semua pesyaratan sudah dipenuhi, surat panggilan dari Universitas ( di USA… lupa namanya ), bea siswa juga sudah ada. Kalau waktu itu Bapak jadi berangkat,  Bapak sudah jadi Doktor sekarang…”

“Terus…, kalau sudah jadi Doktor ?” tanyaku.

“Ya mungkin mengajar di Universitas..” jawab Bapak.

“Nggak jadi SekJen dong , pak…” 

Bapak tertawa.

9 Maret 1996, Institut Teknologi Bandung

Bapak mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari almamaternya , Institut Teknologi Bandung.

Melihat Bapak membaca Pidato Pengukuhannya di depan Rektor dan Senat Guru Besar ITB dan di hadapan rekan rekan seangkatannya di ITB: Oom Katili dan oom Johanas, di hadapan rekan-rekan sejawat, dan disaksikan kami keluarganya, aku teringat kembali percakapan kami bertahun-tahun yang lalu ketika Bapak menunjukkan berkas persiapan studi doktoralnya. Pada akhirnya, dunia akademis memberi pengakuan atas prestasi Bapak, dan itu semua terjadi atas prakarsa Oom Beni Wahyu.

Oom Beni lah yang pertama-tama mengusulkan pada ITB untuk memberikan gelar Dr. HC pada Bapak. Usulan ini kemudian diperkuat dengan surat resmi dari oom JA Katili, yang juga anggota Senat Guru Besar ITB ketika itu. 

Aku dapat merasakan dan melihat, bahwa Bapak amat sangat berterimakasih dan menghargai prakarsa dan usaha oom Beni tersebut. Melanjutkan pendidikan setinggi mungkin adalah cita-cita Bapak, tapi pada akhirnya Bapak harus belajar secara otodidak : “learning by doing”. Dan secara tidak diduga-duga, sesudah Bapak pensiun sebagai PNS, Bapak mendapatkan gelar tersebut.

“Ayah kalian sudah seharusnya mendapat gelar ini dari dulu. Prestasinya, penelitiannya, kerjanya, kumpulan tulisan dan makalahnya sudah jauh melebihi tesis doktoral. “demikian kata oom Beni” pada kami anak-anak Bapak ketika itu.

Turun dari mimbar seusai pidato dan setelah menyalami Rektor dan para Senat Guru Besar, Bapak tidak langsung kembali ke tempat duduknya tapi mendatangi oom Beni (yang dengan rendah hati, hanya) duduk di baris ke dua hadirin. Oom Beni orang pertama yang disalami Bapak,  :“Terima Kasih”.

foto_1_Bapak_(_jas_hitam_membelakangi_kamera_)_mendatangi_oom_Beni_seusai_Pidato_Ilmiah_DrHC

Mei  1996, oom Beni bersama Indonesian Mining Association, bekerja sama dengan PT Adaro Indonesia, PT INCO Indonesia, dan PT Ingold Management menerbitkan buku kecil yang berisi Pidato Ilmiah  Bapak yang disampaikan ketika penganugerahan gelar Dr. HC tersebut.

30 Juli 2004, Jakarta

Beberapa hari sesudah ulang tahunnya yang ke 75, Bapak mengajak kami, anak-anaknya untuk menghadiri acara Peluncuran Buku yang berisikan kumpulan tulisan Bapak  sejak tahun 1967 -2004.  Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Minergy Informasi Indonesia ini dimaksudkan untuk memperkenalkan pada masyarakat Indonesia mengenai perjalanan dunia industri tambang di Indonesia, dan Bapak menjadi nara sumber utamanya.

Lagi-lagi, Oom Beni Wahyu dan INCO yang menjadi sponsor acara peluncuran buku, bersama Freeport, Indonesian Mining Association, Adaro , Newmont .

Tiga buah buku pertama diberikan pada pak Soebroto, mantan Menteri- atasan- dan rekan main tennisnya, pada pak Luluk Soemiarso, SekJen Dep Pertambangan saat itu, dan pada oom Beni Wahyu, yuniornya di Geologi ITB- sahabat setia – sekaligus” provokator promotor” untuk berbagai acara…..

Scan_foto_bapak_om_beni

Selama ini, banyak sekali tulisan dan kumpulan tulisan Bapak di berbagai Jurnal Ilmiah, majalah Geologi, dan Tambang, dan surat kabar, dan tentu saja di berbagai seminar. Tapi hanya 3 (tiga) buku  yang dibagikan kepada kami anak-anaknya dan keluarga dekatnya : Buku “Maju Terus Pantang Mundur, Kisah Pendakian Puntjak Soekarno”  yang diterbitkan pada tahun 1964 sebagai buku laporan perjalanan ekspedisi ilmiah ke Irian jaya yang dipimpinnya, Buku Pidato Ilmiah Dr HCnya “Potensi Sumber Daya Mineral dan Kebangkitan Pertambangan Indonesia, dan Buku Kumpulan Tulisan “sepenggal sejarah perkembangan Pertambangan Indonesia” yang diluncurkan bersamaan ulang tahun Bapak ke 75 tersebut. Dua di antaranya diterbitkan atas prakarsa oom Beni.

Juli 2006, RS  Pondok Indah,  Jakarta

Bapak jatuh sakit . Oom Beni dan Tante Sofie sedang di luar negeri ketika mendapat kabar tersebut. Sepulangnya ke Jakarta, sekitar pukul sepuluh malam mereka menengok Bapak di Rumah Sakit. Jam berkunjung sudah habis. Ibu sudah pulang, tinggal kami anak-anak Bapak yang sedang berjalan pulang. Di koridor RS yang sudah dimatikan lampu-lampunya, oom Beni dan tante Sofie bertukar pikiran dengan kami mengenai kemungkinan Bapak dipindahkan ke RS lain yang lebih baik untuk penanganan kasus Bapak.  Oom Beni meyakinkan kami akan mengatur kepindahan tersebut bersama dengan berbagai pihak lain.  

Bapak akhirnya dipindahkan ke RS di Singapore.    

Selama 4 bulan menjalani pengobatan di Singapore, beberapa kali oom Beni dan tante Sofie menjenguk Bapak. Dan setiap kali datang, tante Sofie selalu mengajak kami, keluarga yang menemani Bapak, untuk makan siang bersama.

Ketika Bapak kemudian kembali ke Jakarta dan dirawat di rumah, oom Beni dan tante Sofie berkali-kali menjenguk Bapak.  Bapak yang karena kondisi sakitnya tidak selalu dapat mengenali siapa yang datang berkunjung dan menengok, selalu tampak  senang jika oom Beni datang, terlihat dari raut wajahnya yang berseri seri dan pancaran matanya yang bercahaya.  Bapak selalu dan masih ingat oom Beni. Dan oom Beni juga secara berkala menelpon ke rumah Ibu atau ke hp suamiku, mas Henky, untuk menanyakan kabar Bapak.

Januari 2012, di dalam mobil di antara macetnya Jakarta

Telpon masuk ke hp suami. Berita duka, oom Beni meninggal dunia. Akan dibawa ke Bogor dan dimakamkan di sana siang itu juga. Mobil putar arah, telpon Ibu, kami langsung menjemput Ibu untuk taziah ke rumah oom Beni. Butuh waktu beberapa saat bagi Ibu untuk mencerna berita tersebut. Dan lebih banyak waktu berunding untuk memutuskan, bagaimana cara menyampaikan berita duka ini kepada Bapak.  Tidak mudah bagi kami untuk menyampaikan berita ini. Dan lebih sulit lagi, ketika kami pamit pada Bapak di kamarnya. Pamit akan melayat oom Beni. Wajah dan sorot mata Bapak bertanya tanya, dan akhirnya mendung. Bapak mengangguk pelan ketika kami pamit.

Seandainya Bapak masih sehat, pasti Bapak akan turut mengantar oom Beni almarhum ke  Bogor, tanah kelahiran almarhum  dan tempat peristirahatan terakhirnya …..

Selamat beristirahat oom Beni.

Terimakasih banyak untuk semua yang telah dilakukan bersama Bapak, dan untuk Bapak dan kami semua keluarga.

Semoga Allah swt memberikan tempat yang terbaik untuk oom Beni.

Semoga Allah swt melindungi, dan menyayangi tante Sofie dan keluarga, selalu.

Aamiiin yaa Rabbi alAamiin….. Kabulkanlah ya Allah Yang Maha Mengabulkan segala doa

Ciputat ,

Subuh 16 Desember 2012.

2 thoughts on “Oom Beni dan Bapak

  1. Saat Ulang tahun IAGI ke 53 ini, saya selalu mengingat ingat tokoh-tokoh IAGI masa lalu, termasuk Pak Beni Wahyu dan Pak Sutaryo Sigit.
    Semoga semua karya, kiprah dan kontribusi beliau-beliau selalu diingat dan diteruskan oleh generasi yang selanjutnya.
    Salam
    Rovicky Dwi Putrohari

Leave a comment