Mengenang Kang Beni Wahju


By Rozik Boedioro Soetjipto

Berita mengenai berpulangnya Beni Wahju di awal tahun lalu terasa begitu mengejutkan.  Tiga hari sebelumnya saya masih duduk bersebelahan dengan dia dalam acara makan malam di Bimasena.   Acara dalam rangkaian lepas-sambut jabatan presdir Vale Eksplorasi antara dia dengan Hadiyanto. Itulah pertemuan terakhir dengan dia, seorang guru,  sahabat, yang sudah saya kenal selama lebih dari 30 tahun.

IMG01057-20130106-2217

Saya tidak tahu sapaan apa yang paling pas buat saya untuk memanggil almarhum Beni Wahju, bapak, mas, kang atau Beni saja.  Pertama kali saya mengenal dia di sekitar tahun 1977 sekembali dari tugas belajar di luar negeri. Sebagai dosen yunior di ITB, berhadapan dengan dia seorang pejabat senior di PT INCO, saya merasa begitu muda, begitu minim pengalaman di hadapannya. Awal perkenalan yang singkat dan baru berlanjut kembali hampir 15 tahun kemudian ternyata berkembang sedemikian rupa hingga pada tahun-tahun belakangan sebelum dia meninggalkan kita semua, kami sudah menjadi kawan akrab bahkan lebih dari itu, sudah menjadi saudara.

Pak Beni pada pertemuan pertama nampak begitu berwibawa dan bersikap sangat resmi. Namun setelah kami berkenalan, ternyata dia adalah sosok yang sangat santun dan baik hati sangat bermurah hati dalam memberikan petunjuk dan nasihat kepada kalangan muda.  Perkenalan pertama itu terjadi dalam rangka kunjungan pengenalan saya ke pertambangan nikel PT. INCO di Sorowako.  Kunjungan yang sangat mengesankan karena untuk pertama kalinya saya memperoleh kesempatan melihat secara langsung suatu pertambangan modern di Indonesia.  Saya ingat betul saat kembali dari Sorowako ke Makassar saya menumpang suatu pesawat kecil berpenumpang kurang dari 10 orang bersama beberapa pejabat tinggi PTI, termasuk Beni Wahju, dan beberapa pejabat dari INCO  Kanada.  Saat pesawat terombang-ambing di awan karena cuaca kurang baik, sempat terfikir kalau pesawat jatuh dan kita semua jadi korban pasti beritanya akan sangat menggemparkan, karena tewasnya begitu banyak orang penting dari INCO.  Alhamdulillah itu hanya sekedar fikiran sekilas, dan kami akhirnya tiba dengan selamat di Makassar dan selanjutnya kembali ke Jakarta.  Sejak itu hampir tidak pernah saya berkesempatan berhubungan secara langsung dengan dia.  Pertemuan yang terjadi umumnya hanya sekedar saling menyapa di acara-acara seminar yang diselenggarakan oleh IMA (Indonesian Mining Association), Departemen Pertambangan dan Energi (DPE) atau instansi pertambangan yang lain.

Barulah pada tahun 1991 ketika saya menjabat di Direktorat Jenderal Pertambangan Umum (DJPU), kami mulai sering bertemu kembali. Di masa itulah saya banyak memperoleh masukan berbagai informasi, pengetahuan praktek dari pengalamannya tentang usaha pertambangan di Indonesia, utamanya tentang penanaman modal asing dalam rangka Kontrak Karya (KK).  Sebagai seseorang yang lebih dari dua puluh tahun berkecimpung di dunia pertambangan dia faham betul tentang KK.  Dia merupakan salah satu pendukung setia penerapan pola KK bagi penanaman modal asing di sektor pertambangan.  Dalam beberapa kesempatan saya pernah melakukan perjalanan bersama, baik di dalam negeri maupun ke mancanegara.  Perjalanan ke luar negeri biasanya sangat mengesankan.  Antara lain untuk menghadiri konperensi-konperensi, maupun kunjungan ke berbagi lokasi pertambangan dan pabrik pengolahan mineral, antara lain  ke Amerika Utara dan ke Eropah.  Salah satu perjalanan yang paling mengesankan adalah ke Amerika Utara, Kanada dan AS. Berempat pada waktu itu, saya dengan isteri dan Kang Beni beserta Teh Soffie sempat berkunjung antara lain ke Toronto, New York dan Washington. Selama perjalanan itu kami semakin mengenal dari dekat keluarga Beni Wahju dan hubungan kami berkembang menjadi hubungan persaudaraan

Reformasi yang terjadi pada 1997-1998, yang disertai dengan penerapan otonomi daerah, telah mengubah kebijakan pemerintah secara drastis di sektor pertambangan. Kebijakan ini oleh sementara kalangan pelaku pertambangan dinilai kurang bersahabat terhadap para pemegang KK. Beni Wahju adalah salah seorang tokoh pertambangan yang secara gigih menentang upaya untuk mendiskreditkan sistem KK. Dalam berbagai kesempatan dia selalu menyuarakan pembelaan terhadap legitimasi KK.

Selama lebih dari sepuluh tahun setelah itu Beni Wahju masih tetap aktif baik sebagai pimpinan INCO/Vale Eksplorasi maupun sebagai pimpinan IMA.  Namun perannya semakin berkurang. Semangat masih tinggi tetapi dengan perubahan kebijakan di sektor pertambangan yang dipelopoi oleh terbitnya UU No. 4 tahun 2009, suara Beni semakin kurang terdengar. Itulah awal tahap pengunduran dirinya dari kegiatan aktif di dunia pertambangan. Tentunya dia menyadari kita tidak dapat memutar kembali perjalanan waktu. Dunia selalu berubah, tidak terkecuali pertambangan di Indonesia, dan kita harus mampu menyesuaikan diri kalau tidak ingin terlindas oleh zaman.  Masih terbayang perubahan sikap, kata-kata dan pandangan matanya yang tidak lagi sekeras dan setajam sekian tahun yang lalu.  Akan tetapi wibawa dan sikap bijaknya tidak pernah luntur.

Setahun sudah berlalu, kita kehilangan seorang panutan, bukan saja bagi mereka yang berkecimpung di dunia pertambangan tetapi bagi semua kalangan profesional.  Ya, Beni Wahju sudah tiada,  tetapi semoga semangat dan dedikasi kepada profesi dan tanah airnya masih tetap hidup dalam jiwa kita.  Waktu berjalan terus dan kita masing-masing tetap harus menjalani kehidupan kita sampai saatnya kita dipanggil olehNya.

Insya Allah kita akan berjumpa kembali Kang Beni.

Jakarta, Januari 2013

Rozik Boedioro Soetjipto

Leave a comment