By Kosim Gandataruna
Sudah setahun berlalu, sejak dunia pertambangan nasional kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Bapak H. Beni Nurtjahja Wahju, yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Beni Wahju, atau Pak Beni saja, adalah seorang tokoh yang telah banyak berjasa bagi dunia pertambangan Indonesia. Beliau telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya bagi kemajuan sektor pertambangan nasional, bahkan hingga beberapa hari sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya. Walau mungkin sebagian besar perjalanan kariernya telah diabdikannya kepada perusahaan pertambangan asing, tapi saya dapat bersaksi bahwa jiwa beliau adalah jiwa nasionalis sejati yang kuat. Banyak predikat yang dapat kita berikan kepada Pak Beni, salah satunya adalah bahwa beliau adalah seorang profesional yang menguasai penuh ilmunya (berkat pengalaman lapangannya yang luas serta kegemaran membacanya yang intens), dan seorang pendekar yang berkata benar dan berani menyatakan pendapatnya serta berjuang secara terbuka di forum manapun kepada siapapun juga.
Contoh yang menonjol dari sifatnya yang terakhir ini dibuktikan ketika Bapak Amin Rais, mantan Ketua MPR RI, melalui berbagai forum yang kemudian disiarkan secara luas oleh mass media, menyatakan kesangsiannya akan manfaat investasi pertambangan asing bagi bangsa dan negara, bagi kesejahteraan masyarakat setempat, bagi kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta kecurigaan beliau akan tindak-tanduk mereka yang dinilainya tidak lurus. Di saat itulah Pak Beni bersama Bapak Sutaryo Sigit, “icon”-nya sektor pertambangan nasional yang paripurna, menghadap Bapak Amin Rais secara langsung guna menyampaikan kebenaran-kebenaran tentang keberadaan dan kemanfaatan PMA di bidang pertambangan bagi pembangunan perekonomian nasional, bagi pembangunan daerah-daerah terpencil dan terbelakang, bagi masyarakat sekitar, maupun dalam penjaminan kelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup di sekitar wilayah kerjanya, serta sanggahan-sanggahan tentang berbagai sinyalemen negatif yang telah dilontarkan Bapak Amin Rais. Berhasil atau tidak upaya kedua tokoh itu bukanlah masalah. Yang relevan adalah upaya nyata dari kedua tokoh kita itu untuk meluruskan berbagai kekeliruan langsung ke jantung penyandangnya.
Kepribadian Pak Beni memang sangat mengesankan. Sifat menak-Sunda-dari -Cirebon-nya yang halus lembut, dengan senyum khasnya yang selalu tersungging di bibirnya, sesungguhnya menyembunyikan hati beliau yang kokoh bagai karang. Di balik sopan santunnya dalam bertutur-kata serta kepala-dinginnya dalam berargumentasi, sesungguhnya tersimpan tekad yang kuat bagai baja. Intelektualitasnya tergambar dari kemampuannya untuk menulis serta dalam kemahirannya untuk menyatakan pendapat secara sistematis, jelas dan masuk akal. Sifat kepemimpinannya terbukti dari keterbukaannya dalam berkarya dan kemampuannya untuk memotifasi rekan-rekan seperjuangannya, serta dari hasil-hasil yang dicapai oleh berbagai organisasi yang dipimpinnya.
Di lingkungan masyarakat pertambangan kita, Pak Beni dikenal sebagai salah seorang tokoh Asosiasi Pertambangan Indonesia (API) atau Indonesian Mining Association (IMA), dan memegang tampuk pimpinan organisasi itu dalam masa-masa yang paling sulit bagi keberlangsungan usaha para anggotanya. Dalam periode yang demikian itu, melalui “all out effort”-nya berbagai prestasi besar telah beliau capai, khususnya di dalam menyelesaikan berbagai hambatan hukum dan birokrasi yang amat rumit yang dihadapi oleh para pelaku usaha pertambangan. Beliau juga telah berjasa bagi penggalangan kerjasama di sektor mineral di antara negara-negara Asean, melalui kepeloporan dan kepemimpinannya dalam Asean Federation of Mining Association (AFMA). Dalam berbagai forum yang diselenggarakan oleh federasi ini, seperti seminar-seminar dan konperensi-konperensi regional atau internasional, Pak Beni secara aktif dan konsisten senantiasa mempromosikan kepentingan sektor pertambangan Indonesia.
Kehidupan pribadi Pak Beni juga sama suksesnya. Kebetulan saya dan keluarga saya mengenal keluarga Pak Beni cukup dekat. Istrinya (Ibu Soffie) adalah teman baik dari istri saya (almh), dan teman saya sendiri juga, sejak masa sekolah menengah di Bandung di tahun 50-an. Namun, dengan Pak Beni, pertemuan pertama saya baru terjadi di tahun 1963 di rumahnya Ibu Soffie, di Washington DC, USA, semasa ayahanda Ibu Soffie menjabat sebagai Atase Kebudayaan RI di sana. Saya berkunjung ke Washington DC sebagai turis tanpa bekal ketika saya kuliah di University of British Columbia, di kota Vancouver, Canada. Mendengar bahwa ayahanda Ibu Sofie saat itu bertugas di Washington, saya nekad mendatangi rumah kediamannya untuk sekedar “say hallo” kepada Ibu Soffie sebagai seorang teman lama. Di situlah untuk pertama kalinya saya bertemu Pak Beni, di mana beliau sedang bertandang. Cerita yang dituturkan Pak Beni sendiri saat itu adalah bahwa, ketika beberapa hari sebelumnya Pak Beni tiba di Washington dalam rangka tugas belajar dari Pemerintah RI, bertemulah beliau dengan Ibu Soffie. Jatuh cinta satu sama lain pada pandangan pertama, rupanya itulah “the luckiest day in their lifes”, karena sejak saat itu mereka tidak pernah berpisah lagi. Saya menyaksikan dengan perasaan senang bahwa Pak Beni dan Ibu Soffie hidup berumah-tangga dan beranak-pinak dalam harmoni dan kebahagiaan hingga akhir hayat Pak Beni. Kehidupan pribadi Pak Beni memang sangat layak untuk dijadikan contoh, suri tauladan bagi siapa saja yang mendambakan kehidupan yang damai dan bahagia.
Kepergian Pak Beni dirasakan sebagai kehilangan besar oleh komunitas pertambangan Indonesia. Beliau berpulang ke hadirat Illahi ketika perjuangannya untuk menciptakan iklim investasi di sektor pertambangan nasional yang lebih kondusif serta berkepastian hukum masih jauh panggang dari api, walau sesungguhnya telah cukup banyak yang beliau telah capai dalam perjuangan ke arah itu semasa hayatnya. Saya merasa beruntung untuk mengenal dan menjadi teman seperjuangan Bapak Beni Wahju di forum API/IMA, khususnya di bidang hukum pertambangan yang sangat menentukan bagi baik buruknya iklim investasi dan iklim berusaha di sektor pertambangan nasional.
Jasa-jasa beliau bagi dunia pertambangan Indonesia tidak akan pernah kita lupakan. Semoga obor cita-cita dan semangat beliau tidak akan pernah padam, dan akan senantiasa menjadi penerang jalan perjuangan insan-insan pertambangan yang ditinggalkannya, menuju kejayaan sektor pertambangan nasional, mewujudkan kemanfaatan sumberdaya mineral bagi sebessar-besar kemakmuran rakyat Indonesia, sesuai dengan amanat Konstitusi.
Dan semoga arwah beliau bersemayam di istana kedamaian di Sisi Tuhan YMK.
Jakarta, 25 Desember 2012
Kosim Gandataruna

