The Indonesian Gold Crush


By Bondan Winarno

Beni Wahju adalah sebuah nama besar bagi saya. Seorang presiden direktur dari sebuah perusahaan tambang internasional pastilah bukan figur sembarangan. Sudah lama saya mendengar namanya, tetapi baru berjumpa pertama kali pada sebuah diskusi di kantor Direktur Jenderal Pertambangan Umum pada tahun 1997. Ia sudah pensiun dari PT Inco ketika itu. Tetapi, aura dan wibawanya tetap terasa.

“Saya mewakili Pak Rumengan Rusu yang hari ini berhalangan hadir,” katanya sambil menjabat tangan saya. Bagi saya, nama Rumengan Musu, Presiden Direktur PT Inco,  justru masih asing. Malah nama Beni Wahju yang justru acapkali saya dengar.

 Hari itu ada diskusi yang dipimpin Kuntoro Mangkusubroto, Direktur Jenderal Pertambangan Umum, (sekarang Kepala UKP4), untuk membahas artikel saya yang baru saja dimuat di The Asian Wall Street Journal, berjudul All That Glitters: The Indonesian Gold Crush. Sebagian besar peserta diskusi adalah profesor di bidang pertambangan serta praktisi senior pertambangan, seperti Pak Soetarjo Sigit, dll. Para profesor yang hadir semula menduga bahwa saya adalah seorang insinyur tambang. “Anda lulusan mana, sih? Kok saya belum pernah dengar?” tanya Prof. Dr. R.P Koesoemadinata, pakar geologi ITB. Mereka heran bahwa seorang non-tambang dapat menulis seperti itu.

Diskusi itu menyimpulkan bahwa para senior di bidang pertambangan di Indonesia harus mampu berkomunikasi dengan para wartawan dalam bahasa awam yang sederhana dan mudah dimengerti agar para wartawan pun dapat lebih gamblang membuat berita bagi masyarakat.

Sebelum berpisah, Pak Beni mengatakan: “Kapan-kapan kita makan siang dengan Pak Rumengan Musu, ya? Kalau kita semua akrab kan jadi enak? Urusan rumit pun jadi gampang.” Gestur yang sangat akrab dan hangat.

Tidak lama setelah itu, jalan hidup saya bersentuhan dengan Pak Beni. Pada tahun 1999, saya direkrut menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Pusaka Alam Nusantara. Sebagai founding chairman YPAN, Pak Beni-lah yang melakukan final interview dan mengambil keputusan untuk mengangkat saya.

Pak Beni hampir selalu hadir dalam rapat-rapat Yayasan. Pada waktu itu, YPAN benar-benar sedang dipacu agar dapat mandiri menjadi TNC’s national organization dalam waktu tiga tahun. Pandangan-pandangan Pak Beni yang selalu dikemukakan dengan santun dan berbumbu humor merupakan masukan yang penting bagi kemajuan YPAN.

Menjelang akhir 1999, saya diundang TNC untuk menghadiri konferensi di Miami, Florida. Pak Beni pun menghadiri konferensi tersebut.  Kami tidur sekamar di hotel. Ini memang standard operating procedures (SOP) di TNC – seperti juga di NGO lainnya. Pak Beni pun dengan besar hati tunduk pada aturan yang sungguh tidak nyaman bagi seorang yang pernah mengenyam perks sebagai top executive. Bayangkan, penerbangan dari Jakarta ke Miami yang hampir 24 jam dengan dua kali transit itu pun harus ditempuhnya di kelas ekonomi.

Sebetulnya, saya sering berada dalam compromising situation seperti ini sebelumnya. Dalam pengalaman saya, kebanyakan para mantan pejabat memilih untuk memakai uang sendiri guna meng-upgrade kelas di penerbangan, serta membayar sendiri untuk kamar pribadi – demi kenyamanan dan prestise. Tetapi, Pak Beni dengan rela menerima aturan yang berlaku, dan men-downgrade dirinya agar setara dengan yang lain. Bagi saya, justru inilah yang membuat Pak Beni seorang primus inter pares.

Pada pembukaan konferensi tersebut, Pak Beni dipanggil ke panggung untuk menerima anugerah Oak Leaf Award. Anugerah ini diberikan TNC kepada lembaga atau perorangan yang telah memberikan dampak signifikan terhadap upaya pelestarian sumber daya alam.

Kami hanya dua malam tidur sekamar di Miami, karena Pak Beni memang tidak perlu menghadiri keseluruhan sidang. Pada hari terakhir, Pak Beni sudah bangun subuh dan bersiap berangkat ke bandara.

“Lho, ini kan masih pagi sekali, Pak Beni? Belum saatnya berangkat ke bandara sekarang,” kata saya. “Wah, lebih enak berangkat pagi, supaya tidak terburu-buru,” kata Pak Beni. Saya lihat matanya merah, dan agaknya ia kurang tidur semalam sebelumnya.  Saya juga tidak sempat bertanya apakah itu penyebab kepergiannya lebih pagi.

Karena saya baru terbangun, saya lepas Pak Beni keluar kamar hanya dengan berjabat tangan. Beberapa menit kemudian, setelah “ruh” saya terkumpul, barulah saya menyadari apa yang sangat mungkin telah menjadi penyebab keberangkatan Pak Beni mendahului waktunya. Rupanya, saya mendengkur terlalu keras semalaman, sehingga Pak Beni tidak bisa tidur. Saya yakin akan hal ini karena saya memang mempunyai reputasi buruk dalam hal ini. Seorang direktur TNC yang pernah sekamar dengan saya bahkan mem-broadcast “prestasi” saya itu sebagai Olympic gold medallist in snoring.

Pak Beni, sebaliknya, tidak mempermalukan saya. Dia memilih diam, sekalipun dia tentu sangat menderita karena dengkuran keras saya semalaman, dan menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri.

Sleep in peace, Pak Beni. I won’t disturb you again.

Leave a comment