Oleh: Amanda Katili Niode
“Minta pandangan oom Beni,” demikian selalu pesan ayah saya, John Ario Katili, jika saya bertanya tentang berbagai hal terkait sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
“Jangan lupa undang oom Beni dan tante Soffie,” kata-kata itu diucapkan ibu saya, Iliana Katili Uno, setiap kami merencanakan acara kekerabatan.
Kedekatan keluarga kami dengan oom Beni dan tante Soffie memang jauh melebihi keakraban dengan sanak saudara.
Ketika masih remaja saya heran, mengapa selalu harus konsultasi dengan oom Beni? Bertahun-tahun kemudian saya paham, Beni Nurtjahja Wahju ternyata bukan hanya seorang praktisi pertambangan yang kemudian menjadi pemimpin perusahaan multinasional. Ia seorang manusia semesta, a renaissance man, yang mahir dalam berbagai bidang dan mempunyai pengetahuan yang sangat luas.
Bermula di Bandung
Ketika J.A. Katili meniti karier sebagai dosen di ITB tahun 50an, Beni Wahju sempat menjadi asisten nya. Oom Beni bukan sembarang asisten, karena setiap kembali dari kampus atau dari studi lapangan, ayah bercerita pada ibu: “Beni itu giat dan cemerlang. Masih sangat muda tetapi jiwa kepemimpinannya sudah terlihat. Meskipun dari keluarga terpandang, dia sangat santun.”
Oom Beni menjadi asisten ahli J.A. Katili ketika masih mahasiswa. Selain mengajar, menurut oom Beni ia juga menyiapkan bahan kuliah dan membantu meneliti batu-batuan serta memetakannya di Sumatera. Penelitian itu merupakan masukan penting untuk disertasi J.A. Katili di ITB tahun 1960: Geological Investigations on the Lassi Granite Mass Central Sumatera.
Ilmu Kebumian membuat ayah dan oom Beni tidak pernah putus kontak meskipun keduanya berpindah kota ataupun berpindah kantor. Sesibuk apapun J.A. Katili dalam pekerjaannya baik sebagai Guru Besar ITB, Deputi Ketua LIPI dan Direktur Jenderal Pertambangan maupun Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Duta Besar RI di Moscow, ia selalu mencari waktu agar mereka bisa bertemu.
Ibu saya mengenang perjumpaan pertamanya dengan orang tua oom Beni, Bapak Raden Wahjoe Argawinata yang ketika itu Residen Bogor dan ibu Isoh Habsah Wahjoe. Ibu dan orang tuanya hadir di perhelatan pernikahan kakak oom Beni, Herry Djoehariah Wahjoe, dengan Anwar Wardoyo, yang kemudian menjadi pejabat di Kementerian Luar Negeri.
Ketika masih tinggal di Gorontalo, Keluarga Uno berteman dekat dengan Keluarga Wardoyo. Pernikahan putri Residen Bogor itu dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia Bung Karno yang didampingi Ibu Hartini.
“Mama juga sudah kenal tante Soffie dari tahun 60an di Washington D.C.,” sambung ibu saya.
Perjalanan ke Amerika
Tahun 1963 sebagai Pembantu Rektor ITB dan juga Direktur Lembaga Geologi dan Pertambangan Nasional, LIPI, J.A. Katili mendapat kesempatan untuk mengadakan perjalanan ilmiah ke beberapa universitas unggulan di Amerika Serikat. Masa itu, seperti juga seharusnya sekarang, tidak lazim seorang isteri mendampingi suami bertugas.
Namun ayah berupaya keras mengajak ibu karena sejak awal menikah ibu saya sudah mewanti-wanti: “aku mendukung tugas-tugas ilmiahmu dengan sepenuh hati, silahkan melakukan perjalanan ke manapun di dunia ini, tetapi kalau ke Amerika Serikat aku harus ikut.”
Tidak terbayang wajah ayah ketika dia mengatakan pada Kentucky Contract Team penggagas perjalanan tersebut: ”saya tidak pergi kalau tidak bersama isteri.”
Akhirnya Iliana Katili Uno dan John Ario Katili berangkat ke Amerika Serikat diiringi keheranan bule-bule yang berkata: “He must love his wife very much.”
Dalam perjalanan selama tiga bulan mereka berkunjung ke berbagai universitas dan institusi di negara bagian California, Nevada, Colorado, Kentucky, Pennsylvania, New York, Massachusetts, New Hampshire dan Washington D.C.
Yang menyenangkan di Washington D.C. bukan hanya acara yang diikuti J.A. Katili mewakili Pemerintah Indonesia, yaitu perayaan 100 tahun United States National Academy of Sciences dengan sambutan dari Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy.
Tidak kalah berkesan adalah jamuan makan malam dari Bapak Doedi Soemawidjaja Atase Kebudayaan di KBRI Washington dan Ibu Nani Soewangsih. Setelah berbulan-bulan menjelajah dunia ilmu di Amerika, memeras otak tanpa ada kesempatan menanak nasi, sajian prasmanan dengan ragam kuliner Nusantara dan perhatian Keluarga Soemawidjaja sangat menyentuh ayah dan ibu saya.
Duka mendalam
J.A. Katili terkena gangguan pada pembuluh darah, Deep Vein Thrombosis, dan harus dirawat. Om Beni dan tante Soffie yang berkunjung serasa tidak percaya melihat ayah yang selalu aktif harus berdiam di rumah sakit. Ketika ayah berpulang tahun 2008 dalam usia 79 tahun, om Beni sangat berduka. Di hadapan jenazah J.A. Katili ia memeluk saya dan kemudian ibu sambil berkata: “I am speechless.”
Delapan bulan kemudian, keluarga kami kembali berduka ketika Omar Taraki Niode putra sulung saya dan Mochtar Niode dipanggil oleh penciptanya dalam usia 24 tahun. Dalam deraian air mata kesedihan saya masih ingat bagaimana oom Beni dan tante Soffie terus menerus hadir dalam doa yang kami selenggarakan sampai 40 hari.
Oom Beni tidak henti memberikan perhatian ketika kami mendirikan Omar Niode Foundation untuk bergiat dalam kegiatan sosial dan meningkatkan kualitas sumber daya masusia Indonesia di bidang pertanian, pangan dan kuliner, yaitu bidang yang dipelajari anakda Omar sampai ia memperoleh gelar MSc. dari University of California, Davis.
Kepergian oom Beni di Januari 2012 menambah dalam kepedihan yang tidak pernah sirna karena kepergian orang-orang yang saya sayangi. Apalagi ketika mendengar cerita tante Soffie bahwa di hari-hari terakhir hidupnya oom Beni sedang sibuk mempersiapkan penulisan buku untuk menghormati J.A. Katili.
You don’t get over the loss of loved ones, you just learn to live with the pain.
Dengan bersandar pada Allah SWT yang menentukan perjalanan umatNya, kami mencoba menikmati denyut kehidupan ini sambil menghargai hari-hari baik yang selalu datang. Di saat seperti itulah saya kadang berkilas balik.
Soroako
Pada tahun 1987 saya tinggal di Soroako selama 3 bulan untuk melakukan penelitian disertasi Ph.D bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di University of Michigan Ann Arbor.
Soroako menjadi pilihan karena dibantu oom Beni dan dorongan suami saya yang pernah bekerja di sana selama 2 tahun. Sebagai sarjana mesin yang baru lulus dari ITB, mine maintenance adalah tantangan yang menarik. Mimi, demikian panggilannya, kemudian menempuh pendidikan lanjutan untuk Master of Engineering Management dari George Washington University di Washngton D.C.
Mimi berharap saya mendapat kemudahan dalam mencari data yang tidak bersifat rahasia maupun informasi teknis dari INCO untuk penelitian yang berjudul: Evaluation of Environmental Management of One Nickel Mining Company in Indonesia with Special Emphasis on Water Quality.
Tinggal di Wisma D Single selama 3 bulan merupakan pengalaman langka dan bermanfaat karena adanya waktu untuk diskusi dengan para praktisi. Setiap akhir minggu oom Beni dan tante Soffie datang menjemput saya dengan jeep Range Rover 4WD untuk menginap di Salonsa. Di rumah panggung mereka yang asri saya bebas duduk bersila di sofa berbantal tebal, menikmati makan enak di meja bertaplak putih tebal dengan piring mewah, sambil bercerita tentang berbagai hal terutama mengenai Canada.
Obrolan-obrolan itu membuat keinginan yang memuncak untuk pergi lagi ke Canada, negara yang pernah saya kunjungi 5 tahun sebelumnya. Beberapa tahun kemudian ketika bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, keinginan itu terwujud melalui program Canada-ASEAN Business Council, tentunya dengan rekomendasi dari oom Beni.
Jalinan Jejaring
Bukan hanya sekali itu oom Beni membantu saya dalam merambah ilmu. Berbagai undangan kepada seorang peneliti muda untuk menjadi pembicara di mancanegara tidak semuanya bisa dipenuhi dengan biaya pemerintah. Mungkin ada beberapa teman atau mantan anak buah om Beni yang menghela napas panjang karena sering diminta menolong Amanda agar bisa menghadiri seminar atau lokakarya tentang lingkungan hidup.
Meskipun tidak sesering ketika masih sekolah dan baru mulai bekerja, “minta pandangan oom Beni” berlanjut sampai saya menjadi Staf Khusus Menteri Negara Lingkungan Hidup dan kemudian Koordinator Komunikasi, Informasi dan Edukasi di Dewan Nasional Perubahan Iklim.
Kesibukan lain saya sebagai ketua The Climate Reality Project Indonesia, organisasi yang didirikan oleh Al Gore, Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat dan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian juga tidak luput dari pantauan oom Beni. Sebanyak 225 climate leaders TCRP Indonesia yang semuanya bekerja suka rela telah mendapat pelatihan dari Al Gore untuk komunikasi perubahan iklim.
Karena jaringan oom Beni dan tante Soffie sangat luas banyak kegiatan yang saya lakukan sekarang terinspirasi dari semangat keduanya.
Tante Soffie banyak membuka wawasan saya tentang kerja sosial untuk pendidikan dan kebudayaan. Di Soroako setumpuk buku dipelajarinya tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bertahun-tahun kemudian, di Jakarta, dengan semangat ia berkisah tentang perjuangannya yang tanpa pamrih menjaga Indonesian Heritage.
Di semua pembicaraan santai dengan Tante Soffie, oom Beni kadang menyambung dengan informasi tambahan yang herannya selalu sejalan dengan topik diskusi. Pasangan ideal ini tidak pernah lepas mendukung kegiatan masing-masing dalam berbagai tataran.
Harta Bumi Indonesia
Ketika tim penulis Buku Biografi J. A. Katili yang berjudul Harta Bumi Indonesia bekerja mengumpulkan informasi, ayah saya sama sekali tidak terlibat namun beliau seperti biasa berpesan” minta pandangan oom Beni.”
Ayah berasal dari keluarga sederhana di Gorontalo, sehingga ketika kuliah di Bandung ia menulis untuk menambah uang saku. Tulisannya kerap dimuat di Mimbar Indonesia, majalah bergambar independen yang diterbitkan untuk pembangunan politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan.
Redaksi Mimbar Indonesia ketika itu terdiri dari banyak tokoh antara lain Prof. Mr. Dr. Soepomo perumus Undang-undang Dasar 1945 dan H.B. Jassin kritikus sastra yang juga berasal dari Gorontalo.
H.B . Jassin lah yang menempa J.A. Katili agar tulisan-tulisannya tidak kering dan terlalu ilmiah. Sehingga kemudian muncul berbagai artikel dengan isi yang informatif serta judul-judul yang ketika itu tidak biasa, seperti:
- Indonesia, Eldorado Geologi
- Krakatau, Pipa Api Dalam Laut
- Tenggelamnya Atlantis, Benua Khayalan Ciptaan Plato
- Peranan Perubahan Iklim dan Evolusi Manusia
- Tragedi di Sekitar Mount Everest
- Mungkinkah Bumi Indonesia Mengandung Uranium ?
- Ciptaan-ciptaan Besar dalam Senipikir Pengetahuan Alam
Tentang tulisan-tulisan itu oom Beni bertutur untuk buku Harta Bumi Indonesia:
“Kata kawan-kawan di SMA, bahasa Inggris saya bagus sehingga cocok jadi diplomat mengikuti jejak saudara saya yang sudah bekerja di Kementerian Luar negeri. Akan tetapi karena tulisan-tulisan J.A. Katili, saya terdorong ingin tahu lebih banyak mengenai alam, bumi tempat kita tinggal. Saya memilih jurusan Geologi ketika masuk FIPIA UI (sekarang ITB) di Bandung tahun 1955.
Keingintahuan oom Beni tentang alam tidak lekang dari hati, sampai ia meninggalkan bumi yang sangat dicintainya ini.
Saya sangat kehilangan dan tidak bisa lagi “minta pandangan oom Beni” tentang berbagai hal seperti selalu diingatkan ayah saya. Namun kata-kata Dr. Robert Decker ahli gunung berapi dari Amerika, rekan Beni Wahju dan J.A. Katili, membuat saya bersyukur sempat belajar dari tiga tokoh kebumian tersebut.
Decker yang pernah menjadi President of the International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior menulis:
“I have learned more in Indonesia than I have taught. I feel most fortunate to have been able to come to such a beautiful country, to make friends with such fine people, and to work with such talented colleagues.”