The Father of Indonesian Mining


By Tony Wenas

Saya pertama kali  kenal dengan pak Beni Wahju pada sekitar akhir tahun 2001 sewaktu saya baru saja bekerja di industri pertambangan yaitu di PT Freeport Indonesia. Saat itu Pak Beni menjabat sebagaiKetua Umum Indonesian Mining Association, dan kami membahas salah satu draft peraturan-perundangan yang akan berdampak pada sektor pertambangan. Kesan pertama saya, terus terang, adalah Pak Beni terlihat agak angkuh, namun setelah saya amati kesan tersebut muncul karena memang Pak Beni tidak banyak bicara. Beliau lebih akan selalu berusaha mendengarkan berbagai pihak menyampaikan pendapatnya, dan pada saatnya barulah beliau akan berbicara, dan acara penyampaian beliaupun selalu lengkap dengan latar belakang namun demikian tetap ‘to the point’ dan singkat namun padat.

Selanjutnya saya sangat sering berinteraksi dengan Pak Beni, terutama dalam membahas masalah-masalah pertambangan di IMA. Beda usia saya dengan Pak Beni lebih dari 25 tahun, namun Pak Beni tidak segan-segan untuk bertanya kepada saya dan meminta pendapat saya untuk beberapa hal. Hal inilah yang membuat saya sangat menghormati Pak Beni. Saya juga banyak belajar dari beliau hal-hal mengenai pertambangan, baik dari sejarah pertambangan, struktur geologi, bentuk-bentuk pertambangan di dunia, maupun hal-hal lain dalam mengelola pertambangan.

Pada tahun 2004, Pak Paul Coutrier mengundurkan diri sebagai Direktur Eksekutif IMA, dan untuk mengisi kekosongan tersebut Pak Beni secara spontan berinisiatif untuk menunjuk Anang Noor, Ketut Wirabudi dan saya, yang ketiganya relative jauh lebih muda dibandingkan dengan para pengurus IMA lainnya, untuk menjadi pelaksana tugas. Hal ini menunjukkan bahwa Pak Beni  tidak mempersoalkan masalah senioritas dalam melakukan tugas-tugas di IMA.

Suatuhari di tahun 2004, IMA diundang untuk hadir dalam Asia Pacific Mining Conference di Manila, di salah satu kesempatan Pak Beni kemudian berkata kepada saya: “You harus berangkat ke Manila untuk memberikan pemaparan mengenai Grasberg”, saya lumayan terkejut dan berusaha menolak dengan halus dengan mengatakan bahwa saya harus minta ijin atasan saya dahulu, lebih terkejut lagi saya karena Pak Beni saat itu langsung menelepon atasan saya untuk mendapat kan ijin tersebut, dan memang didapatkannya.

Saat kami mengikuti conference tersebut di Manila, di sana saya melihat dan mendengar secara langsung bagaimana Beni Wahju sangat dihormati secara Internasional karena nama beliau seringkali disebut-sebut dan bahkan Chairman Asean Federation of Mining Association saat itu Phillip Romualdez menyebut beliaus ebagai “the Father of Indonesian Mining”. Ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami.

Suatuhari di awal tahun 2010, saat itu saya sedang dalam proses untuk menjadi Presiden Direktur PT INCO Tbk., Pak Beni menelepon saya dan meminta bertemu dengan saya, saya kemudian mendatangi kantor Pak Beni dan kami disana berdiskusi selama sekitar 2 jam, dimana Pak Beni kemudian menceritakan kepada saya sejarah PT Inco dengan sangat lengkap dan semua dilakukan tanpa menggunakan catatan sama sekali. Saya sangat menghargai dan tidak akan melupakan peristiwa ini, dan selanjutnya selama saya menjadi PresidenDirektur PT Inco Tbk, secara berkala Pak Beni terus memberikan informasi dan saran-saran yang saya perlukan kapan saja saya membutuhkannya.

Pak Beni adalah seorang yang tegas, memiliki prinsip namun beliau tetap akan selalu menjagahubungan horizontalnya. Saya tidak mau memuji-muji Pak Beni, namun saya memang memandang Pak Beni sebagai salah satu tempat saya menimba ilmu khususnya di bidang pertambangan, memang terkadang kami berbeda pendapat mengenai beberapa hal sebagaimana biasanya antara para senior dengan kami yang lebih muda, namun perbedaan pendapat selalu dihargai oleh Pak Beni dan beliau dapat memakluminya, dan kami tetap akur dan bahu membahu dalam memperjuangkan kemajuan industri pertambangan. Dalam banyak kesempatan saya sering mengunjungi kediaman Pak Beni baik diundang maupun atas inisiatif sendiri.

-000-

Leave a comment