By Anna Sigit
Hari Sabtu, 21 Januari 2012, saya sedang keluar kota bersama teman-teman alumni SMA, ketika kemudian masuk pesan singkat di handphone saya dari Oom Joe Widartoyo, mengabarkan berita duka berpulangnya oom Beni. Tentu saja reaksi saya sangat kaget, karena rasanya saya tidak mendengar kabar bahwa oom Beni sedang sakit. Seingat saya, sekitar akhir tahun 2010, oom Beni terkena light stroke, tetapi sudah sehat kembali. Berita duka itu kemudian saya teruskan kepada Ibu dan Indri, agar mereka dapat segera melayat ke rumah duka. Saya sendiri sangat menyesal karena tidak bisa datang melayat.
Saya mengenal oom Beni sejak kecil, tapi tidak ingat persis sejak kapan. Tapi saya ingat betul ketika oom Beni dan tante Soffie, sebagai pengantin baru, kembali dari Amerika dan berkunjung ke rumah kami di Jl. Titiran, Bandung. Barangkali itu sekitar tahun 63 atau 64an. Kemudian tahun 1966, kami pindah dari Bandung ke Jakarta dan setahu saya, Oom Beni kemudian juga pindah ke Soroako seiring dengan dibukanya tambang nickel dibawah PT. Inco. Setelah itu, walaupun tidak sering, Oom Beni bersama tante Soffie sesekali masih berkunjung ke rumah, biasanya pada saat setelah Lebaran.
Dalam ingatan kami, kakak beradik, sosok Oom Beni adalah sosok yang gagah dan selalu tersenyum. Dengan tante Soffie yang cantik dan anggun, rasanya pasangan ini adalah pasangan yang serasi sekali. Mereka selalu penuh atensi. Masih jelas dalam ingatan saya, ketika pada tahun 2006, Bapak sakit dan berada di ICU, Oom Beni langsung menelpon saya begitu mendapat kabar tersebut. Padahal saat itu oom Beni dan tante Soffie tengah berada di Siem Reap, berlibur menikmati Angkor Wat. Setibanya di Jakarta, mereka langsung menjenguk Bapak. Demikian juga, ketika Bapak dirawat beberapa bulan di Singapura, beberapa kali beliau menyempatkan datang untuk menjenguk Bapak.
Hingga saat ini Bapak masih sakit dan karena stroke Bapak juga tidak dapat berkomunikasi. Tetapi ketika saya menyampaikan cerita dari tante Soffie tentang saat-saat terakhir oom Beni, beliau bereaksi dengan memandang tajam mata saya sambil mengernyitkan dahinya dan sesekali menggelengkan kepalanya. Jadi tampak sekali bahwa beliau sangat prihatin dan turut merasa kehilangan. Seandainya saja, saat ini Bapak tidak menderita stroke dan dapat berkomunikasi, pasti akan banyak sekali cerita dari Bapak tentang Oom Beni.
Selamat jalan Oom…..Mudah-mudahan Allah memberikan tempat yang terbaik disisi-Nya…Amin