Masa Malili sampai Soroako tahun 1986


By Wisnu Muhammadiah

Pada waktu di ajak jalan-jalan oleh Om saya yang bekerja di kantor Bea Cukai Malili di tahun 1969, jalan darat yang bisa digunakan hanya sampai di Wotu. Selanjutnya untuk ke Malili kita menggunakan perahu yang menggunakan layar dibantu mesin katingting.

Di pangkalan perahu Wotu itulah sewaktu boarding saya mengamati satu tim kira-kira 4-5 orang yang berseragam coklat muda, dengan celana dan baju lengan pendek (yang setahun kemudian saya baru tahu bahwa salah satunya adalah Pak Beni). Cukup lama juga perjalanannya karena mulai dari sore  sudah harus dipangkalan perahu menunggu air pasang muara Wotu dan baru bisa tiba di Malili pada keesokan paginya sekitar jam 7- 8.

Pada kunjungan kedua ke Malili dan bekerja di Taylor Woodrow International Ltd  (TWI) saya ditempatkan sebagai Crew untuk Bristow Helicopters. Disitulah saya mengingat beliau yang pernah seperahu dari Wotu, karena Pak Beni sering ke Helipad dan melihat biasa bercakap-cakap dengan Pilot dan Engineer yang kebetulan semuanya Bule.

Sampai pada suatu sore saya di datangi beliau dan meminta bantuan untuk menemani putera Mr. Ray Burkhart yaitu Peter (kira-kira berusia 3-4 tahun). Karena orang tuanya akan ke pesta di Club House malamnya dan tentunya tidak bisa ditinggal sendiri. Pikir-pikir, walau lembur tanpa upah tidak masalah karena ini peluang baik untuk kenal lebih dekat dengan para boss. Jadi saya iyakan saja.

Waktu itu belum ada sepeda motor yang bisa dipinjam pakai,  jalanan di Malili pada malam hari masih gelap-gulita dan warga hanya mengandalkan lampu petromax untuk penerangan didalam rumah sampai sekitar jam 10 malam. Karenanya selepas Shalat Maghrib, dengan berbekal senter saya segera meninggalkan rumah dari kompleks Bea & Cukai di Langaru. Letak tempat tinggal kami lumayan jauh dari Base Camp INCO. Sehingga untuk mengejar waktu saya mesti  jalan kaki dengan  bergegas. Yang paling repot bila hujan, karena  tanah langsung lengket di sepatu sehingga ayunan langkan menjadi berat dan sangat lamban. Maklum waktu itu  sebagian mesti melewati jalan setapak dan jalan tanah. Saya juga harus  menapaki dua bukit kecil untuk sampai ke Arcon House kediaman Mr. Burkhart. Pulangnya lebih seru, karena sudah larut malam sehingga selepas dari pos security dekat Hospital hampir selalu  tidak bertemu dengan seseorang pun sepanjang  jalan sampai tiba dirumah. Saya kira “ makhluk halus “ di puncak bukit  (belakang  kantor Camat Malili) yang dikenal angker masa itu sudah mengenal saya saban lewat disitu (konon di daerah tersebut banyak korban jiwa sewaktu Malili digempur oleh Permesta). Setiap melintas di daerah itu pada tengah  malam  saya selalu ber konsentrasi berdo’a ke YMK kiranya dilindungi dan tidak diganggu oleh makhluk halus disitu. Mana suasanya lingkungan sekitar yang di lalui masih berupa hamparan ilalang jadi mesti waspada juga karena sering ditemui ular hitam melintas. Kalaupun berteriak minta tolong tidak ada lagi orang yang terjaga dan mendengarnya. Lagipula belum ada rumah di sekitar daerah angker itu.

Setelah saya di promosi sebagai Jr. Staff dan bekerja di Field Camps peran Baby Sitter menjadi terhenti dan konon digantikan oleh mendiang Pak Boron. Walhasil setelah di Field Camp pemberitahuan Gaji Baru sebagai Jr. Staff bukan ditanda tangani oleh Work Superintendent TWI yaitu Mr. Bert Rainer yang mempromosikan saya. Tapi oleh Pak Beni Wahju. Kemudian pada saat Proyek TWI berakhir dan terjadi PHK massal terhadap karyawan lapangan TWI. Saya dititip secara khusus oleh Mr. Ray Burkhart ke Pak Ali Rasahan untuk di transfer ke INCO sebagai pegawai tetap. Kemudian saya ditempatkan di Dept. Engineering yang di gawangi oleh Mr. Dough Heggie dan bergabung dengan Staff lain yang sudah duluan seperti Pak Usman Fatwa.

Pada Kwartal ke II tahun 1986,  tepat setelah 17 tahun bekerja di PT INCO. Perusahaan menawarkan ERP (Paket Pensiun Dini) ke sejumlah Pegawai. Waktu itu dibuka peluang ke Karyawan lain diluar List ERP.  Namun karena ketahuan ingin mengambil paket  tersebut saya di larang oleh Pak Beni.

Alasan yang saya sampaikan ke Beliau agar bisa lebih mudah mendapatkan layanan Dokter Spesialis Kandungan untuk Nur (Isteri) tidak mempan. Malahan Beliau langsung mengatakan “sudah Wis tidak usah kamu pikirkan kalau itu masalahnya, nanti saya minta Ibu yang menemani Nur ke Dokter Spesialis  di Jakarta“.  Masya Allah, saya sempat terhenyak, betapa mulianya hati  Beliau. Saya merasa malu hati sendiri karena  sama sekali tidak menyangka  akan mendengar  respon seperti itu. Sungguh sangat tepat ungkapan Pak H. Rajab Nambo yang mengatakan dalam Bahasa Bugis “ Iyaro Pak Beni Wahyu Ulawenna Tauwwe”  yang artinya kira-kira ” Pak Beni Wahju adalah sosok Manusia yang terpuji dan sangat mulia “ .

Dari sebab itu untuk sementara waktu keinginan untuk ERP saya coba pendam . Tapi pada waktu Pak Beni dan Pak Usman Fatwa (senior saya) berangkat cuti yang kebetulan waktunya berbarengan.  Saya ke main office dan mengetahui kalau kuota untuk ERP yang di targetkan Perusahaan belum tercapai. Saya jadi kembali terusik dengan kesempatan baik yang sudah di depan mata. Dan kembali  saya teringat petuah orang bijak bahwa dalam mengarungi hidup, kita harus selalu berbekal niat yang tulus (Ikhlas karena Allah); Berikhtiar dan Bekerja dengan sebaik-baiknya  serta selalu  Berdo’a setelah itu pasrahkan diri  kepada  Allah YMK. Supaya langkah apapun yang ditempuh kelak berbuah Kebajikan dan bernilai Ibadah. Sebab sejatinya 3 hal yang menjadi rahasia Allah atas Manusia dari sejak terlahir sampai kembali kepada-Nya yakni  “ Umur, Rezeki dan Jodoh “.

Lagipula dari semua pengalaman terkait dengan karyawan yang  di PHK selama di INCO,  inilah paket terbaik dan popular sebagai  “Golden Shake Hands”. Sementara  kondisi Perusahaan sampai pada akhir tahun 1985 belum pernah meraih keuntungan. Sehingga wajarlah kalau semisal sebuah kapal yang kelebihan muatan dan sedang mengarungi gelombang besar perlu mengurangi bebannya sebagian di pelabuhan terdekat.

Waktu pamit kepada beliau di Juni 1986 saya mohon ma’af atas keputusan yang telah saya ambil. Rasanya itulah garis kehidupan dari YMK ke setiap insan yang telah kita jalani. Demikianlah sekilas untuk mengenang Keluhuran Budi dan Kebajikan-kebajikan Beliau.

Semoga Allah SWT memuliakan dan menyayanginya, Amin 3x.

Lebih dan kurangnya saya mohon ma’af.

Salam hormat.

One thought on “Masa Malili sampai Soroako tahun 1986

  1. Awalnya cerita tentang Om Beni lebih banyak saya dengar dari orang tua saya, Bpk. G.K. Andi Lolo (almarhum), sebagai sosok seorang yang disegani, berwibawa, bijaksana, dan disenangi banyak orang.

    Apa yang ayah saya ceritakan begitulah yang saya temukan pada diri Om Beni. Begitu besar arti seorang Om Beni dimata ayah saya. Saya masih ingat bagaimana adik saya Ebony Andi Lolo dipanggil oleh Om Beni untuk bekerja di Ingold yang waktu dipimpinnya. Hal ini sebagai bentuk perhatian seorang sahabat yang dengan konsisitensi melaksanakan komitmennya. Dan pertemuan terakhir saya dengan Om Beni dan Tante Sofie sekitar tahun 2004 pada acara pernikahan adik saya Ebony. Saya tidak habis pikir bagaimana beliau masih bisa menyempatkan diri hadir dalam acara pernikahan tersebut di tempat yang saya sendiri sulit menjangkaunya. Disitulah pertama kali saya mencium tangan Om Beni (almarhum) dan juga Tante Sofie.

    Pertemuan saya selanjutnya adalah lewat telepon saat mengabarkan tentang meninggalnya ayah saya, saya mendengarkan suara Om Beni yang begitu lembut mengucapkan belasungkawa dan saya mendapatkan informasi bahwa setelah menerima telpon dari saya Om Beni langsung meminta orang segera mengirim karangan bunga ke rumah duka di makassar.

    Pada tahun 2011 kemarin saat saya mendapat tugas di newmont NNT saya mencoba kontak lewat facebook dan dapat balasan dari Tante Sofie, semenjak itu tidak ada lagi kontak sampai khabar meninggalnya Om Beni.

    Pelajaran untuk saya dari Om Beni adalah “ke-Ikhlasan” dalam semua aktifitas kehidupan kita. Setahu saya inilah nilai tertinggi dalam Islam yang konsisten dilaksanakan oleh Om Beni.

    “Selamat Jalan Om Beni, doa kami selalu beserta”.

    “Ya Allah berikan tempat yang Mulia buat Om Beni yang kami cintai”, Amin.

    Salam,
    Victor Andi Lolo

Leave a reply to Victor Andi Lolo Cancel reply