Almarhum H. Beni. Wahju
By Nonon Fatma Noerthini Rahardjo
Pada hari Sabtu siang tanggal 21 Januari 2012, telpon hpku berdering, ternyata diujung sana terdengar suara Dewi Panji yang bertanya, “Apakah yu sudah dengar bahwa kang Beni meninggal dunia tadi pagi?” Dia membaca di milisnya tentang berita duka tersebut dan langsung memberi tahuku. Rasanya seperti disambar petir di siang hari, aku tak percaya, berkali-kali kutanyakan kepadanya.
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’uun, semoga ALLAH SWT melapangkan kuburnya, diterima Iman Islamnya, amal baik dan Ibadahnya serta dimaafkan semua kekhilafan dan kesalahannya, serta dimudahkan segala urusannya hingga hari ke-bangkitan nanti, Aamiin.
Dengan hati yang tak menentu dan duka yang dalam, aku tilpon Yetty Malkan, Lurah “Kelompok Lupa Umur” kami. Untuk menyampaikan berita duka dan memberi tahu bahwa jenazah akan dimakamkan di TPU Kebon Pedes, Bogor, sesudah ashar. Kawan- kawan yang tinggal di Bogor aku beritahu, terutama Fatimah Sudewo yang sedianya akan menerima kami di kediamannya, jalan Ciwaringin 103, pada tanggal 28 Januari 2012.
Pikiranku menerawang jauh ke tahun 1951-an – kurang lebih enam puluh tahun yang lampau, sewaktu mendiang ayahku berkata bahwa akan ada Residen baru di Bogor,dan salah seorang puteranya akan bersekolah di SMA Bogor. Tak lama sesudah itu, aku mendengar ada siswa baru di kelas 2 bagian B2, yang bernama Beni Noertjahja,yang berperawakan tinggi semampai, berambut ikal dan katanya hitam manis. Karena kelas kami berbeda, aku dikelas 2B1, dan Beni 2B2, jadi kami tidak banyak bergaul. Yang kuingat kami sering bersepeda keliling kota Bogor atau didalam Kebun Raya dan sekali-sekali berakhir dirumah. Selama di SMA, sepanjang pengetahuanku Beni kupandang sebagai kawan yang lembut tetapi tegas, aktif dan penuh wibawa. Selain mengenal Beni, aku/kami juga mengenal keluarganya, karena” baraya” kata yang selalu Beni ucapkan kepadaku selama ini kalau baru bertemu, saya akan kehilangan kata itu.
Keluarganya akrab, hangat dan sangat terbuka, terutama kak Willy. Setelah lulus SMA, kami berpisah menuju kota tujuan berkuliah, tetapi ada juga yang tetap tinggal di Bogor. Karena kesibukan masing–masing, kami tidak banyak berhubungan kecuali sesekali mendengar berita tentang keadaan kawan-kawan.
Namun sekitar awal 2004, ada tilpon dari Beni yang ingin mengajak kawan-kawan ex SMA 1 Bogor tahun 1950-an untuk berkumpul bersilaturahim dan beliau meminta agar tempatnya kuatur, bila mungkin di Kebun Raya Bogor,tempat yang strategis dan penuh kenangan manis. Beberapa nama kawan-kawan disebut untuk diundang. Pada awalnya hanya Sembilan orang yang hadir pada pertemuan pertama tersebut. Sesudah bernostalgia, kami secara bergilir diminta untuk bercerita tentang perjalanan hidup masing-masing setelah tamat SMA beberapa puluh tahun yang lalu. Waktu tiba gilirannya, pencetus pertemuan silaturahim menyampaikan bahwa selama ini beliau telah berusaha untuk mengumpulkan kawan-kawannya sejak bersekolah di Taman Kanak–kanak, SMP, dan sekarang mulai merintis kawan-kawan ex SMA 1 Bogor dalam jumlah terbatas untuk secara berkala berkumpul untuk bersilaturahim.
Dan semenjak tahun 2004 kawan –kawan ex SMA 1, Bogor yang tergabung dalam “Kelompok Lupa Umur (KLU) “ telah berkumpul untuk bersilaturahim paling tidak tiga atau empat bulan sekali. Adapun pertemuannya berpindah-pindah tempat kadang- kadang di Bogor atau Jakarta, dengan acara pokok adalah ramah tamah/silaturahim dan kadangkala diisi dengan masalah kesehatan yang mencakup segala macam topik, misalnya “EAT RIGHT FOR YOUR BLOOD TYPE”, ALZHEIMER, lutut yang mulai sakit-sakit, mengulur “Golden Time”, mencegah kecacatan dalam menangani stroke, pencegahan osteoporosis, dsb.
Ada juga yang bercerita tentang pengalaman hidupnya yang dapat dicontoh oleh kawan- kawan, tentang artikel yang dibaca dari Reader’s Digest, yang lucu-lucu atau serious misalkan tentang agama, atau topik hangat lainnya.
Semoga pertemuan silaturahim KLU Bogor ini dapat berlangsung terus sesuai dengan keinginan dan cita-cita pencetusnya yang telah begitu konsisten ,dengan care, dengan rasa cinta dan kasih, lembut tetapi tegas, sabar dan penuh wibawa.
Semoga kami dapat melanjutkan dian-Mu….Aamiim Ya Robbal Alamiin
Nonon Fatma Noerthini Rahardjo (kakak dari Arief Rachman)
Jum’at, 13 April 2012