Last of The Mohicans


 By Adrianto Machribie

Dalam novel The Last of the Mohicans karya James Fenimor Cooper, dikisahkan tentang Chingachgook, seorang tokoh yang bijaksana, arif, seorang eminent wise-person. Dalam konteks ini, Beni Wahju, bagi dunia pertambangan Indonesia dapat pula diidentifikasikan sebagai tokoh Chingachgook itu. Kontribusinya kepada dunia pertambangan nasional signifikan, teristimewa ketika ia berkecimpung dalam kepemimpinan Indonesian Mining Association (IMA) untuk waktu yang cukup lama.

1046371

Tetapi frasa last of the Mohicans dapat pula diartikan dalam konteks sejarah Republik Indonesia, yakni  bahwa Mas Ben termasuk generasi yang makin lama makin berkurang  jumlahnya karena kodrat alami. Pada saatnya mereka semua akan pergi menghadap sang Khalik.

Mas Ben termasuk generasi yang mengalami tiga masa dalam tahapan sejarah modern Indonesia, yakni zaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang dan masa kemerdekaan. Tahapan-tahapan tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi terbentuknya watak (character forming) dari seorang individu melalui orangtua dalam keluarga, sistim pendidikan, lingkungan pergaulan, dinamika sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.

Adalah suatu kenyataan bahwa tahun-tahun pembentukan dini (early formative years) itu sangat menentukan perkembangan jati diri  seseorang. Dengan kata lain, nilai-nilai hakiki, values, yang terbentuk merupakan refleksi dan manifestasi dari nilai-nilai yang diperoleh terutama dari perilaku lingkungan. Baik lingkungan keluarga,  masyarakat, pendidikan di sekolah dasar sampai perguruan tinggi, maupun lingkungan pergaulan.

Saya dapat membayangkan bagaimana pengalaman Mas Ben yang menapak perjalanan hidupnya dari kecil hingga dewasa, termasuk ketika belajar di perguruan tinggi,  yang pada masa itu masih banyak dosen-dosen asing, ikut membentuk salah satu sifat kepribadiannya, yakni sifat universal dan atau kosmopolitan. Dia  selalu berikthiar melihat sesuatu dalam perspektif dan berimbang, dan mampu menjauhkan diri dari kecenderungan melihat permasalahan dari kacamata sempit. Mas Ben juga mempunyai kemampuan untuk tidak melihat suatu permasalahan secara hitam putih tetapi dalam perspektif dan dari beberapa sudut kepentingan. Bebas dari pemikiran dan pendapat yang sudah terbentuk sebelumnya (preconceived ideas and notion), dan selalu menempatkan kepentingan yang lebih besar sebagai tujuan akhir. Zaman Jepang dan terutama pergolakan pasca proklamasi kemerdekaan menumbuhkan  gelora dan jiwa kebangsaan serta semangat juang Mas Ben.

Walaupun latar belakang karir Mas Ben adalah perusahaan asing, tetapi loyalitas pemikiran dan orientasinya adalah tetap Indonesia  centris. Namun bukannya patriotisme dan nasionalisme yang sempit. Karena, yang selalu menjadi kerangka acuan dasar pemikiran Mas Ben yaitu bahwa kepentingan Indonesia adalah central, tetapi harus tetap dalam konteks dan dengan mempertimbangkan pula realitas global. Ini tentu bukan hal mudah, apalagi dalam suasana dinamika sosial politik pasca 1998.

Mas Ben dan saya (beliau sebagai Ketua dan saya sebagai anggota pimpinan IMA) berinteraksi cukup intens dalam pembahasan-pembahasan mengenai upaya-upaya memajukan dunia pertambangan di Indonesia, terutama bagaimana dapat mencapai titik optimum dengan menyelaraskan potensi geologis (geological potential) dengan perangkat peraturan (regulatory framework)  yang tidak kondusif bagi perkembangan dunia pertambangan nasional  yang berkesinambungan dan dalam jangka panjang.

IMG01047-20130105-1007

Kita turut aktif, berpartisipasi dan berkontribusi dalam upaya pemerintah menciptakan perundang-undangan pertambangan yang lebih modern.  Benny berjuang melalui IMA, sedangkan saya, sebagai Ketua Pertambangan di KPEN (Komite Pemulihan Ekonomi Nasional)  Kadin. Kami menyelaraskan pemikiran-pemikiran dalam berbagai draft peraturan yang disampaikan kepada pemerintah. Proses ini berjalan beberapa tahun dan  melibatkan banyak instansi termasuk perguruan tinggi. Pada akhirnya di tahun 2004, usulan sektor pertambangan beserta usulan sektor-sektor lain digodok  dan dirumuskan dalam sebuah dokumen komprehensif “Road Map Indonesia Recovery”. Oleh KPEN-Kadin dokumen tersebut  kemudian diserahkan kepada presiden terpilih SBY. Presiden menerima dan berjanji akan menggunakan masukan-masukan sektor-sektor industri di dalam dokumen tersebut sebagai dasar acuan membangun kembali perekonomian Indonesia yang masih terseok-seok setelah krisis keuangan 1998.

Dan ternyata, dasar-dasar pemikiran sektor pertambangan khususnya mendapat respons positif dari Menteri Pertambangan yang kemudian menugaskan LPEM-UI untuk memformulasikannya dalam suatu draft perundang-undangan.

Partisipasi dari para stakeholders pada masa itu masih optimum karena  semua pihak duduk dalam kesetaraan.

Sayangnya, dalam perjalanan selanjutnya karena dinamika politik,  akhirnya perumusannya berubah menjadi sebagaimana tertuang di dalam UU Minerba tahun 2009.

Beni Wahju, baik sebagai pimpinan IMA maupun kemudian sebagai anggota Dewan Penasihat tetap berjuang,  sendiri maupun bersama rekan-rekannya untuk meluruskan kembali pasal-pasal dari UU Minerba 2009 yang berakibat negatif terhadap iklim investasi pertambangan di Indonesia.

Bahwa kemudian hari timbul wacana meng-”MK”-kan UU Minerba, saya yakin Mas Ben akan lebih memilih untuk duduk bersama, berunding tetapi berdasarkan kesetaraan, dan bersama-sama mencari jalan keluar yang lebih menguntungkan Indonesia.

Walaupun demikian Mas Ben juga tidak akan segan-segan bila konsultasi dan dialog tidak membuahkan hasil, maka perjuangan terus dilanjutkan hingga ke usaha terakhir (last resort) yakni Pengadilan. Mungkin telah dilupakan peran besar Mas Ben dalam kasus  UU No 41 tentang Kehutanan yang dibawa ke Mahkamah Konstitusi itu. Berkat kerja keras, lobby serta strategi yang dijalankan dengan tepat maka nasib 13 tambang di Indonesia itu terselamatkan.

Kasus ini merupakan milestone bagi sejarah pertambangan nasional. Karena akhirnya permasalahan yang dihadapi pertambangan diletakkan dalam perspektif realitas kepentingan yang lebih besar. Perusahaan-perusahaan tambang seperti Inco (sekarang Vale), Freeport, Newmont dan lain-lain sangat berutang budi kepada Mas Ben.

Memang jasa seorang Beni Wahju terhadap dunia pertambangan Indonesia sangat besar. Ada ungkapan terkenal di West Point yaitu “Old soldiers never die, they just fading away”. Kalau boleh frasa ini saya kutip untuk Mas Ben, “Old geologists never die, they just fading away”.

Dalam fading away-nya, Mas Ben tetap berjuang dan mengharapkan bahwa eksistensi dari dunia tambang yang mempunyai andil yang cukup besar dalam GDP Indonesia, dapat terus dikembangkan demi kemaslahatan masyarakat banyak. Mas Ben akan selalu dikenang bukan hanya karena jasa-jasanya tetapi terutama sekali adalah nilai-nilai hakikinya yakni integritas, loyalitas, dedikasi, kosmopolitan, kearifan, gigih dan humble.

Mas Ben you are a true last of the Mohicans! Dunia pertambangan sungguh kehilangan seorang kontributor yang arif.

Leave a comment