Mengenang sosok anak bangsa


ATAS PENGABDIAN DAN JASA-JASANYA MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKAN PROYEK PENAMBANGAN NIKEL P.T INCO DI SOROAKO

By AB Nusaly

Beni Nurtjahja Wahju yang lahir di Depok pada 10 Mei 1934 dan wafat di Jakarta pada tanggal 21 Januari 2012 selama hidupnya berkarir di bidang pertambangan dan merupakan salah satu Geologist terbaik di Asia Tenggara.

Sebelum bergabung dengan PT. INCO, beliau bekerja sebagai Geologist pada Direktorat Geologi Departemen Pertambangan RI yang pada periode 1961 – 1968,dan pada tahun 1966 mendapatkan kepercayaan sebagai Pimpinan Tim Eksplorasi untuk mengevaluasi  deposit Laterit Nikel  yang sebelumnya telah dilakukan oleh para Geologist Belanda pada periode 1917 – 1922.

B.N Wahju sebagai seorang Geologist memiliki pengetahuan dan wawasan berpikir yang luas tentang sejarah perkembangan sumber daya mineral di Indonesia khususnya di Sulawesi. Sebagai seorang Geologist, kepedulian beliau tidak hanya terbatas pada eksplorasi sumber daya mineral, tapi juga pada masalah lingkungan, budaya dan satwa-satwa langka yang terdapat di sekitar daerah kegiatan eksplorasi PT. INCO.

Sejarah pertambangan Nikel di Soroako sebagaimana dijelaskan oleh B.N Wahju bahwa yang menjadi dasar bagi penyelidikan geologi yang sistematis terhadap laterit yang mengandung nikel di Sulawesi dilaporkan oleh Kruyt, seorang Geologist Jerman yang mengadakan penyelidikan bijih besi di Pegunungan Verbeck pada tahun 1901 yang kemudian dilanjutkan oleh Abendanon dan Vermaes yang juga berkebangsaan Jerman pada tahun 1910 ketika mereka mempelajari Daerah Soroako. Kegiatan eksplorasi nikel ini dilanjutkan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1917 – 1922. Endapan laterit nikel yang meyakinkan di Daerah Soroako dan sekitarnya didasarkan pada laporan yang disusun para Geologist Belanda: Granjean, Adam, Julius, Dick Man, Koolnoven dan Bothe dalam masa 1922 – 1932.

Pada tahun 1934, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan perusahaan-perusahaan seperti Oost Borneo Maatchappij (OBM) dan Mynbow Celebes Maathchappij (MCM) untuk melakukan eksplorasi yang lebih intensif di daerah Pomalaa, Malili, dan Matano, dan dari hasil eksplorasi ini, Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun infrastruktur jalan antara Wasoponda – Soroako – Malili – Tole-Tole – Timampu pada tahun 1947 – 1949. Penelitian eksplorasi nikel di daerah ini tidak dapat dilanjutkan karena gangguan keamanan, pemberontakan Kahar Mudzakar sampai periode 1964.

Pada periode tahun 1966 – 1967, Direktorat Geologi Departemen Pertambangan RI membentuk tim untuk evaluasi endapan laterit nikel di Soroako dan sekitarnya, dimana Pimpinan Tim Eksplorasi ini dipercayakan kepada B.N Wahju. Hasil eksplorasi tim inilah yang menjadi dasar bagi Pemerintah RI untuk mencari investor. Dari beberapa negara yang ikut serta pada tender yang diadakan oleh Pemertintah RI pada tanggal 26 Mei 1967, PT.INCO sebagai anak perusahaan INCO LIMITED dari Canada ditetapkan sebagai pemenang tender.

cropped-daru1.jpg

Pada saat itu, B.N Wahju bersama beberapa geologist dari Direktorat Geologi Departemen Pertambangan RI mendapat penawaran untuk bergabung dengan PT. INCO. Pada penandatanganan Kontrak Karya I antara Pemerintah RI dengn PT. INCO pada tanggal 27 Juli 1968, B.N Wahju  resmi bergabung dengan P.T.INCO. Pada tahun 1970 B.N.Wahju dipercayakan sebagai Resident Manager eksplorasi yang berkedudukan di Malili. Daerah Malili dan sekitarnya dapat dikatakan masih merupakan daerah yang terisolir sebagai akibat pemberontakan dimana transportasi dari Palopo ke Malili hanya bisa ditempuh dengan menggunakan kapal motor. Sebagai daerah yang terisolir, masyarakat Malili belum banyak mengenal perkembangan dunia luar.

Sebagai seorang Resident Manager, melihat masyarakat Malili yang relative masih terkebelakang, B.N Wahju pada waktu itu memprakarsai dan menganjurkan pada staff PT. INCO yang berpendidikan sarjana untuk dapat membantu masyarakat di bidang pendidikan sebagai guru sukarela sesudah jam kerja untuk sekolah-sekolah SMP dan SMA yang baru didirikan oleh pemerintah, tapi sangat kekurangan tenaga-tenaga guru. Demikian pula tenaga-tenaga medis pada klinik PT. INCO secara aktif memberikan bantuan dan pelayanan pada masyarakat antara lain dalam upaya pemberantasan malaria, penyakit kaki gajah, dan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat, peranan dari Ibu Soffie Wahju sangat dirasakan.

Dalam hal kepedulian terhadap lingkungan dimana pada saat itu kepedulian dan perhatian dari pemetintah dapat dikatakan belum ada, oleh B.N Wahju yang ditunjang oleh istri beliau Ibu Soffie Wahju telah mempelopori kegiatan-kegiatan penghijauan pada Camp Eksplorasi PT.INCO (perumahan, sekolah, kantor, dll) dengan menanam pohon-pohon pelindung atau taman-taman sebagai contoh bagi masyarakat.

Pada masa konstruksi periode tahun 1973 – 1977 dimana kegiatan administrasi PT.INCO mulai berangsur pindah ke Soroako, sejak itu  B.N Wahju  sangat memperhatikan masalah lingkungan serta pengembangan masyarakat lingkar pertambangan (community development).Pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat lebih ditingkatkan lagi sebagai bagian dari struktur organisasi perusahaan. Kegiatan ini antara lain dilakukan dengan membangun sekolah dari TK, SD, SMP, sampai SMA untuk masyarakat, membangun pasar, poliklinik, sumber air bersih di Wasoponda, Wawondula, dan Malili.

Di bidang pendidikan, PT.INCO  mengatasi kesulitan tenaga pengajar dengan mendatangkan guru-guru dari Makassar yang mau mengajar pada sekolah-sekolah yang telah dibangun oleh PT.INCO yang kemudian pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah. Di bidang lingkungan hidup, B.N Wahju tidak hanya peduli pada kegiatan penghijauan lokasi-lokasi pasca tambang, tapi kepedulian beliau juga sangat besar pada pelestarian satwa-satwa yang dilindungi seperti Babi rusa, Anoa, Burung Maleo, Ikan Butini yang hidup di Danau Matano dan Towuti.

Hal lain yang tidak kurang pentingnya, selama periode pembangunan project, B.N Wahju menyadari kondisi masyarakat lingkar tambang project yang relative masih terkebelakang karena terisolir selama periode pemberontakan Kahar Mudzakar, telah mengambil inisiatif dan mungusulkan pembangunan stasiun-stasiun relay yang dapat menangkap siaran TVRI, kemudian tiap-tiap desa diberikan sumbangan televisi agar masyarakat dapat menyaksikan perkembangan dunia luar.

Keberhasilan PT.INCO, yang sekarang ini telah berubah nama menjadi PT. VALE INDONESIA, tidak terlepas dari peranan dan pengabdian serta jasa-jasa dari seorang anak bangsa, B.N Wahju. Keberadaan PT.INCO / PT. VALE telah memberikan dampak yang positif dan sangat berarti bagi pendapatan daerah guna menunjang pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan umumnya, Pemda Kabupaten Luwu Timur.

B.N Wahju tidak hanya memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah, tapi karya-karya beliau baik secara nasional maupun internasional cukup mendapatkan perhatian terutama saat beliau mendapatkan kepercayaan sebagai Ketua Asosiasi Tambang Indonesia (Indonesian Mining Association) periode 1998-2006 . Sebagai penghargaan pada beliau, oleh Pemerintah RI telah memberikan Satya Lencana Pembangunan di Bidang Pertambangan pada tahun 1995. Dalam masyarakat Geologi Asia Tenggara, B.N Wahju telah memperoleh predikat sebagai salah satu Geologist terbaik yang tepilih.

Mengingat akan pengabdian dan jasa-jasa beliau khususnya di Kabupaten Luwu Timur, adalah wajar bila nama beliau dapat diabadikan pada nama lapangan terbang di Soroako. Demikian apa yang kami kemukakan ini adalah atas dasar pengalaman kami sebagai salah seorang staff selama 20 tahun di bawah kepemimpinan beliau. Seorang pimpinan yang saya rasakan telah melaksanakan fungsi dan prinsip-prinsip kepemimpinan yang sangat educated, kekeluargaan, menyatu dengan masyarakat, dan disegani.

Wassalam.

H.AB.NUSALY  

Leave a comment