Persahabatan Selama Lima Dasawarsa


By Abdul Djalil Nasution

Saya mulai agak dekat dengan Beni tahun 1960, itupun baru sebatas kenalan antara mahasiswa junior dengan seniornya. Tahun itu saya mendapat tugas pemetaan geologi kandidat bersama kawan-kawan Joedo Elifas, Zainal Asril Kamili, M.Thamrin, Sahat Oloan Hutagalung, Thio Kian Hie dll. Kesempatan berinteraksi menjadi lebih terbuka.

Menurut saya Beni adalah sosok yang “cool”, pendiam, kalau lagi kumpul paling-paling dia mengangguk-angguk kepala saja, dengan sesekali tersenyum. Jarang sekali lihat dia ketawa lepas. Mungkin karena menghadapi mahasiswa bimbingannya, “jaim” kata anak muda sekarang.  Dia jarang berkelakar, hanya sesekali muncul joke nya, memang begitulah keadaannya. Waktu itu kami dibawah bimbingan Beni Wahju yang sedang merampungkan tugas pemetaan “doktorandus”nya di daerah Karangsambung, Banjarnegara. Kami masing-masing mendapat kapling tugas pemetaan didalam wilayah pemetaan Beni. Saya sendiri kebagian daerah Lokidang.

Pada tahun 1960 itu saya mendapat beasiswa belajar di Canada, tetapi sambil menunggu keberangkatan, saya harus melakukan pemetaan kandidat terlebih dahulu. Ditengah-tengah kesibukan kerja lapangan, tiba-tiba Beni memanggil saya untuk menemuinya di Kebumen, dia menyampaikan telegram sdr Sulaiman dari Bandung. Beni telah menyimpulkan bahwa telegram itu dikirim oleh sdr Sulaiman Pane, teman sekamar saya di Rumah F, tanpa banyak selidik saya mengikuti anjurannya dan pulang naik kereta api dari Kebumen ke Bandung. Ternyata telegram itu dikirim oleh Sulaiman Sinambela, kordinator tim sepakbola ITB untuk POM V di Medan. Karena sudah terlanjur sampai di Bandung dan kontingen ITB segera akan berangkat maka saya memberitahukan kepada Beni Wahju bahwa saya akan ikut dengan kontingen POM V ITB ke Medan. Karena saya juga belum pamitan dengan ibu saya yang tinggal di Medan. Kesalah-pahaman yang menguntungkan saya itu sempat membuat saya merasa tidak enak, sebab seharusnyalah saya kembali ke Kebumen melanjutkan tugas saya. Tapi dua minggu di Medan memberi kesempatan bagi saya untuk pamit kepada Ibu saya. Kemudian setelah kembali dari Medan, saya bergegas ke Kebumen dan melapor kepada mentor saya Beni. Saya sudah membayangkan bahwa akan dapat marah besar, ternyata tidak demikian. Hanya katanya saya harus menyelesaikan tugas saya sendirian  sampai selesai. Kawan-kawan yang lain sudah boleh pulang ke Bandung bersama Beni.

Saya menyadari bahwa dia tidak mudah marah. Malahan kemudian, Beni secara khusus datang menemui saya di Karangsambung dan minta maaf karena telah keliru meneruskan informasi. Kaget juga saya………kok dia yang minta maaf.

Sebelum pulang ke Bandung, Beni dan kawan-kawan sempat menceritakan kepada saya pengalaman mereka yang sangat berkesan di perkebunan Pujegan. Disana, kawan-kawan berusaha untuk menarik perhatian seorang gadis, tetapi saya mengetahui bahwa upaya kawan-kawan telah sia-sia karena Beni yang ganteng dan kalem akan dengan mudah menyingkirkan junior-juniornya.

Akhirnya, September 1960 saya jadi berangkat ke Canada dan tinggal dua tahun disana bersama-sama sdr Joedo Elifas dan Zainal Asril Kamili. Tahun 1962 kami bertiga kembali ke Indonesia dan bekerja di Direktorat Geologi Bandung. Di kantor inilah saya kembali bergaul dengan Beni sebagai sejawat kerja, dia sudah terlebih dahulu bekerja pada Direktorat Geologi, memimpin Bagian Petrologi. Setahu saya, sewaktu bekerja di Direktorat Geologi Bandung, Beni pernah menyelidiki potensi endapan asbes di Halmahera dan kemudian sebagai kordinator Proyek Nikel di Malili. Pertemanan kami tambah dekat, pada saat dia mengalami masalah pribadi yang lumayan berat kelihatannya dia tetap tampil tegar. Dia sesekali menjemput saya dan mengajak main dan singgah ke rumah kakaknya di Kebonwaru. Sebagai kordinator proyek, Beni sering membawa mobil jeep dinas pulang ke rumahnya. Kami masih sama-sama lajang waktu itu, sesekali bareng dengan Suharto teman kami yang sangat  banyak leluconnya. Setelah kembali dari tugas di Halmahera itu, kami agak sering berkeliling kota Bandung mencari udara segar dan sesekali mampir di Toko Buku ex Van Dorp, melihat-lihat buku dan berkenalan dengan karyawatinya.

Betul juga kata Suharto, kita yang berusaha keras selalu kurang mendapat perhatian, sedang Beni yang cool justru mendapat lirikan terus. Saya masih ingat kunjungan kami ke Kebon Raya Bogor dengan keluarga Budiharto, ikut serta isterinya  Pida, ibunya dan Holly, juga seorang ahli dari Rusia disertai Mila penerjemah bahasa Rusia yang cantik bahenol….menurut Beni hanya dia yang dipercaya pimpinan team Rusia untuk membawa Mila nonton bioskop, saya tentu sangat percaya tentang hal itu.

Beni mendapat tugas belajar setahun di AS , tak lama kemudian kami mendengar berita baik yang datang dari Washington DC, bahwa akhirnya Beni menemukan pasangannya, Soffie, dan mereka menikah di Washington DC bulan Januari 1964. Ayah Soffie, Bapak Doedi Soemawidjaja, kala itu Atase Kebudayaan RI di Washington AS. Kebetulan pula beliau juga kenalan dekat calon bapak mertua saya, sebagai sesama guru di sebuah sekolah di Bandung. Bp Doedi sendiri yang becerita kepada saya waktu beliau diminta menjadi penasihat pendirian SMA YPS Soroako. Begitulah hubungan saya dengan Beni, agak kait mengait. Jadi singkatnya, Beni adalah mentor saya waktu melakukan kerja praktek di Karangsambung, kemudian teman “ulin” semasa kami masih lajang di Bandung, sekaligus teman kerja di Direktorat Geologi Bandung.

Beni selalu menyebutkah saya dan isteri saya “adalah baraya nya”, atau keluarganya. Sebenarnya sebelum hijrah ke PT INCO. karir kami masing-masing di Direktorat Geologi berjalan baik-baik saja, sejak dibawah pimpinan Bapak Sutarjo Sigit sampai Bapak Johannas. Beni akhirnya memimpin Bagian Volkanologi & Petrologi dan saya memimpin Bagian Geoteknik Hidrogeologi. Sampai pada suatu saat ditahun 1968 Beni mengajak saya bergabung dengan PT INCO. Tawaran yang sama rupanya disampaikan kepada Soejadi Sastosoegito (Geofisika), Agus Suparman (Perpetaan) dan kemudian ikut pula bergabung Handoko Soemardjo (Asisten Direktur DGB). Karena itulah “Pioneer ahli geologi” INCO terdiri dari Beni Wahju, Sujadi Sastrosoegito, Agus Suparman, Djalil Nasution dan Handoko Soemardjo. Kami sama-sama pegawai negeri dan telah memegang jabatan penting di Direktorat Geologi Bandung. Selain itu Bp. Masdar Sanusi (Geokimia), bergabung pula untuk membangun Lab. INCO di Malili, bersama Art Wiebe dari INCO Canada.

Dalam rangka eksplorasi PT INCO itu pulalah, pada tahun 1968 Agus Suparman dan saya berangkat dari Jakarta menuju Makassar, dimana kami berkenalan dengan Warren Delaney, geologist dari Australia. Kami menginap di Hotel Makassar Beach. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Watampone untuk bergabung dengan tim pendahulu yang terdiri dari Beni Wahju, Henry O. Harju yang menyambut kami di Bajo-e/Watampone. Karena masih ada urusan mengenai banking, Henry Harju dan Warren Delaney harus kembali ke Makassar. Sementara itu Beni , Agus dan saya lewat Bajo-e, menyeberang ke Pomalaa naik tug-boat. Di depan dermaga Antam Pomalaa, tug-boat kami sempat kandas diatas batukarang. Baru terlepas sejam kemudian setelah air laut pasang kembali. Kami sampai di Pomalaa sekitar jam 23.00, disana bertemu dengan Sujadi yang menunggu di Mess Aneka Tambang.

Maka, kisah eksplorasi PT INCO yang panjang itupun dimulailah oleh tim geologi yang terdiri dari kwartet Beni-Agus-Sujadi-Djalil dengan pekerja-pekerja setempat yang antusias. Awalnya kami menyelidiki daerah sekitar Bukit-16 Pomalaa, kemudian berlanjut merambah daerah2 sepanjang pesisir barat dan hutan rimba Sulawesi Tenggara/Selatan, yang terdiri dari batuan ultrabasa, mulai dari Huko-Huko, Lapaopao, Suasua dan akhirnya sampai ke Malili. Beni pernah berseloroh, bahwa mungkin dulu surveyor Spanyol yang memetakan daerah pesisir itu orang yang gagap, sehingga nama-nama tempat yang mereka kunjungi, merupakan kata berulang-ulang.

Beni Wahju adalah team leader kami, sekaligus penghubung dengan geologist Warren Delaney, Henry Harju yang kemudian digantikan oleh Ray Burkhart. Sudah terlihat sejak awal bahwa Beni diproyeksikan untuk menjadi kordinator Field Exploration membantu Project Exploration Manager Henry O. Harju yang kemudian digantikan oleh Ray Burkhart, tinggal di Malili. Memang sudah sewajarnya karena Beni bersama Hitler Singawinata, turut membidani proyek PT INCO sejak tahun 1967, sejak proyek masih disebut Proyek Nikel Malili. Kemudian terbitlah UU PMA dimana Pak Sigit banyak berperan, sampai akhirnya tender dimenangkan oleh PT INCO.

Dalam perkembangan selanjutnya, sebagai kordinator eksplorasi di lapangan, Beni menugaskan kami sesuai dengan kemampuan dan kekhususan pengalaman kami masing-masing. Dia juga sangat memperhatikan ambisi perorangan dan chemistry diantara kami/sejawat kerja yang dipimpinnya. Maka karena itulah Sujadi dan saya awalnya ditempatkan di Malili, saya mengurus tim eksplorasi Lakes Area dan sepanjang pesisir Sulawesi Tenggara, termasuk Saloraya, Larona, Towuti, Bahudopi, Matarape sampai Lasolo. Dalam tugas itu hubungan kerja saya dengan Beni sangat intens. Handoko ditugaskannya di Kolonodale, kemudian dipindahkan ke Lapaopao dan kemudian ke Bahudopi, Agus Suparman ditugaskan di Pomalaa kemudian dipindahkan ke Soroako. Serentak pula Sujadi yang bertugas di Soroako ditarik ke Malili untuk bekerjasama dengan Waheed Ahmad. Agus dan saya akhirnya dipindahkan ke Soroako. Handoko tetap langsung dibawah Beni mempertimbangkan latar belakangnya di DGB. Akhirnya jelas kelihatan bahwa geolog pioneer terbagi dua: Agus dan saya tinggal di Soroako untuk tugas Mines Exploration yang dipimpin Vishnu Pada, sedangkan Beni tetap memimpin tugas-tugas Regional Exploration dibantu oleh Handoko di Bahudopi.

Fast forward ke tahun 80an, akhirnya kami, setelah melalui alih tugas ke berbagai bidang yang baru di PT INCO menempuh jalannya masing-masing. Para Geologist Pioneer terpencar seiring dengan kebutuhan organisasi dan manajemen perusahaan dan tentunya ambisi karir kami masing-masing: Sujadi mengundurkan diri untuk berkarir di Jakarta, Handoko kelihatannya tidak begitu menyenangi tugas barunya di Bagian Logistic kemudian mengundurkan diri pula. Agus Suparman juga tidak merasa nyaman bekerja sebagai Chief Mines Geologist dan melanjutkan karirnya sebagai dosen di Unversitas Trisakti.

Saya tetap menekuni alih karir saya di Bagian HRD dimana saya sempat menjadi bawahan Edward J. Sinclair setelah dia menggantikan John Zurbrigg sebagai Director of Admin & Services. Inipun tidak berlangsung lama karena posisi tersebut kemudian diisi oleh Abing Soeriatmadja setelah Ted Sinclair pulang ke Canada. Tetapi Abing Suriatmadja, kemudian mengundurkan diri pula untuk suatu pekerjaan di perusahaan lain di Jakarta. Maka Beni pada tahun 1982 dari Sudbury diminta untuk kembali bertugas di Soroako mengisi lowongan tersebut. Maka Beni pun menjadi atasan langsung saya, kala itu saya menjabat sebagai Manager HRD.

Pada tahun 1982 sebagai dampak krisis moneter , terjadilah peristiwa PHK massal yang menghebohkan itu, Beni sebagai Direktur Administrasi & Services, dalam masa penuh gejolak akibat PHK massal itu menggunakan strategi khusus dalam menyelesaikan persoalan dengan cara-cara persuasif dan mencoba mengeliminasi sumber masalah satu persatu. Walaupun kami sebagai bawahannya seringkali mengalami kesulitan dalam mengimplementasi kebijakan yang diambilnya. Kekuatannya, dalam berkomunikasi dan melakukan lobby dengan kalangan elit pemerintahan, yang dalam hal ini menonjol pula upaya keras dan jejaring Lukman Kartanegara dan Hitler Singawinata di kalangan pemerintah pusat di Jakarta. Sementara itu kiprah Usman Effendi di tataran lokal dan wilayah tak kalah pentingnya. Kepemimpinan Beni didalam lingkungan perusahaan sangat membantu, karena dalam suasana seperti itu “kepercayaan” adalah modal yang paling utama. Beni memang menonjol sebagai sosok yang peduli, menjalankan tugas dengan pendekatan kekeluargaan dan empatik. Beni sering melakukan pendekatan secara kekeluargaan terutama dengan sebagian besar karyawan eksplorasi. Sering saya dengar sindiran adanya klik “Pak Beni”, kelompok DJB (Dari Jawa Barat), bahkan saya pun termasuk DJB juga karena isteri saya orang Banten (waktu itu Banten masih termasuk Jawa Barat)! Padahal saya tdak pernah menanggalkan marga Nasution yang saya banggakan.

Setelah berhenti dari PT INCO pada tahun 1989 saya masih sering ketemu dengan Beni dan Soffie, terutama dalam pertemuan nostalgia keluarga pioneer PT INCO atau perkumpulan M3, yang masih exist sampai kini. Mereka selalu mengundang kami kalau ada kawan-kawan ex INCO Canada yang lewat di Jakarta. Bagi Beni dan Soffie pertemanan tidak dbatasi oleh waktu, terus berkelanjutan. Sebetulnya kehebatan Generasi 1 dan 2 ex PT INCO dan M3 ialah kekerabatan yang tetap terjaga sampai sekarang, baik mereka yang kini mukim di Makassar, Jakarta dan Bandung.

Beberapa tahun lalu di Bandung, pada suatu pesta nikah putra seorang kawan, saya melihat Beni duduk saja di kursi, berbeda dengan kebiasaannya, dimana dia selalu menemui dan bicara dengan teman-teman ex INCO yang hadir. Rupanya itu adalah tanda-tanda awal dia mulai mengalami kecapaian atau gangguan kesehatan. Dia mulai sering mengatakan kepada saya akan pensiun, tetapi selalu saja diperpanjang. Keadaan fisiknya sementara itu terus menurun tetapi dia masih terus bekerja, terakhir sebagai Komisaris di PT Vale Eksplorasi Indonesia. Dia melakukan kegiatan-kegiatan seperti tidak mengalami masalah kesehatan yang serius, saya kira itu hanyalah cerminan pribadinya yang optimistis dan ikhlas menghadapi kenyataan. Sampai Beni terkena stroke ringan dan diopname beberapa hari di RSPI pada bulan Nopember 2010. Pada waktu itu saya sudah dikenalkan oleh Beni kepada Dave Burt (PT VEI), untuk melakukan tugas-tugas di Bima dan Dompu, karena dia sudah tidak dapat melaksanakan kunjungan ke lapangan sebagaimana mestinya. Saya sendiri waktu itu baru pulih dari suatu operasi, dan baru resmi bergabung dengan PT VEI bulan Maret 2011. Waktu itu saya sudah cukup yakin mampu secara fisik melakukan tugas di lapangan setelah selesai uji-coba bertugas di Waigeo.

Maka saya coba menjalani sebagian misi Beni yang tersisa yang diserahkan kepada saya, dia sepertinya ingin saya melanjutkan sebagian dari misinya yang belum selesai, tentunya dalam kapasitas saya yang terbatas. Melihat saya ragu-ragu menerima tawarannya dia menyemangati: ”Ah jangan mengecilkan kemampuanmu” kamu bisa melakukan tugas-tugas hubungan masyarakat” tegasnya. Tidak mustahil itu adalah upaya dia untuk membuka peluang kepada seorang kawan yang memerlukan peningkatan percaya diri. Kami sebetulnya sebaya, sama-sama lahir tahun 1934, bahkan saya 3 bulan lebih tua dari Beni, saya kira dia faham krisis apa yang sedang saya alami. Tetapi hal itu semua, saya kira juga mencerminkan pribadinya yang bertanggung jawab akan tugas-tugasnya, semua kebaikannya itu adalah bagian daripada rencananya sebelum meninggalkan kita semua. Di Facebook dia menginformasikan penerimaan saya akan tugas ke Dompu itu khususnyan kepada generasi kedua INCO, anak-anak kami semua, dan saya ingat dia mengutip: “Old soldiers never die, they just fade away”. Mungkin dimaksudkannya untuk saya, namun itu saya yakin juga cocok untuk dirinya sendiri. Kelihatannya Beni sangat lega setelah Bp Hadiyanto akhirnya menerima tawaran PT VEI.

Pada tgl 16 Januari 2012 saya diundang ke kantor VEI di Jakarta, untuk acara makan siang dan memperkenalkan Direktur baru PT VEI, Bp Hadiyanto. Hari itu Beni dan drivernya menjemput saya dari terminal Cititrans di Fatmawati, lalu singgah sebentar menjemput Soffie di rumah terus menuju ke Resto Sakura. Disana sudah hadir staf VEI dan juga Pak Hadiyanto dan isterinya, juga Dave Burt dan isterinya Inez. Seusai Dave memperkenalkan Bp Hadiyanto, Beni sempat mengajak hadirin untuk mengucapkan Selamat Ulangtahun kepada Dave.

Seusai makan siang, dikantor VEI kami berempat: Bp Hadiyanto, Dave, Beni dan saya mengadakan pertemuan. Dave menanyakan apakah Beni akan ikut hadir. Beni mengatakan bahwa saya bisa mengajukan tesis saya tentang misi yang akan dibahas. Ternyata akhirnya Beni ikut hadir juga dalam rapat. Diantara hal penting yang kami sepakati untuk dilaksanakan adalah rencana kunjungan Beni dan manajemen PT. STM ke Dompu dan Huu untuk memperkenalkan Bp Hadiyanto kepada pihak Pemerintah Daerah dan karyawan di Huu. Saya akan berangkat seminggu sebelumnya, rombongan manajemen PT STM akan menyusul sekitar awal bulan Februari.

Rencana kunjungan itu tertunda tetapi akhirnya tetap dilaksanakan tanpa Beni, karena pada tanggal 20 Januari Beni masuk Rumah Sakit PI dan keesokan harinya tgl 21 Januari 2012 sekitar  jam 10.30 pagi Beni Wahju berpulang ke Rahmatullah. Saya mendapat berita duka itu masih dalam perjalanan menuju RSPI, kemudian saya dan isteri, memutuskan langsung saja ke rumah duka di Jeruk Nyonya. Kira-kira jam 14.00 jenazah alm Beni Wahju tiba dari RSPI di Jeruk Nyonya, siang itu hujan turun agak lebat, jam 15.00, setelah selesai upacara dirumah duka, jenazah alm Beni Wahju diberangkatkan ke Bogor untuk pemakamannya disana.

Sebulan berlalu, setelah Beni meninggal, saya masih belum bisa merasakan bahwa Beni Wahyu, sahabat dan baraya saya itu sudah tiada, suatu pertemanan yang berjalan selama kurun waktu 5 dasawarsa, memang susah akan pupus begitu saja. H. Beni Nurtjahya bin Wahjoe Angrawinata alias Beni Wahju adalah sahabat saya yang sangat baik, semoga budi baiknya itu tetap memancarkan Nur dan Cahaya kepada kita yang ditinggalkannya, sebagai sahabat-sahabat yang akan selalu mengenang budi baiknya dan mendoakannya agar dia mendapat tempat yang sesuai dengan amal dan ibadahnya, damai dalam pangkuan Allah SWT.

Amien.

Inna lillahi wa inna ilaihi roojiuun….

Sesungguhnya, catatan ini terlalu pendek untuk mengenang persahabatan selama 5 dasawarsa, apalagi : Beni Wahju adalah mentor, sahabat, kolega dan keluarga saya yang baik hati.

Bandung, 1 Mei 2012

2 thoughts on “Persahabatan Selama Lima Dasawarsa

  1. Oom Djalil, terharu sekali Nita membaca tulisan Oom ini, sambil membaca membayangkan “Old Soldiers Never Dies” yang sudah mendedikasikan kemampuannya secara tulus untuk suatu proyek besar di Indonesia.

    Salut dan kagum untuk DEDIKASI Oom Djalil, Oom Beni, Oom Agus Suparman, Oom Handoko, Oom Lukman, Oom Hitler, Oom Usman Effendi, Mr. Waheed Ahmad, Mr. Wisnu Pada, Oom Musu dan semua PIONEER yang sudah membidani proyek Inco ini, dan tak lupa salut untuk Ayahanda Nita, Bapak Sudjadi Sastrosoegito yang juga berkontribusi di proyek Inco ini.

    Kami Generasi ke 2 anak2 karyawan Ex Inco akan menjadikan Bapak2 kami yang Hebat sebagai panutan kami semua sepanjang masa.

    “Persahabatan yang tulus adalah Kunci dari Suatu Perjuangan untuk Kehidupan di Masa Yang Akan Datang dan selalu Berkesinambungan”

  2. Innalillahi wainnailaihi rojiun,, baru dgr Td pagi om djalil telah berpulang, sepanjang jln Dr bandara menuju rumah (hbs jemput sodara) air mata tdk pernah berhenti berhenti, Sy tdk ada hbgan darah sama sekali dgn om djalil, tp betul2 rasa sedih yg Sy rasakan seperti kehilangan ayah sendiri, Bgmn tdk, krn bersahabat dgn Anggi, Sy mkn tidur di rmh om djalil hampir tiap hari selama kurang lebih 2th, malah pernah hampir sebulan penuh ramadhan Sy disana, Sabtu minggu, Sy & Anggi harus menghapal kosa kata dlm bhs Inggris dan om djalil adalah guru bhs Inggris pertama Sy, saat om djalil pulang Dr luar kota, Sy jg dpt ole2 yg sama dgn yg Anggi dpt, Sy jg dapat pelukan sayang setelah om djalil memeluk Anggi, sungguh masa kecil yg membahagiakan, selamat jln om,,terimakasih untuk semuanya semoga khuznul khotimah, diampuni semua dosa2 selama hidup di dunia, diberikan kelapangan di alam kubur,, amin Allahumma Amin,, Alfatihah

Leave a reply to Sarnie wildhana Said Cancel reply